Kekasih Bayaran Tuan Samuel

Kekasih Bayaran Tuan Samuel
Sudah Memutuskan


__ADS_3

Niat untuk pergi ke perusahaan tidak jadi karena kedatangan Samuel. Alfredo tidak terkejut karena putrinya sudah mengatakan padanya jika Samuel akan datang. Sangat kebetulan, dia memang ingin bertemu dengan pemuda yang sudah membuat putrinya murung beberapa hari belakangan.


Diana tak berkata apa-apa, dia tidak suka dengan kedatangan Samuel tapi kebahagiaan yang ditunjukkan oleh Scarlet bukanlah tipuan. Semenjak Scarlet kembali bersama dengan mereka, dia selalu termenung dan terlihat murung apalagi ketika dia tidak mengijinkan Scarlet pergi, Scarlet semakin terlihat murung.


Dia tahu, dia bisa melihatnya. Scarlet selalu termenung di depan jendela, dia bahkan tidak bersemangat jika tidak diajak bicara. Mereka sedikit terlambat menemukan putri mereka karena hati Scarlet sudah menjadi milik yang lain. Kebahagiaan Scarlet benar-benar terlihat jelas, senyuman tak henti menghiasi wajahnya bahkan dia tidak mau berjauhan dari Samuel. Meski keadaan Samuel yang aneh karena dia mengenakan sarung tangan, membuat Diana sangat heran.


"Kau datang ke sini, pasti ada tujuannya, bukan?" tanya Alfredo.


"Tentu, aku datang untuk menemui Scarlet," jawab Samuel tanpa ragu.


"Siapa namamu, anak muda. Sepertinya kita belum saling mengenal dengan baik," ucap Diana. Bagaimanapun mereka harus menerima pemuda itu dengan baik.


"Samuel, Samuel Archiles."


"Baiklah, tapi kau?" Diana tampak ragu.


"Oh, aku memiliki phobia yang berlebihan. Tolong jangan tersinggung," pinta Samuel.


"Mom, Samuel tidak bisa menyentuh barang dengan sembarangan jadi harap maklumkan."


"Baiklah, Mommy hanya bertanya saja. Jadi, apa kau datang untuk membawa putriku pergi? " tanya Diana tanpa basa basi.


"Mom, kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Mommy tahu tujuannya datang pasti untuk membawamu pergi dari kami, Scarlet. Kita baru bertemu belum lama, kita juga baru bersama belum lama tapi kenapa begitu tidak sabar ingin membawa Scarlet pergi?"


"Diana, jangan berbicara seperti itu!" ucap suaminya.


"Yang aku katakan ini tidak salah, Alfred. Dia datang pasti untuk membawa Scarlet pergi."


"Jangan salah paham, Nyonya. Aku datang bukan untuk membawa Scarlet pergi dari kalian, aku datang untuk bertemu dengannya dan untuk tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku tidak akan langsung membawanya, kalian tidak perlu khawatir," ucap Samuel.


"Benarkah?" Diana tampak tidak percaya.


"Mom, Samuel datang bukan untuk melamar aku jadi dia tidak akan membawa aku ke mana-mana," ucap Scarlet.


"Apa itu berarti kau tidak akan menikahi putriku?" tanya Alfred.

__ADS_1


"Tentu saja mau. Aku pasti akan menikahinya nanti tapi tidak sekarang. Lagi pula kalian pasti tidak akan melepaskannya untukku karena kebersamaan kalian yang baru sebentar. Aku tahu kalian membutuhkannya, aku tahu jika aku tidak boleh bersikap egois karena aku tahu kebersamaan kalian yang baru sebentar. Sebab itu aku akan menunggu, menunggu sampai kalian bersedia melepas Scarlet untuk aku bawa pergi."


"Bagaimana jika aku tidak mau melepaskannya? Seandainya aku masih hidup sampai lima tahu ke depan, apa kau mau menunggunya?" tanya Diana.


"Tentu saja, aku pasti akan menunggunya."


"Bagaimana jika sepuluh tahun, apa kau masih mau menunggunya?"


"Aku pasti akan menunggu tapi aku yakin kau tidak mungkin tega menahan putrimu sampai sepuluh tahun!" ucap Samuel.


"Bagaimana jika selama kalian tidak bertemu aku menikahkan Scarlet dengan putra dari kenalanku?" tanya Alfredo.


"Dad, jangan memulai!"


"Aku hanya bercanda. Tadinya aku ingin berbicara empat mata denganmu tapi sepertinya sudah tidak perlu. Lebih baik kita bahas bersama."


"Aku akan mendengarkan," ucap Samuel.


"Jadi kau datang ke sini untuk bertemu dengan Scarlet saja dan tahu perasaannya padamu?"


"Memang itu tujuanku, Scarlet pasti tahu."


Scarlet memandangi Samuel begitu juga Samuel. Mereka belum membahas hal ini berdua dan sepertinya memang harus mereka bahas.


"Kenapa diam?" tanya ayahnya.


"Kami belum membahasnya, Dad. Aku rasa kami perlu mendiskusikan hal ini baik-baik."


"Scarlet, hubungan jarak jauh membutuhkan rasa percaya dan kesabaran. Apa kau bisa melakukannya? Apa kau bisa mempercayai dirinya untuk setiap apa yang dia lakukan?" kali ini ibunya yang bertanya.


"Tentu aku percaya, aku pasti percaya pada Samuel tapi apa kau bisa mempercayai aku, Sam? Aku akan berada di perusahaan Daddy, bertemu dengan banyak orang. Apa kau akan mempercayai aku?" dia percaya pada Semuel karena Samuel memiliki phobia tapi apakah Samuel mau mempercayai dirinya?


"Asalkan kita berkomunikasi dengan benar, maka semua akan baik-baik saja."


"Baiklah. Dad, kami sudah memutuskan."


"Bagus, Daddy rasa percakapan kita sudah selesai. Daddy antar Mommy istirahat dan setelah itu pergi ke kantor. Kau temani saja kekasihmu!" Alfred beranjak, percakapan mereka  sudah selesai.  Alfred membawa Diana ke kamarnya sedangkan Scarlet mengajak Samuel ke kamarnya juga.

__ADS_1


"Apa pemuda itu bisa kita percaya, Alfred?" tanya Diana.


"Selama dia belum membawa Scarlet pergi dan selama Scarlet belum menikah dengannya, kita lihat saja."


"Aku harap dia bisa menjaga Scarlet dengan baik menggantikan kita nantinya. Kita sudah tua, Scarlet pasti membutuhkan seseorang yang bisa menjaga dirinya."


"Aku tahu," ucap Alfredo. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh istrinya. Dia pun tidak akan menyerahkan putrinya pada sembarangan pria.


Scarlet dan Samuel sudah berada di dalam kamar. Yang mereka lakukan sudah pasti melepaskan kerinduan. Kali ini bisa lebih bebas karena tidak ada kedua orang tuanya.


"Aku sudah menunggumu begitu lama, tapi kau tidak juga datang. Jika ayahku tidak kembali, aku pasti sudah pergi dan kita tidak akan bertemu."


"Aku bisa menunggumu sampai kau pulang."


"Itu berarti aku akan bertemu denganmu sedikit lama!"


"Kau sepertinya tidak sabar," ucap Samuel.


"Aku memang sudah tidak sabar. Apa kau akan lama berada di sini, Sam?"


"Aku rasa tidak, kau tahu pekerjaanku tidak bisa ditinggal lama."


Scarlet diam, pelukannya semakin erat. Mereka baru bertemu tapi harus berpisah tidak lama lagi. Apa ini yang ibunya rasakan? Meski enggan berpisah tapi mereka sudah memutuskan untuk menjalin hubungan jarak jauh untuk kebaikan bersama.


"Tidak perlu sedih," Samuel mengusap kepala Scarlet lalu tangannya sudah berada di dagu Scarlet dan mengangkat.


"Aku akan datang satu minggu sekali tapi jika aku tidak bisa, maka kau yang datang padaku!" ucapnya.


"Demi bertemu denganmu, aku pasti akan datang padamu," ucap Scarlet.


"Bagus, jangan lupa mengabari aku apa pun yang kau lakukan."


"Pasti!" Scarlet berjinjit lalu mencium bibir Samuel. Perasaan bahagia dia rasakan tapi juga ada rasa sedih jika mengingat perpisahan mereka yang akan terjadi saat Samuel pergi


"Selama aku berada di sini, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan untuk menghabiskan waktu berdua. Kencan kita yang batal sewaktu di Paris, kita ganti di kota ini."


"Boleh, aku juga belum pernah jalan-jalan di kota ini. Mommy dan Daddy pasti mengijinkan."

__ADS_1


"Jika begitu besok aku akan menjemputmu!"


"Aku tunggu, Sam," Scarlet kembali berjinjit karena Samuel kembali mencium bibirnya. Mereka berdua memanfaatkan waktu apalagi tidak ada yang mangganggu. Scarlet meminta Samuel tinggal lebih lama dan mengajaknya makan malam bersama agar kedua orangtuanya semakin mengenal Samuel.


__ADS_2