
Menonton berdua, makan malam romantis pun mereka lakukan. Mirablau menjadi tempat mereka menikmati makanan dan indahnya kota Barcelona pada malam hari. Sebagian tempat itu disewa secara exclusive oleh Samuel agar tidak ada yang mengganggu malam mereka berdua. Tidak perlu ditanya, Scarlet tentu saja senang.
Ternyata tidak perlu tempat ramai untuk menikmati waktu mereka yang berharga. Cukup melakukan hal yang menyenangkan sudah bisa memberikan kesan yang berbeda. Kencan yang mereka lakukan memang sedikit berbeda dan dia yakin tidak semua wanita akan mendapatkannya. Kencan yang mereka lakukan hari ini pun, lebih berkesan dari pada makan malam romantis yang mereka lakukan di menera Eiffel waktu itu.
Makanan yang mereka nikmati sudah habis, gelas anggur pun sudah kosong. Scarlet sedang berdiri di sisi bangunan yang dibangun di atas sebuah tebing untuk menikmati kerlap kerlip indahnya kota Barcelona yang menghampar di bawah sana. Benar yang ayahnya katakan, tempat itu sangat indah.
Lampu-lampu yang berkerlap kerlip bagaikan bintang yang ada di atas langit. Semua itu tampak indah. Mungkin jika ada kembang api, akan lebih indah lagi. Entah kenapa tiba-tiba dia jadi ingin melepaskan lentera yang bertuliskan sebuah harapan. Sepertinya dia bisa memintanya pada pihak restoran, dia yakin pasti keinginannya bisa terwujud.
Scarlet masih menikmati indahnya lampu-lmapu kota yang terhampar di bawah sana saat Samuel mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Senyuman menghiasi wajahnya, Scarlet bersandar di dada Samuel dengan nyaman. Dia merasa ini malam terbaik yang pernah mereka lewati berdua.
"Apa sudah puas?" tanya Samuel.
"Belum, ada satu hal lagi yang ingin aku lakukan."
"Katakan saja, hari ini kau ratunya jadi akan aku kabulkan apa pun yang kau inginkan."
"Jangan berlebihan, aku hanya ingin dua buah lentera yang bisa kita lepaskan dari sini. Kau lihat lampu-lampu itu, sangat indah dan aku ingin kita melepaskan lentera yang bertuliskan harapan kita akan hubungan kita berdua."
"Hanya itu saja?" tanya Samuel.
"Yeah, kau tahu aku tidak butuh barang-barang mahal karena yang aku inginkan adalah mengukir kenangan bersama denganmu."
__ADS_1
"Jika begitu kau akan mendapatkannya," ucap Samuel seraya mencium pipi Scarlet.
Lagi-lagi kebahagiaan terpancar dari wajah Scarlet karena keinginannya dapat dikabulkan oleh Samuel. Samuel berlalu pergi untuk memanggil seorang pegawai restoran. Dia berbicara dengan pegawai itu lalu memberikan sejumlah uang untuk mendapatkan lentera yang Scarlet inginkan. Setelah selesai, Samuel kembali mendekati Scarlet dan memeluknya lagi.
"Tunggulah sebentar, kau akan mendapatkannya."
"Thanks, tapi bisakah mengatakan padaku apa berita bagus yang hendak kau sampaikan padaku?"
"Baiklah, memang seharusnya aku mengatakannya sekarang agar tidak kita bahas setelah kita kembali nanti karena aku tidak mau menghancurkan apa yang kita lakukan nanti."
"Berita apa? Aku jadi tidak sabar."
"Tentu saja mengenai mantanmu itu."
"Apa? Apa kau sudah menendangnya sampai ke kawah gunung merapi?" Scarlet yang sedang bahagia kini jadi tidak sabar mendengar apa yang telah Samuel lakukan pada Darien.
"Jika bisa, biar dia tahu rasa!"
"Baiklah, tapi itu tidak mungkin terjadi. Dengar, aku baru saja mendapatkan kabar jika perusahaan ayahnya baru saja gulung tikar."
"Wah, benarkah?" wajah Scarlet tampak berseri, inilah yang sangat ingin dia dengar.
__ADS_1
"Sepertinya kau sangat senang, Scarlet. Apa kau senang dengan berita ini?"
"Tentu saja, Sam. Ini berita yang aku tunggu selain berita kehancuran Darien," Scarlet berbalik hingga mereka saling berhadapan sehingga mereka bisa saling melihat satu sama lain.
"Dulu, mereka selalu bangga akan kedudukan yang mereka miliki. Mereka sangat bangga dengan kekayaan yang mereka miliki. Ibu Darien menghina aku setiap bertemu denganku begitu juga dengan putrinya. Aku selalu mereka anggap sebagai sampah, putri seorang ja*ang yang tidak pantas untuk Darien. Setiap ucapan yang mereka katakan selalu menyakitkan hati tapi waktu itu aku hanya diam karena aku sadar dengan keadaanku yang bukan siapa-saipa. Aku bukannya ingin sombong karena aku sudah bertemu dengan kedua orang tuaku yang kaya dan bisa bersama denganmu yang memiliki segalanya tapi aku sangat senang mereka mendapatkan ganjarannya. Sekarang aku ingin lihat, apa lagi yang bisa mereka banggakan setelah apa yang mereka banggakan selama ini sudah tidak ada."
"Jadi, apa sudah cukup seperti ini? Apa kau sudah puas dan akan melepaskan Darien?"
"Apa yang kau katakan? Dia adalah bintangnya. Meski perusahaan ayahnya sudah gulung tikar, aku tetap tidak akan bermurah hati padanya. Meski gara-gara dia aku bisa bertemu denganmu, tapi bagaimana jika dia menjual aku pada seorang penjahat? Aku beruntung dibeli olehmu tapi jika saat itu kau menolak, aku justru takut membayangkan ke mana dia akan menjual aku karena dia berpikir akan mendapatkan uang setelah menjual aku. Orang seperti itu, tidak akan aku maafkan!"
"Jika begitu, itu baru awal dari kehancuran mereka karena masih ada lagi kehancuran yang lainnya. Katakan, kau ingin mereka sehancur apa? Aku tidak saja bisa menghancurkan perusahaan mereka tapi aku bisa mengambil baju yang melekat pada tubuh mereka jadi katakan padaku. Kau ingin mereka sehancur apa?"
"Lakukan apa yang bisa kau lakukan, Samuel. Yang pasti aku ingin mereka kehilangan apa yang mereka sombongkan selama ini."
"Kau pasti akan mendapatkannya," dagu Scarlet diangkat, kecupan lembut Samuel mendarat di sana, "Ayo pulang, aku sudah tidak sabar memakanmu menjadi hidangan penutup!" ucapnya.
"Lenteranya? Aku masih belum mendapatkannya."
"Mungkin sebentar lagi!" Untuk menghabiskan waktu sampai lentera yang Scarlet inginkan datang, mereka menikmati indahnya lampu kota. Setelah sepuluh menit menunggu, dua lentera yang Scarlet inginkan sudah diantarkan serta dua buah kertas dan pena. Scarlet sangat senang karena keinginannya dapat terwujud. Dia meminta Samuel menuliskan harapan yang dia inginkan dan dia pun menuliskan harapannya sendiri akan hubungan mereka berdua.
Lampu yang ada di lentera dinyalakan, kertas yang bertuliskan harapan mereka pun diselipkan di lentera sebelum benda itu mereka terbangkan. Dua lentera berukuran kecil, berisi harapan mereka mulai terbang naik ke atas dibawa oleh angin. Scarlet memandangi kedua lentera itu sambil memegangi tagan Samuel. Semoga saja harapan mereka berdua terwujud dan mereka dapat menjalin hubungan jarak jauh yang sebentar lagi akan mereka lakukan. Dia sangat berharap, hubungan mereka baik-baik saja sampai Samuel datang untuk membawanya pergi.
__ADS_1
"Ayo pulang, aku sudah tidak tahan dan mau mandi!" Samuel meraih tangan Scarlet dan mengajak Scarlet pergi setelah kedua lentera yang mereka lepaskan sudah terbang begitu tinggi. Dia sudah memberikan apa yang Scarlet inginkan dan sekarang, Scarlet harus memberikan apa yang dia inginkan.
Malam mereka memang belum usai karena malam ini Scarlet akan menginap bersama Samuel. Selama Samuel berada di kota itu, dia ingin menghabiskan waktu mereka berdua karena setelah Samuel pergi, entah kapan mereka bisa bersama lagi karena dia tahu, dia akan sibuk begitu juga dengan Samuel.