
Kembali Meriya merenung diri.
Dia hanya pasien yang harus mengikuti peraturan rumah sakit itu.
Meriya juga tidak ingin mempersulit.
Meriya juga sudah merasa lebih sehat walaupun sedikit lemah.
"Ayo Nona.
" Aku akan mengantarkan Nona ke apartemen sesuai perintah Nyonya Benito.
Meriya mengangguk patuh.
Dirinya mengikuti langkah kaki supir yang sudah beberapa kali menjemputnya.
Saat dirinya melewati sebuah ruangan yang sedikit tertutup.
Meriya melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Pemandangan yang melemparkannya ke jurang tak berdasar.
Ibu yang masih di sayanginya dari lubuk hatinya yang paling dalam kini sedang mencium sosok seorang gadis cantik dan menyuapi gadis itu dengan sabar dan telaten.
Sesekali ibunya itu akan menampilkan senyum tulusnya untuk gadis itu.
Senyum yang tidak pernah di lihat Meriya selama beberapa hari ini.
"'Ibu.. terimakasih
"Telah mencari pendonor ginjal yang cocok untukku.
Ucap gadis cantik itu sambil mencium kedua pipi sang ibu dengan gemas membuat Maria terbahak-bahak dan memeluk putri kesayangannya.
""Mulai sekarang menurutlah pada ibumu.
"Ibumu telah bekerja keras membujuk pendonor itu.
Kata pria paruh baya yang ikut memeluk kedua wanita tersayangnya.
""Deg.
Jantung Meriya berdetak kuat saat gadis cantik itu memanggil ibunya dengan sebutan ibu.
Serta pemandangan yang baru saja di lihatnya.
Membuat rasa nyeri di dadanya semakin sakit. Di tambah lagi ketika sang ibu dengan penuh cinta merawat gadis itu dan memperlakukannya dengan lembut.
Kedua mata abu-abu itu langsung mengeluarkan butiran kristal.
Butiran itu langsung mengalir deras di pipi mulusnya saat melihat pemandangan yang tidak pernah terpikir olehnya.
Kenyataan pahit telah melemparkannya dari ketinggian seribu kali.
Ibunya membohonginya.
Ginjal yang sudah di relakanya dengan ikhlas Ternyata bukan untuk ibunya melainkan untuk Putrinya yang lain.
Meriya berjalan gontai kelorong rumah sakit itu.
Disana dirinya terduduk lemas dan menangis pilu.
Sekuat tenaga Meriya menepuk rasa nyeri di dadanya.
""Hiks..hikss
"Kenapa?
"Kenapa ibu tega berbohong kepadaku?
__ADS_1
"Kenapa ibu harus berbuat curang padaku?
"Ibu..hiks..
"Apa salahku ibu.
"Kenapa ibu membenciku?
Ucapnya segegukan membuat nyeri dan sesak di dadanya semakin bertambah.
Dirinya tidak menyangka ibunya Setega itu.
Bahkan rela mengambil organ Putri kandungnya sendiri dan memberikanya kepada Putrinya yang lain yang di sayangi ibunya.
Setelah lama menangis.
Meriya kembali menata hatinya.
Dia kembali teringat dengan ucapan sang ibu. Untuk tidak mengganggu kehidupanya lagi
Ternyata ibunya sudah mempunyai kehidupan yang baru bersama keluarga kecilnya.
Meriya tidak mempunyai harapan lagi untuk bersama ibunya.
Meriya merasa miris. Sosok yang seharusnya melindunginya dan membuatnya merasa aman. Kini sosok itulah yang membuat hidupnya menderita.
""Apakah aku masih mempunyai sosok ayah?
"Jika aku punya sosok ayah.
"Apakah ayah menyayangiku?
Batin Meriya bertanya-tanya dan dirinya masih berfikir positif bahwa dia memiliki ayah yang mungkin menyayanginya.
Setelah Meriya keluar dari rumah sakit besar itu.
""Nona..
"Nona darimana saja.
"Aku..aku sudah mencari Nona kemana-mana sejak tadi.
"Aku kira Nona sudah pulang.
"Dan aku pergi memastikan Nona ke apertemen dan di apertemen Nona juga tidak ada.
"Akhirnya aku kembali kesini lagi.
"Untung Nona ku lihat keluar dari dalam.
"Jika tidak aku akan memberitahukannya ke pada Nyonya Benito.
Lelaki itu berbicara panjang tanpa jeda entah melampiaskan rasa kesalnya atau hanya sekedar curhat kepada Meriya. Meriya tidak tau.
""Maaf. Ucap Meriya menunduk.
Meriya tidak punya tenaga menjawab perkataan sang supir.
"Ya sudah Nona.
"Kita pulang.
"Aku juga sudah membeli makan malam Nona sesuai perintah dari Nyonya Benito. Jelasnya.
Sementara Meriya tidak menghiraukannya dirinya langsung masuk ke dalam mobil dan memejamkan kedua Matanya.
Sementara sang sopir geleng-geleng kepala melihat sifat Meriya yang mendiaminya padahal supir itu sudah mencoba mengalah kapada Meriya dan tidak memarahinya karena tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
wanita muda yang aneh menurutnya dan dia yakin wanita muda itu baru saja menangis.
"Apa yang di tangisi Nona ini. Batinya.
Setelah tiba di apertemen. Meriya tidur meringkuk di kasur yang cukup besar itu.
Sang supir telah pergi setelah memberikan makan malam Meriya dan memastikannya memasuki apertemen.
Dia juga heran kenapa Nyonya besarnya itu bersikap peduli kepada wanita muda itu.
Tetapi supir itu kembali mengingat pengorbanan wanita muda itu kepada Nona mudanya.
"Mungkin karena Nona itu telah mendonorkan ginjalnya makanya sang Nyonya sedikit perhatian. Batin sang supir.
Sang supir Merasa terharu dengan perhatian Nyonya besarnya itu.
Meriya menangis sejadi-jadinya di kamar itu meluapkan rasa sedih, kecewa, marah kepada ibunya.
"Nenek..
"Meriya merindukan nenek.
"Apakah nenek sudah tau dengan apa yang Meriya alami saat ini?
"Ibu.. Dia..dia telah mengambil ginjalku dan memberikanya kepada Putrinya yang lain nenek Adu Meriya.
"Nenek..jika nenek masih hidup.
"Apakah nenek membiarkan ibu mengambil ginjalku?
"Aku yakin Nenek tidak akan membiarkannya.
""Ibu sungguh jahat Nek.
"Kenapa aku mempunyai ibu sekejam dia Nek?
Curhat Meriya kepada figuran yang di tanganya itu.
Lama Meriya menangis sehingga meriya tertidur meringkuk di atas tempat tidur itu.
Jam menunjukkan jam sebelas malam. Meriya bangun dari tempat tidur karena merasakan perutnya yang terasa pedih dan juga lapar.
Meriya berjalan kearah dapur apertemen itu. Di atas meja dapur itu masih ada bungkusan plastik yang di yakini Meriya makan malam yang telah di beli supir yang menjemputnya tadi.
Meriya duduk di kursi dan membuka kotak makanan itu. Isinya sudah dingin karena ruangan itu memang full AC.
Meriya memakan nasi yang sudah dingin itu dalam diam.
Dapur apartemen yang di sewa ibu Meriya itu benar-benar kosong. Disana hanya ada dispenser air minum. Tidak ada peralatan masak sama sekali. Entah itu di sengaja ibunya atau memang apartemen memang seperti itu. Meriya tidak tau karena dirinya tidak pernah menyewa apartemen.
Tetapi Meriya pernah mengunjungi apartemen milik Reno dan Reni di ibu kota. Walaupun apartemen milik mereka tidak seluas apartemen yang sedang di tempatinya itu. Tetapi di sana lengkap semua perabotan rumah tangga sehingga membuat Meriya betah di sana.
Meriya mengumpulkan uang yang banyak karena Meriya bercita-cita ingin bisa menyewa apartemen seperti milik kedua sahabatnya.
Dimana ke dua sahabatnya itu tinggal bersama-sama.
Selesai makan Meriya kembali kekamar. Di sana ada lemari pakaian.
Walaupun tak berharap bahwa lemari itu ada isinya Meriya tetap membukanya dan di sana ada dua potong baju.
Satu dres di atas lutut dan satu lagi baju tidur lengan panjang yang masih baru. Sementara dres itu sepertinya sudah pernah dipakai.
Meriya memperhatikan dress itu dirinya cukup terkejut melihat bahan dari dres itu yang mempunyai kualitas tinggi.
Tiba-tiba Meriya mengingat sosok gadis cantik di rumah sakit.
""Apakah ini miliknya dan ibu memberikanya kepadaku?
__ADS_1