
Kakak lihat kan kelakuan wanita sialan itu.
adu Catherine kepada Javier.
Tapi Javier bersikap santai saja.
Dia tidak merespon perkataan Catherine.
Di pikiranya sekarang. Sosok Meriya yang sedang marah.
Wajahnya sangat menggemaskan bagi Javier.
'"Sial..Kenapa juga aku memikirkannya.
Batin Javier.
"Jadi aku harus kemana.
"Aku telah di usir orang tuaku dari Mansion.
Catherine menangis di hadapan Javier dan Gavin.
Trik wajah polosnya mulai bekerja.
"Kakak bisakah Catherine tinggal di sini?
Pinta Gavin. Mansion ini milik Javier.
Dia perlu persetujuan dari sang empunya.
"Terserah.
Javier pergi dari sana, Meninggalkan Gavin dan Catherine.
"Akhirnya, Aku bisa satu atap dengan kak Javier.
"Ada untungnya juga aku di usir oleh keluarga sialan itu dari Mansionnya..
"Mansion kak Javier jauh lebih besar dan mewah.
"Jika aku sudah menjadi Nyonya Lazzaro, Maka aku akan membalas perbuatan kalian..Batin Catherine dengan senyum sinis
"Ceklek.
Javier memasuki kamar.
Dipojokan tempat tidur, Dia melihat Meriya duduk sambil menenggelamkan kepalanya di kedua kakinya.
"Hikss.. Hikss.
Suara tangis terdengar.
Javier mematung melihat istrinya menangis.
Perasaan Javier sedikit terenyuh, Sesuatu di hatinya yang tidak pernah di rasakanya terasa sesak dan nyeri.
Javier berjalan menuju Meriya.
"Kau kenapa menangis, Bukankah kau tadi sedang menunjukkan taringmu?
Ucap Javier datar.
"Maaf Tuan..Meriya langsung berdiri dan menunduk.
Sungguh dirinya sangat malu telah ketahuan menangis.
"Jangan kau Kotori kamar ini dengan air matamu . Javier langsung pergi dari sana.
Dia memasuki ruang khusus yang bisa tembus keruang kerja miliknya.
Javier duduk di kursi kebesarannya.
Dia sadar, Perkataan barusan sangatlah menyakitkan. Javier sebenarnya tidak ingin berkata seperti itu.
Perasaan Javier sedikit kacau. Memikirkan sosok wanita yang sudah jadi istrinya.
Javier telah berjanji tidak akan bersikap lunak kepada Meriya.
Dan membalaskan sakit hati adik kesayangan kepada Meriya.
Tetapi mengingat wanita itu menangis, Javier jadi tidak tega.
__ADS_1
Dia belum pernah merasakan hal yang seperti ini.
Malam hari telah tiba, Meriya duduk di sofa yang di kamar.
Dia takut duluan tidur sementara suaminya belum pulang.
"Ceklek.
Suara pintu terdengar.
Meriya langsung berdiri,
Javier mengernyitkan kening saat melihat istrinya belum tidur.
Javier bersikap cuek saja, Hari ini dia baru menyelesaikan meeting dengan klien di ruang kerjanya.
Javier masuk ke kamar mandi.
Meriya langsung menyiapkan pakaian Javier.
Dia masih setia berdiri di samping tempat tidur, Layaknya seorang pelayan yang menunggu aktivitas sang majikan selesai.
Javier keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk putih yang melilit pinggangnya.
Meriya menunduk saat melihat suaminya itu telanjang dada, Dia merasa sungguh lancang telah melihat majikanya telanjang dada.
Walaupun itu suaminya, Meriya tetap tidak pantas menatapnya.
Javier melihat pakaiannya sudah tersedia di atas tempat tidur.
Dia melihat istrinya menundukkan kepalanya.
"Apa dia malu?. Batin Javier, Tersenyum sinis.
Wanita yang menghalalkan segala cara untuk naik ke ranjang majikanya kini bersikap malu-malu di hadapanya.
"Ciih,,Dia kira aku tidak tau trik sok polosnya ini. Javier tersenyum mengejek.
Tadi siang Catherine telah memberitahu kepadanya, Bahwa Meriya telah berusaha menggoda Tuan Elio.
Apalagi Tuan Elio sosok yang tampan dan gagah, walaupun umurnya sudah hampir kepala lima.
"Magdalena saja yang bodoh, Karena mau tertipu dengan wanita murah--an seperti ini.
Pikir Javier.
"Keringkan rambutku. Titahnya datar.
"Baik Tuan.
Meriya langsung mengambil handuk kecil.
Dia mulai mengeringkan rambut hitam Javier.
MERIYA sedikit gugup.
Walaupun Meriya hanya mengeringkan rambut Javier.
Javier merasa sangat menikmatinya.
Setelah kering. Meriya menaruh handuk itu ke tempat kotor.
"Cepat sekali selesai. Batin Javier sambil meraba rambutnya yang sudah kering.
Javier melirik Meriya yang masih berdiri.
"Tidurlah..Kau bukan bodyguard ku yang berdiri terus.
Ucapnya berat.
"Baik Tuan.
Meriya mengambil bedcover dari lemari.
"Untuk apa itu?
Javier menatap Meriya tajam.
"Saya boleh tidur di sofa ini Tuan?
Tanya Meriya gugup.
__ADS_1
Javier memicingkan matanya.
"Ngapain kau tidur di sofa.
"Sini kau tidur di tempat tidur. Titah Javier.
Dia tidak menyukai Meriya yang lebih memilih tidur di sofa kecil itu dari pada tidur denganya.
"Apa dia tidak mengerti dengan perkataan ku tadi?
Batin Javier.
Meriya mengembalikan kembali bedcover itu ke lemari, Di tempat tidur Tuannya telah ada bedcover besar.
Dengan hati-hati dan jantung yang sudah berdetak kencang,
MERIYA menaiki kasur besar itu.
"Kau tenang saja, Aku tidak akan menyentuhmu.
"Aku tidak sudi menyentuh tubuh kotormu itu.
Javier langsung tidur dan membelakangi Meriya yang merasa sakit hati mendengar ucapan Javier.
Entah kenapa setiap kata-kata kasar yang keluar dari mulut majikannya itu membuat Meriya sakit hati
Beda halnya dengan kata-kata kasar dari Catherine, Meriya akan membalasnya.
Tetapi Untuk melawan Javier Meriya tidak seberani itu. Apalagi laki-laki ini sekarang sudah menjadi suaminya, Sebisa mungkin Meriya harus menghormati suaminya ini.
Javier masih membuka mata cerahnya, Dia tidak merasakan pergerakan di belakang punggungnya.
"Apa dia sakit hati dengan ucapanku Barusan?
Batin Javier merasa gelisah.
Meriya akhirnya tidur menyamping membelakangi Javier, Badanya di geserkanya sampai ke ujung tempat tidur itu.
Dia tidak berani menarik bedcover itu karena Tuannya menggunakan bedcover itu, Walaupun masih ada sisanya, Meriya takut menarik bedcover itu.
akhirnya dia tidur dengan meringkuk, Di tambah lagi AC di kamar itu yang sangat dingin membuat Meriya merasa menggigil.
Setelah Javier memperkirakan Meriya sudah nyenyak, Javier berbalik.
Dia melihat di ujung tempat tidur itu tubuh yang sedang meringkuk dan menggigil.
"Bodoh. Ucapnya.
Dia menarik Meriya ke tengah, Menaruh bedcover itu ke atas tubuh Meriya.
Sehingga Meriya sedikit tenang.
Dia memperhatikan wajah cantik dan mulus itu.
Tampa sadar Javier membelai rambut dan pipinya.
Matanya melihat bibir padat dan mungil Meriya. Bibir yang tadi pagi di ciumnya Dengan ganas setelah sah menjadi suami istri.
Bibir itu sungguh manis dan menggoda iman Javier.
Javier menunduk, Lalu mengecup bibir Meriya dan bermain sebentar disana.
Javier yang melihat Meriya sedikit terganggu, Akhirnya menghentikan aksinya.
"Manis bisiknya.
Javier membaringkan tubuh panjangnya di samping Meriya memeluk istrinya itu Tampa sungkan, Bahkan tanganya meraba-raba tubuh istrinya Meriya.
Membuat Meriya tidak tenang,
Jantung Javier bertalu-talu saat tangganya menggenggam sesuatu yang sangat lembut dan pas di kepalan tanganya.
Wajahnya merah padam, Sudah sejak tadi dirinya menahan hasrat kelaki-lakianya.
Javier menggenggam benda kenyal itu.
Karena penasaran Javier menyikap ke atas baju tidur Meriya dan membuka pengaitnya.
"Glek,
Javier menelan ludahnya dengan susah payah.
__ADS_1