Katakan Di Mana Salahku

Katakan Di Mana Salahku
Elio marah


__ADS_3

Meriya hanya mengatakan sesuai dengan kenyataan.


Bibi Elis hanya bisa menghela nafas panjang.


Dia tidak tersinggung dengan ucapan Meriya


Malahan dirinya membenarkan ucapan Meriya.


Jujur para pelayan yang di mansion itu sangat berharap kedatangan pelayan yang masih mudah. jika bisa yang baru tamat sekolah menengah atas.


Sambil kuliah pun mereka tidak keberatan.


"Kami sebenarnya tidak tau.


"Tapi menurut gosip yang beredar.


"Nona Catherine takut posisinya di ambil dan takut Tuan Muda menyukai pelayan itu dan mengangkatnya menjadi kakaknya.


Mulut Meriya berkedut mendengar hal itu.


"Pantas saja dia tidak menyukaiku. Batinya.


"Kenapa juga Nona Catherine berpikir seperti itu ya Bi.


"Aku tidak habis pikir.


Ucap Meriya. bibi Elis menanggapi ucapan Meriya dengan mengedipkan bahunya.


"Makanya kamu jaga jarak dari Nona Catherine.


"Apalagi ke datanganmu ke Mansion ini sangat spesial.


"Kamu di bawa langsung oleh Tuan Muda.


"Bibi rasa Nona Catherine sekarang lagi getar-getir.


bisiknya sambil cengengesan.


Meriya sedikit takut.


Temperamen Catherine terkesan kejam.


**


Pagi hari seluruh anggota keluarga itu memulai sarapan paginya dengan hikmah.


Catherine memicingkan matanya saat melihat seluit Meriya yang sedang di dapur.


"Kamu..


"Panggil pembantu baru itu.


Titahnya kepada maid yang setia berdiri di samping mereka.


"Baik Nona.


Meriya datang keruang makan keluarga itu.


Dirinya binggung kenapa Nona muda Catherine itu memanggilnya.


Dia mengingat-ingat Pekerjaannya semalam saat membersihkan kamar Catherine.


Dan seingatnya Meriya membersihkan setiap sudut kamar itu dan meletakkan barang-barang yang berserakan itu dengan rapi sesuai tempatnya seperti yang di ajari bibi Mona saat datang menjemputnya untuk makan siang.


"Mulai hari ini dan seterusnya kamu akan membersihkan kamarku.


Titahnya.


"Baik Nona.


Meriya menunduk sopan.


Elio yang ikut sarapan merasa tidak suka melihat cara Catherine memperlakukan pelayan barunya.


Selama ini Elio tidak pernah ikut campur dengan apapun yang di lakukan Catherine terhadap para maidnya.


Tetapi hari ini dia merasa sesuatu di hatinya tidak nyaman.

__ADS_1


"Kenapa kamu menyuruhnya.


"Bukankah kamu sudah punya pelayan khusus untuk membersihkan kamarmu yang sesuai keinginanmu.


Terang Elio tak suka.


Catherine terkejut.


Selama ini Ayahnya tidak pernah perduli dengan apapun yang di lakukanya.


Bahkan sekalipun Dia membeli barang-barang mahal dan mewah Ayahnya tidak pernah menegurnya apalagi marah.


Kali ini dia melihat sendiri Ayahnya melayangkan protesnya hanya karena dirinya menyuruh pelayan baru membersihkan kamarnya.


Lagian itu sudah hal yang sering di lakukan Catherine kepada para pelayan.


Dan menurutnya itu sudah hal biasa.


"Apakah Ayah membela pelayan ini?


Dari tatapan Catherine dan cara berbicaranya menunjukkan ketidak sukaan sekaligus kecemburuan.


"Meriya kembalilah ke tempatmu.


"Kerjakanlah sesuai perintahku pertama.


"Untuk membersihkan kamar Catherine tidak usah kamu kerjakan karena sudah ada bibi Mona yang khusus membersihkannya.


Suara lembut Magdalena memecahkan ketegangan di meja makan itu. Dan hal itu semakin membuat Catherine tidak suka.


Pancaran matanya mengeluarkan tatapan yang mematikan kepada Meriya.


"Apa ibu juga melarangku?


Ucapnya wajahnya kini merah padam.


Suaranya sedikit meninggi.


"Kurangi volume suaramu Catherine.


"Lama-lama sikapmu sudah semakin keterlaluan.


Magdalena menatap dingin Catherine.


Kali ini Magdalena tidak akan bersikap lunak dengan sikap berkuasa Putri angkatnya itu.


"Syukurlah aku belum mengangkatnya Putri resmi.


Batin Magdalena.


Catherine menggertakkan giginya dan langsung pergi dari ruang makan dengan wajah yang menahan amarah.


Kursi yang di dudukinya di hempaskanya kebelakang.


Meriya semakin takut.


Dia yakin Nona mudanya itu akan semakin membencinya.


Sean yang melihat sikap tidak sopan Catherine terhadap ke dua orangtuanya semakin tidak menyukainya.


Dulu dia mengira Catherine benar-benar sosok gadis yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.


Ternyata semakin hari sifat busuknya semakin terlihat.


Apalagi saat Catherine tidak mengubris perkataan ke dua orang tuanya membuat Sean merasa bersalah dengan keputusannya yang di buat sepuluh tahun yang lalu.


"Lanjutkan sarapan kalian.


"Aku akan pelan-pelan menasehati Catherine.


"Gimanapun sebagian orang sudah tau bahwa Catherine sudah kita angkat menjadi Putri kita.


"Hanya saja-


Magdalena menghentikan perkataanya dan menghembuskan nafas panjang.


"Ibu tidak usah melakukan peresmiannya jika ibu dan ayah belum menerimanya sepenuh hati.

__ADS_1


Sean mengerti perasaan ibunya.


Dan dia tidak ingin menambah beban ibunya yang setiap saat kakaknya itu akan berbuat ulah di luar sana.


"Aku tidak mau peresmian itu terjadi.


Elio Langsung beranjak dari ruang makan itu dengan wajah yang menahan amarah.


Putra kandungannya sendiri tidak pernah berbuat ulah seperti yang di lakukan Catherine. sementara wanita itu sungguh membuatnya pusing tujuh keliling.


Namanya yang dulunya bersih kini sedikit demi sedikit tercoreng akibat ulah Putri angkatnya yang belum di resmikan itu.


Magdalena melihat netra abu-abu suaminya yang menampakkan keteduhan itu.


Dia yakin suaminya akhir-akhir ini sedang banyak pikiran.


Magdalena juga mengakhiri sarapan paginya.


Roti yang di makanya hanya beberapa gigitan saja.


Dia menghampiri suaminya yang hendak pergi kerja.


Sean melihat kedua orangtuanya dengan perasaan semakin bersalah.


"Maaf ibu..Ayah.


Lirihnya. Meriya masih bisa mendengar ucapan sang Tuan mudanya.


Meriya pergi dari ruang makan itu dengan pikiran yang berputar-putar di otaknya.


Sedikit banyaknya dia mengerti perkataan ke tiga majikanya itu.


"Aku harus menjaga jarak dengan Nona Catherine.


"Aku takut dia akan melampiaskan amarahnya kepadaku.


Batin Meriya sambil bergedik ngeri membayangkanya.


Di mobil Gavin Catherine sedari tadi memasang wajah masamnya.


Bahkan dirinya tidak segan-segan membanting penutup mobil sport terbaru itu dengan kuat sampai yang empunya di dalam mobil terkejut melihat aksi brutal wanita yang di sukainya itu.


Gavin merasa Catherine seakan meluapkan kekesalannya kepada mobilnya.


"Apakah dia marah karena ku jemput?


Monolog Gavin.


"Kenapa wajah cantik mu kamu tekuk.


"Masih pagi-pagi ini Catherine.


"Apakah ada yang membuatmu tidak Nyaman?


Gavin mencoba mencairkan suasana.


Dia tidak ingin selama perjalanan ke kampusnya terjadi keheningan yang sama sekali tidak di sukainya jika hal itu terjadi.


Gavin orangnya humoris dan suka keramaian.


Dia tidak suka kesepian.


Karena di rumahnya rata-rata orang-orang penghuni rumahnya itu ibarat kulkas sepuluh pintu.


Apalagi kakaknya yang paling berkuasa itu.


Jika ada kulkas seratus pintu mungkin kulkas itu bisa di samakan dengan kakaknya yang lebih banyak diam dari pada berbicara.


Suaranya melebihi harga emas Yang sedang naik-naiknya di pasaran.,,


"Aku punya pembantu baru di rumah.


"Belum dua hari dia bekerja.


"Dia sudah mencoba merayu orang-orang yang ku sayang.


Adu Catherine

__ADS_1


Suara Catherine sedikit bergetar.


Dia akan memulai aksinya di depan laki-laki pelampiasanya itu.


__ADS_2