
Walaupun kita sudah menikah jangan harap kau akan menjadi Nyonya di mansion ku.
Ucap Javier datar. Tapi matanya melirik Meriya yang sedang membaca surat-surat perjanjian itu. dimana telah tertulis beberapa peraturan disana. yang berisikan.
Tidak boleh menuntut hak sebagai Istri.
Tidak boleh mengatakan kepada orang lain bahwa Meriya telah menikah dengan Tuan Javier Lazzaro.
Tidak boleh jatuh Cinta kepada Tuan Javier Lazzaro.
Wajib menyediakan semua kebutuhan Tuan Javier.
Wajib meminta izin kepada Tuan Javier jika mau pergi ke mana saja.
Pernikahan ini hanya untuk sementara, Sampai Tuan Javier menginginkan perceraian dan hanya Tuan Javier lah yang bisa memutuskan pernikahan ini.
Peraturan itu sangat banyak. Meriya sampai pusing di buatnya.
Apalagi tidak ada satupun yang membuatnya Untung malahan buntung.
Meriya tidak membacanya Sampai selesai sangking banyaknya. Meriya langsung membubuhkan tandatangan kontrak pernikahan itu. Toh juga dia sebagai pelayan di Mansion mewah itu.
"Walaupun kau sudah menikah denganku, kau masih tetap menjadi pelayan di Mansion ini.
"Kau juga tidak bisa menuntut hakmu sebagai istriku.
"Karena pernikahan ini hanya sementara. Dan aku tidak akan pernah mendaftarkan pernikahan ini ke kantor sipil.
Terang Javier dengan raut wajah datarnya.
Tetapi hatinya sedikit berdenyut. Mulut dan hatinya sangat bertentangan.
Javier kembali mengingatkan Meriya pada surat kontrak itu
"Baik Tuan. Jawab Meriya, Walaupun hatinya merasa sakit. Meriya akan berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Dia tidak pantas berharap banyak.
"Bukankah semua orang mempermainkan ku. Batin Meriya sambil tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum miris.
"Tolong di tanda tangani Nyonya.
Ucap Cedro sedikit iba.
Bahkan Nyonyanya itu tidak bertanya.
"Baik.. Terimakasih Tuan Cedro. Ucap Meriya sambil menunduk hormat.
Setelah menandatangani surat-surat kontrak itu. Akhirnya Meriya bisa istirahat tenang. Suaminya atau majikanya sedang keluar. Meriya tidak mau tau urusan Majikanya itu.
Meriya sudah menggunakan dress rumahnya. Gaun sederhana yang simpel tapi tetap cantik jika tubuh indahnya yang menggunakan.
Meriya membersihkan kamar yang sebenarnya sudah bersih itu. Tetapi Meriya masih merapikan kamar itu karena ada barang-barang yang terletak tidak sesuai pada tempatnya.
Seperti beberapa majalah ataupun buku-buku yang tebal terletak begitu saja di sofa dan di atas meja.
__ADS_1
Mulai hari ini bagian membersihkan kamar adalah urusanya. Salah satu peraturan yang tertulis di surat perjanjian itu.
Meriya keluar dari kamar.
Di bawah, dia tidak sengaja mendengar suara tangisan Catherine. Mantan Nona Mudanya.
Suasana di bawah itu sedikit tegang. Apalagi saat Meriya tiba di ruang tamu itu.
Dengan langkah lebar Catherine menghampiri Meriya dan mendaratkan sebuah tamparan yang sangat menyakitkan.
"Plaaakkk.
Gara-gara wanita sialan sepertimu. Keluarga ku mengusirku dari Mansion.
Ucap Catherine dengan suara bergetar. Wajahnya merah padam. Dia ingin mencabik-cabik tubuh Meriya.
Semua keinginannya dan cita-citanya untuk menjadi Putri dari keluarga Fillipo harus terkubur dalam-dalam.
Tadi pagi ibunya mengusirnya dari Mansion saat dirinya hendak berangkat kuliah. Dan bahkan semua barang-barangnya sudah di masukkan ke dalam koper.
Catherine yakin pelayan yang di depanya ini sudah meracuni otak ke dua orangtuanya beserta adiknya Sean. Sehingga mereka tega mengusirnya.
Catherine masih merasa bahwa adik dan kedua orangtuanya masih sangat menyayanginya seperti dulu.
Tapi semenjak pelayan ini hadir adik dan kedua orangtuanya berubah.
Meriya terkejut mendapatkan tamparan yang tiba-tiba itu. Kepalanya berdengung. Mungkin wanita gila ini menggerakkan semua tenaganya saat menampar pipinya.
Sementara dua kakak beradik yang sedang duduk tenang itu hanya bersikap datar.
Mereka tidak ingin mencampuri urusan perempuan.
Dia juga sakit hati melihat kekasih hatinya menderita. Tetapi Gavin sedikit tidak tega melakukannya. Dia tidak ingin melukai wanita karena dia juga di lahirkan dari seorang wanita. Apalagi ibunya dulu selalu berpesan untuk tidak melukai wanita apalagi menamparnya. Gavin masih mengingat pesan ibunya sampai saat ini.
Javier duduk santai di sofa empuk itu.
Dia membiarkan kekasih adiknya itu melampiaskan amarahnya pada sosok yang di yakini pembawa sial Yaitu istri sementara nya. Wanita yang menjadi penyebab dari semua masalah yang terjadi pada kekasih hati adiknya Gavin
Jika mungkin wanita itu tidak hadir di kehidupan Fillipo mungkin kekasih adiknya tidak akan menderita dan di usir dari Mansion Fillipo.
"Kenapa kau menyalahkan aku?
Tanya Meriya dengan suara dinginya. Tangan kanannya menyentuh pipinya yang sakit.
Wanita yang di depanya ini bukan majikanya lagi. Dia tidak berhak menampar dirinya sesuka hati. Kehidupannya sudahlah sangat menderita. Dia tidak ingin hidupnya semakin menderita lagi. Walaupun Meriya hanya seorang pelayan. MERIYA akan tetap menjaga harga dirinya.
Jangan mentang-mentang dirinya saat ini di bawah, sehingga dia bisa di perlakukan sesuka hati.
Sudah cukup Meriya di buang ke dua orang tuanya. Kali ini Meriya tidak akan terima jika ada orang sampai menghinanya bahkan melakukan kekerasan fisik kepadanya. Hal yang paling Meriya benci. Karena seumur hidupnya dia tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik.
Catherine mengetatkan rahangnya, bisa-bisanya pelayan yang di depanya ini berani menatapnya dengan tajam.
"Apakah kau tidak sadar, Kehadiran mu membuatku hidup sengsara.
"Semenjak kau datang ke rumah orang tuaku.
"Kau telah menghancurkan hidupku.
__ADS_1
"Kau mengambil semua yang menjadi milikku.
"Kau wanita pembawa sial.
"Aku berjanji akan membuatmu menderita.
Teriak Catherine di ruang tamu itu.
""Plaaakkkk
"Plaaakkkk .
Dua tamparan sekaligus mendarat di wajah kanan dan kiri Catherine yang masih merah padam itu.
Semua pengisi ruang tamu itu terbelalak. Termasuk Javier. Dirinya membeku saat melihat api kemarahan di wajah Meriya.
Gavin terkejut, Dia tidak menyangka sosok wanita yang di kiranya lugu. Bisa berubah menjadi seekor Harimau.
Catherine terkejut batin. Akibat tamparan dari wanita yang di Depanya membuat
Bibirnya terluka dan mengeluarkan darah segar. Kepalanya berdenyut. Dua Tamparan yang tidak pernah di bayangkanya Kini mengenai wajahnya.
"Kau bilang aku wanita pembawa sial.
"Lalu kau apa?
"Kau bilang aku merebut segalanya darimu?
"Apakah matamu tidak bisa melihat, Bahwa aku saat ini masih sama.
"Masih seorang pelayan. Bedanya kau bukan lagi majikanku.
"Kenapa kau melampiaskan amarahmu yang tidak jelas itu kepada ku.
"Kau mengatakan, Akulah penyebab hidupmu hancur.
"Seharusnya kau sadar, Bahkan saat Tuan Sean sakit kau tidak pernah datang mengunjunginya di rumah sakit.
"Jika kau punya nyali, Silahkan kau melampiaskannya kepada keluarga Fillipo.
Jangan kau membawa-bawaku.
Ucap Meriya datar.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku, Apalagi Sampai melukaiku.
"Sekali lagi tangan kotormu itu menamparku.
"Maka aku akan membalasnya seribu kali lipat.
Meriya menatap tajam Catherine.
Bisa-bisanya wanita ini melampiaskan amarahnya dan menuduhnya merebut posisinya.
Bukankah dia sudah sangat gila pikir Meriya.
Meriya langsung pergi dari ruang tamu itu.
__ADS_1
Meninggalkan sosok Javier dan Gavin yang masih terkejut.