
"Aku yakin Elio juga tidak mengharapkan kehadiran dirimu.
"Karena Dia juga meninggalkanku saat kau masih di dalam kandungan.
"Apakah kau berharap di sayangi olehnya.
"Jangan harap.
Ucap Maria sambil tersenyum mengejek.
Dia akan membuat Meriya membenci Elio.
Magdalena mengelengkan kepalanya.
Dia langsung turun kebawah.
Dia tidak ingin Meriya membenci Suaminya.
Itu semua hanya salah paham.
"Meriya itu semua tidak benar Nak.
"Jangan percaya ucapan Maria ibumu.
Ucap Magdalena bergetar.
Magdalena begitu miris melihat Meriya yang begitu hancur.
Air mata Magdalena mengalir deras saat melihat Meriya yang begitu menderita.
Maria sangat terkejut melihat kedatangan Magdalena dan langsung menyela ucapanya.
"Kau mau tau.
"Dia ini wanita yang merebut ayahmu dariku.
Maria tidak perduli dengan kehadiran Magdalena justru hal itu semakin bagus.
Maria bisa terang-terangan menghina Magdalena.
"Meriya dengar aku.
"Ibumu salah paham.
"Aku tidak pernah berniat merebut Ayahmu.
Magdalena mencoba meraih tangan Meriya yang terduduk menunduk di lantai.
Meriya tidak menghiraukan ucapan Magdalena dia juga menolak uluran tangan majikanya.
Meriya masih shock mengetahui kebenaran hidupnya.
"Aku salah paham?
"Cihh..Aku bahkan melihat dengan mata kepala kusendiri kau memeluk Elio begitu mesra di kamar Elio.
"Apakah kau masih mencoba menyangkalnya.
Magdalena terkejut mendengar perkataan Maria.
Sekuat tenaga Magdalena mencoba mengingat memorinya dua puluh dua tahun yang lalu.
"Kamu salah paham Maria.
"Aku memeluk Elio Karena saat itu Elio lulus mengambil spesialisnya di Harvard.
Terang Magdalena dia mengingat jelas kejadian itu.
"Apakah salah aku memeluk Elio yang saat itu sahabat dekatku.
Magdalena tidak ingin di salahkan Maria.
Dia tidak ingin Meriya membencinya terlebih membenci suaminya.
"Aku tidak perduli dengan alasanmu.
"Aku tau kau sangat menyukai Elio saat itu.
"Kau kira aku bodoh.
"Tatapan matamu saat melihat Elio menyimpan cinta yang begitu dalam untuknya.
Maria berbicara sinis dan melihat Magdalena dengan jijik.
"Iya..
"Aku memang mencintai Elio sejak dulu.
Magdalena berkata jujur.
"Bahkan sejak kami kecil.
"Tetapi aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk menghancurkan hubungan kalian Maria.
__ADS_1
"Jika aku memang berniat menghancurkan hungan mu dengan Elio.
"Sudah sejak dulu Aku mencoba melarang Elio mendekati wanita lain.
"Elio juga pernah berpacaran sewaktu SMA dan saat kuliah mengambil kedokteran Elio juga berpacaran dengan wanita lain sebelum Elio berpacaran denganmu.
Magdalena mencoba menjelaskan sedetail mungkin kepada Maria supaya Maria berhenti membencinya dan membenci Elio.
"Aku tidak perduli dengan UcapanMu.
"Kau tidak lebih seorang pelakor yang merusak kebahagiaan orang.
Ucap Maria sinis sambil pergi dari sana.
Dia sedikit terkejut mendengar kejadian yang sebenarnya.
Dulu Sewaktu Maria melihat Magdalena dan Elio berpelukan mesra Maria langsung cemburu dan patah hati.
Pikiran buruk langsung menghantuinya.
Saat itu juga dia menitipkan surat kepada salah satu teman Elio yang isi surat itu Maria meminta putus.
Tetapi bagi Maria yang sudah membenci Magdalena dan Elio sampai ke tulang-tulang tidak memperdulikan ucapan itu.
Maria tetap menyalahkan Elio terutama Magdalena.
Magdalena duduk di hadapan Meriya yang masih menangis pilu.
Magdalena memeluk tubuh Meriya yang masih bergetar.
"Maaf.
"Maaf jika kehadiranku membuat hidupmu menderita.
Ucap Magdalena bergetar.
Jika saja dirinya tidak hadir di hidup suaminya Elio.
Dan jika saja saat itu Magdalena tidak memeluk Elio dan menimbulkan kesalah pahaman Maria.
Mungkin saat ini Meriya akan memiliki keluarga yang utuh dan lengkap.
Batin Magdalena sambil Menangis.
Dirinyalah yang salah disini.
"Bisakah Nyonya menyimpan rahasia ini.
Ucap Meriya serak sambil melihat Magdalena yang sedang menangis.
"Ayahmu berhak tau tentangmu.
Magdalena menarik kedua tangan Meriya.
Tanganya bergetar memegang jari-jari Meriya yang terasa dingin.
Meriya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin Tuan mengetahuinya.
Magdalena menolak ucapan Meriya dengan gelenganya.
"Bisakah nyonya berjanji kepadaku?
Meriya memohon dengan sendu.
Dia tidak membenci wanita yang di hadapanya itu.
Meriya yakin sosok wanita yang berumur di depanya itu adalah orang yang lembut dan penuh kasih sayang.
Meriya hanya menyalahkan takdirnya.
Magdalena tidak menjawab.
Magdalena menunduk.
Dia juga binggung.
Disatu sisi dia ingin segera memberitahukan hal ini kepada suaminya.
Disi lain Meriya ternyata melarangnya untuk memberitahukan suaminya.
"Apakah kamu memikirkan ucapan ibu Maria?
"Tenang saja.
"Ayahmu orang baik.
"Dia tidak seperti yang Maria bilang.
Magdalena mencoba membujuk Meriya.
"Aku tidak ingin Tuan mengetahuinya.
__ADS_1
"Jangan panggil ayahmu dengan sebutan Tuan.
"Kau Putrinya.
"Tidak ada seorang Putri yang memanggil Ayahnya Tuan.
Magdalena menolak panggilan Meriya kepada suaminya Elio sambil menatap mata abu-abu Meriya.
"Aku akan tetap memanggilnya Tuan.
"Aku harap Nyonya juga menuruti permintaanku.
"Jika Nyonya melanggarnya maka aku juga akan membenci Nyonya.
Ancam Meriya sambil berdiri dan melangkah pergi dari sana.
Meninggalkan Magdalena yang mematung saat mendengar ultimatum Meriya.
Magdalena merosot kelantai.
Jantungnya berdetak tak karuan.
Disatu sisi dia merasa senang akhirnya ke inginan suaminya untuk mempunyai Putri kandung telah terkabul.
Tetapi Magdalena kembali menelan pil pahit saat Meriya menolak mentah-mentah permintaannya.
"Apa yang harus kulakukan Tuhan.
Bisiknya.
Magdalena melangkah gontai.
Kakinya tertatih-tatih melangkahkan kakinya di tangga itu.
Saat di lorong Magdalena mencoba menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara berlahan.
Dia melangkahkan kakinya keluar rumah sakit dan menghentikan taksi
Magdalena ingin ke Mansion untuk menenangkan hatinya yang begitu gelisah dan kacau.
Magdalena juga mengirim pesan kepada suaminya bahwa dirinya sedang di perjalanan pulang kemansion untuk mandi dan ganti baju.
Walaupun bajunya ada di rumah sakit.
Magdalena tetap memberikan alasan itu.
Meriya keluar dari kamar mandi umum yang ada di rumah sakit.
Meriya juga mencuci wajahnya.
Dia tidak ingin ada yang melihat wajahnya sembab dan matanya bengkak.
Meriya menerima pesan dari bibi Elis yang ternyata sudah sejak tadi menunggunya untuk pulang.
Disana juga tertera beberapa kali panggilan dari bibi Elis.
Meriya memang membuat mode getar.
Sehingga Meriya tidak menyadari panggilan dari bibi Elis.
"Hallo. Bi.
Meriya langsung mengangkat teleponnya saat Bibi Elis kembali menghubunginya.
"Kamu dari mana saja Meriya?
"Ini sudah sore.
" Ayo kita pulang.
"Bibi tunggu di depan rumah sakit ya.
" Disana supir sudah menunggu lama.
'"Iya bibi.
Ucap Meriya dengan suara paraunya.
Dia telah menyusahkan bibi Elis satu hari ini.
"Pasti bibi kembali cemas.
Batin Meriya.
Bibi Elis akan sangat cemas jika Meriya tidak nampak di depanya.
Bahkan di Mansion bibinya itu akan selalu memanggilnya dua jam sekali.
Bibi Elis yang akan selalu mengingatkannya untuk sarapan, makan siang dan makan malam.
Sesekali bibi Elis akan merapikan rambutnya jika mereka sedang istirahat atau sedang berchanda gurau.
"Setidaknya aku masih bersyukur masih ada yang sayang dan perhatian kepadaku.
__ADS_1
Batin Meriya.
Sambil berjalan melewati lorong rumah sakit menuju parkiran.