
Dua Minggu telah berlalu
sudah dua Minggu lebih Meriya menjadi pelayan di kediaman Fillipo.
Tetapi suasana di keluarga itu semakin memanas dan tidak tampak lagi ketentraman akibat ulah seseorang yang saat ini sedang meluapkan emosinya saat mendengar perkataan sang Ayah di ruang makan tadi pagi.
"Dua hari yang lalu Tuan Javier mengajakku bertemu dan tujuanya bertemu yakni untuk menjodohkan Catherine dengan Gavin.
Kata-kata itulah yang di dengarnya.
Dan ayahnya berbicara bukan kepada dirinya yang saat itu juga berada di meja makan.
Tetapi ayahnya berbicara kepada ibunya.
"Brengsek.
Umpatnya.
Barang-barang berserakan di lantai alat-alat makeup berhampuran serta hancur lebur.
Catherine tidak perduli barang-barang kesayangannya itu hancur.
Dia bisa membelinya lagi.
Catherine hanya berfikir bagaimana perjodohan itu batal.
"Aku tidak mencintai Gavin.
"Aku mencintai kakaknya Javier
"Aku hanya ingin menikah dengan pria yang kucintai.
Ucapnya melengking di dalam kamar yang tidak mempunyai pengedap suara itu.
Meriya terkejut mendengar ucapan dan teriakan Nona Mudanya itu.
Saat ini Meriya sedang membersihkan Guci-guci yang mempunyai harga fantastis.
Meriya yang tidak sengaja mendengar ucapan Nona Catherine membuatnya membeku.
"Jadi cinta lelaki itu bertepuk sebelah tangan.
"Astaga kasihan sekali laki-laki itu.
"Sepertinya dia pemuda yang baik.
Batinya.
"Hei Meriya sini?
Panggil bibi Mona.
Bibi Mona takut Meriya akan menjadi pelampiasan Nona Catherine.
Apalagi saat ini Meriya sedang berada dekat dengan kamar wanita kejam itu.
"Meriya bisa saja menjadi sasaran empuk wanita itu. batin bibi Mona
"Apa bi.
"Aku sedang membersihkan guci ini.
Bisiknya saat dirinya sudah tiba di dekat bibi Mona.
"CK..nanti saja itu.
"Ayo kita ke Paviliun belakang.
"Hari ini koki sedang memasak gorengan untuk cemilan para maid.
Bibi Mona langsung menyeret Meriya dari sana.
Dia takut sang Nona muda Catherine melihat keberadaan mereka.
__ADS_1
Meriya hanya geleng-geleng kepala melihat raut cemas bibi Mona.
Meriya sangat senang para maid di Mansion itu memperlakukannya dengan baik.
Bahkan seperti keluarga sendiri.
Meriya menjadi betah bekerja disana.
Walaupun dirinya tidak pernah bekerja sebagai pelayan. Meriya cukup cepat belajar di sana karena bibi Elis dan Bibi Mona selalu mengajarinya.
Para maid yang lainpun juga mengajari Meriya dengan sabar.
"Apakah kau mendengar ucapan Nona Catherine?
Tanya bibi Mona dengan kepo.
Jiwa gosipnya sudah meronta-ronta sejak hari ini.
Bibi Mona tidak sengaja mendengar perkataan Tuan besarnya di meja makan tadi pagi.
Meriya mengangguk.
Lalu dengan polosnya Meriya menceritakan semua yang di dengarnya kepada para maid di paviliun belakang itu.
Membuat para maid di sana mengangguk-angguk mendengar laporan Meriya yang sambil mengunyah gorengan panasnya.
"Kenapa gorengan ini sangat panas bibi.
keluh Meriya.
"Namanya juga baru di goreng nak.
'"Ya panaslah.
"Kecuali kau langsung memasukkannya ke freezer mungkin langsung dingin bahkan langsung beku.
Ucap bibi Mona dengan santai.
Bibirnya juga meniup-niup gorengan itu yang tiba-tiba saja membuatnya mengerutu.
"Kenapa di menawari makanan panas begini.
Semua orang disana yang melihat tingkah bibi Mona merasa jengah.
"Tadi saja sok menasehati Meriya.
"Sekarang kamu kena kan?
Ucap bibi Elis sambil terkekeh geli.
"Apakah Nona Catherine akan menikah dengan tuan Gavin.
Tanya bibi Mona yang tidak terlalu merespon ucapan bibi Elis yang baru saja balik mengejeknya.
"Kamu kira kami cenayang yang bisa mengetahui isi hati Nona Catherine dan mengetahui masa depanya.
Bibi Elis menjawab pertanyaan bibi Mona dengan raut wajah acuh tak acuh.
Dia tidak ingin terlibat apapun dengan Nona muda itu.
"Kalau bisa dia cepat-cepatlah pergi dari rumah ini. bisik Bibi Elis dan masih bisa di dengarkan oleh orang-orang di dalam Paviliun belakang itu.
Mereka juga mengangguk seakan menyetujui ucapan pelayan tua itu.
Mereka sungguh tidak menyukai Nona angkat mereka itu.
Seandainya Tuan dan Nyonya besar tidak mengangkatnya jadi anak mungkin nasibnya sama dengan kita. Sama-sama pelayan timpal bibi Mona yang tidak pernah menyukai sifat Catherine yang seenak jidatnya itu.
Di sebuah restoran bintang lima.
Magdalena dan suaminya Elio sedang berbicara serius.
Mereka sengaja bertemu di luar dan di tempat private untuk membicarakan mengenai pembahasan suaminya sewaktu di ruang makan tadi pagi.
__ADS_1
"Jadi apa yang di katakan Tuan Javier?
Tanya Magdalena dengan raut wajah serius dan bercampur cemas.
"Tuan Javier bertanya kapan kita akan meresmikan pengangkatan anak terhadap Catherine.
Elio menghela nafas panjang.
"Aku tidak akan pernah mengangkat Catherine menjadi Putri resmiku.
"Jadi aku mohon jangan lagi kamu mendesakku.
"Aku tidak ingin namaku semakin tercoreng akibat ulahnya.
Keluh Elio.
"Jadi jawaban apa yang kamu berikan kepada Tuan Javier.
"Aku yakin dia tidak menyukai penolakan.
"kita tidak mungkin menolak lamaranya.
"Pasti kita di cap sekumpulan orang gila.
"Dan Tuan Javier tidak akan membiarkan kita begitu saja.
Jelas Magdalena. Raut wajahnya semakin cemas.
Dulu Magdalena memang sangat mendesak suaminya untuk meresmikan Putri angkatnya itu. Tetapi semakin lama sikap Putri angkatnya itu semakin di luar batas. Itu yang membuat Magdalena geram dan berpikir tidak akan meresmikan pengangkatan Putri resmi terhadap Catherine.
"Aku juga binggung bagaimana menjelaskannya kepada Tuan Javier.
"Aku juga tidak ingin berurusan dengan pemuda bengis itu
Elio berbicara sambil memijit pelipisnya.
Otaknya mendadak buntu.
Dia tidak menemukan jalan mengenai perjodohan yang di ajukan Javier kepadanya.
"Apakah kita jujur saja kepada Tuan Javier bahwa kita tidak ingin mengangkat Catherine menjadi Putri resmi kita.
Kita bilang saja bahwa Catherine tidak pantas menyandang gelar sebagai keluarga Fillipo. Ucap Magdalena.
"Aku sudah mengatakan itu.
"Dan Tuan Javier menjadi sedikit kecewa.
"Dia berbicara padaku bahwa dia serius menjodohkan adiknya Gavin kepada Catherine.
"Jika kita tidak mengangkat Catherine Putri maka Tuan Javier akan membuat perhitungan kepada kita.
Terang Elio.
"Kalo begitu biar saja Tuan Javier menjodohkan Catherine dengan Gavin Tampa menyandang nama Fillipo.
"Tuan Javier tidak mau.
"Dia tetap menunggu kita meresmikan Catherine.
Rahang Elio sedikit mengeras.
Jika bukan dia dan istrinya tidak gegabah dulu
Mungkin dirinya tidak merasakan masalah yang membuat buntu otaknya itu.
Dia memang menginginkan kerja sama dengan Javier tetapi Elio tidak ingin kerja samanya menyangkut perjodohan Apalagi perjodohan tentang Putri angkatnya yang memaksanya untuk meresmikan Putri angkatnya itu.
Elio tidak akan pernah melakukan itu.
Karena sedari dulu dia kurang menyukai sosok Catherine. Walaupun Catherine dulu wanita polos dan juga lugu.
Tetapi Elio tidak menyukai sikap polos dan lugu Catherine.
__ADS_1
Elio merasa wanita itu seakan terpaksa melakukan hal itu.