
"Sejak kapan kamu mengalami alergi kacang?
Suara Magdalena sedikit bergetar
Dan hal itu di sadari oleh Elio yang sedang duduk di belakang Magdalena.
"Kata dokter alergi ku sudah ada sejak lahir.
"Mungkin dari Gen Ayahaku Nyonya.
"Karena kata nenek ibuku tidak mempunyai riwayat alergi Nyonya.
Magdalena mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedikit kacau.
Sama halnya dengan Elio.
"Maaf Nyonya aku harus kembali.
"Terimakasih berkat Nyonya dan Tuan aku bisa selamat.
"Aku berutang Nyawa kepada Nyonya.
"Sekali lagi terimakasih Nyonya.
Meriya berdiri sambil menunduk.
Netranya juga sempat melirik Tuan Elio yang masih bergeming.
Meriya keluar dari kamar majikanya dengan perasaan sedikit tertekan.
Meriya merasa tidak enak karena telah lancang memasuki kamar pribadi majikanya.
Walaupun hal itu tidak di sengajanya.
Meriya tetap merasa tidak Nyaman.
Meriya kembali membersihkan kamar Nona Catherine.
Setelah aktivitasnya selesai. Meriya turun kebawah untuk makan siangnya karena bibi Mona telah memanggilnya dan sempat membantu Meriya membersihkan kamar Catherine.
"Makan yang banyak Meriya.
"Maafkan Bibi.
"Bibi tidak tau kamu alergi kacang.
Bibi Elis merasa tidak enak.
Karena awalnya Meriya sudah menolak.
Tetapi bibi Elis yang kurang peka tidak terlalu memperdulikan penolakan Meriya.
Bahkan Bibi Elis masih semangat empat lima menawari roti yang berselai kacang itu.
"Tidak apa-apa bi.
"Bibi jangan khawatir.
"Aku sudah enakan bibi.
Meriya tau bibi Elis akan merasa bersalah.
Dengan kejadian tadi pagi.
"Mulai sekarang bibi akan memantau semua makanan yang hendak kamu makan atau kamu minum.
"Aku juga sudah mengatakan kepada semua pelayan di sini untuk tidak menunjukkan makanan dan minuman yang mengandung kacang-kacangan.
Bibi Elis menunjukkan senyum tulusnya.
Bibi Elis berfikir jika Dia menikah dan punya anak mungkin saat ini anaknya sudah sebesar Meriya.
"Terimakasih Bibi.
Meriya merasa terharu dengan sikap bibi Elis.
Matanya berkaca-kaca masih ada orang yang perduli dengan kesehatannya.
Padahal orang itu baru saja di kenalnya.
Sementara ibunya.
Ibunya bahkan tega mengambil sesuatu yang berharga di tubuhnya.
Meriya tau banyak efek yang akan di timbulkan dari operasi ginjal itu pada kesehatannya.
"Jangan menangis.
"Apakah kata-kata bibi melukaimu?
Bibi Elis mencemaskan Meriya yang tiba-tiba menangis.
Meriya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku terharu dengan perhatian bibi.
Meriya mengusap air matanya.
"Anggap saja kami yang ada disini keluargamu.
"Aku yakin keluargamu yang jauh di kampung mu.
"Pasti tidak akan marah jika kamu menambahkan kami ke daftar anggota keluarga barumu.
Ucap Bibi Elis sambil mengusap-usap punggung Meriya memberikan sedikit hiburan kepada gadis rapuh itu.
Jantung Meriya merasa berdenyut saat mendengarkan ucapan bibi Elis.
"Seandainya bibi Elis mengetahui kehidupanku yang sebenarnya.
"Mungkinkah bibi Elis akan menyalahkanku juga sama seperti ibu?
Batinya.
Dia hanya seorang anak yang lahir di luar pernikahan.
Ibu kandungnya sendiri tidak mengakuinya sebagai anak.
Dan pergi meninggalkanya selama puluhan tahun.
Lalu ibunya kembali.
Setelah mengambil yang di inginkan ibunya.
Ibunya kembali mengusirnya.
Sehingga Meriya menjadi seorang pelayan di Mansion itu.
Seumur-umur Meriya tidak pernah membayangkan kehidupannya akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Air mata Meriya kembali mengalir.
Meriya merasa dirinya akhir-akhir ini bertambah cegeng.
*
Sore hari Catherine tiba di Mansion dengan wajah yang di tekuk.
Dia menggertakkan giginya kerena di antar oleh sosok laki-laki yang tidak di cintainya.
"Pergilah aku mau istirahat.
Ketusnya.
Dirinya sudah biasa di cueki bahkan di tolak berkali-kali.
"Istirahatlah.
"Besok aku akan menjemputmu lagi.
"Kita ke kampus sama-sama
Ucap Pria itu dengan lembut.
Catherine sudah menahan rasa Amarah sedari tadi.
Niatnya ingin menghampiri sosok laki-laki yang di cintainya malah dia bertemu laki-laki yang saat ini mengantarnya pulang.
Laki-laki itu tak lain dari adik kandung dari pria yang di cintainya sedari dulu.
Bahkan saat dirinya dulu masih berstatus anak pelayan sepuluh tahun yang lalu.
Catherine langsung melenggang pergi dari hadapan pria itu.
Dia tidak perduli jika pria itu marah atau kecewa.
Gavin menghembuskan nafas beratnya.
Meluluhkan hati Catherine begitu susah.
Gavin menyukai Catherine sejak di bangku SMA.
Karena dulu Catherine sosok yang ramah dan lemah lembut.
Sampai sekarang dia masih menyukai Catherine walaupun wanita itu sekarang telah berubah menjadi jutek dan kasar kepadanya.
Hal itu semakin membuat Gavin tertantang untuk menaklukkan Catherine.
"Ini minumanya Tuan.
"Silahkan duduk dulu.
Meriya meletakkan minuman hangat di meja kaca itu.
"Terimakasih.
"Gavin duduk dan menyesap teh yang telah di sediakan.
__ADS_1
Matanya sedikit melirik Meriya.
"Apakah kamu maid baru di sini?
"Iya Tuan.
"Tumben sekali ada pelayan muda di mansion ini.
Bisiknya pelan.
Dan masih bisa di dengar Meriya.
Meriya pergi dari ruang tamu itu.
Sepanjang jalan keningnya berkerut.
Dia bertanya-tanya
Memang tidak boleh ada pelayan muda disini.
Batin Meriya.
Dia tadi hanya di minta tolongin oleh bibi Mona
untuk memberikan teh itu kepada tamu yang ada di ruang Utama.
Katanya tamu itu kekasih Nona Catherine.
Dan tamu itu juga adik dari orang yang berkuasa di negara ini.
Meriya sungguh terkejut mendengar hal itu.
Dia penasaran dan sedikit takut untuk melihat adik dari nomor satu di negara itu.
Ternyata saat dirinya dengan baik-baik menawarkan minuman laki-laki itu mengucapkan kata-kata yang membuat Meriya masih penasaran sampai sekarang.
"Kamu kenapa melamun?
Bibi Elis menghampiri Meriya yang terduduk lesu setelah mengantar teh untuk tamu.
"Bibi.
"Apa tidak boleh pelayan muda bekerja di mansion in?
Tanya Meriya. tingkat penasarannya sudah sampai ke ubun-ubun.
Bibi Elis yang mendengar itu merasa jengkel.
"Apakah kamu bertemu dengan Nona Catherine?
"Dan dia mengertakkmu?
Tanya Bibi Elis yang lebih peduli kepada Meriya.
Meriya langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak bibi.
"Cuma laki-laki yang bibi bilang kekasih Nona Catherine mengatakan.
"Tumben sekali ada pelayan muda.
Katanya bi.
Meriya kembali mengucapkan kata-kata Gavin.
"Ah.. Ternyata tuan Muda dari keluarga Lazaro juga sampai mengetahui hal ini.
keluh bibi Elis.
"Memang Kenapa bibi?
Meriya semakin penasaran di buatnya.
"Itu semua gara-gara Nona Catherine.
"Dia tidak menyukai pelayan yang masih mudah.
"Apalagi masih di bawah umur dua puluh lima tahun ke bawah.
Keluhnya.
"Haa.
Meriya terpelonggok.
Fikiranya tadi sudah sempat berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa Nona Catherine tidak menyukai maid yang masih muda bi?
"Bukankah lebih bagus.
"Karena tenaganya masih kuat dan masih fresh?
__ADS_1
Meriya merasa heran dan dia tidak bermaksud meremehkan para pelayan yang sudah berumur itu.