
Scarlet jadi gelisah, menunggu kedatangan Samuel. Dia yakin pria itu pasti datang untuk menemuinya. Rasanya tidak sabar tapi baru beberapa jam berlalu setelah dia menghubungi Samuel. Dia tahu Samuel tidak akan cepat tiba karena membutuhkan waktu.
Perjalanan dari Australia menuju Spanyol sudah pasti memakan waktu yang cukup lama meski Scarlet mengira Samuel berada di Londong tapi jarak dari dua negara itu juga cukup memakan waktu yang sangat lama. Tidak mungkin Samuel tiba-tiba berdiri di depan rumahnya. Meski Samuel adalah superman yang bisa terbang, tetap saja dia membutuhkan waktu. Rasanya sudah tidak sabar, padahal mereka tidak bertemu beberapa hari saja tapi akibat rasa tidak sabarnya itu, Scralet berguling di ranjang dan berhenti saat ada yang memanggilnya.
"Nona, waktunya makan!" seorang pelayan mengetuk pintu kamar sambil memanggilnya.
"Aku akan segera keluar!" Scarlet merapikan penampilan sebelum dia keluar dari kamarnya.
Ayahnya sudah menunggu di meja makan, bersama dengan ibunya yang sudah duduk di kursi roda. Scarlet menghampiri mereka sambil tersenyum, ayahnya bahkan menatapnya dengan tatapan heran dan curiga karena Scarlet terlihat senang padahal putrinya sangat sedih karena tidak diijinkan pergi oleh ibunya.
"Putri Daddy kenapa terlihat sangat senang?" tanya ayahnya.
"Aku senang karena bisa makan dengan kalian," jawab Scarlet berdusta. Dia tidak mau ibunya tahu jika Samuel mau datang karena dia tidak mau ibunya berpikir Samuel datang untuk membawa dirinya pergi. Jangan sampai keadaan ibunya kembali memburuk seperti tadi.
"Kemarilah, Sayang. Semua makanan ini untukmu," ucap ibunya. Meski suaranya pelan karena tenaga yang dia miliki tidak banyak, Scarlet dapat mendengarnya.
"Thanks, Mom. Apa Mommy mau aku suapi?" Scarlet mendekati ibunya dan sebelum duduk, Scarlet memberikan ciuman di dahi ibunya.
"Tidak perlu, ayo duduk makan," ucap ibunya.
"Baik, aku ambilkan makanan untuk Mommy."
"Tidak, Sayang. Mommy tidak bisa makan Makanan itu lagi. Seandainya kita bisa bertemu lebih cepat, betapa indahnya. Pasti banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai ibu dan anak. Aku bisa mengajakmu pergi membeli perhiasan yang indah juga gaun-gaun yang cantik. Kita bisa melakukan perawatan bersama, pergi ke tempat yang indah tapi semua kesenangan itu harus aku lewatkan karena aku kehilangan dirimu."
"Mom, bukan kau saja yang telah melewatkan banyak hal. Aku juga melewatkan banyak hal. Aku dibesarkan di panti asuhan yang mengalami krisis karena kurangnya donatur waktu itu. Aku tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan karena hal itu aku dihina bahkan aku disebut sebagai anak seorang ja*ang!"
"Apa? Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya ayahnya.
"Seseorang, yang harus aku hancurkan Dad."
"Jika begitu katakan pada Daddy, Daddy akan membantumu!" ucap ayahnya.
"Aku memang membutuhkan bantuan Daddy untukĀ balas dendam nanti tapi aku belum memikirkan caranya."
"Baiklah, Daddy pasti akan membantumu. Tinggal kau sebutkan saja, akan Daddy tendang sampai ke bulan!"
__ADS_1
"Thanks, Dad," Scarlet tersenyum, meski dia sudah bertemu dengan kedua orangtuanya dan sudah terbebas dari surat perjanjian itu karena Samuel sudah melepaskan dirinya tapi dia tetap akan membuat perhitungan pada orang yang sudah menjual dan menghina dirinya.
"Maafkan kami, Scarlet. Kau harus dihina gara-gara kami lalai menjaga dirimu," ucap ibunya.
"Mom, aku tidak pernah menyalahkan Mommy dan Daddy. Jika aku menyalahkan kalian, aku sudah tidak akan berada di sini. Aku pasti akan kecewa dan marah. Aku tidak mungkin mau ikut kalian pulang jadi jangan meminta maaf, aku tidak pernah menyalahkan kalian untuk apa yang telah aku alami."
"Tapi Mommy tetap merasa bersalah."
"Biaklah, aku memaafkan Mommy. Sekarang aku suapi makan, bukankah Mommy tidak boleh terlalu lama duduk? Aku ingin Mommy kembali beristirahat agar kesehatan Mommy tidak menurun. Aku ingin Mommy memiliki umur yang lebih panjang agar kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama."
"Jika begitu aku harus menjaga kesehatanku dengan baik," ucap ibunya.
Scarlet mengambil mangkuk bubur untuk ibunya. Sang ayah memperhatikannya sedari tadi. Scarlet berkata demikian, lalu bagaimana hubungan Scarlet dengan pemuda itu? Apa dia ingin menunggu ibunya meninggal baru pergi menemui pemuda itu? Jujur saja, dia takut putrinya tidak bahagia meski dia tersenyum. Dia takut putrinya memaksakan diri demi ibunya yang sakit. Jika putrinya hanya pura-pura bahagia, bukankah mereka sudah menghancurkan masa depan Scarlet?
"Scarlet, setelah makan Daddy ingin berbicara denganmu," ucap ayahnya.
"Baik, Dad," jawab Scarlet yang sedang menyuapi ibunya makan. Meski yang putrinya lakukan adalah hal sederhana tapi Diana sangat senang. Setidaknya putrinya tidak menyimpan dendam pada mereka yang telah lalai bahkan Scarlet tampak menyayangi mereka.
Sisa makanan yang mengotori baju ibunya dibersihkan, setelah selesai Scarlet tidak langsung makan. Dia memilih mengantar ibunya ke kamar dan membantu ibunya untuk berbaring serta menggantikan pakaian ibunya yang kotor akibat makanan.
"Tentu, beristirahatlah," Scarlet memberikan kecupan di dahi ibunya.
"Mommy mencintaimu, Sayang. Maaf aku sudah gagal menjadi ibumu."
"Mom, aku tidak menyalahkan Mommy. Yang penting kita sudah bertemu dan bisa berkumpul kembali. itu adalah kesempatan indah yang kita dapatkan."
"Baiklah, kau benar. Sekarang pergilah makan, ayahmu juga ingin berbicara denganmu jadi jangan membuatnya menunggu terlalu lama," ucap ibunya.
"Baik, Mom," Scarlet menarik selimut, untuk menutupi tubuh ibunya sebelum dia keluar dari kamar. Ayahnya masih berada di meja makan, menikmati teh. Sepertinya ayahnya menunggunya, entah apa yang hendak ayahnya bicarakan.
"Apa yang ingin Daddy bicarakan?" tanya Scarlet.
"Makan saja terlebih dahulu, kita bicara setelah kau selesai makan."
"Baik, Dad," Scarlet mengambil beberapa makanan untuk dia nikmati. Makanan yang lezat, dulu dia tidak bisa menikmati makan seperti karena mahal.
__ADS_1
"Kenapa tidak makan? Apa kau tidak suka?" tanya ayahnya.
"Tidak, bukan. Aku suka dengan makanan ini," ucap Scarlet.
"Jika begitu makan yang banyak," ucap ayahnya.
"Dad, sebenarnya apa yang hendak kau bicarakan?" tanya Scarlet.
"Daddy hanya ingin tahu, apa kau bahagia?"
"Maksud Daddy?" Scarlet tampak tak mengerti.
"Jawab pertanyaan Daddy. Apa kau bahagia tinggal bersama dengan kami? Jika kau tidak bahagia, kau harus mengatakannya pada Daddy. Daddy tidak mau kau terpaksa karena keadaan ibumu. Jika kau memang tidak bahagia maka Daddy tidak akan memaksamu untuk tinggal," ucap ayahnya.
"Apa yang Daddy katakan? Aku sangat bahagia berada di sini dan aku tidak terpaksa sama sekali."
"Apa kau tidak menipu Daddy?" tanya ayahnya.
"Tidak, tapi Dad?" Scarlet tampak ragu.
"Ada apa? Katakan saja, tidak perlu sungkan!"
"Hm, aku rasa Samuel akan datang untuk menemui aku. Daddy tidak akan mengusirnya, bukan?"
"Mengusirnya, tentu saja tidak. Kebetulan dia mau datang, Daddy juga ingin berbicara dengannya."
"Apa yang ingin Daddy bicarakan dengannya?"
"Ini rahasia antara laki-laki."
"Baiklah, jika dia tidak mau menyentuh apa pun yang ada di rumah, aku harap Daddy tidak marah dan salah paham karena Samuel mengidap sebuah phobia."
"Daddy tidak akan marah. Sekarang habiskan makanannya dan setelah itu ikut Daddy karena ada yang hendak Daddy ajarkan padamu."
"Thanks, Dad," Scarlet tersenyum, akhirnya dia sampaikan pada ayahnya dan dia harap Samuel benar-benar datang sesuai dengan apa yang dia harapkan. Dia juga berharap Samuel sudah datang besok agar dia tidak lama menunggu.
__ADS_1