
"Ya ampun Nak Meriya..
"Kamu dari mana saja sih nak.
"Kami sudah lama menunggumu.
Ucap Bibi Elis dengan raut wajah cemasnya.
"Maaf bi.
Meriya menjawab sambil menunduk.
"Kamu habis menangis Meriya?
Tanya bibi Elis sambil menelisik wajah Meriya yang terlihat bengkak dan sembab.
"Aku merindukan nenek bi.
Ucap Meriya langsung memeluk bibi Elis dengan tubuh bergetar.
Sungguh kenyataan yang memilukan yang baru saja Meriya ketahui. Membuat Meriya tidak sanggup menanggungnya. Saat ini Meriya perlu pelukan dan pundak untuknya bersandar.
Hati Meriya sungguh rapuh saat ini.
Bibi Elis merasa terkejut melihat Meriya yang memeluknya dengan erat.
"Kamu yang sabar ya Meriya.
"Nenek sudah tenang di sana.
"Jangan sering-sering di tangisi nanti nenek kamu malah tidak tenang.
Hibur Bibi Elis sambil mengusap-usap punggung lemah Meriya.
Bibi Elis tidak tau apa yang terjadi.
Tetapi dari cara Meriya menangis Bibi Elis merasa bahwa Meriya saat ini sedang mengalami kesulitan.
Bibi Elis ingin membantu kesulitan Meriya.
Tetapi bibi Elis takut jika kesulitan Meriya menyangkut ke uangan.
Bibi Elis juga tidak mempunyai tabungan yang cukup saat ini.
Karena bibi Elis setiap bulan akan menyumbangkan sebagian dari gajinya untuk panti jompo yang ada di kota itu.
**
Meriya saat ini sedang di dalam kamarnya.
Setelah makan malam dan mandi.
Meriya disuruh Bibi Elis istirahat.
Meriya mengambil foto kecil yang ada di dompetnya.
"Nenek.
Panggilnya dengan bibir yang bergetar.
"Pantaskah aku Nek membenci ayah dan ibu.
"Kenapa mereka jahat kepadaku Nek.
" Kenapa mereka meninggalkanku setelah aku hadir di dunia ini Nek.
"Jika Meriya bisa memilih.
"Meriya tidak ingin menjadi anak mereka Nek.
"Meriya tidak ingin menjadi anak hasil dari mereka berbuat dosa Nek.
Curhat Meriya kepada piguran itu sambil menangis pilu.
Bahkan bibirnya di tutup rapat supaya tidak kedengaran ke kamar sebelah.
Meriya takut menganggu penghuni kamar itu.
__ADS_1
"Meriya rindu nenek.
"Meriya ingin nenek ada di samping Meriya.
"Meriya ingin memeluk Nenek.
Air matanya mengalir deras di pipih mulus itu.
Meriya saat ini hanya sebatang kara.
Walaupun dirinya mempunyai sosok ibu. Tetapi ibunya itu mengatakan untuk tidak menganggapnya ada.
Dan ibunya juga melarangnya memanggil dirinya dengan sebutan ibu.
Saat ini Meriya juga sudah tau bahwa dia memiliki Ayah.
Tapi sayang ayahnya juga tidak ingin memiliki anak seperti dia.
Angan-angan Meriya jauh dari yang di bayangkanya selama ini.
Meriya mengira dia memiliki ayah yang penyayang dan perhatian tetapi kenyataan pahit harus menyadarkan Meriya.
Bahkan ayahnya itulah yang mengambil dan memotong ginjalnya.
Darah dagingnya sendiri di buatnya cacat.
"APakah benar bahwa aku hidup hanya tumbal untuk kehidupan nyaman anak kalian?
Tanya Meriya sambil menangis sesenggukan.
Dari kecil sampai sekarang Meriya sangat berharap mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tuanya. tetapi hal itu tidak bisa terkabul.
Jangankan pelukan hangat.
Kedua orangtuanya bahkan tega menyakitinya.
"Jika ayah dan ibu tidak menginginkan aku.
"Aku mohon setidaknya jangan perlakukan aku dengan kejam ibu..Ayah.
Dadanya terasa sesak dan nyeri.
Penderitanya tidak ada habisnya.
Meriya ingin sekali merasakan yang namanya hidup tenang dan bahagia.
"Ayah..Ibu..
"Apa salahku kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini.
Ucapnya dengan suara serak.
Meriya merasa capek dan lelah.
Karena terlalu lelah menangis Meriya tertidur dengan tubuh meringkuk di kasur.
Di rumah sakit internasional itu.
Di kamar ruang rawat Sean.
Sedari tadi Elio merasakan kegelisahan di hatinya.
Dirinya tidak bisa tidur bahkan sedetikpun.
Padahal tubuhnya sungguh sangat lelah. Karena dirinya yang begitu sibuk akhir-akhir ini sehingga tidak ada waktunya untuk istirahat.
Tadi sore istrinya mengirim pesan kepadanya dan lebih memilih tidur di Mansion.
Elio berfikir istrinya juga perlu istirahat karena satu hari ini istrinya tidak berhenti menangisi Putranya yang baru saja mengalami kecelakaan hebat. Sehingga harus melakukan Operasi. Bahkan Putranya harus membutuhkan darah beberapa kantong yang membuat mereka harus kalang kabut mencari pendonor. Saat stok darah di rumah sakit itu dan di rumah sakit yang lain juga kosong. Putranya itu sempat tidak memiliki pendonor. Membuat istrinya hampir pingsan dan berfikir yang bukan-bukan.
Mungkin karena mereka orang kesehatan sehingga mereka mengetahui resiko tinggi yang akan di alami anaknya jika sempat darah yang di butuhkan Anaknya tidak ada.
Mungkin anaknya itu tidak akan tertolong.
sekalipun operasinya berjalan lancar jika anaknya kekurangan darah operasi itu akan sia-sia.
Bahkan operasi itu tidak akan di lakukan.
__ADS_1
Ternyata semua kecemasan berlebihan mereka di dengar Oleh Sanga Kuasa.
Seorang pendonor di kirim Tuhan untuk Putranya. Sehingga Putranya dapat tertolong dan operasinya berjalan dengan lancar.
Elio berdiri dari tempat tidurnya.
Dia menarik selimut anaknya sampai di bawah dagu.
Elio sangat bersyukur anaknya dapat tertolong tepat waktu.
Elio percaya bahwa Mukjizat Tuhan itu ada.
"Kenapa ayah belum tidur.
Tanya Sean dengan suara khas bangun tidur.
Sean sedikit terganggu dengan pergerakan di dekatnya.
Saat Sean membuka matanya ternyata ayahnya sedang memperbaiki selimutnya yang melorot.
"Ayah tidak bisa tidur.
"Sekarang lanjut lagi lah tidurmu.
"Ayah akan duduk di sampingmu.
Jelas Elio sambil menarik kursi sofanya.
"Kenapa ayah masih duduk.
"Ayah tidur saja Jika aku butuh sesuatu. Aku akan membangunkan ayah.
Ucap Sean. Dia merasa bersalah serta kasihan melihat ayahnya yang begadang karena menjaga dirinya yang sedang sakit.
"Seandainya aku dari awal mendengar ibu dan ayah mungkin aku tidak akan merepotkan ibu dan ayah seperti ini.
Batin Sean.
"Kamu tidur saja.
"Sebentar lagi ayah akan tidur.
Jelas Elio. Dia akan tidur jika rasa gelisah di hatinya hilang.
Sean menggangguk sambil menutup netra abu-abunya.
Di kediaman Benito.
Benito melihat Meriya yang masih sibuk membersihkan wajahnya dengan alat makeupnya sementara istrinya itu baru saja mandi.
padahal ini sudah larut malam tapi istrinya itu masih mandi. Walaupun Benito sudah melarangnya untuk tidak mandi malam-malam larangannya itu tidak di gubris istrinya.
"Apakah kamu masih mencintai mantanmu itu.
Tanya Benito to the point.
Benito bukan orang yang menye-menye.
Dia akan bertanya yang ada di hatinya.
Sementara Maria sungguh terkejut mendengar pertanyaan aneh suaminya.
Sekalipun itu hal yang wajar tetapi Maria tidak menyangka suaminya yang lebih banyak diam itu akan bertanya sesuatu yang sangat sensitif bagi Maria.
Maria tidak lagi mencintai Elio melainkan Maria saat ini sangat membencinya. Apalagi saat Maria tau bahwa Elio menikahi sahabatnya membuat Maria semakin membenci kedua sosok itu.
Apalagi ke dua Sosok itulah yang menyebabkan hancurnya hidup Maria.
"Aku tidak mencintainya.
Jawab Maria tegas.
Sorot matanya menampilkan dendam tersembunyi.
Membuat Benito Isak mengerutkan keningnya.
Benito merasa istrinya itu sedikit misterius.
__ADS_1