
Sejak saat itu Nona Catherine jadi diangkat menjadi Putri mereka walaupun belum di resmikan sampai sekarang.
"Dulu Nona Catherine masih berumur sepuluh tahun waktu itu.
"Dan umur Nona Catherine saat ini sudah dua puluh tahun.
"Kamu jangan terlalu mendengarkan perkataan Nona Catherine yang selalu membuat sakit hati.
"Semua pelayan di sini tidak pernah menyukainya yang semena-mena terhadap para pelayan.
"Padahal dia juga Putri dari seorang pelayan.
Jelas wanita itu panjang lebar.
Sungguh dirinya sangat emosi saat mendengar perdebatan Tuan dan wanita itu saat di meja makan.
"Oh.
Meriya akhirnya mengerti.
"Semua manusia akan seperti itu jika sudah diatas . Batinya.
"Terimakasih bibi.
Pelayan Tua itu pergi meninggalkan Meriya yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Matanya langsung terpejam.
Pagi hari yang sejuk.
Paviliun di belakang Mansion itu sudah mulai berisik.
Para maid sudah mulai melakukan aktivitasnya masing-masing termasuk Meriya.
Dengan semangat empat lima Meriya membersihkan Mansion besar itu.
"Duduk dulu Nak.
"Mari sarapan.
"Bibi barusan meminta roti bakar slai kacang.
Ucap Bibi Elis dengan senyum teduhnya.
Meriya mendudukan pantatnya di kursi yang sudah di sediakan oleh bibi Elis.
ruangan itu memang tempat para maid untuk sarapan atau makan.
Meriya menyesap tehnya dengan hati-hati karena masih panas.
Sebenarnya Meriya sangat kehausan karena aktivitas paginya yang sangat menguras keringat.
Tetapi Meriya tidak berani meminta air putih.
Bahkan kedapurpun Meriya enggan untuk melangkahkan kakinya.
Dirinya tidak ingin di cap sebagai pembantu yang lancang.
"Kenapa rotinya tidak di makan?
Elis melihat Meriya yang hanya meminum teh buatanya merasa heran.
"Tidak usah malu-malu Nak.
"Ini roti memang khusus di buat koki untuk para maid.
Elis tau Meriya orangnya sungkanan.
Tetapi dia tidak ingin Meriya sakit karena terlalu sungkan atau malu.
Meriya tersenyum kikuk.
"Meriya tidak lapar bi.
"Bibi saja yang makan.
Meriya menjawab sopan dan sedikit tidak enak.
"Kamu ini.
"Nanti Nyonya marah jika Nyonya tau para pelayannya ada yang melewatkan sarapan.
"Sudah makan saja.
"Disini tidak ada Nona Catherine.
bisik seorang pelayan sekitar umur empat puluhan.
Meriya mengangguk dan memakan Roti berselai kacang itu dengan ragu.
Dia sebenarnya alergi kacang tetapi Meriya tidak tega melihat para pelayan yang sudah berumur itu kecewa.
mereka begitu antusias menyambut kedatangan Meriya di Mansion itu.
Meriya memakan sepotong roti itu.
"Udah bi.
"Aku sudah kenyang. Tolak Meriya halus.
__ADS_1
"Yakin kamu sudah kenyang.
Bibi Elis memandangnya penuh selidik.
"Sudah bi.
"Kamu tidak tau saja.
"Anak muda sekarang lebih banyak diet.
"Takut tubuhnya melar seperti kita-kita ini.
Ucap maid yang tadi yang bernama.
Bibi Mona.
Bibi Mona sambil mengedipkan mata ke pada Meriya berniat mengodanya.
Meriya tersenyum geli.
Dia paling tidak suka diet.
Segala makanan yang di anggapnya enak dia akan melahapnya sampai habis kecuali makanan yang di hadapanya itu.
Karena Meriya memang alergi Kacang.
Walaupun itu berbentuk slai.
Bibi Elis yang mendengar itu sontak terkekeh.
Dia baru ingat Nona mudanya yang judes itu juga sering seperti itu.
""Hei Kamu pembantu baru.
"Bersihkan kamarku sampai bersih.
"Jika aku pulang dan masih kotor jangan harap kamu bisa tidur malam ini.
Ucap Catherine yang langsung menyelonong masuk keruangan para maid itu.
membuat penghuni di sana terkejut sekaligus tidak suka.
"Tumben sekali Nona muda ini datang kesini. Batin mereka.
Mereka semua langsung memasang wajah masam.
Sebagian ada yang langsung pergi pura-pura sibuk.
Mereka sungguh tidak mau dekat dengan Nona muda Catherine apalagi berurusan dengan Nona jutek itu.
"Baik Nona.
Apalagi Sean sangat menyayangi Kakaknya itu.
Dia tidak ingin membuat Sean kecewa.
Dia sudah menganggap Sean malaikat penolongnya.
Jika bukan pria remaja itu mungkin hidupnya di luaran sana masih terombang-ambing.
"Sabar ya.
"Aku akan membantumu membersihkan kamarnya.
"Tidak usah bi.
"Bibi mengerjai yang lain saja.
"Kamu yakin?
"Nona Catherine itu orangnya cerewet
dan mulutnya sangat pedas.
Kalah cabe merah.
Bisik bibi Mona.
Meriya tersenyum.
"Aku ke atas dulu ya Bi.
Meriya segera melangkahkan kakinya kelantai dua tempat Dimana kamar Nona Catherine.
Saat Meriya membuka kamar itu Meriya terkejut batin melihat isi kamar itu bak kapal pecah.
"Apakah dia anak gadis?
"Penampilannya saja rapi dan wangi ternyata Nona Catherine termasuk orang yang jorok.
Batin Meriya sambil mengambil satu-satu barang-barang yang berserakan itu.
Hampir setengah jam Meriya merapikan barang-barang itu dari yang besar sampai yang kecil.
Meriya juga sampai merangkak ke bawah tempat tidur mengambil barang yang jatuh ke bawah.
Meriya tiba-tiba pusing.
__ADS_1
Tanganya sudah mulai mengeluarkan bintik-bintik merah.
Dadanya terasa sesak.
Meriya keluar dari kamar itu dan mencoba mencari pertolongan.
Karena dia tau gejala alergi nya sudah mulai kambuh.
Keringat dingin sudah menjalar di sekujur tubuhnya.
"Apa ini akhir hidupku. batinya.
Butiran halus mengalir di pipinya.
Meriya mencoba menarik nafas kuat-kuat.
Menuruni tangga itu dengan tertatih.
Meriya mencoba menarik badanya yang sudah tidak bisa di gerakkan lagi karena sesak di dadanya sudah menjalar ke punggung.
Pandangannya sudah menghitam.
"Aku mohon. Tolong aku.
Teriaknya suaranya hanya bertahan sampai di kerongkonganya.
"Ya ampun Nak.
"Kamu kenapa?.
Teriak Magdalena yang melihat pelayan barunya itu tergeletak tak berdaya.
Elio yang juga mengikuti istrinya keluar dari kamar mereka begitu terkejut melihat keadaan Meriya.
"Ayo kita bawa dulu kekamar.
Tampa basa basi Elio membawa Meriya kekamar mereka karena memang kamar merekalah yang paling dekat dengan tempat Meriya pingsan.
Elio meletakkan Meriya di tempat tidur Mereka.
Magdalena langsung memeriksa keadaan Meriya.
Jiwa kedokterannya langsung bekerja.
"Sepertinya dia mengalami alergi.
Magdalena langsung mencari obat anti alergi yang sudah tersedia di ruangan khusus di dalam kamar Mereka.
Magdalena langsung menyuntikkan anti alergi itu kedalam pembulu darah Meriya.
Setelah sepuluh menit.
Netra abu-abu itu akhirnya terbuka.
Meriya sedikit linglung melihat sekitarnya yang belum pernah di lihatnya
Dia merasa memasuki alam surga karena ruangan itu begitu bersih indah dan juga luas.
"Kamu sudah bangun Nak.
"Minum dulu.
Magdalena langsung menyodorkan air putih.
Yang sudah di sediakannya duluan.
Meriya yang kebetulan sudah menahan haus sejak tadi langsung menelan habis air putih itu.
Te.. terimakasih Nyonya.
Meriya langsung sadar.
Dirinya sangat malu karena telah menganggu Nyonyanya itu.
Sementara Elio hanya melihat Meriya dengan pandangan rumit.
Perasaannya berkecambuk.
"Kenapa kamu bisa kena alergi?
"Apa yang sudah kamu makan?
Tanya Magdalena cemas
Dia yakin pelayannya itu habis memakan sesuatu yang memicu alerginya.
"Aku tidak sengaja makan roti yang berselai kacang Nyonya.
Jawab Meriya gugup.
"Apakah kamu alergi kacang?
"Iya Nyonya.
"Deg.
Magdalena kembali terkejut.
__ADS_1
"Ya Tuhan kenapa semuanya mirip dengan suamiku dan anakku.
Batinya.