Katakan Di Mana Salahku

Katakan Di Mana Salahku
Elio bertemu dengan Maria


__ADS_3

Meriya duduk di luar kamar Sean setelah Meriya bertanya kepada suster tempat Tuanya Sean di pindahkan.


Meriya ingin masuk keruangan majikanya yang terbaru tetapi Meriya merasa enggan karena majikanya sepertinya sedang ada tamu karena Meriya mendengar suara dari dalam.


"Meriya.


Panggil Bibi Elis.


"Ya ampun. Kamu dari mana saja?


"Aku tadi sempat mencarimu kemana-mana.


"Masa kamu buang air besar sampai berjam-jam.


Ucap bibi Elis panjang lebar bercampur cemas.


"Maaf bi.


"Tadi aku sempat kesasar jawab Meriya tidak sepenuhnya berbohong.


Karena Meriya sempat mencari-cari kamar tuanya.


Karena ruangan tuanya yang di ruangan khusus telah kosong.


Akhirnya Meriya bertanya kepada perawat yang lewat di depanya.


"Kenapa kamu tidak hubungi bibi?


Bibi Elis sambil duduk di samping Meriya.


"Apa Tuan dan Nyonya sedang ada tamu?


Tanya bibi Elis yang tidak membahas kehilangan Meriya lagi.


Bibi Elis mendengar suara-suara dari dalam kamar Tuanya.


"Sepertinya bibi.


"Karena aku juga baru sampai.


"Kalo gitu ayo kita masuk.


"Tadi Nyonya mengatakan Tuan Sean sangat kelaparan.


Terang bibi Elis sambil berdiri di ikuti Meriya dari belakang.


"Krek.


Pintu kamar Sean terbuka lebar menampilkan sosok yang baru masuk Bibi Elis dan Meriya.


Meriya terkejut melihat ibunya yang berada di dalam kamar Tuanya.


"Jadi tamu Tuan dan Nyonya keluarga ibu. Batin Meriya.


Maria juga sama dia kembali terkejut melihat Putrinya di dalam kamar Teman bisnis suaminya.


Maria terkekeh sinis dalam hati.


"Kenapa takdir selalu mempertemukan ku dengan anak sialan ini. Batinya.


Meriya yang tidak ingin satu ruangan dengan ibunya izin pergi keluar.


"Bi aku keluar sebentar .


Ucap Ivona Tampa menunggu jawaban bibi Elis yang mengerutkan keningnya.


Bibi Elis merasa tingkah Meriya sangat lain dari yang biasanya.


Meriya keluar dari ruangan Tuannya.


Meriya tidak ingin ibunya semakin membencinya karena terlalu sering muncul di depan ibunya . Padahal Meriya sungguh tidak segaja melakukan hal itu.


Meriya juga tidak ingin lagi menampakkan diri di hadapan ibunya seperti permintaan ibunya beberapa Minggu lalu.


Tetapi takdir selalu mempertemukan Meriya dengan ibunya itu.


"Sayang.


"Aku keluar sebentar ya.


Ucap Maria lembut kepada suaminya dan di angguki suaminya Benito.


Magdalena yang melihat gelagat aneh Maria saat melihat Meriya merasa curiga.


Magdalena juga izin keluar saat dirinya sudah memastikan Maria keluar dari kamar Putranya.

__ADS_1


"Nak ibu keluar sebentar ya.


"Bisakan bibi Elis yang menyuapimu makan?


Tanya Magdalena.


"Bisa ibu.


Sean melihat gelagat ibunya yang seakan buru-buru keluar dari kamarnya.


Sean berfikir mungkin ibunya ingin berbicara empat mata dengan Maria.


"Tante aku saja yang membantu Kakak Sean makan.


"Bolehkan Tante?


Suara lembut Alice menyentuh Indra pendengaran Magdalena.


Magdalena mengangguk sambil tersenyum.


Dia tidak ingin menunjukkan ke tidak nyamananya kepada wanita muda itu.


"Meriya berhenti.


"Aku mau bicara.


Ucap Maria sambil menarik kasar tangan Meriya.


Maria melirik kanan kiri mencari tempat sepi


Dan akhirnya Maria memilih lorong yang Mempunyai tangga ke lantai bawah.


Maria yakin tangga itu tidak akan ada yang melewati karena rumah sakit telah menyediakan Lift dan eskalator di setiap lantai.


Magdalena keluar dari kamar Putranya.


Dirinya mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan.


Magdalena melangkah lebar seakan mengejar Maria yang belum nampak sama sekali.


Saat dirinya melewati lorong yang mempunyai akses tangga kebawah Magdalena mendengar samar-samar suara Meriya yang sepertinya menahan tangis.


Magdalena menuruni kakinya pelan-pelan supaya tidak terdengar oleh ke dua manusia yang sepertinya sedang berdebat.


"Ibu tolong.


"Sakit ibu.


Keluh Meriya sambil meringis.


Matanya langsung berkaca-kaca saat menerima perlakuan ibunya dengan kasar.


Sudah ku bilang jangan pernah panggil aku dengan sebutan ibu.


"Deg..


Magdalena hampir melorot di tempat.


Mendengar suara Maria yang melarang Meriya menyebutnya ibu.


Wajah Magdalena memucat.


Meriya yang mendengar teriakan ibunya menahan air matanya yang sebentar lagi akan tumpah.


"Kenapa kamu masih dikota ini.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu kembali kekampung ha?


Maria menatap Meriya penuh Amarah.


Wajahnya memerah menahan kesal melihat Meriya yang seakan tidak memperdulikan ucapanya.


"Aku akan pergi.


"Tetapi uangku belum cukup untuk ongkosku pulang.


Meriya akhirnya menangis dia tidak tahan menerima perlakuan kasar ibunya.


"Kalo kau tidak punya uang kenapa kau mengembalikan uang yang ku berikan kepadamu.


"Apakah kau ingin jual mahal.


"Atau apakah uang yang kuberikan itu tidak cukup?


Bentak Maria dia sudah tidak memperdulikan suaranya yang bisa saja di dengar oleh orang-orang yang lewat dari lorong rumah sakit itu.

__ADS_1


"Jika aku mengambil uang Nyonya.


"Maka sama saja aku menjual ginjalku.


"Sampai kapanpun aku tidak rela ginjalku kamu berikan ke pada Putrimu.


Meriya terisak sambil berteriak.


"Plakk..


Satu tamparan melayang di wajah mulusnya.


"Kau tidak berhak menolakku.


"Jika aku menggugurkan mu dulu.


"Mungkin saat ini kau tidak akan hidup.


Kata-kata Maria begitu menyakitkan di hati Meriya.


Tamparan dan kata-kata ibunya itu mengoyakkan hati Meriya yang sudah rapuh.


Magdalena hampir pingsan mendengar ucapan Maria.


Tubuhnya bergetar hebat.


Magdalena yakin Meriya Putri suaminya dengan Maria.


Mengingat Meriya sangat mirip dengan suaminya.


Mereka seperti pinang di belah dua.


Yang membuat Magdalena tidak habis pikir ginjal yang di potong suaminya ternyata ginjal Putrinya sendiri.


Air mata Magdalena mengalir deras di pipih Tuannya.


Ternyata kecurigaannya benar.


"Apa yang akan kulakukan.


'"Apakah hati suami akan hancur saat dia tau ginjal yang di potongnya itu adalah ginjal Putrinya sendiri.


"Bahkan Putrinya menjadi pelayan di kediamanya Batin Magdalena luruh.


Badanya bergetar hebat.


Selama ini suaminya sangat mengharapkan ke hadiran seorang Putri di keluarganya tetapi karena rahimnya yang tidak sehat terpaksa Magdalena tidak bisa mengabulkan keinginan suaminya.


Sekarang suaminya Mempunyai Seorang putri dari mantanya.


Tetapi suaminya sudah duluan menorehkan luka kepada Putrinya.


Magdalena menangis pilu mendengar kenyataan itu.


"Asal kau tau tidak ada yang menginginkan mu hidup di dunia ini.


"Kau ada hanya untuk tumbal untuk anak-anak kami.


Ucap Maria sinis.


Meriya terbelalak.


Maksud Nyonya apa.


Ucap Meriya bergetar.


"Apakah kau tidak tau.


"Elio itu...


Maria menjeda ucapanya sungguh dirinya ingin muntah menyebut nama laki-laki yang sangat di bencinya.


"Dia ayahmu Maria berucap sambil bergetar.


"Duaarr..


Bak di sambar petir perasaan Meriya saat ini.


Tubuhnya ambruk kelantai.


"Ayahmu sendiri yang memotong ginjalmu di ruang operasi.


"Dan menyambungkannya sendiri untuk Putriku.


"Apakah kau tidak tau hal itu?

__ADS_1


"Bukankah kau juga menyumbangkan darahmu untuk Putra ayahmu itu.


"Apakah ucapanku salah bahwa kau hidup di dunia ini untuk menjadi tumbal anak-anak kami.


__ADS_2