
Tiba-tiba Meriya mengingat sosok gadis cantik di rumah sakit.
""Apakah ini miliknya dan ibu memberikanya kepadaku?
"Apakah ibu merasa aku akan merasa senang menerima pakaian bekas Putrinya?
"Aku tidak akan memakainya.
"Lebih baik aku jual saja.
Batin Meriya
Meriya sungguh kesal saat baju bekas Putri ibunya itu di berikan kepadanya.
Walaupun dirinya miskin dan tidak punya apa-apa Meriya masih punya harga diri.
Akhirnya Meriya menggunakan baju Tidur yang di yakininya masih baru itu. Karena masih terpampang jelas di sana labelnya.
Meriya kembali merebahkan badanya di tempat tidur.
Ke dua Mata abu-abu Meriya tidak bisa terpejam mungkin karena Meriya telah menghabiskan waktu yang begitu lama tidur tadi sore sampai malam. Sehingga kedua mata sayu itu tidak merasakan ngantuk.
Meriya berguling kesana-kemari.
Tidak terasa matahari pagi sudah menunjukkan sinarnya.
Meriya bergegas keluar Apertemen.
Saat Meriya keluar dari pintu Apartemennya beberapa orang berlalu lalang di sekitar lorong Apartemen itu.
""Mungkin mereka sebentar lagi mau berangkat bekerja.
Batin Meriya saat melihat sosok wanita begitu buru-buru menggunakan sepatu toes miliknya.
""Permisi apa ada yang bisa aku bantu?
Tanya wanita itu yang merasa dirinya di perhatikan oleh Meriya sejak tadi.
"Maaf mengganggu waktumu sebentar.
"Apakah kamu tau di mana tempat menjual baju Dress yang sudah bekas pakai?
Meriya bertanya sedikit sungkan karena telah menyita waktu perempuan itu.
Meriya merasa ini kesempatanya untuk bertanya kepada sosok wanita yang masih muda itu.
Karena Meriya takut pelayan ibunya yang biasa datang pagi-pagi untuk mengantar sarapanya akan melihatnya menjual baju pemberian ibunya.
Wanita itu sedikit terkejut.
Dia berpikir Meriya pendatang baru ke kota ini jadi belum mengerti tempat di mana khusus menjual pakaian bekas.
"Bisa aku melihat dress nya mana tau cocok denganku biar ku beli saja.
"Benarkah.
"Syukurlah.
"Tunggu sebentar aku ambil Dress nya dulu.
Wajah Meriya berbinar-binar saat wanita asing itu menawari akan membeli Dress bekas pemberian ibunya.
Wanita asing itu sedikit kasihan melihat tampang Meriya yang sepertinya sedang membutuhkan uang.
"Jika dia tidak punya uang kenapa dirinya harus menyewa Apertemen ini. Batinya.
Wanita asing itu sedikit penasaran seandainya waktunya tidak mepet maka dia akan bertanya banyak kepada Meriya.
"Ini Dress nya.
Meriya menyerahkan Dress yang mau di jualnya.
Wanita asing itu memperhatikan Gaun pemberian Meriya.
__ADS_1
Menurutnya Gaun itu simpel dan elegan.
"Sepertinya Dress ini muat di badanku. Batinya.
"Berapa Dres ini kamu jual?
Meriya yang mendengar wanita itu bertanya dengan harga Dress yang mau di jualnya itu sedikit binggung.
Dia tidak ingin menjual Dress itu dengan harga tinggi walaupun Dress itu terbuat dari bahan yang berkualitas.
Dia hanya ingin membuang Dress itu dari hadapanya sekaligus menguntungkan baginya.
"Terserah mau beli berapa.
"Aku akan menerima berapapun yang kamu berikan.
Meriya tersenyum tulus.
Membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
"Apakah wanita ini sebenarnya membutuhkan uang?
"Kenapa dia menjual Dress sebagus ini dengan harga yang tidak di tentukanya sendiri.
"Apakah Dress ini pemberian mantanya.?
"Dan mereka sudah putus.
"Sehingga wanita itu menjual Dress ini?
Batin wanita muda itu.
Mengingat sosok dirinya juga seperti itu.
Wanita asing itu mengeluarkan uangnya.
Dan memberikan kepada Meriya.
""Maaf aku belum gajian.
"Aku akan menambahkanya jika aku sudah memiliki uang
"Aku berjanji.
"Ingatlah Nomor Apertemenku.
"Nomor tujuh belas. C
"Namaku Elena. Salam kenal denganmu
"Maaf aku terburu-buru.
Ucap wanita itu setelah memberikan uang dua lembar kepada Meriya dan langsung pergi dari hadapannya.
Meriya masuk kembali ke apartemen dan terkejut.
Uang yang di pegangnya dua ratus Neuro.
"Wah..Dia telah membayar Dress itu dengan nilai yang tinggi.
Batin Meriya.
Di negaranya menggunakan mata uang Rupee. Jika di bandingkan maka yang yang di pegang nya saat ini sebanding dengan Gajinya hampir dua bulan.
Bahkan saat ini Di dompetnya tidak ada uang sebanyak itu.
Meriya menyimpan uang pemberian wanita tadi ke dompetnya dengan rapi.
Seketika tatapan matanya terjatuh pada amplop coklat pemberian ibunya.
Meriya melihat ketebalan yang itu dan matanya terbelalak.
Di dalam amplop itu ada yang sebanyak dua puluh lima juta euro.
__ADS_1
Tangan Meriya bergetar memegang uang sebanyak itu.
lalu mengingat perkataan ibunya sewaktu di rumah sakit.
"pantas saja ibu mengatakan seperti itu.
"Walaupun aku belum pernah memiliki uang sebanyak ini bahkan sekedar memegangnya.
'"Aku tidak akan sudi menerima uang dari ibu.
"Aku yakin jika uang ini kuterima maka ibu akan beranggapan bahwa ginjal ku sudah ku jual.
"sampai kapanpun, Aku tidak akan menerimanya. "Dan aku tidak ikhlas ginjalku di ambil ibu.
"Ibu telah berbohong padaku.
Tatapan Meriya berubah sendu.
hatinya masih sakit saat mengingat kenyataan pahit itu.
Dengan uang itu sebenarnya Meriya sudah bisa membeli rumah di ibu kota negaranya.
Tetapi Meriya tidak ingin mengambil uang pemberian ibunya walaupun itu sah-sah saja mengingat ibunya tidak pernah memberikan nafkah kepadanya selama ini.
Meriya tidak ingin masuk ke dalam perangkap ibunya lagi dan Membohonginya kembali.
Meriya yakin ibunya itu telah merencanakan hal ini sejak lama.
tidak mungkin ibunya muncul kembali setelah Sang nenek meninggal.
Meriya tidak ingin ibunya merasa sudah membayar ginjal yang sudah di ambilnya dan telah memberikannya kepada putrinya yang lain.
"Aku tidak akan pernah menerima uang ini.
"Dan sampai kapanpun aku tidak akan ikhlas ginjal milikku di ambil oleh ibu.
"Awalnya aku memang sudah mengikhlaskannya "Karena Aku pikir ginjalku memang untuk ibu.
"Ternyata hal itu tidak benar.
"Dan sejak awal ibu tidak jujur kepadaku.
Ucap Meriya sambil Terduduk lemah di samping tempat tidur matanya kembali berkaca-kaca rasa sakit di hatinya masih sama.
Luka itu masih basah. Dan akan di ingatnya seumur hidup.
Meriya berusaha menetralkan perasaanya.
Dia tidak ingin larut dalam kesedihannya.
Meriya mendengar bunyi pintu Apertemen dan Meriya keluar dari kamarnya setelah suasana hatinya kembali tenang.
Meriya melihat dan menghampiri pelayan itu.
Pelayan itu juga yang beberapa hari yang lalu ikut saat menjemputnya ke rumah sakit.
"Ini sarapanmu.
"Nyonya mengatakan hari ini tinggalkan Apertemen ini.
Ucap wanita itu dengan sinis.
"Aku ingin bertemu denganya.
Meriya tidak memperdulikan sikap pelayan yang angkuh itu.
Dari awal bertemu denganya Pelayan itu tidak ada sopan santunnya seakan merendahkan Meriya.
"Nyonya sangat sibuk saat ini.
"Nyonya sedang mempersiapkan pesta syukuran yang sangat besar.
"Karena Nona muda kami telah sembuh dan sudah bebas melakukan apapun yang dia mau.
__ADS_1
Jelas pelayan itu dengan bangga.