Kekasih Bayaran Tuan Samuel

Kekasih Bayaran Tuan Samuel
Kita Lihat Saja


__ADS_3

Untuk membebaskan Susan dari penjara, Darien harus pergi menemui Samuel dan berbicara dengannya. Dia tahu Scarlet tidak akan mudah terbujuk karena dia sedang berada di atas angin saat ini. Scarlet yang merasa mendapatkan pendukung tentu akan bersikap sombong tapi hari ini, dia akan membuat Scarlet tidak bisa bersikap sombong lagi.


Samuel sedang berada di kantor saat Darien datang. Memang hanya di sana saja Darien bisa bertemu dengannya. Kedatangan pria itu tidak mengejutkan dirinya sama sekali bahkan dia yang memberikan ijin agar Darien diperbolehkan masuk. Dia menebak Darien ingin mencari Scarlet karena Darien seperti mencari sesuatu di dalam ruangannya.


"Well, sepertinya aku pernah melihatmu." ucap Samuel basa basi.


"Aku yang menjual Scarlet waktu itu, apa kau ingat?"


"Oh, sepertinya aku ingat tapi untuk apa kau datang? Apa kau ingin menawarkan sesuatu lagi padaku atau ada wanita lain yang hendak kau jual tapi kau harus tahu, aku sudah tidak berniat membeli wanita mana pun lagi yang hendak kau tawarkan!" ucap Samuel.


"Bukan, bukan seperti itu. Sesungguhnya aku menyesal telah menjual Scarlet padamu oleh sebab itu aku ingin melakukan penawaran denganmu."


"Melakukan penawaran? Aku sungguh ingin mendengarnya," Samuel pura-pura tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh Darien.


"Dengar, seperti yang aku katakan padamu jika aku menyesal telah menjual Scarlet padamu."


"Apa alasannya?" tanya Samuel.


"Scarlet sama sekali tidak cocok denganmu yang memiliki kekuasaan. Dia berasal dari sebuah panti asuhan dan asal usulnya tidak jelas sama sekali jadi aku rasa sebaiknya kau melepaskan dirinya!"


"Melepaskan dirinya? Apa alasannya sehingga kau begitu berani berkata demikian?" tanya Samuel.


"Ini untuk kebaikanmu. Kau adalah pria terhormat dan Scarlet hanyalah seorang yatim piatu yang tidak pantas untukmu jadi aku rasa sebaiknya kau melepaskan dirinya dan jual kembali dia padaku!."


"Perkataanmu ini sungguh bisa membuat aku tertawa, apa kau pikir aku akan melepaskan dirinya begitu saja? Aku membelinya dengan harga mahal darimu, bagaimana mungkin aku mau rugi!"


"Aku akan mengembalikan uangnya asal kau mau mengembalikan Scarlet padaku!" pinta Darien tanpa keraguan.


Samuel diam tapi tidak lama kemudian, tawanya terdengar keras. Darien sungguh memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Apa dia kira bisa membeli Scarlet lagi darinya? Dia benar-benar mengira Scarlet adalah barang yang bisa diperjual belikan dengan mudah.


"Sayang sekali, aku tidak berminat!" ucap Samuel.


"Apa? Jika kurang maka aku akan menambah lagi jumlahnya. Dua juta dolar jika kau bersedia!"

__ADS_1


"Hng, kau benar-benar memperlakukan Scarlet seperti barang dan sayangnya aku tidak berminat sama sekali dengan uangmu. Apa aku seperti orang yang kekurangan uang? Lagi pula apa yang telah menjadi milikku maka tidak akan aku lepaskan apalagi aku berikan pada orang lain."


"Ayolah, aku yakin kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada Scarlet jadi jual dia kembali padaku!" pinta Darien. Dia akan membujuk Samuel untuk menjual Scarlet sampai dapat namun pintu lain yang ada di dalam ruangan itu tiba-tiba saja terbuka dan Scarlet yang keluar dari ruangan membuat Darien terkejut.


Scarlet menatapnya dengan tatapan tajam, dia sungguh tidak menduga Darien ingin membelinya kembali dari Samuel. Pria itu pasti merencanakan sesuatu untuk menghancurkan dirinya tapi demi apa pun, dia tidak akan sudi diperjual belikan lagi. Sekalipun Samuel bersedia menjualnya, kali ini dia akan melawan karena dia bukan barang.


"Scarlet?" nama Scarlet terucap, dia tidak menyangka Scarlet berada di dalam ruangan itu.


"Bagaimana, apa kau mendengarnya?" tanya Samuel seraya mengulurkan tangannya pada Scarlet.


"Yeah, apa aku begitu menyedihkan? Setelah dijual dan sekarang ingin dibeli lagi. Apa aku barang?"


"Bukan begitu, Scarlet. Aku menyesal telah menjualmu karena aku sadar jika aku sangat mencintai dirimu!" semua diluar rencana karena Scarlet ada di sana.


"Maaf sekali, sekarang aku tidak butuh. Simpan baik-baik cintamu itu!" Scarlet sudah mendekati Samuel bahkan dia tidak ragu untuk duduk di atas pangkuan Samuel. Kedua tangan Darien mengepal erat, Scarlet benar-benar memainkan perannya dengan sangat baik.


"Scarlet, kau hanya dijadikan mainan olehnya. Sekarang aku akan menebusmu jadi kembalilah!" pinta Darien.


"Apa maksud perkataanmu?" tatapan mata Darien tak lepas dari Scarlet dan Samuel yang mencium rambut Scarlet tanpa henti. Sial, kenapa dia jadi kesal melihatnya?


"Sudah aku katakan, permainan sudah dimulai, Darien. Kau mendorong aku ke dalam pelukannya dan aku memanfaatkan dirinya untuk menghancurkan dirimu, adil bukan?"


"Jangan lakukan, aku akan menebus kesalahan jadi kembalilah padaku!" pinta Darien membujuk.


"Kembali padamu? Setelah apa yang terjadi? Rasa sakit pengkhianatan yang kau berikan dan luka dihatiku belum juga kering. Jangan harap aku akan kembali pada sampah seperti dirimu!"


"Jangan berlebihan, kau juga yang salah!"


"Cukup, selalu saja aku yang salah!" Scarlet berbalik, menghadap ke arah Samuel.


"Sam, kau sudah berjanji akan membantu aku. Kau tidak lupa, bukan?" tanyanya.


"Tentu saja, katakan padaku apa yang kau inginkan. Apa pun itu akan aku lakukan!" ucap Samuel. Sepertinya Scarlet ingin kembali membalas sakit hatinya.

__ADS_1


"Kau memang paling bisa diandalkan, Samuel," Scarlet mencium bibir Samuel dengan sengaja dan karena hal itu, Darien dibakar api amarah. Sungguh, dia tidak suka melihatnya.


"Kau membujuk aku sedemikian rupa maka aku tidak akan mengecewakan!" ucap Samuel.


"Terima kasih. Apa kau melihat pecundang di sana?" Scarlet melirik ke arah Darien dengan sinisnya.


"Yeah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap pecundang itu?"


"Aku ingin dia hancur!" ucap Scarlet.


"Jangan keterlaluan, Scarlet!" teriak Darien.


"Oh... aku sangat keterlaluan? Sam, aku lupa untuk tidak berbuat seperti itu," ucap Scarlet mencibir.


"Jadi kau tidak ingin menghancurkan dirinya?" tanya Samuel.


"Bukan begitu, adiknya sudah berada di dalam penjara jadi yang selanjutnya adalah kehancuran bisnis keluarganya. Dia adalah bagian akhir, aku sungguh ingin melihat mereka hancur dengan perlahan!" Scarlet mengatakan itu sambil menatap Darien dengan tatapan penuh kebencian. Darien pasti akan mendapatkan balasan tapi dia akan menjadi orang terakhir yang dia hancurkan.


"Scarlet!" Darien berteriak marah karena perkataan Scarlet.


"Beraninya kau berteriak di ruanganku, keluar!" teriak Samuel murka.


"Jangan keterlaluan, Scarlet. Kau kira siapa dirimu? Jika tidak demi Susan, aku tidak akan datang untuk membuang waktuku apalagi sampai melakukan hal ini. Jangan menganggap dirimu terlalu tinggi, kau hanya wanita yang tidak aku inginkan dan sampai kapan pun aku tidak menginginkan dirimu. Yang dikatakan oleh keluargaku tentangmu sangat benar, kau tidak pantas berada di dalam keluargaku!"


"Akhirnya kau menunjukkan siapa dirimu!" Scarlet beranjak dari pangkuan Samuel dan terlihat marah. Kedua matanya benar-benar terbuka lebar. Sekarang dia tahu seperti apa pria yang dia cintai selama ini.


"Sebaiknya kau keluar, sebelum ada yang menarikmu. Apa pun yang kau katakan tentang aku, aku tidak peduli tapi yang pasti, nikmatilah kehancuranmu dan kehancuran keluargamu karena aku tidak akan bermurah hati!"


"Jangan kau kira kau bisa, Scarlet. Meski kau sudah memiliki pendukung tapi kau tidak akan bisa melakukannya!" ucap Darien.


"Kita lihat saja!" ucap Scarlet pula.


Darien keluar dari ruangan itu dengan kemarahan memenuhi hatinya. Lagi-Lagi gagal dan dia akan mengecewakan adiknya yang berada di dalam penjara. Perkataan Scarlet pun tidak bisa dia anggap remeh. Dia sungguh tidak menduga, wanita yang dia jual justru menyerangnya balik dan sekarang, Scarlet yang dulunya tidak berdaya justru menjadi musuh yang harus dia waspadai.

__ADS_1


__ADS_2