
Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Jam tak henti dilihat begitu juga ponsel. Hari sudah berganti, Scarlet semakin tidak sabar saja. Seharusnya sudah sampai jika Samuel benar-benar langsung datang tapi kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah dia yang tidak sabar ataukah tebakannya salah.
Bisa saja Samuel baru tiba, bisa saja dia sedang berada di hotel saat ini ataukah Samuel sedang mencari keberadaan dirinya? Dia tahu tidak akan sulit bagi Samuel tapi ini di Spanyol? Scarlet yang sedari gelisah dan berguling ke sana kemari di atas ranjang pada akhirnya melompat turun untuk mengambil ponselnya. Kenapa dia begitu bodoh? Dia tidak mengatakan pada Samuel di mana dia tinggal lalu bagaimana Samuel bisa tahu?
Scarlet menghubungi Samuel tapi tidak aktif. Dia mencoba beberapa kali tapi hasilnya sama. Perasaan kecewa dia rasakan, jangan katakan Samuel tidak datang dan jangan katakan bahwa dia yang terlalu percaya diri. Ini memalukan, apalagi dia sudah mengatakan pada ayahnya jika Samuel mau datang.
Dari pada seperti orang gila yang tidak jelas lebih baik dia pergi. Hari ini ayahnya memintanya untuk pergi ke perusahaan karena ada yang hendak ayahnya ajarkan padanya. Sebaiknya dia menyusul ayahnya yang sudah pergi terlebih dahulu.
Scarlet bersiap, mengganti pakaiannya. Lebih baik dia menyibukkan diri agar tidak terlalu berharap. Jika Samuel datang, dia pasti akan datang tapi perasaan gelisah yang dia rasakan benar-benar bisa membunuhnya dengan perlahan. Setelah selesai, Scarlet keluar dari kamar dan pergi ke kamar ibunya untuk berpamitan.
"Mom, apa kau sedang tidur?" tanya Scarlet seraya menghampiri ibunya yang sedang berbaring.
"Tidak. Kau mau pergi ke mana, Sayang? Kenapa sudah terlihat rapi seperti itu?"
"Daddy meminta aku pergi ke kantor, Mom. Daddy berkata aku harus mengenal karyawan di sana satu persatu agar mereka juga mengenal aku."
"Itu bagus, kau memang harus mengenal karyawan di sana karena kau yang akan menggantikan Daddy tapi kenapa kau tidak ikut dengan Daddy tadi?" tanya ibunya.
"Daddy berkata dia harus menemui seseorang jadi dia meminta aku menyusul."
"Baiklah, berhati-hatilah. Belajarlah dengan benar karena semua yang kami miliki akan menjadi milikmu."
"Tentu, aku tidak akan mengecewakan tapi aku sudah harus pergi," Scarlet memberikan kecupan di dahi ibunya.
"Berhati-hatilah, Sayang," ucap Diana sebelum putrinya keluar dari kamarnya.
"I love you Mom," ucapan Scarlet sebelum dia keluar membuat perasaan bahagia memenuhi hati Diana. Kata yang sederhana namun memberikan rasa bahagia yang sangat besar. Semoga saja dia memiliki umur yang sedikit panjang agar dia dapat bersama dengan putrinya sedikit lama.
Saat Scarlet keluar, dia justru bertemu dengan ayahnya yang tiba-tiba saja pulang. Scarlet tak jadi masuk ke dalam mobil. Dia justru menunggu ayahnya yang sedang melangkah mendekati dirinya.
"Kenapa Daddy pulang? Apa tidak jadi mengajari aku dan mengenalkan aku pada para karyawan yang ada di kantor?"
__ADS_1
"Tentu saja jadi. Daddy meninggalkan sesuatu, sebab itu Daddy pulang. Tunggu Daddy sebentar, kita pergi bersama," ajak ayahnya.
"Kenapa tidak menghubungi aku dan meminta aku membawanya, Dad?" Scarlet mengikuti langkah ayahnya dan kembali masuk ke dalam.
"Tidak perlu, Daddy sengaja pulang karena Daddy ingin pergi bersama denganmu."
"Hampir saja aku pergi."
"Daddy hanya sebentar," ayahnya melangkah menuju sebuah ruangan. Scarlet pergi ke dapur, dia ingin mengambil air minum dan sedikit camilan karena dia merasa lapar. Lagi pula ayahnya sedang mengambil barang jadi akan dia manfaatkan.
"Scarlet, Daddy sudah selesai!" panggilan ayahnya terdengar,. Scarlet buru-buru memasukkan roti ke dalam mulutnya sampai penuh.
"Scarlet?" ayahnya sudah berdiri di dapur dan tersenyum mendapati putrinya sedang berusaha menghabiskan rotinya.
"Sorry, Dad. Aku lapar," ucap Scarlet dengan mulut penuh dengan roti.
"Pelan-pelan saja, Daddy akan menunggu."
"Hanya sebentar," ucap Scarlet.
"Apa ini? Kalian bersenang-senang tanpa aku?" Diana yang mendengar suara mereka berdua meminta perawatnya untuk membawanya keluar.
"Mom, kenapa tidak beristirahat?"
"Mommy mendengar suara kalian berdua dan lihatlah, kalian bersenang-senang tanpa aku!" Diana meminta sang perawat untuk mendorongnya mendekati putrinya.
"Aku membuat sereal untuk Scarlet, apa kau mau?" tanya suaminya.
"Wah, boleh. Tapi kenapa kau kembali, apa kalian tidak jadi pergi?"
"Aku mengambil barang tapi Scarlet lapar, jadi nanti saja perginya. Biarkan putri kita makan dulu."
__ADS_1
"Sorry, Dad," Scarlet jadi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, makan lebih penting. Pekerjaan bisa menunggu."
"Benar, Sayang. Kau tidak boleh menahan lapar. Makanan begitu banyak, tidak perlu sungkan. Rumah ini sudah jadi milikmu jadi buatlah dirimu senyaman mungkin."
"Thanks, Mom. Tadi aku pikir mau beli roti tapi karena Daddy pulang jadi aku makan sebentar."
"Baiklah, kita makan sebentar," ajak ayahnya. Tiga mangkuk sereal berisi buah berry segar diletakkan ke atas meja. Mereka duduk bersama untuk menikmati sereal yang baru dibuat oleh Alfredo. Mereka benar-benar bahagia, sebisa mungkin mereka memang harus menikmati waktu yang seperti itu.
"Maaf mengganggu waktu kalian, Tuan," ucap seorang pelayan yang menghampiri mereka.
"Ada apa?"
"Seorang pemuda ingin bertemu dengan Nona," saat mendengarnya, Scarlet meletakkan sendoknya dan berlari keluar. Alfredo dan Diana terkejut, putri mereka tiba-tiba saja seperti atlet lari yang sangat menginginkan kemenangan.
Scarlet tidak peduli lagi, dai yakin yang datang pasti Samuel. Scarlet berlari secepatnya, seorang pria benar-benar berdiri di luar dan tentunya pria itu adalah Samuel. Tanpa membuang waktu, Scarlet berlari ke arahnya dan melompat ke dalam pelukannya. Dia benar-benar rindu, sangat merindukan pria itu.
"Aku kira kau tidak akan datang!" ucap Scarlet.
"Kenapa? Apa kau menunggu aku?"
"Tentu saja!" Scarlet memeluknya erat, untuk mengobati perasaan rindunya pada Samuel. Tidak saja Scarlet, Samuel pun memeluknya. Tidak cukup dengan pelukan, mereka berciuman untuk mengobati perasaan rindu yang mereka tahan selama beberapa hari tak bertemu.
Kali ini dengan penuh perasaan. Scarlet pun sudah tidak seperti boneka yang pasrah. Setelah mereka berciuman, mereka kembali berpelukan.
"Aku sangat merindukanmu, Sam," ucap Scarlet dengan wajah berseri. Tidak pernah dia merasakan perasaan bahagia seperti itu. Perasaan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.
"Apa itu berarti kau sudah jatuh cinta padaku, Scarlet?"
"Aku rasa kau tahu tanpa perlu aku katakan, Sam. Kau benar-benar bisa membuat aku gila. Aku merasa kehilangan dirimu beberapa hari belakangan dan aku tidak suka dengan situasi yang aku alami."
__ADS_1
"Jika begitu, kau sudah memutuskan untuk menjadi milikku jadi kau harus tahu jika kau tidak akan bisa lepas dariku lagi!"
"Aku tidak akan lari ke mana pun!" kali ini dia tidak akan lari seperti yang sudah-sudah. Scarlet dan Samuel kembali berciuman untuk mengungkapkan perasaan mereka yang mengebu-gebu di dalam hati. Setelah bertemu, perasaannya benar-benar jadi jauh lebih baik namun tidak dengan ibu Scarlet yang melihat, dia tampak sedih karena dia merasa pemuda itu akan segera membawa Scarlet pergi darinya.