
Paris, adalah kota impian yang sangat ingin dikunjungi oleh Scarlet. Makan malam romantis di menara Eiffel lalu mengunjungi banyak tempat romantis di kota itu, dia sudah mengimpikannya sejak lama dan hari ini, dia tidak menduga jika dia benar-benar akan pergi ke Paris.
Padahal dulu dia berpikir jika keinginannya itu hanya sebagai angan semata karena Darien tidak mungkin mengajaknya pergi. Tempat romantis yang mereka kunjungi pun bisa dihitung dengan jari. Dulu dia mengira karena kesibukan yang membuat Darien tidak bisa membawanya pergi jalan-jalan tapi sekarang dia sadar, ternyata dia hanya dimanfaatkan saja oleh Darien dan betapa bodohnya dia, dia bahkan memberikan uang tabungannya untuk Darien sehingga dia tidak memiliki apa pun saat ini.
Terlalu mencintai seseorang ternyata cukup berbahaya, selama ini dia yang bodoh tapi sekarang tidak lagi. Jika dia mencintai seseorang lagi, dia tidak mau termakan cinta buta sehingga rela melakukan apa saja karena dia yang rugi. Suami istri bisa berpisah lalu bagaimana dengan hubungan yang dinamakan pacaran? Hubungan seperti itu lebih rentan dan dia baru sadar.
Scarlet menyimpan satu persatu pakaiannya ke dalam koper karena Samuel berkata mereka akan berangkat setelah dia siap. Dia tinggal jalan saja, tidak perlu memikirkan tiket pesawat atau apa pun. Memang seperti ini seharusnya dan dia akan menikmati perannya juga menikmati semua yang Samuel berikan untuknya selama dua tahun ke depan.
"Aku ingin mendengar kabar yang bagus setelah aku kembali!" ucapan Samuel terdengar, Scarlet melihat ke arah pria itu sejenak di mana Samuel sedang berdiri di depan jendela dan berbicara dengan seseorang.
"Lakukan semuanya dengan bersih. Ingat, hancurkan tanpa sisa!" Scarlet mengernyitkan dahi saat mendengarnya. Apa Samuel sedang memerintah seseorang untuk menghancurkan perusahaan ayah Darien seperti yang dia inginkan?
Scarlet menyimpan barang terakhir lalu melangkah mendekati Samuel yang sedang serius. Dia ingin tahu tebakannya benar atau tidak. Tangan yang memeluknya dari belakang menarik perhatian Samuel yang sedang serius saat itu.
"Aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Samuel sebelum mengakhiri percakapannya.
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak!" Samuel memutar langkah hingga mereka saling berhadapan.
"Apa kau sudah selesai, Scarlet?"
"Sedikit lagi, apa kau sudah membeli tiketnya? Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Sudah aku katakan padamu, bukan? Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."
"Samuel, aku memanfaatkan dirimu. Apa kau tidak marah?" Scarlet menatapnya lekat, bagaimanapun dia memiliki hati nurani.
"Tidak, asalkan kau jadi milikku maka aku tidak akan marah. Lagi pula kau pasti akan menjadi milikku, aku pastikan itu. Sekali menjadi milikku, maka kau akan tetap menjadi milikku!"
__ADS_1
"Aku ini yatim piatu dan aku miskin. Aku tidak memiliki apa pun, derajat kita jauh berbeda. Apa kau tidak keberatan?" selama ini dia dipandang sebelah mata karena derajatnya yang rendah hanya karena dia tumbuh dan besar di panti asuhan.
"So, memangnya kenapa dengan semua itu? Aku tidak keberatan!" ucap Samuel.
"Bagaimana dengan keluargamu, Sam? Mungkin kau tidak keberatan lalu bagaimana dengan mereka?" seperti keluarga Darien yang tidak bisa menerima dirinya, mungkin saja keluarga Samuel juga tidak bisa menerima dirinya yang tidak jelas asal usulnya.
"Keluargaku tidak seperti itu, Scarlet," Samuel melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Scarlet lalu menariknya mendekat, "Mereka tidak seperti yang kau duga. Jangan mengukur orang lain dengan orang yang pernah kau kenal, tidak semua orang memiliki sifat yang sama. Saat sudah ada rasa di hatimu untukku, maka pada saat itu aku akan membawamu pulang untuk mengenalkan kau pada keluargaku!"
"Aku tidak percaya diri, Samuel. Aku dihina oleh keluarga Darien karena statusku yang tidak jelas. Entah siapa ayah dan ibuku, tidak ada yang tahu. Apakah aku dilahirkan oleh seorang ja*ang lalu dibuang karena tidak diinginkan, aku sungguh tidak tahu dan aku rasa keluargamu tidak akan menerima aku seperti keluarga Darien yang tidak bisa menerima aku!" Scarlet menunduk, wajahnya terlihat sedih.
"Siapa yang berkata kau dilahirkan oleh ja*ang?"
"Itu hanya persepsi saja."
"Jika memang kau dilahirkan oleh seorang ja*ang, memangnya kenapa? Kau tidak salah apa pun. Lagi pula tidak ada yang bisa memilih jalan hidupnya jadi aku tidak akan menghakimi hanya karena kau dilahirkan oleh orang yang salah begitu juga dengan keluargaku!"
"Walau kau berkata seperti itu, tapi aku tidak percaya diri."
Scarlet tersenyum tipis, apakah perlu? Hubungan mereka hanya berada di atas kontrak saja, bukan? Tapi yang akan terjadi dengan mereka nanti, tidak ada yang tahu sama sekali bahkan dia sendiri tidak tahu.
"Jika kau belum selesai, aku akan membantumu," ucap Samuel.
"Terima kasih, aku ada satu permintaan. Apakah kau mau mengabulkannya?"
"Tidak saja satu, Scarlet. Semua permintaanmu akan aku kabulkan jika aku mampu. Jadi katakan, apa yang kau inginkan? Masalah menghancurkan mereka, sedang aku mulai. Sesuai janjiku, kau akan mendapatkan hasil yang memuaskan saat kita kembali dari Paris. Aku tidak akan mengecewakan dirimu jadi nikmatilah kehancuran mereka nanti."
"Aku percaya padamu, Samuel. Tapi ada permintaan lain selain mereka."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Dengar, saat aku kembali ke panti asuhan ada yang mengikuti aku. Suster Agnes juga berkata jika ada yang mencari aku. Selain mengikuti aku di panti asuhan, aku merasa ada yang mengikuti aku beberapa hari belakangan. Apa kau bisa mencari tahu siapa yang mengikuti aku? Mungkin saja orang itu tahu identitasku. Meski hasilnya akan mengecewakan tapi aku sangat ingin tahu, siapa ayah dan ibuku."
"Apa? Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika ada yang mengikutimu?" dia memang merasa ada yang mengikuti beberapa hari belakangan tapi dia menduga jika itu Catrine karena Catrine tidak kembali lagi semenjak hari itu.
"Aku pikir itu tidak penting tapi sekarang, aku jadi sangat ingin tahu asal usulku. Benarkah aku putri seorang *******? Ataukah ada sesuatu yang terjadi sehingga aku ditinggalkan di panti asuhan. Aku tidak berharap akan dianggap nantinya saat tahu siapa orangtuaku karena aku hanya ingin tahu saja."
"Baiklah jika begitu, aku akan membantumu."
"Benarkah?"
"Apa aku seperti sedang berbohong? Aku akan membantumu, sampai kau menemukan jati dirimu."
"Terima kasih, Samuel!" Scarlet memeluknya, bukankah ini suatu keuntungan untuknya? Tidak saja bisa membalas dendam pada Darien dan keluarganya tapi Samuel bersedia membantunya menemukan jati diri. Semoga saja dia bisa mengetahui asal usulnya mumpung ada yang membantu.
"Sepertinya sudah saatnya pergi tapi sebelum itu?" Samuel mengangkat Scarlet, lalu mencium bibirnya.
"Mau apa?" tanya Scarlet karena Samuel menggendongnya ke arah ranjang.
"Kau tahu apa yang aku inginkan, Scarlet. Aku harap kau tidak menolak.
"Aku sudah jadi milikmu maka aku tidak akan menolak!" sekarang dia tidak perlu memberontak lagi karena dia hanya perlu menikmatinya. Hanya sebentar dan setelah itu, mereka akan pergi ke Paris, kota impian yang sangat ingin dia datangi.
#Samuel#
#Scarlet#
__ADS_1
Aku bayangin visual Scarlet ada sedikit bintik-bintik hitam dibawah matanya kayak orang bule pada umumnya tapi gak nemu. 😂