Katakan Di Mana Salahku

Katakan Di Mana Salahku
Meriya sakit


__ADS_3

Kepala pelayan sangat takut melihat kemarahan Tuannya.


"Tuan. Lebih baik aku mencoba sekali lagi membangunkan Nona.


Tolak kepala pelayan sedikit halus.


"Apakah kamu yakin dia akan membuka kamarnya?


'"Jika dia mendengarkanmu yang sudah mengetuk pintu kamarnya sedari tadi. Mungkin, dia juga sudah membuka pintu itu.


Ucap Javier menahan kesalnya


"Ambil kuncinya segera. Jika tidak. Kau yang kumasukkan ke kandang si White.


Ancam Javier.


Kepala pelayan langsung menggigil ketakutan.


Ancaman Tuannya itu tidak pernah main-main. Sekali dia membuka mulut maka hal itu akan terjadi.


"Baik Tuan. Kepala pelayan menyerah.


Sepanjang jalan menuju Paviliun belakang, Tempat tinggal para maid. kepala pelayan sedari tadi sudah melafalkan Doa nya.


"Lebih baik Nona, Tiba-tiba demam.


"Biar Tuan tidak memasukkannya ke kandang si white atau si tutul. Batin kepala pelayan.


"Ceklek.


Javier mengerutkan keningnya saat kamar yang di huni pelayan barunya itu Gelap gulita.


"Apakah dia tidak takut gelap. Batin Javier.


Dia menghidupkan sendiri lampu kamar itu.


Javier melihat Meriya sedang meringkuk meringis di tempat tidur.


Sepertinya wanita itu sedang kesakitan.


Peluh telah membanjiri pelipisnya. Badanya menggigil dan pakaiannya sudah basah.


Akibat tubuhnya yang sudah bermandikan keringat.


Javier terkejut melihat itu.


"Hei..Bangun. Ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Meriya yang masih menggigil.


"Panggil Dokter.


Titahnya kepada kepala pelayan.


"Baik Tuan. Ucap kepala pelayan sedikit lega. sekaligus cemas. Sepertinya nyonya itu sedang sakit serius.


Javier tidak tau kenapa. Hatinya seperti teriris saat melihat tubuh Meriya tak berdaya seperti ini.


"Hei bangun..Ucapnya kembali, Javier tidak tau harus melakukan apa. Dia hanya bisa membangunkan wanita itu sedikit kasar.


Setelah beberapa menit dokter pribadi keluarga Lazzaro itu datang.


"Kau lama sekali


Bentaknya kepada dokter pribadinya.


Dokter itu, yang tak lain sahabatnya sendiri.


Jovan.


"Ckk..Sabarlah.


"Yang kau kiranya aku burung.


"Bisa Langsung terbang.

__ADS_1


Balas sahabatnya itu.


"Siapa wanita ini. Kenapa kau begitu khawatir?


"Apa dia yang di ceritakan Cedro.


Tanya Jovan, Sambil memeriksa Meriya. Yang


masih menggigil.


Javier menggertakkan giginya. Asistennya itu sungguh punya mulut ember.


"Kau kesini untuk memeriksanya, Bukan bertanya yang tidak jelas.


Jawab Javier kesal.


Sahabatnya dan asistennya itu sama saja.


Sama-sama punya mulut yang cerewet.


"Dia cantik.


Puji Jovan.


"Apakah kamu menyukainya.


Jovan tidak berhenti bertanya. Dia akan mengorek informasi terbaru sahabatnya itu.


Javier menatap tajam sahabatnya itu.


Sekalipun Wanita yang terbaring itu memiliki kecantikan bak Dewi. Dia tidak akan menyukainya.


Wanita itu mala petaka untuk adiknya.


Javier tidak akan menyukai wanita itu.


"Diamlah.


Javier berkata sinis.


Tetapi sepertinya wanita ini pernah melakukan operasi. Mungkin itu operasi besar.


"Operasi. Beo Javier.


"Operasi apa.


"Operasi melahirkan?


Tanya Javier sambil matanya menatap nyalang kepada sosok wanita yang masih belum sadar itu.


sahabatnya Jovan memutar bola matanya.


Dia yakin sepertinya sahabatnya itu telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi sahabatnya itu tidak menyadarinya. Sekalipun wanita itu pernah melakukan operasi melahirkan Javier tidak berhak marah. Karena wanita itu hanyalah pelayanya sekalipun Mereka akan menikah besok. wanita itu tetap menjadi pelayan sahabatnya itu.


"Dia bukan operasi melahirkan.


"Lebih tepatnya operasi Ginjal. Karena posisi jahitannya bentuk Vertikal jawab Jovan kepada sahabatnya itu. Bahkan Jovan penasaran kenapa wanita itu sampai melakukan operasi ginjal.


"Oh..Ucap Javier datar. Tetapi perasaanya kini lega. Entah kenapa dirinya tidak terima jika sampai wanita itu pernah melakukan operasi melahirkan.


Tiba-tiba Javier memicingkan matanya.


"Apakah dia masih perawan?


Batinya.


Jika wanita itu tidak perawan lagi. Javier hanya bis menerima dengan ikhlas.


Hidup di jaman ini memang sudah bebas.


Hanya dia saja yang belum pernah melakukan hal seperti itu. karena Javier anti dengan wanita.


Bukanya dirinya tidak normal. Entah kenapa Javier tidak menyukai wanita yang mencoba mendekatinya .

__ADS_1


Javier hanya pernah menyentuh satu wanita saat dirinya umur lima belas tahun. itupun saat dirinya sedang melakukan perjalanan bisnis.


Walaupun umurnya masih muda. Dirinya sudah terjun langsung mengurus perusahaan peninggalan ayahnya. Sehingga perusahaan itu menjadi perusahan raksasa.


Sampai sekarang Javier belum bisa melupakan sosok yang pernah memegang tanganya dengan lembut. dan menunjukkan wajah imutnya karena sedang memohon kepada Javier untuk di foto. Bahkan wanita itu memberikan gantungan kunci yang sangat unik menurut Javier. Dia menyimpan barang itu kayaknya barang yang sangat berharga.


"Sepertinya dia harus Menganti bajunya.


"Takutnya dia masuk angin.


Ucap Jovan kepada sahabatnya itu. Dia yakin sahabatnya itu baru saja melamun


Jovan penasaran kenapa es balok ini sampai melamun.


"Siapa nama pelayan mu ini.


Tanyanya.


"Meriya. jawab Javier datar.


"Waooww..


Jovan bertepuk tangan.


Seorang Javier Lazzaro mengingat nama pelayanya. Dan pelayan itu. masih pelayan baru di kediamanya.


"Waooww.


Sungguh ajaib.


Ucap Jovan.


Sahabat yang tidak pernah perduli dengan sekitarnya. kini bisa mengetahui nama pelayanya.


Jovan terkejut. Dia semakin membenarkan pemikiranya. Dia yakin sahabatnya itu menyukai sosok wanita di tempat tidur itu.


Seketika Jovan menyeringai licik.


Dia akan menantikan sosok balok es itu akan berubah bucin.


"Mudah-mudahan kau bisa membuat balik es itu mencair. Batinya sambil menatap Meriya.


Jian hal itu terjadi. Siap-siap saja dirinya akan melihat sahabatnya itu pada masa terpuruknya.


Orang yang sudah kena penyakit bucin akan mengalami penderitaan yang tak berkesudahan.


Jika saat itu telah tiba. Dia akan menghina habis-habisan Javier. Karena sahabatnya itu dulu pernah bersumpah tidak akan pernah bertekuk lutut di depan seorang wanita .


Javier menyuruh kepala pelayanya untuk menyiapkan beberapa pakaian untuk Meriya. Dia tidak tau saja bahwa sahabat laknatnya itu sedang mengutuknya habis-habisan.


"Kenapa kau disini lagi.


"Pergi sana.


" Dan jangan lupa resepnya. Biar obatnya segera di beli. Ucapan Javier dingin.


Membuat Jovan menggerutu.


"Dasar balok es. Baru saja kenal sudah posesifnya minta ampun.


"Awas saja. Aku akan menyuruh wanita cantik ini mempermainkannya. batin Jovan tersenyum licik.


Setelah Jovan dan kepala pelayan pergi.


Javier masih setia menemani Meriya di kamar Paviliun itu..Entah kenapa Javier sedikit cemas melihat kondisi wanita itu.


"Operasi apa yang kau lakukan


"Kenapa kau bisa mendapatkan jahitan yang lebar seperti ini. Ucap Javier sambil mengusap bekas jahitan itu.


"Apa kutanya saja dia setelah bangun. Batin Javier. Saat ini sosok Javier sepertinya berubah. Karena sosok itu mulai menunjukkan sikap manusianya.


Javier Belum pernah sedekat itu kepada wanita. apalagi sampai menyentuhnya seperti sekarang ini.

__ADS_1


Tetapi entah kenapa Javier sangat menyukai respon tubuhnya yang seperti bergetar hebat saat menyentuh wanita itu. Javier merasakan kehangatan di hatinya yang beku itu.


__ADS_2