
"Keluarkan aku dari sini!" teriakan Susan menggema sehingga mengganggu para napi yang lainnya. Dia benar-benar sudah tidak tahan berada di tempat kecil dan kotor itu.
"Diam kau, jangan berteriak!" teriak seorang napi yang ditahan satu sel dengannya.
"Kalian yang diam!" teriak Susan pula.
"Kurang ajar, kau mau menantang kami, hah?" empat wanita yang berada satu sel dengan Susan sudah akan menantangnya untuk berkelahi.
"Hei, hentikan!" seorang sipir penjara melerai perkelahian para wanita yang hampir terjadi dan Susan selamat dari pukulan keempat napi itu.
"Keluarkan aku dari sini, aku tidak mau berada di tempat bau dan kotor ini!" pinta Susan.
"Kau akan tetap berada di penjara sampai kasusmu selesai. Sekarang keluar terlebih dahulu, ada yang menjenguk!"
"Awas kau nanti!" ancaman itu Susan dapatkan dari salah satu napi wanita tapi bukannya takut, Susan justru menunjukkan jari tengahnya pada mereka sehingga membuat mereka semakin murka.
Susan melenggang keluar dari penjara dengan angkuhnya, sikap sombongnya tentu saja membuat rekan para napi kesal. Susan dibawa keluar untuk menemui keluarganya yang menjenguk dan ketika melihat ibunya, Susan sangat senang karena dia mengira hari ini dia bisa bebas.
"Mommy, hari ini aku bebas bukan?" tanyanya.
"Maaf, Sayang, Kami belum bisa membebaskanmu!"
"Apa? Kenapa?" teriak Susan.
"Kami sedang mengupayakannya, kau tidak perlu khawatir. Kakakmu pun sudah pulang dan dia akan berusaha membebaskanmu sesegera mungkin."
"Kapan, Mom. Aku sudah tidak tahan dengan baju jelek ini serta penjara yang bau dan kotor!" ucap Susan sambil menarik baju penjara yang dia pakai.
"Bersabarlah, kau tahu hanya Scarlet yang bisa membebaskan dirimu. Kakakmu sedang berusaha jadi kau harus bersabar!"
"Aku sudah tidak sabar, Mom. Reputasiku hancur gara-gara ini. Scarlet benar-benar sombong, aku tidak akan memaafkan dirinya!"
"Sudah, jangan memikirkan hal itu terlebih dahulu. Sekarang kita akan mengupayakan kebebasanmu dan setelah itu, kita akan membalasnya!"
"Aku sudah tidak tahan, Mommy. Aku sudah tidak tahan," Susan menangis, dia benar-benar sudah tidak tahan.
__ADS_1
"Jangan menangis seperti itu, kakakmu akan datang sebentar lagi. Kita lihat bagaimana dengan hasilnya karena dia berkata akan mengupayakannya. Mommy bawa makanan untukmu, makanlah terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan kakakmu!"
"Bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini, Mom? Mommy lihat, pacarku saja tidak datang untuk menjenguk aku. Sekarang berikan aku ponsel, aku ingin menghubungi kekasihku!" pinta Susan. Sejak dia ditangkap, kekasihnya tidak pernah datang untuk melihat keadaannya.
Ayahnya memberikan ponsel yang dia inginkan, Susan pun menghubungi kekasihnya tanpa membuang waktu. Dia harap kekasihnya tidak marah karena kejadian itu.
"Honey, ini aku. Kenapa kau tidak datang menjenguk aku?" Susan bertanya pada kekasihnya yang sudah menjawab panggilan darinya.
"Kini aku tidak membutuhkanmu, Susan!" jawaban yang dia inginkan benar-benar diluar keinginannya.
"Apa maksudmu berkata demikian?" Susan merasakan firasat buruk.
"Aku sudah tidak membutuhkan dirimu lagi, Susan. Kita putus!"
"Apa kau bilang?" pekik Susan karena dia tak percaya dengan apa yang kekasihnya katakan.
"Kita putus, jangan cari aku lagi!"
"Teganya kau, aku sedang dalam masalah tapi teganya kau membuang aku seperti ini!"
"Apa? Jangan tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini!" pinta Susan memohon namun ucapan selamat tinggal yang dia dapatkan dari kekasihnya. Susan jatuh terduduk dan menangis dengan keras, ibunya sampai panik melihat keadaan putrinya yang memalukan.
"Dia memutuskan aku, Mommy. Dia memutuskan aku!" teriak Susan di sela tangisannya.
"Mommy tahu tapi jangan seperti ini, malu dilihat oleh para polisi itu."
"Semua ini gara-gara Scarlet, tidak saja melempar aku ke dalam penjara tapi sekarang aku dicampakkan oleh kekasihku!" teriak Susan.
"Kita akan membalasnya, kita akan membalasnya!" ucap ibunya.
"Aku ingin bebas, Mom!" teriak Susan dan setelah itu dia menangis dengan keras. Tidak menyangka apa yang dia lakukan justru senjata makan tuan. Dia belum terbebas tapi kekasihnya justru mencampakkan dirinya. Sudah jatuh, tertimpa batu. Mungkin itu kata yang cocok untuknya.
"Kenapa begitu berisik?" tanya Darien yang baru datang.
"Bagaimana, Darien? Apa kau sudah menemui Samuel dan memberikan penawarannya padanya?" tanya ayahnya.
__ADS_1
"Belum, Dad. Besok!"
"Besok, kenapa harus besok? Kenapa tidak kau temui sekarang saja? Apa kau tidak kasihan dengan adikmu?" teriak ayahnya murka.
"Apa Daddy pikir Samuel pengangguran yang bisa ditemui kapan saja?" teriak Darien pula.
"Kakak, kau harus membebaskan aku dari penjara. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, besok aku sudah harus bebas!" teriak adiknya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan membebaskanmu dan besok aku akan menemui Samuel Archiles untuk melakukan penawaran. Percayalah, Scarlet tidak ada apa-apanya, dia hanya sedang mendapatkan pendukung sebab itu dia merasa berada di atas angin!"
"Kau sungguh bodoh, Darien. Kenapa kau menjualnya pada pria yang memiliki kekuasaan seperti Samuel?" tanya ayahnya.
"Aku tergiur dengan uangnya. Lagi pula aku sudah muak dengan Scarlet oleh sebab itu aku mengambil tindakan tanpa pikir panjang!" ucap Darien.
"Kau sungguh bodoh dan kau lihat sekarang? Si miskin itu memanfaatkan keadaan untuk membalas kita!" ucap ibunya pula.
"Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal ini. Mommy tidak perlu khawatir, seperti yang aku katakan tadi. Scarlet sedang berada di atas angin karena dia mendapatkan pendukung. Lagi pula dia tidak akan lama bersama dengan pria itu, dia terikat dengan Samuel hanya dua tahun saja dan besok aku akan mempersingkatnya sehingga dia tidak bisa menyombongkan dirinya lagi!" kekasih yang lugu dan bodoh itu ternyata cukup cerdik memanfaatkan Samuel untuk balik menyerang tapi tak jadi soal karena pada akhirnya Scarlet akan dibuang oleh Samuel.
"Jika dia tidak bisa diajak bicara maka jangan salahkan Daddy menggunakan cara yang sedikit extreme. Sampah miskin itu mencoba melawan? Sekali burung merpati tetaplah burung merpati dan jangan berharap dia bisa menjadi burung elang," ucap ayahnya. Scarlet benar-benar mencari perkara dengannya dan dia tidak akan melepaskan Scarlet begitu saja apalagi telah membuat putrinya seperti itu.
"Kau dengar, kakak dan ayahmu akan membela dirimu. Sekarang makan, makanan yang ada di penjara bisa membuat perutmu sakit!" ucap ibunya.
Susan mengangguk, dendam membara memenuhi hatinya. Dia pasti akan membuat perhitungan dengan Scarlet, pasti tapi sebelum itu, dia sudah ditunggu oleh para napi wanita yang marah. Setelah Susan makan, dia masih berbincang dengan keluarganya sebentar tentunya mereka membicarakan rencana mereka untuk membalas dendam pada Scarlet namun jam besuk, sudah berakhir.
"Kau tidak perlu khawatir, besok aku pastikan kau sudah bebas!" ucap Darien dengan penuh percaya diri karena dia yakin dia akan berhasil bernegosiasi dengan Samuel.
"Aku percaya padamu, kakak. Aku juga ingin kau menghancurkan Scarlet yang sombong itu. Kita tidak boleh kalah pada orang yang baru mendapatkan pendukung seperti dirinya!"
"Aku tahu, Susan. Kau tidak perlu cemas, aku berjanji besok kau bebas!"
"Aku menantikannya!" ucap Susan. Meski dia tidak mau kembali ke dalam selnya yang sempit dan bau tapi mau tidak mau dia harus kembali ke tempat sempit itu.
Susan diincar oleh empat napi yang baru saja dia tantang, mereka menatapnya tajam ketika sipir penjara membawanya kembali. Susan masih bersikap angkuh tapi setelah sipir penjara itu pergi, keempat napi itu mulaiĀ memberi pelajaran pada Susan yang sombong. Dia mendapatkan pukulan dari para napi, wajahnya kembali babak belur.
Susan berteriak dan memaki dan jika tidak ada sipir yang melerai maka dia sudah habis dihajar oleh empat wanita yang marah. Itu adalah akibat kesombongannya dan karena hal itu dia dipindahkan. Susan menangis dengan keras, hari ini dia mendapatkan kejutan bertubi-tubi dan semua itu gara-gara Scarlet. Dia akan membalasnya, besok saat dia bebas dia akan membalas perbuatan Scarlet tapi dia terlalu percaya diri begitu juga dengan kakaknya.
__ADS_1