
Meriya hanya membawa dompetnya dari rumah. Didalam dompet itu terdapat figuran seorang wanita yang sudah tua dan sedang tersenyum. Foto itu adalah foto saat Meriya jalan-jalan berdua dengan sang nenek sepuluh tahun yang lalu.
Kejadian sepuluh tahun itu begitu berkesan bagi Meriya dan sang nenek.
Dimana Meriya meminta tolong kepada pemuda asing untuk memfoto mereka menggunakan kamera laki-laki itu..
Saat itu laki-laki itu langsung menolak. Tetapi pada saat itu Meriya sedikit memaksa bahkan memegang tangan laki-laki remaja itu cukup kuat dan memohon kepada-nya.
Akhirnya lelaki itu hanya bisa pasrah memfoto mereka secara asal.
Dan hasilnya tetap memuaskan.
Meriya memaksa pria itu untuk mencucikan fotonya dengan sang nenek dengan berjanji akan memberikan imbalan.
Lelaki remaja itu langsung menurutinya karena telah di iming-imingi imbalan. Dan Meriya memberikan gantungan kunci yang sudah bersusah payah di buatnya bahkan dirinya tidak mau menjualnya kepada kedua sahabatnya yang menawari harga yang lumayan tinggi.
Dengan berat hati Meriya memberikan itu pada sosok Lelaki remaja yang menurut Meriya beda lima tahun denganya.
Lelaki asing menerima pemberianya dengan wajah datarnya. Dan langsung dari sana
""Dasar matre. Batin Meriya.
siang harinya sekitar jam satu siang seseorang pelayan membuka apartemen Meriya. Meriya begitu terkejut melihat pelayan wanita yang berwajah bengis itu.
Dia tidak menyangka apartemen semewah ini akan di masuki orang secara bebas.
Dirinya ingin memarahi wanita itu. Tetapi tidak punya alasan yang tepat untuk mengajukan komplainnya karena Meriya juga menumpang disana.
""Bersiap-siaplah aku dan supir akan membawamu kerumah sakit.
Pelayan itu bahkan langsung pergi Tampa menunggu jawaban dari Meriya.
Meriya semakin binggung.
"Apa yang harus ku persiapkan sementara aku hanya membawa badanku dan pakaian yang melekat di tubuhku. Batinya.
"Apakah kita bisa mencari makanan?
"Aku sudah lapar.
"Aku belum sarapan sejak tadi pagi.
Meriya mengeluh pada sosok dua manusia yang membisu sejak mereka berangkat dari apartemen tempat Meriya tinggal.
"Nona saat ini tidak bisa makan.
"Nona harus puasa karena Nona harus menjalani operasi langsung setelah tiba di rumah sakit.
Meriya terkejut dan ingin memaki wanita yang berbicara membelakangi dirinya. Sungguh dia ingin menjambak rambut wanita yang tersanggul rapi itu.
__ADS_1
""Apa?
"O..operasi?
Meriya bertanya dengan suara yang tercekat.
Sedikit banyaknya ibunya itu memang sudah menjelaskan kepadanya untuk memberikan ginjalnya ke pada sang ibu.
Tetapi Meriya tidak menyangka akan secepat ini.
"Apakah tidak terlalu cepat melakukan operasinya?
Wanita yang berumur sekitar empat puluhan itu langsung menoleh kebelakang. Menatap tajam Meriya.
""Apakah kau masih punya otak dengan berani kau mengatakan operasinya terlalu cepat?
" Sementara Nyawa Nona kami sedang kritis di rumah sakit.
Ucap wanita itu ingin menampar wajah Meriya tetapi di tahannya karena dia tidak ingin menampar wajah Meriya yang menjijikkan itu baginya.
Meriya yang mendengar ibunya sedang kritis merasa terkejut. Seluruh Badanya bergetar. Pantas semalam ibunya buru-buru pergi dari bandara ternyata ibunya sedang menahan rasa sakit yang di deritanya.
""Maaf. Lirih Meriya
Yang masih bisa di dengar wanita itu.
"Jika kau ingin menyelamatkan Nona ku sebaiknya lakukan yang terbaik.
Dia rela memberikan ginjalnya ke pada sang ibu. Asalkan wanita yang melahirkannya itu sehat dan kembali pulih seperti biasanya.
Meriya masih berharap ibunya itu menyayanginya.
Setelah tiba di rumah sakit Meriya di tuntun kevsebuah ruangan untuk menggantikan pakaiannya.
Setelah perawat membantunya berganti pakaian khusus operasi.
Meriya di dorong ke ruangan operasi.
Kamar operasi itu begitu dingin dan menusuk dalam tulang Meriya.
Meriya tidak menyangka dalam usia yang masih umur dua puluh satu tahun dirinya sudah memasuki ruangan yang sangat di takuti semua kaum manusia.
Tetapi demi ke selamatan dan ke sehatan sang ibu Meriya rela melakukanya.
Beberapa orang memasuki kamar operasi yang megah itu.
Sosok dua orang yang berbadan cukup besar itu di yakini Meriya sebagai dokter anestesi dan dokter bedah karena perawat itu berbisik kepadanya untuk bersiap diri karena kedua dokter itu telah datang.
Lelaki yang berumur sekitar empat puluh lima tahun datang menghampiri Meriya.
__ADS_1
Lelaki itu sedikit terkejut dengan sosok pasien yang di depanya.
Bahkan teman satu profesinya juga mengalami hal yang sama.
"Wanita ini mirip sekali denganMu.
Bisiknya.
Dokter anestesi itu kembali melihat data - data wanita yang akan di bius itu.
Nama: Meriya
Umur: 21 tahun
Asal negara: Mumbai
Tidak mungkin wanita ini anak sahabatnya. Secara sahabatnya itu tidak pernah ke negara itu.
Dulu memang mereka pernah pergi ke Negara India tetapi mereka ke bagian pelosoknya yaitu Desa Kalpa itu pun hanya tiga bulan untuk meneliti sebuah penyakit yang pada saat itu sedang marak-maraknya di desa itu.
Setelah lama mematung dokter Bedah yang di panggil Dr. Elio itu segera mensterilkan tanganya dengan alkohol dan memasang peralatanya yang di bantu salah seorang perawat.
Lelaki paruh baya itu mencoba memfokuskan dirinya membuka lapisan pertama kulit wanita muda itu.
Dirinya tidak ingin lalai.
Jangan gara-gara hal kecil fokusnya hilang kendali dan mengakibatkan nyawa seseorang terancam bukan satu orang saja bahkan dua orang.
Karena pasien yang sedang menunggu ginjal wanita yang sedang di bedahnya ini berada di sebelah kamar operasi yang saat ini sedang melakukan operasi dan menunggu menyambungan ginjalnya.
Ginjal pasienya itu sudah rusak
sejak lahir telah bertahun-tahun menunggu ginjal yang cocok denganya. Dan wanita yang di depanya itulah yang mempunyai ginjal yang cocok dengan pasien yang istimewa itu.
Dia juga tidak menyangka akan ada kejadian langka seperti ini. Biasanya ginjal yang cocok itu hanya terjadi pada seseorang yang mempunyai ikatan darah.
Bahkan Dia kagum perjuangan orang tua Wanita itu yang telah membolak-balikkan dunia hanya untuk mencari ginjal yang cocok untuk Putri semata wayangnya.
""Mungkin Tuhan telah berbelas kasih kepada orang tuanya yang telah berjuang menyelamatkan Putrinya sehingga Tuhan mengirim wanita ini. Batinya
""Kenapa harus aku yang mengalami kemiripan dengan wanita muda ini batinya. Dia merasa tertekan.
Sesekali lelaki paruh baya itu melirik wanita yang tidak sadarkan diri itu akibat obat bius yang sudah di masukkan ketubuh Meriya.
Setelah beberapa jam. Operasinya telah berjalan lancar. Sekuat tenaga Dokter Elio itu menekan rasa tak nyamanya saat memotong ginjal wanita muda itu.
Meriya belum sadarkan diri. Dirinya di dorong ke ruang pemulihan.
Sementara di kamar operasi yang berbeda operasi wanita muda yang berumur sekitar enam belas tahun itu juga berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Orang-orang yang menunggu di ruang tunggu sangat cemas dan berdoa sepanjang jalan berjalanya operasi itu.