
Meriya berpikir tinggal dimana malam ini.
Jika dia mencari Penginapan Meriya yakin uangnya akan terkuras habis.
Selesai makan Meriya keluar dari Mal itu.
Dirinya sempat membeli tas selempang model rajut warna coklat muda.
Harganya bahkan membuat Meriya gigit jari. Terpaksa Meriya membeli tas rajut itu karena dirinya membutuhkanya untuk tempat menyimpan handphone dan dompet.
Setidaknya tas itu lebih safety di gunakanya dari pada tangan terbuka memegang dompet panjang beserta satu handphone dia tidak ingin menimbulkan nafsu si pencuri.
Meriya sudah cukup jauh berjalan dari Mall itu. Air mineral yang di tanganya juga sudah habis.
""Brakkk.
Meriya terkejut saat kendaraan sepeda motor sport terjatuh tepat di depanya.
Meriya menghampiri seseorang yang berusaha berdiri sendiri dan mengangkat sepeda motor yang menimpah kakinya.
Tanpa banyak tanya Meriya membantu sosok yang terjatuh itu Meriya menyakini anak itu sosok seorang laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Karena Meriya melirik sekilas baju seragam dan logo dari baju itu.
"Terimakasih kak.
Ucap pria itu sopan.
"Deg.
Pria itu sungguh terkejut saat melihat netra abu-abu wanita yang menolongnya.
"Apa kamu tidak apa-apa?.
"Kaki dan tanganmu lecet.
"Bisakah kamu membawanya kembali?
Tanya Meriya.
Dia tidak terlalu mendengarkan ucapan terimakasih Pria remaja itu.
Meriya melirik sepeda motor besar itu.
Netranya juga menatap Pria remaja yang masih mematung itu.
Meriya juga cukup terkejut saat mereka memiliki warna mata yang sama.
"Pantas saja Tuhan mengirim ku menolongnya. Batin Meriya.
"Masih kak.
"Aku masih bisa membawanya.
"Ini sudah hal biasa terjadi.
Jelas lelaki itu sedikit panjang. Dirinya tidak menyangka akan bertemu seorang perempuan yang sangat mirip dengan dirinya dan Ayahnya.
"Baguslah.
Meriya langsung pergi dari sana Tampa menunggu respon pria remaja itu.
Meriya yang masih sibuk memikirkan tempat tinggalnya malam ini.
Tidak mendengar suara laki-laki remaja itu yang memanggilnya dan masih ingin berbicara lebih lama denganya.
Dari jarak sepuluh meter Meriya melihat kursi panjang karena tempat itu memang sudah dekat dengan taman.
Meriya meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya.
Dia tidak memperhatikan pria remaja itu yang heran melihat dan memandangnya dengan pandangan rumit.
Pria remaja itu akhirnya menghampirinya sambil mendorong motor besarnya dengan sedikit meringis.
Jari tangan kanannya sedikit terkilir tetapi pria itu mencoba menahanya dan menghampiri Meriya yang saat ini sedang memejamkan matanya.
__ADS_1
"Apakah dia tidak takut tertidur disini dan menjadi sasaran empuk orang-orang jahat.
Batin pria itu.
"Kakak kenapa masih disini.
"Jika Kakak mengantuk lebih baik Kakak pulang dan tidur di rumah.
"Disini Banyak preman berkeliaran bebas kakak.
Terang pria itu sedikit perhatian kepada Meriya Meriya membuka matanya dan sedikit terkejut.
Jujur dirinya sangat takut setelah mendengar perkataan Pria remaja itu.
"Apakah kamu tau di sini tepat menyewakan rumah?
"Rumah?
Pria remaja itu terkejut.
"Disini sudah jarang orang menyewa rumah kak.
"Disini rata-rata orang-orang menyewa sebuah Apertemen kak.
Pria remaja itu menatap Meriya dengan binggung.
Karena raut wajah Meriya yang terkejut.
"Gaya hidup negara baju memang beda.
Batin Meriya.
"Aku baru di usir dari Apertemen karena waktu sewanya sudah habis.
"Dan aku tidak punya uang yang cukup membayarnya.
Jelas Meriya sedikit menggaruk tengkuknya dengan kaku.
Meriya tidak sepenuhnya berbohong karena jika dirinya punya uang cukup. Pasti dia akan mencari Apertemen yang masih kosong untuk di sewanya.
Wanita itu sudah menolongnya tadi. Dia yakin Meriya orang yang baik.
"Apakah kakak mau tinggal di mansion ku?
"Glek.
Meriya menelan ludah saat mendengar pria remaja itu menawari dirinya tinggal di mansion Pria remaja itu.
Dia yakin pria remaja itu orang kaya karena Meriya telah melihat dari sepeda motor dan barang-barang branded yang di gunakanya. Walaupun Meriya tidak pernah membeli barang-barang seperti itu tetapi Meriya cukup tau dengan Kualitas dan harga-harganya.
Karena Meriya memang mengambil salah satu jurusan bagian itu. Dan dia tau semua kualitas barang-barang anak lelaki itu kualitas tinggi.
"Apa aku bisa tinggal di mansion mu?
"Apakah orang tuamu mengijinkannya?
Meriya merasa terharu dan senang
Ada orang yang menolongnya dan mempercayainya padalah baru pertama kali bertemu.
Meriya tidak boleh menunjukkan Sikap antusiasnya saat pria remaja itu memberinya tumpangan. Untuk itu
Meriya harus tetap bersikap waspada dan sedikit menawar.
"Aku akan bilang kepada orang tuaku bahwa kakak telah menolongku.
Lelaki remaja itu sudah duduk di sepeda motor sport nya.
"0h"
Meriya mengangguk.
"Rezeki tidak boleh di tolak. monolognya.
"Aku mau tinggal di mansion mu.
__ADS_1
"Tapi aku akan membayarnya dengan bekerja di sana menjadi pelayan.
"Bisakah?
Meriya menatap netra abu-abu remaja yang sama dengan miliknya.
"Tentang itu aku kurang tau kakak.
"Karena jika menyangkut para pelayan maka ibuku yang mengaturnya.
Lelaki remaja itu cukup terkejut bahwa Meriya tinggal disana dengan menjual jasanya.
Padahal pria itu sudah berniat membantu Meriya akan menyewa sebuah Apertemen beberapa bulan untuk Meriya.
Hitung-hitung membayar wanita itu yang telah menolongnya.
"Sebenarnya aku pendatang baru kekota ini.
"Aku tidak cukup uang untuk menyewa Apertemen.
"Aku juga berniat mencari pekerjaan.
Ucap Meriya jujur.
"Kakak tenang saja aku akan membantu membicarakannya dengan ibuku.
"Sekarang kakak naiklah.
"Aku sudah lapar kak.
Keluh pria remaja itu. Entah kenapa Dirinya sedikit terbuka kepada Meriya.
Setelah Meriya sedikit susah payah menaiki sepeda motor besar itu akhirnya dirinya bisa duduk dengan nyaman. Walaupun sedikit tidak tenang.
Baru kali ini dirinya menaiki sepeda motor sport yang mahal .
Perasaan dirinya belum ada Berdoa satu hari ini. Tetapi Tuhan langsung menolongnya.
"Kak namaku Sean Filippo.
"Kakak panggil saja Sean.
"Nama kakak siapa?
Sean bertanya dengan antusias Dirinya merasa tidak sungkan lagi saat berbicara dengan Meriya.
Sean sambil Membawa sepeda motor sport nya. Dan mengendarai motornya dengan kencang.
Membaut Meriya sedikit ketakutan.
"Pantas saja anak ini sering terjatuh.
"Dia membawa motornya seperti kesetanan. Batin Meriya.
"Nama ku Meriya.
Balas Meriya simpel.
Meriya dan Sean telah tiba di sebuah mansion yang megah.
Mata Meriya hampir keluar dari dalam saat melihat mansion yang begitu mewah dan besar di depanya itu.
"Selamat datang Tuan Sean.
Sapa penjaga gerbang mansion itu.
Sean tidak menghiraukannya dan langsung mengendarai motornya kedalam.
Setelah tiba di depan pintu utama mansion itu.
Sean megajak Meriya kedalam
Hari sudah mulai gelap.
"Ayo kak.
__ADS_1
Sean sudah menahan perutnya yang sudah keroncongan minta di isi.