Katakan Di Mana Salahku

Katakan Di Mana Salahku
Meriya mendonorkan darahnya untuk Sean


__ADS_3

Sepanjang jalan Meriya tersenyum cerah.


Saat ini Meriya berjalan di lorong rumah sakit sambil membaca tulisan-tulisan yang tertera di setiap ruangan yang di lewati meriya. Meriya mencari ruangan khusus mendonorkan darah.


"Ada yang bisa kami bantu Nona?


Tanya salah satu perawat yang melihat Meriya Mondar-mandir di depan nurse station mereka.


Perawat itu berfikir Meriya sedang binggung.


Karena gerak-gerik Meriya yang membaca Tulisan setiap ruangan.


Dan perawat itu sempat mendengar Meriya membaca tulisan yang berada di dinding ruangan mereka... "NURSE STATION.


"Maaf mengganggu kak.


"Di mana disini ruangan Donor darah.


"Karena aku ingin mendonor darahku kepada pasien yang bernama Tuan Sean.


Ucapnya sedikit gugup.


Perawat itu terkejut.


Dia memang mengetahui bahwa Putra pemilik rumah sakit itu sedang kritis dan membutuhkan darah AB Rhesus positif.


Saat ini juga rumah sakit sedang kalang kabut mencari pendonor untuk Putra pemilik rumah sakit. Perawat itu mengetahuinya dari informasi group di ruangannya.


Perawat itu sedikit senang dan langsung mengantar Meriya ke ruangan lab sendiri.


Dia tidak ingin mengulur waktu karena nyawa Tuanya sedang terancam.


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan Meriya akhirnya bisa menyumbangkan darahnya sebanyak dua kantong.


"Apakah segitu cukup kak?


"Ambil saja lagi darahku.


"Aku masih kuat.


Ucap Meriya sedikit antusias.


Padahal dirinya saat ini sedikit mengalami oyong dan wajahnya terlihat pucat.


Petugas lab itu tersenyum tulus.


"Tuan Sean membutuhkan darah dua kantong Nona.


"Terimakasih telah mendonor darah Nona kepada Tuan Sean.


Petugas rumah sakit itu memperhatikan wajah Meriya yang sedikit pucat.


"Makan dulu Nona. Untuk memulihkan tenaga nona.


Petugas itu menyodorkan makanan empat sehat lima sempurna ke hadapan Meriya.


Setiap pendonor di rumah sakit itu.


Mereka akan menjamu pendonor itu dengan makanan yang sehat dan minuman yang sehat dan menyuruh pendonor itu istirahat minimal dua jam di tempat tidur untuk memulihkan tenaga dan mengganti darah yang keluar dari tubuh si pendonor.


Sebelum si pendonor keluar rumah sakit.


"Terimakasih.


Meriya memakan makanan itu dalam dia.


Dia masih bersyukur saat kondisinya mulai lemah seperti ini masih ada yang memperhatikannya.


Meriya kembali berfikir positif tidak semua orang ternyata jahat seperti ibunya.


Buktinya orang-orang yang berada di Mansion tempatnya bekerja adalah orang-orang baik semua.


Majikanya dan kedua Tuanya juga orang baik walaupun Meriya jarang bertemu dengan mereka.


Tetapi Meriya masih menganggap mereka sangat baik.


Hanya Nona mudanya Catherine yang sedikit memiliki niat buruk dan hal itu masih wajar bagi Meriya. Karena Meriya merasa Catherine melakukan itu karena Catherine takut dirinya merebut posisinya padahal Meriya tidak pernah berniat melakukan hal seperti itu.


Di dalam fikiranya sekalipun hal itu tidak pernah terlintas sama sekali.

__ADS_1


Setelah makan Meriya merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Meriya telah mengirim pesan kepada bibi Elis bahwa dirinya sedang sakit perut.


Setelah dua jam berlalu Meriya terbangun.


Tenaganya sudah sedikit pulih.


Petugas rumah sakit itu tersenyum saat melihat Meriya melipat selimutnya sendiri dan merapikan tempat tidur itu.


Petugas itu merasa Meriya sosok pasien yang berhati mulia.


Baru kali ini dia menjumpai pasien yang ramah, dan lemah lembut seperti Meriya.


"Biar kami saja Nona. Ini tugas kami.


Jelas petugas itu sambil merapikan pinggiran tempat tidur Meriya.


"Tidak apa-apa kakak.


Meriya membalasnya dengan senyum teduhnya membuat petugas rumah sakit itu semakin mengaguminya.


Walaupun dirinya seorang wanita yang sudah berumur.


Dia cukup angkat jempol melihat sikap Meriya yang seperti Dewi itu.


"Ayo Nona kita jumpai keluarga Tuan Sean.


"Mereka ingin berterimakasih ke pada Nona karena telah menolong tuan Sean.


Ucap petugas rumah sakit. senyumnya masih terpatri di sana.


Meriya merasa terkejut mendengar ucapan petugas lab itu.


"Tidak usah kakak.


"Aku ikhlas membantunya.


Meriya tidak ingin majikanya dan Tuanya mengetahui bahwa dirinyalah yang mendonorkan darahnya.


Dia tidak ingin majikanya yang sangat baik itu memberikan imbalan. Karena Meriya sedikit tau dengan sikap para majikanya itu.


Dan Meriya tidak menginginkan hal itu karena Meriya tulus membantu Tuanya Sean.


Petugas rumah sakit itu terkejut mendengar penolakan Meriya.


"Apakah nona bisa meninggalkan nomor rekening Nona?.


Petugas rumah sakit itu menghentikan langkah Meriya yang sepertinya buru-buru pergi dari ruangan itu.


"Maaf kakak. Aku akan segera pergi.


"Aku sudah mengatakan kepada kakak.


"Aku ikhlas menolong Tuan Sean.


"Aku sedang buru-buru.


"Mohon jangan memaksaku kak.


Ucap Meriya dan dalam sekejap langsung menghilang dari ruangan itu.


Membuat petugas lab itu melongo.


"Kenapa wanita muda itu menolak ucapan terimakasih dari Tuan Elio dan Nona Magdalena?


"Bukankah lumayan untuk pudingnya kedepan?


"Kenapa Nona muda itu mendadak buru-buru


Batin petugas itu.


Di ruangan khusus tempat Sean di rawat.


Proses operasi pada paha sebelah kanan Sean telah berjalan dengan lancar.


Paha kanan Sean mengalami Patah tulang.


Dan di dalam operasi itu juga darah dari Meriya sambil di tranfusi.

__ADS_1


Wajah Sean kini tampak berwarna setelah tindakan operasi dan tranfusi darah itu berjalan dengan lancar.


Magdalena dan Elio sedari tadi melafalkan Doa untuk keselamatan Putra mereka.


"Sekarang Sean tinggal menjalani perawatan pemulihan.


"Kalian tidak usah terlalu kuatir.


"Masa kritisnya telah lewat.


Ucap wanita paruh baya teman dekat Magdalena dan Elio semasa kuliah kedokteran dulu.


"Aku belum bisa tenang sebelum Putraku membuka matanya.


Ucap Magdalena sambil terisak.


Dunianya seakan runtuh saat mengetahui Putranya kecelakaan parah.


Dia tau akhir-akhir ini Putranya banyak pikiran.


""Tok..tok.


ketukan dari pintu membuyarkan lamunan ke tiga insan yang di dalam ruangan Sean.


"Masuklah.


Dokter yang mengoperasi Sean yang menjawab.


Karena kedua sahabatnya itu tidak menyahut.


"Maaf Dok.


Ucap seorang wanita yang sudah berumur.


Dia adalah petugas lab yang mengambil darah Meriya dan memeriksa Meriya.


"Mana pasien yang mendonor darahnya kepada Putraku?


Suara berat Elio bertanya kepada petugas lab itu saat mengetahui petugas itu datang sendiri.


"Maaf Tuan pendonor sedang buru-buru dan tidak sempat bertemu dengan Tuan.


Ucap petugas itu tertunduk.


"Apakah dia meninggalkan nomor telepon aku akan menghubunginya sekarang juga.


Magdalena tidak kalah antusias.


Dirinya berutang Nyawa kepada sosok yang telah mendonorkan darah dua kantong untuk Putranya.


"Nona itu meninggalkan nomornya Nyonya.


"Tetapi nomornya tidak aktif.


Elio dan Magdalena mengerutkan keningnya.


"Apakah dia meninggalkan nomor rekeningnya?


"Jika dia memang sibuk aku akan mentransfer uang untuk pudingnya.


Magdalena merasa pendonor itu sengaja melakukanya.


"Siapa pendonor darah untuk Putraku.


Batinya sedikit penasaran.


"Dia tidak mau meninggalkan nomor rekeningnya Nyonya.


"Padahal aku sudah memaksanya.


Bahkan petugas lab itu sampai sekarang masih mengingat jelas sikap Meriya yang lembut dan juga sedikit keras kepala.


Elio dan Magdalena semakin binggung.


"Aku akan memeriksa data-datanya nanti.


Batin Magdalena.


"Terimakasih.

__ADS_1


"Kembalilah. Titah Magdalena.


__ADS_2