
Setelah Elio bertemu dengan Istrinya Magdalena.
Elio pergi menemui Javier atas bujukan Magdalena.
Elio saat ini berada di gedung pencakar langit itu.
Berulang-ulang Elio menghembuskan nafas beratnya.
Di dalam ruangan CEO berwarna hitam dan putih Javier duduk dengan santai. Di depanya Elio juga sedang duduk dengan sedikit tidak nyaman.
"Katakan apa yang membuat Tuan Elio tiba-tiba datang menemuimu.?
Suara Bariton Javier memecahkan keheningan di ruangan itu.
"Sebelumnya aku minta maaf Tuan Javier.
"Aku dan istriku tidak berniat mengangkat Catherine menjadi Putri resmi kami.
Terangnya hatinya sedikit lega saat mengeluarkan isi hatinya yang sudah sejak kemarin merasakan kegelisahan yang tak menentu.
"Apakah Tuan Elio ingin menolak lamaranku dan mempermalukan ku?
Tatapan mata Javier sedikit menggelap.
Dirinya telah di tolak.
Hal yang tidak pernah terbesit di pikiranya.
"Aku tidak bermaksud menolak niat baik Tuan Javier dan keluarga.
"Aku dan istriku memang sudah lama membicarakan hal ini.
Ucap Elio jujur.
"Apa kalian tega mempermainkan perasaan Catherine yang sudah menganggap kalian orang tua kandungnya.
"Sebenarnya sejak dulu kami tidak pernah berniat mengangkat Catherine menjadi Putri angkat kami.
Tetapi karena Sean waktu itu masih kecil dan menginginkan Catherine sebagai kakaknya. Akhirnya kami mengabuli permintaanya. Karena kami takut Sean jatuh sakit.
Karena sejak kecil dokter telah mengatakan Putra kami Sean memiliki imun yang lemah.
Terang Elio panjang lebar.
"Aku tidak mau tau Alasanmu Tuan Elio
"Aku ingin lamaranku tetap kalian terima.
"Kalau tidak.
"Bagaimana jika aku meminta salah satu pelayan baru yang di rumahmu untuk menjadi istriku.
Ucap Javier santai.
Seringai tipis telah terukir di bibirnya.
Jika laki-laki itu menerimanya berarti benar dugaanya keluarga Fillipo itu telah jatuh hati pada daya tarik wanita pelayan muda itu.
"Deg.
Elio merasa terkejut.
Dirinya tidak menyangka laki-laki yang berkuasa itu akan meminta pelayanya yang baru dua Minggu ini bekerja di Mansion.
Yang lebih membuatnya terkejut Javier meminta wanita itu menjadi istrinya.
"Apakah dia pernah bertemu dengan Meriya. Batinya.
"Untuk hal itu aku tidak bisa memutuskan sepihak Tuan Javier.
"Jika Tuan Elio menolaknya.
"Maka aku tidak yakin akan bersikap lunak untuk kedepanya.
"Ingatlah Tuan Elio aku bukan orang yang bisa menerima penolakan.
"Apalagi sampai kau menolakku dua kali.
__ADS_1
Jelas Javier sedikit memaksa.
Javier tidak menerima penolakan.
**
Elio duduk termenung di dalam mobilnya.
Saat ini pikirannya benar-benar kacau.
Sosok Javier memang tidak bisa di remehkan.
"Apa yang harus kukatakan kepada keluargaku.
"Terutama kepada gadis muda itu.
bisiknya serak.
Hari sudah mulai malam.
Penghuni Mansion itu masih juga belum berkumpul untuk melakukan makan malam seperti biasanya.
Tuan muda Sean sedari tadi juga tidak menampakkan hidungnya di pintu masuk Mansion.
"Apakah mereka sangat sibuk sehingga belum sempat pulang?
Tanya Meriya sedikit cemas.
perasaannya sedari tadi tidak tenang.
"Mereka sudah biasa seperti ini Nak.
"Lebih baik kamu duduk sambil menunggu mereka datang.
"Kamu jangan kayak setrikaan gitu.
Maju-mundur kesal bibi Elis sambil menarik tangan mungil Meriya.
Meriya akhirnya pasra dengan perlakuan pelayan Tua itu.
""Traaanggg...
Para pelayan yang mendengar itu sontak membuat mereka terkejut dan berlari berhamburan ke dalam Mansion itu.
Disana mereka melihat pemimpin pelayan terduduk lesu dengan tubuh gemetaran.
"Apa yang terjadi?
Bibi Elis menghampiri kepala pelayan itu dan mencoba menyadarkan pelayan yang masih linglung itu.
"Tuan Sean kecelakaan dan saat ini sedang di rumah sakit dan tidak sadarkan diri.
Jelas kepala pelayan itu sedikit sadar.
"Deg.
Perasaan cemas di hati Meriya telah terjawab
"Di rumah sakit mana.
"Bibi..Ayo.
"Ayo kita temui Tuan Sean aku ingin melihatnya.
"Meriya menangis sambil menarik-narik tangan bibi Elis dengan gemetaran.
Pikiran negatif telah bersarang di otaknya.
Apalagi saat kepala pelayan itu mengatakan Tuan Muda Sean tidak sadarkan diri membuat hati kecilnya memikirkan yang bukan-bukan.
"Iya..kita akan segera kesana.
ucap Bibi Elis tak kalah bergetarnya air matanya juga jatuh di pipi tuanya itu membayangkan sosok Tuan Mudanya yang tidak berdaya.
"Nyonya meminta di bawakan baju ganti Nyonya dan Tuan Elio.
Ucap kepala pelayan saat melihat bibi Elis dan Meriya beranjak dari ruang itu.
__ADS_1
'"Aku akan menyiapkanya.
"Kalian berdua siap-siaplah
Bibi Mona menimpali ucapan kepala pelayan.
"Baiklah.
"Kami akan cepat siap-siap.
"Dan tolong bilangkan kepada supir untuk mempersiapkan satu mobil dan mengantar kami ke rumah sakit.
Ucap Bibi Elis dan di angguki kepala pelayan.
Mereka langsung melakukan tugas mereka masing-masing sambil melafalkan Doa untuk keselamatan Tuan muda mereka.
Mereka tidak bisa membayangkan jika Tuan muda mereka kenapa-kenapa.
**
Di perjalanan menuju rumah sakit tepat Sean di rawat.
bibi Elis dan Meriya sejak tadi saling berpegangan tangan mencoba menguatkan satu sama lain.
"Ya Tuhan. Hamba mohon sembuhkanlah Tuan muda kami. Ucap Bibi Elis bergetar.
"Amin..Ucap Meriya.
Meriya dan bibi Elis telah tiba di rumah sakit.
Karena rumah sakit itu milik Elio.
Bibi Elis langsung tau ruangan khusus keluarga Tuannya itu.
Meriya tidak menyangka rumah sakit yang menjadi saksi bisu saat ginjalnya di potong ternyata milik Tuanya dan kini Meriya kembali ke rumah sakit yang sempat membuatnya trauma sampai sekarang.
Meriya masih ingat jelas sewaktu dirinya menahan lapar sebelum operasi karena harus puasa serta menahan rasa haus saat dirinya selesai operasi.
Yang lebih menyakitkan lagi di rumah sakit itulah dirinya melihat pemandangan yang sangat menyakitkan bagi dirinya.
Mental dan fisiknya sungguh di uji di rumah sakit itu.
Saat mereka tiba di ruang rawat inap.
Meriya mendengar jerit tangis Nyonyanya Magdalena.
"Apa?
"Apakah tidak ada stok darah di rumah sakit ini?
"Maaf Magdalena kami sudah mencoba menghubungi rumah sakit cabang dan rumah sakit yang bekerjasama dengan rumah sakit kita..
"Mereka juga tidak mempunyai stok darah.
"AB Rhesus positif.
Ucap salah satu dokter yang juga seumuran dengan Nyonyanya.
Meriya yakin mereka teman akrab karena dokter itu memeluk Nyonya Magdalena seakan menguatkanya.
Dan Meriya baru tau ternyata ke dua majikanya itu sama-sama pernah kuliah ke dokteran.
Tetapi kedua majikanya itu saat ini lebih fokus ke perusahaan mereka masing-masing yang sedang naik daun.
"Golongan darah AB?
" Rhesus positif?
Batin Meriya.
Bukankah golongan darah kami sama.
Meriya tersenyum senang.
Kini dirinya dapat membalas jasa Tuan Seannya.
Meriya pergi dari ruangan tempat Sean di rawat.
__ADS_1
Mungkin ruangan itu sejenis ICU karena mereka harus menggunakan baju khusus dan sepatu khusus saat masuk keruangan itu.