
Samuel dan Scarlet sudah kembali ke hotel. Tidak ada yang bersuara, Scarlet duduk di sisi ranjang dan tak berani melihat ke arah Samuel yang sedang berdiri di depan jendela. Samuel belum menjawab permintaan Scarlet dan ibunya. Dia justru menarik Scarlet pergi karena dia ingin berbicara berdua saja dengan Scarlet tapi setelah mereka kembali ke hotel, mereka justru diam seribu bahasa.
Scarlet masih menunduk, dia tidak tahu harus memulai dari mana. Dia tahu Samuel tidak akan melepaskan dirinya apalagi mereka terikat dengan kontrak. Mereka diam selama beberapa menit sampai akhirnya Scarlet membuka suara karena dia sudah tidak tahan dengan situasi di antara mereka.
"Apa kau tidak mau melepaskan aku, Samuel?" Scarlet bertanya dengan pelan karena dia takut.
"Apa kau akan pergi meninggalkan aku, Scarlet?" Samuel justru balik bertanya.
"Selama ini aku tidak memiliki orangtua, Sam. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua, apakah salah aku ingin kembali bersama dengan mereka dan tinggal bersama mereka untuk merasakan kasih sayang kedua orangtuaku? Apa keinginanku ini salah, Samuel?"
"Keinginanmu tidak salah, Scarlet. Lalu bagaimana denganku? Aku tidak mungkin ikut denganmu ke Spanyol. Apa kau akan meninggalkan aku?"
"Aku?" Scarlet menunduk semakin dalam. Tapi mereka bukan pasangan kekasih, seharusnya tidak jadi soal. Apakah Samuel keberatan karena mereka masih terikat kontrak?
"Aku tahu kau tidak mau melepaskan aku karena kita masih terikat kontrak tapi kau lihat ibuku. dia tidak memiliki waktu banyak lagi jadi tolong ijinkan aku pergi bersama dengan mereka agar aku bisa merasakan kasih sayang mereka sebagai orangtuaku."
"Jadi kau berpikir aku tidak bisa melepaskan dirimu karena kita terikat kontrak?" Samuel melangkah mendekati Scarlet, dia ingin tahu apakah Scarlet masih tidak memiliki perasaan sama sekali dengannya setelah apa yang telah mereka lewati selama ini?
"Jawab aku, Scarlet. Apa belum ada perasaan dihatimu untukku? Apa tidak ada sedikit saja rasa dihatimu untukku?" tanya Samuel yang sudah semakin mendekati Scarlet.
"Aku tidak tahu, Sam. Aku tidak tahu!" Scarlet beringsut, dia jadi takut karena Samuel seperti sedang marah.
__ADS_1
"Tidak tahu? Jika begitu aku akan mencari tahu!"
"Apa maksudmu?" tanya Scarlet namun dalam sekejap mata saja, Samuel sudah berada di atas tubuhnya dan mencium bibinya.
"Aku akan mencari tahu dengan caraku, Scarlet. Apakah kau sudah memiliki perasaan atau tidak karena jika tidak, maka aku akan melepaskan dirimu!"
Scarlet terkejut saat mendengarnya namun Samuel sudah mencium bibirnya. Apakah benar Samuel akan melepaskan dirinya? Kenapa dadanya jadi terasa sesak? Apa setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi? Perasaannya jadi campur aduk, dia sungguh tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Samuel berhenti menciumnya lalu menatapnya dengan lekat, Scarlet masih saja sama seperti boneka yang bisa dia kendalikan. Bisa dilihat jika Scarlet tidak memiliki perasaan sama sekali padanya. Samuel menyingkir lalu duduk di sisi Scarlet, ternyata dia belum bisa mengambil hati Scarlet sampai sekarang.
"Samuel, kenapa kau berhenti?" Scarlet duduk di sisi Samuel sambil merapikan penampilannya yang berantakan.
"Ternyata sampai di sini saja?"
"Apa maksud perkataanmu?" Scarlet sungguh tidak mengerti.
"Sam, aku sedang bingung saja!" Scarlet menyentuh lengan Samuel tapi Samuel segera menepisnya dan turun dari atas ranjang. Dia tidak keberatan Scarlet kembali bersama dengan kedua orangtaunya karena dia yakin Scarlet pasti akan kembali padanya jika Scarlet memiliki perasaan untuknya tapi lihatlah, Scarlet masih saja seperti boneka yang pasrah.
"Aku melepaskanmu, Scarlet," ucap Samuel yang sudah berdiri di sisi ranjang.
"Apa maksud perkataanmu?" Scarlet sungguh tidak mengerti.
__ADS_1
"Mulai hari ini, kau sudah bukan kekasih bayaranku lagi. Aku melepaskanmu, kau bebas sekarang!"
"Apa?" Scarlet sangat terkejut mendengarnya.
"Kenapa terkejut, bukankah ini yang kau inginkan? Sekarang aku melepaskanmu, Scarlet. Pergilah, aku tidak akan menahan atau mencegahmu jadi pergilah!"
"Tapi?" Scarlet bingung dibuatnya karena Samuel begitu mendadak.
"Kenapa? Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta uang ganti rugi atau apa pun. Pergi sekarang, jangan membuat aku terlihat menyedihkan hanya karena kau satu-satu yang bisa aku sentuh jadi pergilah!"
"Aku sungguh tidak mengerti, Samuel. Tapi aku tidak menganggapmu menyedihkan. Maafkan aku," Scarlet turun dari atas ranjang lalu mengambil barang-barangnya. Samuel hanya memperhatikan tapi hanya untuk sesaat karena dia memilih pergi karena dia tidak sanggup melihat kepergian Scarlet. Dari pada terlihat menyedihkan lebih baik dia pergi.
Scarlet melihat ke arah pintu yang tertutup di mana Samuel sudah keluar dari kamar. Scarlet duduk di sisi ranjang, kenapa hatinya terasa sakit? Bukankah ini yang dia inginkan selama ini? Bukankah dia sangat ingin terbebas dari Samuel tapi kenapa setelah dia bisa bebas hatinya jadi terasa sakit seperti itu? Bukankah dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh Darien?
Tiba-tiba saja air matanya menetes padahal dia tidak ingin menangis. Apakah itu adalah air mata perpisahannya dengan Samuel? Apa perasaan sesak yang dia rasakan saat ini karena dia tidak akan bertemu lagi dengan Samuel? Kenapa? Jika memang ini yang dia inginkan lalu untuk apa dia menangisi perpisahan mereka?
Scarlet menghapus air mata, sebaiknya dia bergegas karena ayah dan ibunya sudah menunggu. Meski sulit, tapi dia harus menerimanya. Sekarang mereka terpisah dengan jarak. Perpisahan yang sungguh mendadak padahal mereka belum melakukan banyak hal di kota itu tapi dia pun tidak menduga, akan bertemu dengan kedua orangtuanya.
Meski hubungan mereka singkat dan terjadi dengan cara yang tak menyenangkan tapi dia tidak akan pernah lupa telah mengenal seorang pria pecinta kebersihan. Dia akan terus mengingatnya, jika dia pernah dibeli seharga dua juta dolar oleh Samuel tapi bukan berarti dia akan berhenti membalas Darien dan keluarganya, dia akan meminta bantuan ayahnya untuk membalas mereka nanti.
Scarlet pergi setelah selesai, dia tidak melihat Samuel di mana pun padahal dia ingin berpamitan. Scarlet melihat hotel itu sebelum menaiki taksi yang akan membawanya pergi. Kenangan manis yang tercipta di tempat itu tidak akan dia lupakan. Dia akan mengingatnya jika dia datang ke tempat itu lagi. Sekarang waktunya pergi, pergi bersama orangtua yang selama ini dia rindukan tapi perasaan sedih tak bisa dia tahan sehingga membuat Scarlet menangis saat di jalan. Lagi-lagi dia merasa jika perpisahan itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
Samuel pun telah kembali, kamar itu sudah kosong. Keberadaan Scarlet sudah tidak ada lagi. Apa yang bisa dia lakukan? Scarlet tidak mencintainya dan dia tidak bisa mencegah Scarlet untuk bersama dengan kedua orangtuanya yang sudah terpisah selama dua puluh lima tahun. Sekarang, dia harus belajar melupakan Scarlet dan kembali seperti dulu di mana tidak akan pernah ada lagi wanita di dalam hidupnya. Mungkin Scarlet akan menjadi wanita pertama dan yang terakhir karena phobianya tidak bisa disembuhkan. Samuel pun mengambil barang-barangnya karena dia akan kembali ke London hari itu juga.