
Samuel yang tiba-tiba saja bisa menyentuh Emely tentu saja mengejutkan mereka semua. Ibunya sampai berlari menghampiri dan menangis karena haru. Mereka pikir keadaan itu hanya akan terjadi beberapa menit saja tapi sudah lama Emely berada di dalam gendongan Samuel, keadaan Samuel tetap baik-baik saja. Tangisan Silvia semakin pecah, dia tidak pernah melihat putranya bisa bersentuhan dengan siapa pun dan ini kali pertama dia melihatnya tapi sesungguhnya ada yang tidak dia tahu.
Emely yang tidak pernah digendong oleh pamannya sangat senang. Semua orang sudah menggendongnya sedangkan Samuel belum pernah. Sebab itulah dia ingin digendong oleh Samuel dan berlari ke arah pamannya saat Samuel menolak. Semua terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan mereka.
"Sam, apa kau sudah sembuh?" tanya ibunya.
"Tidak tahu, Mom. Mungkin karena Emely masih bayi sebab itu aku bisa menyentuhnya."
"Walau begitu, itu sangat bagus, Kau harus sering-sering dekat dengan Emely jadi jangan pulang terlalu cepat. Mungkin saja phobiamu bisa pulih jika terus bersentuhan dengannya," ucap ayahnya.
"Emely, apa mau tidur dengan Uncle?" tanya Samuel.
"Tidak mau, Emely mau tidur dengan kakek!" tolak Emely yang sudah meronta ingin turun dari gendongan pamannya.
"Kemari cucu kakek, jangan tidur dengan Uncle!" ucap Abraham sambil mengulurkan tangan di mana Emely sudah berjalan ke arahnya.
"Apa kau tidak mau mencoba menyentuh sesuatu, Sam?" tanya ibunya.
"Tidak, Mom. Aku rasa aku hanya bisa menyentuh Emely saja karena dia masih kecil."
"Baiklah jika begitu. Walau hanya bisa menyentuh Emely tapi itu sudah perkembangan yang sangat bagus."
"Yeah," Samuel melihat kedua telapak tangannya. Dia merindukan sebuah sentuhan. Meski dia bisa menyentuh Emely tapi kenapa dia tidak merasa senang sama sekali? Silvia yang sangat senang, itu perkembangan yang sangat bagus. Entah kenapa bisa, mungkin saja putra mereka menjalani terapi tanpa mereka tahu. Silvia tersenyum melihat cucunya yang bermain dengan suaminya. Senyuman itu masih mekar tapi ketika Silvia melihat ke arah Samuel, senyumannya sirna.
"Ada apa, Sam? Kenapa kau tampak tidak senang?" tanya ibunya.
"Tidak, bukan begitu. Aku mau istirahat."
"Ada apa denganmu?" tanya ibunya lagi tapi Samuel sudah melangkah pergi.
"Ada apa, Mom?" tanya William karena adiknya tiba-tiba pergi.
"Tidak tahu, Samuel terlihat tidak senang padahal seharusnya dia senang karena bisa menyentuh Emely."
"Sejak dia pulang, dia sudah terlihat seperti itu. Ada apa dengannya?" tanya Abraham.
__ADS_1
"Entahlah, coba aku cari tahu," Silvia pergi, menyusul putranya yang sudah masuk ke dalam kamar. Samuel termenung di depan jendela. Sungguh aneh, putranya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta tapi apakah mungkin? Mungkin saja, mungkin putranya sedang jatuh cinta tapi dia tidak bisa menyentuh perempuan itu sebab itu dia terlihat murung.
"Sam, Mommy ingin bicara denganmu sebentar."
"Ada apa, mom?"
"Apa yang terjadi denganmu, Samuel?" tanya ibunya seraya berjalan mendekat.
"Tidak ada apa-apa, Mom."
"Benarkah? Tapi Mommy tidak melihatmu sedang baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, sungguh."
"Baiklah, tapi Mommy melihatmu tidak seperti biasanya dan lihat dirimu, kau seperti sedang jatuh cinta. Coba katakan pada Mommy, siapa wanita itu? Apa kau seperti ini karena sedih tidak bisa mengungkapkan perasaan dan tidak bisa bersentuhan dengannya?" tanya ibunya.
"Tidak, bukan seperti itu."
"Baiklah, sepertinya Mommy salah menebak. Jika tidak ada apa-apa, jangan murung seperti itu. Mommy jadi khawatir."
"Baiklah, Mommy hanya bisa mendoakan dirimu semoga kau segera bertemu dengan jodohmu agar kau tidak kesepian di sana."
"Terima kasih, Mom," Samuel tersenyum, saat ibunya juga tersenyum. Silvia meninggalkan putranya sendiri, Samuel kembali termenung di depan jendela tapi tidak lama karena dia sudah melangkah menuju meja di mana ponselnya dia letakkan.
Beberapa panggilan tak dia jawab, Samuel menghubungi asistennya terlebih dahulu barulah beberapa anak buah yang menghubunginya. Nomor ponsel yang tak dikenal dilewatkan begitu saja, Samuel berbicara dengan para anak buahnya cukup lama.
Memang sudah seharusnya dia kembali untuk bekerja. Jangan sampai perusahaan yang dia bangun dengan susah payah justru hancur dalam sekejap mata. Setelah semua dihubungi, tinggal satu nomor ponsel saja yang belum dia hubungi. Entah siapa, Samuel malas berbasa basi dengan orang yang tidak penting tapi dia justru penasaran.
Ponsel yang sudah berada di atas meja kembali dia ambil. Mungkin saja dari rekan bisnis atau dari seorang pembisnis yang ingin menawarkan sebuah kerja sama. Dari pada penasaran, lebih baik hubungi saja. Cukup lama Samuel menunggu, tidak ada jawaban. Aneh, mungkin saja orang salah sambung tapi sesungguhnya itu dari Scarlet.
Scarlet yang sedang memegang ponsel memang ragu untuk menjawab panggilan darinya, sebab itu dia tidak menjawab karena dia takut menjawab. Scarlet mencengkeram ponsel dengan perasaan bimbang sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Samuel.
Scarlet menunggu Samuel menjawab dengan jantung berdebar. Antara gugup dan ragu jadi satu. Rasanya ingin mengakhiri panggilan itu tapi sebelum dia melakukannya, terdengar suara Samuel, suara dari pria yang dia rindukan.
"Siapa ini?" pertanyaan Samuel justru tidak dia jawab karena dia merasa lidahnya kelu.
__ADS_1
"Jangan main-main denganku!" ucap Samuel kesal. Masih tidak ada suara, Samuel benar-benar kesal. Entah siapa yang sengaja, sungguh membuang waktunya saja.
"Kau benar-benar cari mati!" ancam Samuel yang hendak menyudahi panggilan itu.
"Sam, ini aku," suara Scarlet terdengar meski ponselnya sudah tidak berada di dekat telinganya lagi. Samuel terkejut, ponsel kembali di angat dan ditempelkan ke telinganya.
"Ini aku, Sam. Maaf jika aku mengganggumu."
"Scarlet?" antara percaya dan tidak, senyuman menghiasi wajahnya yang sedari tadi terlihat murung.
"Apa aku mengganggu waktumu, Samuel?" Scarlet kembali menanyakan hal yang sama karena dia takut telah mengganggu waktu Samuel yang sibuk.
"Tidak, apa kau baik-baik saja di sana?"
"Tentu, aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa hidup di sini. Kedua orangtuaku juga sangat menyayangi aku."
"Aku senang mendengarnya!" sudah dia duga jika Scarlet sudah menemukan kehidupannya. Sebab itulah dia tidak mau menganggu kehidupan yang sudah lama Scarlet idamkan yaitu bersama dengan kedua orangtuanya.
"Sepertinya kau baik-baik saja tanpa aku," ucap Scarlet.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau ingin aku menangis saat tidak ada dirimu?"
"Bukan begitu. Aku pikir kau akan merindukan aku, Sam."
"Aku memang merindukanmu tapi aku tidak mau berbuat egois karena aku tahu, ada orang lain yang lebih membutuhkan dirimu dari pada aku dan orang itu adalah kedua orangtuamu!"
"Kau benar, mereka memang membutuhkan aku. Sebab itulah aku tidak bisa pergi. Aku merindukanmu, Samuel. Sangat merindukan dirimu tapi aku tidak bisa pergi!" ketika Scarlet mengucapkan perkataan itu, Samuel sangat terkejut.
"Apa maksud ucapanmu ini, Scarlet?"
"Aku?" Scarlet mengigit bibir, tak melanjutkan ucapannya.
"Tunggu di sana baik-baik!" ucap Samuel.
"Apa?" Scarlet tidak mengerti namun Samuel sudah mengakhiri percakapan mereka. Scarlet tampak bingung, apakah ucapannya sudah salah? Tidak, dia rasa tidak tapi apa maksud Samuel memintanya menunggu baik-baik? Apakah dia mau datang? Dia harap demikian, dia sangat berharap Samuel mau datang untuk bertemu dengannya.
__ADS_1