Katakan Di Mana Salahku

Katakan Di Mana Salahku
Javier meminta haknya


__ADS_3

Kulit istrinya ini sangat putih dan lembut.


Walaupun Javier belum pernah melihat tubuh polos wanita lain. Javier yakin tubuh istrinya ini sangatlah indah. Mengalahkan tubuh-tubuh para model terkenal yang selalu mencoba menggodanya.


Javier tidak pernah tergoda sedikit pun. Malah Javier terkesan jijik.


Tetapi melihat tubuh istrinya. Javier tidak bisa menahan gejolak hasratnya.


Baru kali ini dirinya bisa berhasrat pada sosok wanita yang biasa-biasa saja menurut Javier. Dan untungnya wanita ini sudah istrinya. Sehingga Javier sedikit tenang, Jika dirinya bercocok tanam.


Dengan hati-hati, Javier masuk ke dalam bed cover itu. Dia di dalam sana bermain dengan benda kenyal sang istri.


Meriya terkejut, Kedua bola mata abu-abu nya langsung terbuka lebar. Dia melihat gundukan di Atasnya yang bergerak-gerak, Dan rambut suaminya telah menyentuh dagunya.


Meriya ingin menolak, Tetapi dia takut dosa, Apalagi ini malam pertama Mereka.


Suaminya berhak walaupun pernikahan mereka hanyalah main-mainan suaminya.


Jantung Meriya semakin berdetak kencang saat rasa aneh menyelusup di tubuhnya.


Suaminya itu masih betah disana dan melakukan sesuatu yang membuat Meriya hampir meloloskan desahannya.


Javier sungguh tidak tahan lagi.


Dia keluar dari dalam bed cover itu dan melihat istrinya yang masih memejamkan ke dua matanya.


"Meriya, Panggil serak.


"Hei..


"Meriya..Bangun.


Javier menepuk-nepuk pelan wajah Meriya.


Meriya berpura-pura membuka matanya.


"Iya Tuan. Ucapnya gugup. Majikanya itu sedang menimpa sebagian tubuhnya.


"Aku menginginkanmu. Ucap Javier to the points.


Persetan dengan perjanjian itu. Pikir Javier.


"Ta..tapi Tuan.


Jawab Meriya terbata.


"Bukankah kau bilang tubuhku kotor.


Kata-kata itu hanya bisa di ucapkan Meriya di dalam hatinya.


"Apa kamu tidak mau melayani suamimu sendiri?


Javier menatap tajam Meriya, Membuat Meriya ketakutan.


"Bukan begitu maksudku Tuan.


"Saya takut. Lirih Meriya.


Javier memicingkan matanya.


"Kau takut kenapa?


"Saya takut sakit Tuan.


Ucap Meriya sedikit menunduk..


"Cihh..Hal yang sudah seringpun kau lakukan, Kau bilang, Takut.


"Kau jangan bersikap sok polos di hadapanku.


"Aku tidak akan mempercayainya.


"Suka atau tidak, aku akan meminta hakku sebagai suamimu.


Ucap Javier sambil menggertakkan giginya. Membayangkan Meriya sudah pernah melakukanya dengan pria lain membuat amarah di hatinya ingin meledak.


Meriya memejamkan matanya saat mendengar kata-kata yang menyakitkan dari mulut suaminya.


Sebisa mungkin dia mencoba bertahan. Jika uangnya sudah cukup kembali ke negaranya dia akan meninggalkan negara ini. Negara yang menjadi awal penderitaannya.


Negara yang sangat di benci Meriya.


Javier langsung membuang bed cover yang masih membungkus badan istrinya.

__ADS_1


Membuka baju Meriya dengan amarah yang sudah di ubun-ubun, Dia akan menyiksa wanita ini malam ini.


Javier mematung melihat tubuh polos Meriya.


Dia melihat bekas operasi yang ada di perut Meriya.


Operasi ginjal yang pernah di katakan sahabatnya Jovan..


"Apakah luka operasinya yang di dalam sudah kering? Batin Javier, Dia takut saat melakukan penyatuannya dengan Meriya, Maka akan berefek pada luka operasi itu.


"Aku akan pelan-pelan melakukanya.


Ucapnya serak. Amarah yang sudah di ubun-ubun tadi telah berkurang.


Javier melakukan aktivitasnya, Mencium kening Meriya lama.


Layaknya seorang suami yang memperlakukan malam pertamanya dengan wanita yang sangat di cintainya.


Setiap kecupan yang di lakukan Javier tidak lepas dari stempel di tubuh Meriya.


Di bukit kembar itu, Javier bermain cukup lama.


tanganya merayap menjelajahi Meriya.


Saat Javier mendorong, Sesuatu yang sangat sempit dan mengganjal masih ada di sana.


Javier terkejut.


"Apakah dia masih perawan?


Batinya.


Senyum cerah dan ketulusan terukir di sana.


Sementara Meriya mencoba bertahan,


Rasa sakit yang di rasakanya di tambah mengingat kata-kata kejam suaminya telah membuat hati Meriya tercabik-cabik.


Meriya menggenggam kuat sprei yang menjadi saksi bisu kebuasan laki-laki itu.


Dengan susah payah Javier akhirnya menerobos pertahanan Meriya.


MERIYA menjerit kesakitan.


"Maaf..Bisik Javier sambil mencium kening Meriya.


"Maafkan aku, Ucapnya dengan nada yang sangat serius.


Dia melihat air mata Meriya yang mengalir deras.


Hati Javier sungguh tidak tega, Tetapi dirinya juga tidak bisa berhenti.


Javier menghapus air mata Meriya dengan lembut.


"Jangan menangis, Aku berjanji akan pelan-pelan. Bisiknya sambil mengecup ke dua kelopak mata indah Meriya secara bergantian.


Javier melihat ke bawah, Disana mengalir darah segar dan mengenai sang Junior.


Dia kembali mendorong, Menenggelamkan lalu berlahan-lahan mengerakkanya.


Javier terus melakukanya. secara berulang-ulang..Menumpahkan benih berharganya di rahim sang istri.


Javier tidak pernah puas.


Javier juga tidak mau berhenti.


Meriya sudah merasa kelelahan, Badanya remuk, Pedih, Semua bercampur jadi satu.


"Saya lelah. Ucapnya, Matanya bengkak akibat menangis.


"Iya sebentar lagi sayang.


Ucap Javier dengan lembut.


Dia kembali mencium kening sang istri.


Mencoba menenangkan istrinya itu.


Javier sangat salah menilai istrinya ini.


MERIYA tertekun saat suaminya memanggilnya sayang.


Meriya merasa pendengaranya salah.

__ADS_1


"Bruukk..


Javier melepaskan benih terakhirnya.


Dia ambruk di atas tubuh Meriya.


Terimakasih sayang.


Bisiknya, Sambil mencium seluruh wajah Meriya dan berakhir di bibir manisnya.


Meriya membeku, Ternyata dia tidak salah dengar.


Suaminya juga memperlakukanya sedari tadi dengan lembut.


"Apakah setiap laki-laki yang sudah mendapatkan yang di inginkanya akan berubah menjadi baik?


Batin Meriya.


Dia berharap sikap lembut suaminya malam ini akan berlanjut ke hari-hari berikutnya.


Javier mengubah posisi tidurnya.


Dia menarik Meriya ke dalam pelukanya.


"Apa kamu pernah melakukan ciuman?


Tanyanya sambil mencium rambut lembut Meriya.


Meriya menggeleng.


Javier tersenyum senang.


saat mengetahui istrinya tidak pernah melakukan ciuman. Javier percaya itu karena sejak tadi istrinya itu tidak pernah membalas ciumnya.


Bahkan Javier lah yang menyuruh istrinya itu membuka mulutnya.


"Berarti aku yang pertama?


Meriya mengangguk semakin membuat Javier bahagia.


"Apa kamu pernah pacaran?


Tanya Javier sedikit was-was.


"saya belum pernah pacaran.


"Saya sibuk belajar.


Ucap Meriya sambil memejamkan matanya. Tubuhnya remuk dan lelah, Matanya mengantuk.


"Sibuk belajar?


Beo Javier.


Dia melihat mata istrinya yang sudah terpejam.


'"Tidurlah, masih banyak waktu untuk bertanya tentang kehidupan mu.


Ucap Javier semakin memeluk erat tubuh Meriya.


Dia akan melupakan balas dendam nya itu.


Dia Akan mencoba mencari kebenarannya sendiri.


Istrinya ternyata sosok yang polos.


Bukan karena di buat-buatnya.


"Apa Catherine berbohong kepadaku?


"Jika dia berbohong, Maka aku akan menghancurkannya. Batin Javier, Mata tajamnya mengkilat.


Sentuhan dari gundukan yang lembut membuat Javier kembali on.


"Shiiitt..


"Ayolah..Istriku sedang kelelahan ucapnya kepada benda yang sudah tegak lurus itu.


Javier menghembuskan nafas beratnya.


"Maaf sayang..Kau harus terganggu lagi.


Bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2