
Seorang wanita terbaring di rumah sakit dalam keadaan memprihatinkan. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat dan tak ada lagi rambut di kepalanya. Selang infus tertancap di lengan, wanita paruh baya itu sudah berada di ambang kematian karena dia sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Selain wanita yang terbaring lemah itu, seorang pria juga berada di dalam ruangan itu namun dia tampak sedang berbicara dengan seseorang.
Tatapan mata wanita itu kosong, semburan penyesalan terpancar dari wajahnya yang pucat. Di sisa waktu yang dia miliki, hanya ada penyesalan saja yang dia rasakan akibat masa lalu yang tak bisa diubah. Sekarang, yang dia butuhkan hanya satu kesempatan dan sebuah keajaiban sebelum dia mati, meninggalkan dunia fana itu.
"Apa kau belum memastikannya?" pria yang ada di dalam ruangan itu bertanya pada seseorang yang sedang berbicara dengannya melalui telepon.
"Aku sudah berusaha, tapi informasi tentangnya masih abu-abu. Aku pun sudah mengikuti tapi sulit untuk berbicara dengannya bahkan saat ini aku mendapat kabar jika dia pergi ke Paris."
"Paris? Apa dia pergi seorang diri atau dengan seorang teman?"
"Sepertinya kekasihnya karena mereka selalu bersama."
"Baiklah, pergi ke Paris dan cari tahu!"
"Baik, Tuan."
Pria itu, mengakhiri percakapan. Dia adalah Alfredo Bartolo. Dia pria asal Spanyol yang menikah dengan seorang wanita keturunan Eropa bernama Diana. Insiden tak menyenangkan mereka alami saat mereka berkunjung ke Brazil, di sanalah bayi perempuan mereka lenyap saat mereka sedang menghadiri sebuah pesta. Alfredo adalah seorang pengusaha, dia memiliki banyak saingan bisnis pada masa itu tapi tidak ada yang tahu siapa yang menculik bayi perempuan mereka. Perawat yang mereka percaya juga menghilang, tak ada jejak dan tak ada saksi sama sekali. Putrinya hilang begitu saja bersama dengan perawatnya.
__ADS_1
Segala upaya telah dilakukan, detektif atau apa pun mereka kerahkan. Tenaga yang terbuang dan uang yang dikeluarkan sudah tak terhitung tapi mereka tidak juga menyerah. Berpuluh tahun tak henti mereka mencari sampai pada akhirnya mereka mendapatkan informasi jika puluhan tahun yang lalu, seorang kepala biara yang memimpin di panti asuhan St. Anna menemukan bayi perempuan di depan panti asuhan. Meski itu sangat mustahil, kemungkinannya adalah nol karena panti asuhan itu berada di London, sedangkan putri mereka hilang di Brazil. Alfredo tetap mengirim orang untuk mencari tahu. Selama puluhan tahun mereka mencari, tak sekalipun mereka menyia-nyiakan kesempatan karena mereka berharap, peluang mereka datang untuk menemukan putri mereka yang hilang.
Situasi pun semakin memburuk karena Diana sedang sakit keras. Kanker rahim yang dia derita sudah mencapai stadium akhir, hidupnya sudah tidak lama tapi putri mereka yang hilang belum juga ditemukan. Setidaknya satu keinginan terakhirnya, dia ingin melihat wajah putrinya sebelum dia mati. Apakah kesempatan itu akan dia dapatkan atau tidak, sungguh tidak ada yang tahu karena utusan yang mereka kirimkan ke London belum juga menemukan titik terang mengenai bayi perempuan yang ditemukan oleh Suster Agnes.
"Bagaimana, Alfred? Apakah yang ditemukan oleh suster itu adalah putri kita?" tanya Diana saat suaminya menghampirinya dan duduk di sisinya. Wajah tua Alfred tampak lelah, kondisi tubuhnya sudah tidak seperti dulu lagi karena dia juga sudah tua.
"Masih belum bisa dipastikan apakah yang dia temukan putri kita atau bukan," meski belum pasti, tapi dia tidak terlihat putus asa karena dia ingin istrinya memiliki semangat meski di atas setitik harapan.
"Apa selamanya aku tidak akan pernah melihat Estelle lagi, Alfred? Seharusnya waktu itu kita tidak meninggalkan dirinya, seharusnya aku tidak menghadiri pesta itu denganmu dan menjaga putri kita!" penyesalan kembali terlihat di wajah Diana yang sudah layu bagaikan bunga di sore hari.
"Jangan berkata seperti itu, semua bukan salahmu. Pasti ada kesempatan untuk kita, Tuhan maha adil dan aku yakin kita pasti memiliki kesempatan untuk bertemu dengan putri kita!"
"Waktuku sudah tidak banyak, Alfred. Jika aku mati, kau tidak boleh berhenti mencari putri kita."
"Tidak, aku sudah berjanji padamu jika aku akan menemukan putri kita jadi kau tidak boleh menyerah pada penyakitmu. Aku mendengar jika dia pergi ke Paris bersama dengan kekasihnya. Aku akan pergi ke sana dan menemuinya secara langsung untuk memastikan apakah dia putri kita atau bukan."
"Aku ikut, aku mau ikut!" ucap Diana.
__ADS_1
"Tidak bisa, kau tidak boleh pergi ke mana pun. Tunggu aku di sini, aku akan membawanya pulang untuk bertemu denganmu sekalipun dia bukan putri kita agar kau yakin."
"Tidak mau, Alfred. Aku tidak bisa menunggu, bagaimana jika aku mati saat kau pergi? Sekalipun aku tidak bertemu dengan putri kita tapi aku ingin mati di sisimu jadi kau harus membawa aku serta. Jika dia adalah putri kita, aku pasti bisa merasakannya karena aku adalah ibunya jadi jangan tinggalkan aku," pinta Diana memohon. Sudah lama mereka mencari, mencari putri mereka yang hilang saat usianya belum genap satu tahun dan sekarang, ada kabar baik seperti itu, bagaimana mungkin dia akan menyia-nyiakannya?
Alfredo menghela napas, dia tidak bisa menolak karena bisa saja itu menjadi permintaan terakhir istrinya dan yang lebih buruk adalah, istrinya justru meninggal saat dia sedang pergi. Jangan sampai membuat kesalahan yang bisa membuatnya menyesal untuk seumur hidupnya. Dia sudah kehilangan putrinya, jangan sampai saat istrinya meninggal dia tidak berada di sisi istrinya dan hal itu bisa membuatnya menyesal untuk seumur hidup.
"Please, Alfred. Seandainya dia bukan putri kita pun, aku tidak akan marah. Aku tahu kau sudah berusaha keras untuk menemukan Estelle selama puluhan tahun tapi ijinkan aku ikut untuk memastikannya."
"Baiklah, tapi aku harus mendapatkan ijin dari rumah sakit. Aku akan mengurusnya terlebih dahulu."
"Apa? Bagaimana jika kehilangan jejak nantinya?"
"Tidak perlu khawatir, aku sudah mengutus orang untuk mengikuti dan mengawasinya. Aku akan segera meminta ijin agar kita bisa langsung pergi untuk memastikan apakah dia putri kita atau bukan!"
Diana mengangguk, kali ini dia sangat berharap pencarian yang telah mereka lakukan membuahkan hasil meski kemungkinannya satu berbanding sepuluh tapi dia harap, satu persen itu menjadi seratus persen. Semoga saja ada keajaiban untuk mereka yang sudah lama mencari putri mereka yang hilang dan tentunya yang mereka maksud adalah Scarlet, bayi yang ditemukan oleh suster Agnes.
Kabar itu baru mereka dapatkan beberapa saat yang lalu, mencari bayi mereka yang hilang selama puluhan tahun tidaklah mudah oleh sebab itu, Alfredo langsung mengutus seseorang untuk mencari tahu tentang kabar bayi yang mereka dengar tapi sayang, bayi itu sudah besar dan sudah tumbuh menjadi wanita cantik yang tak tinggal di panti asuhan lagi. Jika Scarlet tidak kembali ke panti asuhan saat itu, mungkin saja orang utusan Alfredo tidak akan tahu keberadaannya.
__ADS_1
Entah Scarlet benar-benar putri mereka atau bukan, mereka harus memastikan dan mereka akan segera pergi dari Spanyol menuju Paris untuk bertemu secara langsung dengan Scarlet yang bisa saja putri mereka dan bisa saja bukan.