Katakan Di Mana Salahku

Katakan Di Mana Salahku
Meriya ingin bertemu ibunya


__ADS_3

"Karena Nona muda kamu telah sembuh dan sudah bebas melakukan apapun yang dia mau.


Jelas pelayan itu bangga.


"Aku tidak perduli dia sesibuk apapun.


"Aku hanya ingin menemui dia terakhir kalinya.


Meriya berusaha menahan gejolak di hatinya yang terasa nyeri saat ibunya dengan antusias menyambut kesembuhan Putrinya yang lain. Sedangkan dirinya korban dari kekejaman ibunya itu.


"Kau..


"Apakah belum cukup dengan uang yang telah di berikan Nyonya kepadamu?


Pelayan itu menatap tajam Meriya.


Dia menganggap Meriya Manusia yang tidak tau diri di kasih hati minta jantung.


"Nyonyanya begitu mulia sehingga menyiapkan sebuah Apertemen yang cukup mewah untuk Wanita ini selama tinggal disini.


Dan juga Memberikan uang sangat banyak menurutnya. Bahkan sang Nyonya membelikan baju tidur sepasang dan memberikan Dress milik Nona mudanya yang masih sangat cantik. Bahkan harga Dress itu gajinya tiga bulan.


Batinya merasa cemburu.


"Jika Nyonyamu tidak mau bertemu denganku maka aku sendiri yang akan menemuinya dan membuatnya malu.


Ancam Meriya.


Kali ini dirinya tidak akan mudah menyerah. Cukup dirinya bersikap lemah di depan sang ibu. Jika di depan pembantu ini dirinya harus sekuat baja.


Pelayan itu menggertakkan giginya.


Dan langsung menghubungi sang Nyonya besar.


""Apakah kau tidak tau aku sedang sibuk?


"Kenapa kau menelpon ku untuk hal yang tidak penting.


Bentak Maria dari seberang sana.


Dia tau Meriya pasti sedang berbuat ulah.


""Maaf Nyonya.


"Nona Meriya ingin bertemu dengan Nyonya.


"Sehingga aku menghubungi Nyonya untuk menanyakan hal itu kepada Nyonya.


Balas pelayan itu dengan gugup dan matanya menatap tajam Meriya seakan melampiaskan kekesalannya kepada Meriya yang telah membuatnya terkena masalah.


"Katakan ke padanya aku tidak ingin bertemu lagi denganya.


"Bilang ke padanya untuk tidak macam-macam


"Karena aku tidak akan segan-segan "memasukkanya ke penjara dengan Alasan penipuan jika dia memanfaatkan kebaikanku.


Ancam Maria dari seberang sana yang masih bisa bisa di dengar Meriya.

__ADS_1


Meriya langsung merampas gengaman seluler milik pelayan itu. Hatinya merasa miris mendengarkan ucapan yang tidak manusiawi dari ibunya.


""Kau.


Pelayan itu sungguh terkejut melihat tindakan Meriya yang kelewat batas.


"Aku tidak mau menerima uang pemberianmu.


"Jika Nyonya tidak mau bertemu denganku.


"Maka uang ini akan kutitip dengan pelayanmu ini.


Putus Meriya.


Di seberang sana Maria sungguh terkejut mendengar perkataan Meriya yang terkesan melawannya.


Sebelum dia membalas perkataan Meriya sambungannya telah di putuskan sepihak. Membuat Maria Emosi.


"Dasar anak tidak tau di untung. Umpatnya.


"Terserah jika kau tidak mau uang itu.


"Baguslah jika kau ingin membayar utang-utangmu kepadaku dengan sepotong ginjal Mu itu.


Batinya.


"Apakah kau tidak punya sopan santun?


"Berani-beraninya kau merampas teleponku dan mematikannya sepihak.


"Dasar wanita tidak tau diri. Cibirnya.


Meriya menyodorkan amplop coklat kepada pembantu yang tidak berperasaan itu.


"Majikan dan pembantu sama saja. Batin Meriya.


Pelayan itu melongo saat menerima amplop coklat tebal itu sedikit banyaknya dirinya memang sudah mendengar wanita itu akan memulangkan uangnya kepada sang Nyonya.


Pelayan yang tidak ingin lama-lama di Apertemen itu langsung menerimanya.


"Ingatlah untuk mengosongkan Apertemen ini siang ini.


Pelayan itu langsung pergi dari sana.


Walaupun ada beberapa pertanyaan yang ingin di tanyakan kepada Meriya di urungkannya karena tidak ingi lama-lama menatap wajah Meriya yang membuatnya jengkel. Dirinya juga tidak ingin mencampuri urusan sang Nyonya yang terkenal kejam.


Setelah pelayan itu pergi Meriya langsung makan dan mandi.


Setelah itu Meriya menggunakan baju tidur lengan panjangnya kembali karena memang dirinya tidak mempunyai baju ganti yang lain. Meriya mengambil dompetnya dan juga pergi meninggalkan Apertemen itu. Dia tidak ingin berlama-lama disana dan tidak ingin mengalami pengusiran yang berulang-ulang.


Meriya akui ibunya itu telah merencanakan semua ini secara matang.


Sepanjang jalan Meriya berjalan kaki menyusuri jalanan yang membawa kakinya kemanapun pergi.


Kadang Meriya akan duduk di taman atau di tempat sepi. Meriya tidak perduli dengan tatapan orang-orang disana yang melihatnya dengan binggung.


Dari jarak lima puluh meter Meriya melihat sebuah gedung yang lumayan tinggi.

__ADS_1


Dia berjalan ke arah gedung itu.


Ternyata gedung itu sebuah Mall. Disana orang-orang berlalu lalang memasuki mall itu.


""Apa aku beli Handphone saja. Batin Meriya.


Dia melangkahkan kakinya yang sudah pegal ke Mall itu.


Disana ada beberapa stand tempat menjual handphone.


Selama di negara ini Meriya merasa beruntung tidak kesusahan dalam berkomunikasi karena Meriya dapat memahami bahasa mereka dan Meriya dapat mengucapkan bahasa itu walaupun masih sedikit kaku.


Meriya juga tidak menyangka kenapa begitu mudah mempelajari bahasa Italia sementara dia lahir dan besar di negara India.


Dan dulu Meriya memang menyukai beberapa bahasa di dunia ini termasuk bahasa Italia yang sudah di pelajarinya sejak di bangku sekolah menengah atas.


"Ada yang bisa kami bantu Nona?


Tanya seorang SPG kepada Meriya dengan ramah.


"Aku ingin membeli satu handphone android yang cukup murah.


Balas Meriya dengan ramah dan langsung mengatakan tujuanya.


Wanita itu penuh semangat mengeluarkan beberapa Handphone ke hadapan Meriya.


Meriya bertanya dengan harga-harga handphone itu.


Dan Meriya akhirnya membeli Handphone Merek SS yang sudah mendunia menurutnya.


Dengan harga tiga juta lebih.


Setidaknya Dress yang di jualnya itu bisa menghasilkan satu Handphone yang canggih menurut Meriya karena seumur hidupnya Meriya hanya pernah menggunakan Handphone sekitar satu juta limah ratus masa-masa di Desa dulu. Dan Handphone itu telah hilang saat kejadian neneknya meninggal. Dan merek handphone itupun masih merek yang lain.


Wanita itu tersenyum dia tidak menyangka barang yang sudah setahun ini di toko itu tidak laku-laku akhirnya ada yang beli juga.


Dia memberikan diskon besar-besaran kepada Meriya karena telah sudi mengadopsi barang yang tidak laku-laku itu.


Meriya merasa senang saat mendapatkan diskon.


"Siapa yang tidak tertarik dengan harga diskon.


Batin Meriya.


Dia tau di negara itu handphone yang terkenal itu adalah gambar gigitan apel di belakangnya. Meriya tidak memperdulikan hal itu yang penting dirinya dapat berkomunikasi dan berselancar di media sosial.


SUdah hampir satu Minggu dirinya meninggalkan kedua sang sahabat.


"pasti mereka saat ini sedang kalang kabut mencariku. Monolog Meriya.


Walaupun Meriya tidak mengingat nomor mereka tetapi meriya berteman dengan mereka di beberapa media sosial.


Meriya saat ini sedang tempat makan.


Dirinya sangat lapar.


Meriya memasuki McDonald's.

__ADS_1


Dia memesan nasi putih dan ayam goreng dan air mineral.


Meriya harus berhemat di negara itu.


__ADS_2