
"Di sana telah menunggu dokter yang bagus untuk memeriksamu.
Ucap Maria tak berperasaan kepada sosok wanita mungil yang masih tertekun melihat cara bicara ibunya yang begitu menyakitinya.
Dengan serangkaian kejadian yang membuat hubungan kedua ibu dan anak itu semakin renggang.
AKhirnya Meriya secepat kilat sudah berada di dalam kamar khusus untuk memeriksa kesehatannya terutama ginjalnya.
Meriya dan ibunya menunggu hasil pemeriksaan Meriya di sebuah kamar yang di yakini Meriya kamar VIP dimana hanya orang-orang yang berduit lah yang mampu memesan kamar itu.
Ruangan itu terasa sunyi. Meriya tidak banyak bertanya lagi dengan sosok yang sedang sibuk main handphone itu.
Bahkan ibunya itu tidak menyadari bahwa Meriya saat ini merasa kelaparan karena dirinya hanya sarapan roti tadi pagi di Tamba saat ini hari sudah menjelang sore. Membuat perut Meriya keroncongan sedari tadi.
Saat Meriya ingin permisi keluar untuk membeli makanan suara pintu terdengar.
""Ceklek.
Pintu terbuka membuyarkan dua sosok yang di kamar itu.
""Gimana hasilnya.
Tanya Maria tanpa basa-basi kepada dokter muda itu.
""Hasilnya bagus Nyonya.
"Kesehatan Nona Meriya sangat bagus sehingga bisa mendonorkan ginjalnya.
""Bagus.
"Kamu telah bekerja dengan sangat bagus.
Puji Maria kepada dokter muda itu.
Maria mengeluarkan cek dan memberikanya kepada dokter muda itu.
Dokter muda yang menerima cek itu merasa senang apalagi kliennya itu memberinya dengan jumlah yang cukup besar.
""Terimakasih Nyonya.
Pria muda itu sedikit kaku menerima cek pemberian Maria karena Meriya sejak tadi memandanginya dengan pandangan yang sulit di artikan.
""Ayo..
Ucap Maria sambil menarik kasar tangan Meriya.
""Kita mau kemana ibu?
Meriya meringis dan perasaanya sedikit takut. Ibunya itu seperti ingin menculiknya.
__ADS_1
""Apakah kamu tidak mengerti juga dengan apa yang sudah ku jelaskan?
Maria menatap nyalang Meriya. Bahkan Maria tidak mau jika Meriya menyebutnya dengan sebutan ibu.
""Kita akan pergi ke Eropa.
Maria bejalan melewati Meriya yang mematung akibat perkataanya barusan.
Maria merasa jengkel karena sempat di perhatikan beberapa orang di rumah sakit itu.
""Sial. Umpatnya.
""Bisakah kau cepat jalan.
"Apakah kau ingin membuatku menunggu lama dan mati kelaparan akibat ulah bodoh mu itu. Teriak Maria yang melihat Meriya berjalan seperti siput dengan pandangan kosong. Dia ingin membius Meriya sehingga memudahkan perjalanannya.
Meriya ikut memasuki mobil .
""Ibu bisakah kita pergi kerumah untuk mengambil beberapa barang berharga?
Ucap Meriya dengan raut wajah yang memohon.
""Barang berharga seperti apa yang kau inginkan?
"Bahkan rumah itu tidak layak di sebut rumah.
"Di dalamnya juga tidak ada barang berharga seperti yang kau katakan yang layak untuk di jual. Hina Maria membuat hati Meriya semakin sakit saat mendengarkan kata-kata ibunya yang selalu menyakitinya itu.
Dengan lahap Meriya makan. Sungguh perutnya saat ini sangat kelaparan.
Maria yang melihat cara makan Meriya merasa jijik. Di hatinya tidak ada sedikitpun perasaan sayang kepada wanita yang sudah di lahirkan itu. Wanita yang di depanya itu terlalu banyak menorehkan luka untuknya sehingga hanya kebencian yang ada di dalam hatinya saat kedua bola matanya menatap Meriya.
""Jika kita sudah sampai di Eropa aku harap kau jangan pernah memanggil ku ibu.
"Aku tidak sudi kau panggil ibu dan aku tidak mau mempunyai anak pembawa sial seperti mu.
""Deg..
"Mata Meriya berkaca-kaca saat mendengar perkataan ibunya yang begitu menusuk ulu hatinya. Perkataan dari wanita yang melahirkannya itu seperti ribuan jarum yang menancap tepat di jantungnya terasa sakit dan sesak.
Meriya tidak sanggup lagi menahan air matanya. Kini air mata itu telah membasahi pipih putih dan mulus Meriya. Dirinya ingin bertanya kenapa ibunya sangat membencinya tetapi bibir Meriya terasa keluh saat berucap.
Sementara Maria tidak perduli melihat Meriya yang sedang menangis pilu itu. Di masa lalu dirinya juga selalu menangis pilu di rumah kecil dan kumuh itu.
Bahkan Maria tidak pernah selera memakan makanan yang di masak ibunya karena Maria dulu lebih sering makan di restoran cepat saji atau di cafe di ibu kota saat dirinya sedang menemba ilmu.
Uang yang di pegangnya selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya karena Maria dulu juga bekerja sebagai model pengganti atau model yang mengiklankan suatu produk.
Tetapi saat kehadiran Meriya di rahimnya membuat hidup Maria hancur sampai ke jurang tak berujung.
__ADS_1
Mulai dari situ rasa bencinya kepada Meriya telah mendarah daging sampai ke urat nadinya.
Maria memberikan paspor ke pada Meriya.
Meriya melihat data-datanya disana dia sangat terkejut ibunya begitu gampang melakukan pembuatan paspor itu.
""Apakah ibu mempunyai banyak uang sehingga membuat paspor ini saja ibu hanya membutuhkan waktu dua jam. Batin Meriya. Setelah menghapus kasar jejak air matanya
"Ayok.
Ajak Maria kembali menarik tangan Meriya secara kasar. Dirinya tidak ingin Meriya berpikir untuk melarikan diri. Dia tidak ingin semua perjalanan dan penantian panjangnya sia-sia.
Meriya di dalam pesawat sedikit takut. Seumur-umur baru kali ini dirinya menaiki pesawat. Mereka memang berada di penerbangan VIP. Membuat Meriya semakin melongo. Dia takut ibunya itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor. Sehingga ibunya itu telah berubah menjadi sosok yang tidak berperasaan.
Setelah memakan waktu hampir sembilan jam di dalam pesawat kini pesawat mereka telah mendarat.
Disana telah ada supir yang menunggu kedatangan mereka.
""Antar dia ke apartemen. Titah Maria kepada sang supir sementara dirinya langsung menaiki mobil yang lain.
""Ta..tapi..ib
Meriya tidak jadi melanjutkan ucapanya karena ibunya telah pergi meninggalkanya.
Sang supir yang melihatnya sedikit binggung.
""Ayo.. Nona.
"Aku akan mengantarmu ke apartemen yang sudah di sewa nyonya Benito.
""Benito?
Beo Meriya.
""Apakah Nona tidak tau bahwa Nyonya Maria istri dari Tuan Benito Isak.
Tuan Benito Isak salah satu pengusaha sukses di negara Italia ini Nona. Jelas sang supir. Dirinya merasa binggung dengan sosok wanita muda yang di bawa Nyonyanya itu.
""Maaf aku tidak terlalu mengikuti berita tentang dunia bisnis jadi aku kurang tau hal itu ucap Meriya sedikit kaku.
Sementara sang supir hanya geleng-geleng kepala.
""Anak muda zaman sekarang memang beda. Batinya.
Di dalam apartemen yang cukup mewah bagi Meriya.
Meriya duduk dengan perasaan hampa disana. Meriya tidak menyangka ibunya akan membawanya ke negara itu.
Saat ini di negara itu suasananya sedang pagi. Semua orang di apartemen itu telah sibuk melakukan aktivitas sehari-harinya.
__ADS_1
Meriya hanya membawa dompetnya dari rumah. Didalam dompet itu terdapat figuran seorang wanita yang sudah tua dan sedang tersenyum. Foto itu adalah foto saat Meriya jalan-jalan berdua dengan sang nenek sepuluh tahun yang lalu.