Katakan Di Mana Salahku

Katakan Di Mana Salahku
Meriya menjadi pelayan Javier


__ADS_3

"Oh..


"Bagaimana jika perusahaan mu yang tidak seberapa itu ku hancurkan.


Ancam Javier dengan angkuhnya.


Meriya sungguh terkejut. Jika hal itu terjadi. Dia akan merasa bersalah. Apalagi saat ini Elio ternyata Ayahnya dan Sean adiknya, walaupun tidak satu ibu, Meriya sangat menyayangi Sean.


Walaupun Meriya saat ini Membenci sosok ayahnya. Karena pergi meninggalkanya dan tidak bertanggung jawab. Meriya juga tidak ingin membuatnya kesusahan.


"Aku bersedia menjadi pelayan Tuan, jika Tuan menginginkan saya. Jawab Meriya langsung.


Bahkan dirinya saat ini sudah berdiri tepat di depan Javier. Membuat Javier sedikit terkejut.


Magdalena terkejut melihat Meriya menyodorkan dirinya.


Magdalena berdiri dan langsung menarik tangan Meriya dan sedikit manjauh dari ruang tamu itu.


"Apa yang kamu lakukan Meriya.


"Jangan berbicara sembarangan.


'Aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari Mansion ini.


Ucap Magdalena.


Perkataan Magdalena barusan masih bisa di dengar oleh Javier yang memiliki Indra pendengaran yang sangat tajam.


Javier menyunggingkan seringai tipisnya.


Dia semakin bersikukuh mendapatkan Meriya dan menjadikannya pelayan di Mansionnya. Javier mempunyai seribu cara untuk menyiksa wanita itu.


Pemikiran Javier sama dangkalnya dengan pemikiran Catherine.


Mereka menganggap bahwa Meriya sudah merebut hati para penghuni Mansion Fillipo.


"Aku mau lihat, cara murahan seperti apa yang dia lakukan sehingga membuat satu keluarga ini bertekuk lutut kepadanya. Batin Javier.


"Izinkan aku melakukannya nyonya. Aku tidak ingin gara-gara kehadiranku membuat kalian semua dalam kesulitan, Terutama Tuan Sean. Ucap Meriya dengan suara yang bergetar.


Tetapi bagi Javier. Itu hanya tipu muslihat wanita itu. supaya Nyonya Fillipo semakin mempertahankannya.


"Kau kira aktingmu itu mempan kepadaku.


"Ciihh.


Umpat Javier yang ingin mual melihat sandiwara Meriya.


"Apa yang kau katakan Meriya.


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi.


Magdalena mencoba membujuk Meriya.


"Terimakasih Nyonya telah merawatku beberapa Minggu ini.


"Tolong sampaikan salamku kepada Tuan Sean dan Tuan Elio.


"Dan ingat pesanku sebelumnya Nyonya. Ucap Meriya sambil meninggalkan Magdalena yang masih mencoba Melarangnya dengan gelengan kepala.


Bahkan tangan wanita paruh baya itu masih memegang erat tangan mungil Meriya.


Meriya melepaskannya dengan terpaksa.


"Tuan saya bersedia menjadi pelayanmu.


Ucap Meriya sambil membungkuk.


Javier sedikit terkejut melihat keseriusan di wajah Meriya.

__ADS_1


"Jadi dia bersedia menjadi pelayan ku?


Baguslah, setidaknya aku tidak menghabiskan waktu berhargaku mengurus yang tidak penting. Batin Javier.


"Kumpulkan barang-barangmu.


"Aku tunggu sepuluh menit di mobil.


Ucap Javier langsung melangkah pergi dari sana.


Dia merasa urusanya yang paling utama telah selesai.


Kedatangan Javier mendadak, Pulangnya juga tak kalah mendadak. Bahkan teh yang sudah di suguhkan itu tidak di sentuhnya.


Javier ibarat jelangkung. datang tak di jemput, Pulang tak diantar.


Meriya pergi kepaviliun belakang, Dia tidak membawa apa-apa. Hanya baju tidur itu yang pernah di pakainya dulu, saat memasuki Mansion itu. Dan saat ini Meriya juga menggunakan baju tidur itu kembali, serta membawa handphone dan tas rajutnya.


Setelah berpelukan kebeberapa maid yang sangat dekat dengan Meriya.


Meriya keluar dari Mansion itu


di depan sana telah terparkir cantik mobil


Bugatti La Voiture Noire. Meriya merasa gugup saat asisten Javier yang bernama Cedro. Membukakan pintu untuknya. Dia seperti tuan Putri saja. Padahal dirinya saat ini sedang memasuki sarang Harimau.


"Telat satu menit lima belas detik.


Ucap Javier sambil menatap Meriya dengan tajam.


"Maaf Tuan, Saya permisi dulu dengan Para bibi maid.


Ucap Meriya sedikit gugup.


Tengkuknya terasa dingin saat ini. Dia merasa laki-laki di sampingnya mempunyai kekuatan yang bisa membuat seseorang menggigil ketakutan.


"Jalan. Titah Javier. Dia tidak ada waktu mendengar ucapan tak bermutu Meriya.


Javier sungguh terkejut melihat Meriya yang menggunakan baju tidur. Lengan panjang pula itu.


"Pakaian apa yang kau gunakan ini?


"Apakah kau ingin tidur.


'"Kau mau bekerja bukan mau tidur.


Ucap Javier.


"Maaf Tuan. Saya hanya punya pakaian ini.


"Saya tidak punya pakaian yang lain.


Jawab Meriya takut-takut. takut tiba-tiba di tendang dari dalam mobil itu.


Javier tidak tau mau bilang apa lagi.


Antara kesal dan sedikit lucu.


Bisa-bisanya wanita ini memiliki baju seperti itu.


Mereka telah tiba di Mansion Milik Javier.


Mansion itu terlihat megah dan mewah. Halaman yang luas. Lebih luar dari lapangan sepak bola yang pernah di tonton Meriya di acara televisi.


Mansion itu bak istana yang sering di bacanya di buku dongeng.


Mansion milik Tuannya pertama belum seberapa di bandingkan Mansion Tuan barunya itu.


"Pantas saja Nyonya Magdalena memanggilnya Tuan.

__ADS_1


"Ternyata di atas langit masih ada langit. Batin Meriya.


"Bawa dia kepaviliun belakang dan atur tugasnya.


"Dan satu lagi. persiapkan satu gaun untuknya besok.


"Aku akan menikahinya.


Ucap Javier tenang sambil berlalu dari sana.


Kepala pelayan Mansion itu terkejut batin.


Meriya membeku.


"Apa maksud Tuan?


"Bukankah aku disini sebagai pelayan.


Tanya Meriya. Sekuat tenaga dirinya memberanikan diri bertanya kepada sosok bermata tajam itu.


"Besok akan di jelaskan asistenku Cedro kepada mu. Ucap Javier.


"Aku tidak menerima penolakan. Jadi ikuti perintahku. Timpalnya dan langsung pergi dari sana. Menimbulkan sejuta pertanyaan di benak Meriya dan kepala Pelayan.


"Maaf Nona.


"Ayo saya tunjukkan kamar Nona. Ucap pelayan itu sedikit hormat.


Jika wanita muda itu jadi menikah dengan Tuan besarnya maka Nona yang di depanya ini akan menjadi Nyonya Lazzaro.


Seketika pelayan itu merasa senang.


"Apakah sebentar lagi. Rumah ini akan ramai dengan suara anak-anak. Batin kepala pelayan.


Di meja ruang kerja Javier.


Dia saat ini sedang berbicara serius dengan asistennya Cedro.


"Besok buat surat perjanjian kepada wanita itu.


"Walaupun dia menjadi istriku. Dia tetap menjadi pelayan di Mansion ini.


"Dia tidak bisa menuntut haknya sebagai istri.


"Karena aku menikahinya bukan karena aku menyukainya.


"Tetapi karena aku ingin menyiksanya.


"Aku yakin, dia telah menargetkan Elio dan ingin menaiki ranjangnya.


"Magdalena sungguh percaya dengan rubah licik seperti wanita itu.


Ucap Javier merasa jijik.


Dia tidak percaya Meriya wanita yang baik.


Karena Javier telah puluhan tahun hidup di dunia bisnis.


Jadi dia tau gerak-gerik seorang wanita yang sedang mencari mangsa.


Dia ingin membatalkan rencana Meriya dan membuat wanita itu menderita.


Walaupun wanita itu memohon kepadanya. Dia tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Gara-gara kehadiran wanita itu.


"Adikku tidak bisa menikahi wanita pujaannya.


"Awas saja, Bahkan kau akan kubuat menangis setiap hari. sampai kau mengakui rencana busukmu itu.

__ADS_1


"Dan aku akan menunjukkan kepada keluarga Fillipo yang bodoh itu bahwa mereka sedang di perdaya wanita licik itu.


Ucap Javier sambil mengetatkan rahangnya.


__ADS_2