
Setelah kepergian Darien, Scarlet justru termenung di depan Jendela karena dia menunggu Samuel selesai. Samuel sedang berbicara dengan rekan bisnisnya di dalam ruangan itu, sebab itulah dia tidak memperhatikan Scarlet.
Setelah dia dijual oleh Darien, ini kali kedua dia bertemu dengan pria yang dia cintai selama ini. Waktu itu Darien memohon dengan ucapan manis agar dia kembali tapi hari ini, pria itu justru menghina dirinya dengan cara ingin membeli dirinya dari Samuel. Apa Darien mengira dia adalah barang yang bisa dijual lalu dibeli dengan sesuka hati?
Luka lama yang dia torehkan belum juga kering dan sembuh tapi kini Darien kembali melukai perasaannya dengan ingin membelinya kembali. Apakah selama ini Darien tidak pernah menganggapnya berarti? Apa selama ini dia saja yang terlalu percaya diri dengan hubungan mereka? Ternyata yang dikatakan oleh orang-orang sangat benar, derajat menentukan segalanya.
Si miskin akan sulit menjadi tuan putri karena si miskin tetaplah si miskin dan seharusnya dia menyadari sejak awal jika dia dan Darien bagaikan pangeran dan Cinderella. Seandainya bisa memilih, tidak ada satu orang pun yang mau dilahirkan dari kalangan orang miskin apalagi seperti dirinya yang terbuang ke panti asuhan. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia jadi ingin tahu tentang jati dirinya.
Orang yang disebutkan oleh suster Agnes dan pria yang mengejarnya waktu itu, apakah orang itu ada hubungannya dengan masa lalunya? Jangan katakan pula orang itu mengetahui siapa dirinya. Scarlet mengusap dahi, apa yang dia pikirkan? Sebaiknya tidak berharap lebih karena yang ada di depan mata saja sangat mengecewakan apalagi hanya sekedar harapan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Scarlet sedikit terkejut namun tangan yang melingkar melalui pundaknya membuatnya tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan, katakan padaku. Apa kau memikirkan pria itu?" tanya Samuel yang sudah duduk dan memeluknya dari belakang.
"Tidak, untuk apa aku memikirkan dirinya?"
"Benarkah? Kenapa aku merasa tidak percaya dengan yang kau katakan?"
"Aku tidak berbohong, Samuel. Orang yang sudah menjual dan hendak membeli aku kembali, untuk apa aku memikirkan dirinya?"
"Itu bisa saja terjadi bukan karena kau masih mencintai dirinya!"
"Tolong jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuat aku mual, Samuel. Cintaku padanya sungguh sudah mati dan yang ada di dalam hatiku untuknya hanya tersisa kebencian saja. Aku bahkan sudah tidak sabar melihat kehancuran mereka!"
__ADS_1
"Jika begitu bagaimana denganku? Apa belum ada rasa cinta di hatimu untukku?"
"Ke-Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Scarlet gugup.
"Katakan padaku, Scarlet," Samuel menyingkirkan rambut Scarlet lalu mencium lehernya, Scarlet memejamkan mata karena dia merasa geli.
"Apa belum ada cinta di hatimu untukku?" Samuel mengulangi pertanyaannya sambil mencium lehernya tanpa henti.
"Setelah dikhianati, aku tidak bisa jatuh cinta dengan begitu mudahnya. Sebaiknya kau tidak berharap lebih, Samuel."
"Baiklah, sepertinya aku kurang berusaha. Bagaimana jika pergi jalan-jalan denganku. Apa kau mau?"
"Jalan-Jalan, ke mana?" dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya.
"Kau boleh memilihnya. Kau mau pergi ke mana, katakan saja!" ucap Samuel.
"Apa aku pernah menipumu, Scarlet? Apa sampai sekarang kau belum mempercayai aku?"
"Bukan begitu, aku hanya takut kau menggoda aku saja. Bisa saja kau mengangkat aku tinggi lalu kau hempaskan lagi. Asal kau tahu, aku belum pernah bepergian."
"Aku tidak menggodamu. Katakan padaku, ke mana kau akan pergi. Aku pasti akan membawamu ke sana."
"Baiklah," Scarlet berbalik hingga mereka berhadapan, "Tapi bagaimana dengan mereka? Kau sudah berjanji akan menghancurkan mereka. Aku harap kau tidak melupakan hal itu."
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir, Scarlet. Sekeras apa pun mereka berusaha untuk membebaskan wanita itu dari penjara, mereka tidak akan bisa. Kau juga tidak perlu mengkhawatirkan yang lainnya, aku sudah memerintahkan seseorang untuk menghancurkan mereka. Tanpa mengotori tangan kita berdua, mereka akan hancur. Kau bahkan akan mendapatkan kejutan saat kita kembali dari jalan-jalan jadi pikirkan saja ke mana kau mau pergi. Yang saat ini perlu kau lakukan adalah nikmati waktumu sambil menunggu kehancuran mereka!"
"Sepertinya aku benar-benar tidak perlu melakukan apa pun," ucap Scarlet seraya melingkarkan kedua tangannya ke leher Samuel.
"Memang tidak. Semenjak kau patuh, kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan dendammu. Seperti yang aku katakan, nikmatilah waktumu dan satu hal lagi, aku ingin kau menumbuhkan cinta di sini, untukku!" ucap Samuel seraya menunjuk dada Scarlet.
"Untuk itu," Scarlet sedikit menunduk namun dia kembali mengangkat wajahnya, "Aku rasa butuh waktu," Dia tidak yakin apakah dia bisa jatuh cinta lagi apa tidak. Dia pun tidak yakin apakah dia bisa mencintai seseorang lagi atau tidak.
"Aku akan menunggu, Scarlet," Samuel mengangkat dagunya, "Buat dirimu senyaman mungkin dan katakan padaku saat kau sudah memiliki sedikit perasaan untukku," ucapnya lagi.
"Aku akan berusaha tapi aku tidak berjanji."
"Kau pasti akan jatuh cinta padaku, aku pastikan itu!" Samuel mencium bibir Scarlet dengan lembut dan penuh perasaan. Dia harap Scarlet mengerti jika dia membutuhkan dirinya. Kedua mata Scarlet terbuka ketika Samuel mencium bibirnya namun menutup dengan perlahan. Apa dia pernah diperlakukan seperti ini oleh Darien sebelumnya? Tidak, dia tidak boleh cepat terbuai apalagi luka yang ada di dalam hati masih ada.
"Jadi, apa kau sudah memutuskan?" tanya Samuel setelah menciumnya dan sedang memeluknya saat ini.
"'Paris, sejak dulu aku sangat ingin ke Paris."
"Baiklah, kita ke Paris. Aku akan memberikan apa pun yang kau ingin selama di sana."
"Aku tidak menginginkan apa pun, aku hanya ingin jalan-jalan di kota itu saja."
"Baiklah, tunggu di sini!" Samuel memberikan kecupan di dahinya sebelum dia beranjak pergi. Scarlet menatap kepergian dengan banyak pikiran. Mendadak dia tidak bisa menilai mana yang tulus dan mana yang tidak. Semua tampak sama setelah pengkhianatan Darien. Janji manis, perkataan manis, semua terdengar palsu tapi selama Samuel melakukan apa yang dia mau, maka tidak jadi soal apalagi melalui Samuellah, dia bisa membalaskan dendamnya dengan perlahan.
__ADS_1
Darien yang gagal bernegosiasi pergi menemui adiknya di dalam penjara. Susan berteriak dengan keras, dia putus asa. Wajah cantiknya benar-benar babak belur dan dia tidak terima. Padahal dia sangat berharap hari ini akan bebas tapi kabar yang dibawakan oleh kakaknya ternyata di luar dugaan.
Kegagalan Darien dalam membujuk Scarlet untuk membebaskan Susan gagal, bahkan uang yang dia tawarkan pada Samuel di tolak mentah-mentah. Susan hanya bisa berteriak marah pada kakaknya, dia sungguh sudah tidak tahan berada di dalam penjara namun tindakannya sedang dalam proses hukum dan itu adalah awal bagi mereka karena Samuel sedang mengincar perusahaan ayah mereka sesuai permintaan Scarlet yang menginginkan kehancuran mereka sebelum Darien mendapatkan gilirannya.