
Meriya berjalan dari lorong-lorong rumah sakit.
Meriya takut petugas lab yang tadi mengejarnya.
Meriya masih mengingat petugas lab itu begitu antusias menahanya supaya tidak pergi.
Meriya merasa pernafasannya yang sempat bergemuruh kini kembali normal.
""Brakk..
"Kau..Geram seorang wanita parah bayah saat tas mahalnya terjatuh ke lantai.
"Maaf Nyonya ucap Meriya merasa bersalah.
Akibat langkah kakinya yang buru-buru sehingga menabrak orang lain.
Meriya memperhatikan wanita paruh baya yang mengambil tasnya dengan raut wajah yang begitu kesal.
"Deg..
Meriya menelan salivanya dengan susah payah.
Wanita yang melahirkanya kini berdiri dengan angkuhnya di depanya.
Maria tak kalah terkejut saat melihat Putrinya yang di lahirkanya berada di depanya.
Maria sempat berfikir Putrinya itu telah kembali ke kampung halamannya. Ternyata Maria salah.
Saat ini Putrinya berdiri tepat satu meter di hadapanya. Yang membuat Maria semakin terkejut Putrinya menggunakan pakaian seorang pelayan.
"Apakah dia bekerja sebagai pelayan. Batin Maria sedikit emosi.
Jika benar Putrinya itu bekerja sebagai pelayan. Kemungkinan dia dan Putrinya masih akan bertemu.
"Ibu kenapa masih berdiri.
"Ayo ibu.
"Ayah sudah menunggu kita.
Ucap seorang gadis muda membuyarkan lamunan Maria.
"Oh..iya sayang.
Maria menarik tangan Putrinya dengan lembut.
Maria takut Putrinya menyadari sesuatu.
Sementara Meriya yang mendapatkan perlakuan dingin dan cuek ibunya kembali menelan batu besar.
Walaupun Meriya sudah sering di perlakukan dengan dingin oleh ibunya Meriya masih merasakan sakit hati.
Dan mungkin rasa sakit itu akan membekas selama di hatinya.
Meriya kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit lemah.
Butiran kristal yang sedari tadi di tahanya kini telah mengalir lurus di pipih putihnya.
"Kuat..Harus kuat.
Ucap Meriya mencoba menyemangati dirinya yang mulai rapuh.
Jika ibunya tidak menginginkan kehadirannya mungkin Ayahnya menginginkannya.
Meriya masih berfikir positif.
Di ruangan rawat inap Eksekutif.
Sean telah di pindahkan ke ruangan itu karena Sean saat ini sudah siuman.
Magdalena dengan hati-hati memberikan minum kepada Putranya.
"Bisakah aku makan ibu aku sudah lapar.
Keluh Sean.
"Sabar ya sayang
Bibi Elis sudah ku suruh kembali ke Mansion untuk memasak makanan kesukaanmu.
Dan mungkin sebentar lagi sedang di jalan.
Balas Magdalena lembut.
Dia telah berulang-ulang menasehati Putranya itu untuk tidak menggunakan sepeda motor sportnya.
Tetapi Putranya itu memiliki sikap keras kepala seperti dirinya.
__ADS_1
"Tok..Tok.
Suara ketukan di pintu.
Membuat Magdalena sedikit mengerutkan keningnya.
Jika Pelayannya yang datang pasti mengetuk dan langsung masuk.
Tetapi orang yang mengetuk dari luar tidak juga masuk.
"Apakah ada tamu yang akan datang?
Tanya Magdalena yang melihat suaminya merapikan dan mengancingkan kemeja putihnya yang sedikit terbuka.
"Iya..teman bisnis.
"Tuan Benito.
"Putrinya yang ku operasi beberapa Minggu yang lalu.
"Mungkin Tuan Benito ingin melihat keadaan Sean.
"Dia juga sempat mengatakan membawa istri dan Putrinya.
Ucap Elio sambil berdiri menuju pintu untuk membukanya.
"Krek..
""Degg..
Elio terkejut batin saat melihat sosok yang di depanya.
Walaupun sudah bertahun-tahun bahkan puluhan Tahun Elio masih mengingat sosok wanita yang sangat membekas di hatinya.
Maria tak kalah terkejutnya kedua mata besarnya hampir saja keluar dari sarangnya.
Mantan pacarnya kini sedang berdiri dengan gagahnya di depanya.
"Hallo. Tuan Fillipo.
Sapa Benito sedikit heran.
Dia melihat wajah Elio yang tiba-tiba berubah pucat.
"Oh ya..
Ucap Elio sedikit linglung.
Dia mengeser badanya ke samping supaya ke tiga manusia itu dapat masuk.
"Trang..
Pecahan gelas di lantai ruangan rawat inap Sean berbunyi dan pecah.
"Maaf ucap Magdalena sambil membersihkan serpihan kaca itu.
Magdalena begitu syok melihat sosok wanita yang saat ini melihatnya dengan sinis.
Magdalena juga mengenali wanita itu.
Mantan pacar suaminya.
Mantan yang sempat susah payah di lupakan suaminya yang saat itu Magdalena masih bersahabat akrab dengan suaminya sewaktu masa-masa sekolah dulu.
""Cih.. Cibir Maria.
Ternyata pelakor yang sempat merebut lelaki yang di cintainya dulu saat ini berstatus Istri dari laki-laki brengsek itu.
Walaupun Maria cuma berpacaran beberapa bulan dengan Elio. Tetapi bagi Maria sosok Elio sangat membekas di hatinya.
Bahkan mereka menghasilkan anak dari hubungan yang tergolong singkat.
Benito semakin heran saat melihat istri teman bisnisnya menatap istrinya dengan tatapan yang terkejut seakan mempunyai masalah tersembunyi.
"Apa kalian saling mengenal?
Suara bariton Benito memecahkan keheningan di ruangan itu.
"Elio mantan pacarku sayang.
Ucap Maria to the points.
Dia harus jujur jika tidak akan sangat susah untuk membujuk suaminya yang tidak percayaan itu.
"Apa?
"Apa?..
__ADS_1
Suara Benito di timpali suara Sean dan Putrinya
"shh.
Ringisan suara Sean yang tidak sengaja mengerakkan pahanya secara tiba-tiba.
Sean begitu terkejut saat Ayahnya mempunyai mantan.
"Apa yang ibu katakan benar.
Suara lembut seorang wanita yang seumuran dengan Sean bertanya kepada ibunya.
Wanita cantik dan anggun itu bernama Alice Benito.
"Iya sayang.
Ucap Maria sambil memaksakan senyumnya
Dia sungguh sangat dendam kepada ke dua sosok itu.
"Jadi Elio yang sudah menghancurkan masa depan istriku.
Batin Benito.
Sedikit banyaknya istrinya itu telah menceritakan kisah kelamnya.
Yang di nodai seorang laki-laki dan laki-laki itu tidak bertanggung jawab dan meninggalkanya begitu saja.
Awalnya Benito sedikit tidak percaya tetapi setelah menikah.
Baru Benito percaya.
"Untung aku jujur kepada suamiku dulu. Jika tidak. Pasti suamiku marah besar.
"Dan untung juga aku tidak memberitahu tau bahwa aku melahirkan Putri dari laki-laki brengsek ini. Batin Maria lega.
Kecanggungan tiba-tiba merayap hati keempat insan yang sudah Dewasa itu.
"Paman terimakasih telah menyelamatkanku.
Ucap Alice tulus.
Walaupun laki-laki itu mantan ibunya Alice tetap berterimakasih.
"Semua orang mempunyai masa lalu. Ucap Alice dalam hatinya.
Elio tersenyum.
"Silahkan duduk ucap Elio canggung.
Sementara Maria bersikap biasa-biasa saja.
"Gimana kabarmu Nak?
"Apakah sudah lumayanTanya Benito kepada Sean. sekuat tenaga Benito menekan rasa tidak nyamanya.
Walaupun teman bisnisnya itu yang menghancurkan masa depan istrinya.
Benito tetap mencoba melupakannya dan tetap menunjukkan wibawanya di depan pemuda yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya.
"Kabar baik paman.
"Terimakasih telah meluangkan waktu untuk mengunjungiku.
Ucap Sean sambil tersenyum kikuk.
Sean merasa Lelaki yang berumur itu mencoba mencairkan suasana yang mendadak sunyi.
"Bagaimana perasaan para orang tua ini setelah mengetahui.
"Bahwa Pasangan mereka saling mengenal di masa lalu.
"Dan sempat dekat. Batin Sean.
"Syukurlah kakak mendapatkan pendonor darah yang cocok sehingga kakak dapat di operasi tepat waktu.
Ucap Alice yang selalu menunjukkan senyum teduhnya.
Sedikit banyaknya ayahnya telah menceritakan kondisi Sean sewaktu perjalanan mereka menuju rumah sakit.
Maria terkejut.
"Jangan bilang Meriya yang menyumbang darahnya.
Batinya sambil terkekeh kecil.
Dan hal itu di sadari Magdalena yang sejak tadi meliriknya
__ADS_1