
Orang-orang yang menunggu di ruang tunggu sangat cemas dan berdoa sepanjang jalan berjalanya operasi itu.
""Apakah operasi Putri kita akan berhasil. Wajah wanita paruh baya itu berkaca-kaca.
""Tenanglah Putri kita anak yang kuat aku yakin semuanya pasti berjalan dengan lancar.
Ucap lelaki yang di sampingnya.
Dia adalah Benito Isak suami dari Maria Benito. Lelaki yang sudah berumur sekitar empat puluh lima tahun itu mengusap-usap punggung istrinya.
Dan mencoba menghiburnya.
Dia sangat berterima kasih kepada istrinya itu yang telah bersusah payah untuk mencari pendonor ginjal yang cocok kepada Putri mereka.
Bahkan istrinya itu tidak memperhatikan kesehatannya hanya untuk menjemput wanita yang ingin mendonorkan ginjalnya kepada Putrinya.
Sekalipun Benito telah membayar mahal wanita yang telah rela memberikan ginjalnya kepada Putrinya Benito merasa masih berutang Budi ke pada sosok wanita Muda yang sempat di lihatnya data-datanya. Namanya Meriya entah kenapa nama itu sedikit mirip dengan istrinya.
" Mungkin ini yang namanya takdir.
Batin Benito berpikir positif
""Aku harap saat kamu melunasi sisa pembayaran dengan wanita yang sudah mendonorkan ginjalnya itu panggilah pengacara untuk membuat buktinya. Aku tidak ingin ke depanya ada masalah. Ucap Benito sedikit merasa tidak nyaman.
""Tenang saja sayang.
"Aku sudah melakukan seperti yang kamu katakan barusan .
Meriya memeluk lengan kekar suaminya. Bahkan senyuman terindahnya di tunjukkannya kepada suami itu.
""Bagus..kamu sudah mulai bersikap bijak.
Benito mengecup sayang kening istrinya itu. Akhir dari penderitaannya telah berakhir. Kini dia akan menyaksikan senyum merekah Putri tercintanya setiap hari.
Setelah Putri tersayangnya di pindahkan keruangan pemulihan .
Maria bergegas menjumpai Meriya yang sudah sadar duluan dan sudah di pindahkan ke ruangannya.
Diruangan yang sepi dan sedikit dingin itu Meriya membuka matanya. Tenggorokannya terasa haus dan kering. Rasa sakit di bawah pusarnya sudah mulai terasa perih.
Meriya sebenarnya bukan wanita yang cegeng tetapi entah kenapa saat ini dirinya ingin menangis.
""Ceklek.
Suara pintu terbuka lebar dan tertutup rapat kembali. Bahkan pintu itu terkunci dari dalam.
Meriya menghapus air matanya.
Tiba-tiba sosok yang di cemaskanya beberapa waktu yang kalau berdiri sehat dan bugar di depanya.
""Ibu..lirihnya.
""Sudah kubilang jangan panggil aku ibu.
__ADS_1
Kali ini aku akan memakluminya tetapi selanjutnya jaga mulutmu supaya tidak melanggar larangan ku. Maria berbicara sambil duduk santai di sofa ruangan kamar VIP itu.
Meriya mengabaikan perkataan ibunya. Di benaknya telah banyak tanda tanya. Kenapa ibunya itu bisa berdiri dengan sehat dan sedang duduk disini.
dan wajah ibunya terlihat seperti merasakan ke bahagiaan karena wajah ibunya tidak suram lagi seperti saat mereka pertama bertemu.
"Mungkin tiga hari lagi kau sudah bisa pulang ke apartemen yang ku sewa.
"Setelah kau pulih Aku ingin kau segera pergi dari sini.
Seperti biasa Maria langsung berbicara ke intinya.
"Jika kau masih ingin di sini menjauhlah dari ke hidupanku aku tidak ingin kau mengganggu hidupku dan kebahagiaanku.
Maria kembali berbicara dengan mulut berbisanya itu sambil mengeluarkan uang di amplop warna coklat.
"Anggaplah uang ini sebagai bayaranmu.
"Aku yakin kau tidak pernah mempunyai uang sebanyak ini.
Ejek Maria tanpa merasa berdosa dan langsung melenggang pergi dari sana dirinya yakin Putri yang tak di anggapnya itu tidak akan berani menuntutnya.
Jika pun Putri yang di bencinya itu menuntutnya dia sudah mempunyai bukti dan lengkap dengan tanda tangan Meriya.
Meriya sangat terkejut.
Ibunya itu bukan sosok ibu seperti pada umunya.
Ibunya sungguh tidak punya perasaan.
Meriya terisak di atas tempat tidur itu badanya bergetar kuat semakin menambahkan rasa pedih di bagian bekas luka operasinya.
Disisi lain Benito bertemu dengan Dokter Elio di ruang kerjanya.
""Terimakasih telah menyelamatkan nyawa Putriku.
Ucap Benito tulus sambil menyalam sosok pria paruh baya di depanya itu.
Pria itu teman bisnisnya yang juga berprofesi sebagai dokter bedah.
""Sama-sama jika bukan karena kau yang memaksaku aku tidak akan terjun ke dunia ini lagi .
Dokter Elio sedikit tersenyum meskipun rasa tidak nyaman di hatinya belum juga hilang.
""Ngomong-ngomong kenapa tuan Benito tiba-tiba mendapatkan ginjal yang cocok untuk Putrimu?
""Oh..itu semua hasil dari kerja keras istriku yang telah berkeliling kebeberapa negara untuk mencari ginjal yang pas untuk Putri kami.
Dan akhirnya istriku menemukanya di salah satu rumah sakit besar di Mumbai.
Rumah sakit itu ikut membantu Istriku mencari pendonor.
Dan Akhirnya bertemu dengan gadis yang akan mendonorkan ginjalnya.
__ADS_1
Kata istriku gadis itu sangat membutuhkan biaya perobatan untuk Neneknya. Dan aku membayarnya dua kali lipat dari perjanjian pertama. Terang Benito.
Sementara Elio hanya mengangguk.
Mungkin uang dua miliar tidak seberapa baginya atau bagi teman bisnisnya itu.
TeTapi bagi wanita yang baru saja di bedahnya itu uang segitu sudah cukup membiayai hidupnya dan uang berobat neneknya.
""Mudah-mudahan Putrimu cepat pulih. Aku yakin kini ginjalnya tidak cacat lagi. Elio menepuk punggung teman bisnisnya itu.
"Terimakasih Tuan Elio.
"Aku permisi dulu untuk melihat keadaan Putriku.
""Silahkan Tuan. Benito.
Elio juga pergi dari ruangan pribadinya itu.
Dirinya lebih baik menyenangkan diri di rumah. Jika sudah bertemu istrinya maka rasa tidak nyaman yang tiba-tiba timbul itu akan lenyap seketika.
Hari berganti hari.
Setelah tiga hari menjalankan perawatan post operasi.
Meriya hari ini sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Dokter yang mengunjunginya selama post operasi adalah dokter umum biasa karena dokter Elio sedang sibuk dan tidak punya waktu memeriksanya atau mengunjunginya.
Padahal Meriya ingin bertanya banyak pada Dokter Elio.
Tentang apa saja makanan pantangan yang harus di hindarinya.
Atau Bisakah Meriya melakukan pekerjaan yang berat?
Meriya hanya bisa memutar-mutarkan pertanyaan itu di otaknya.
Sebelumnya Meriya juga sudah bertanya kepada dokter umum itu. Tetapi jawaban yang di terima Meriya kurang memuaskan.
Meriya menanggapi perkataan dokter muda itu dengan senyum kecilnya.
Baginya itu sudah hal biasa bagi dirinya yang mengalami kehidupan yang susah.
Sedikit banyaknya Meriya telah mengetahui kehidupan orang kaya yang mempunyai kesibukan yang luar biasa. Dia hanya setitik manusia diantara maraknya pasien yang telah di bedah Dokter itu.
Meriya tidak ingin men cap dokter yang membedahnya itu dokter yang tidak profesional sekaligus dokter yang mudah lepas tangan.
Dokter itu sungguh tidak memiliki etika dan tanggung jawab sebagai Dokter.
Kembali Meriya merenung diri.
Dia hanya pasien yang harus mengikuti peraturan rumah sakit itu.
Meriya juga tidak ingin mempersulit.
__ADS_1
Meriya juga sudah merasa lebih sehat walaupun sedikit lemah.