
Scarlet belajar dengan sungguh-sungguh karena dia tidak mau mengecewakan ayahnya. Beruntungnya Samuel sudah mengajarinya terlebih dahulu sehingga dia paham dengan apa yang harus dia lakukan. Ayahnya pun jadi tidak terlalu sulit mengajari dirinya dan semua itu karena dia mengerti dan tahu apa yang harus dia lakukan. Sekarang dia sangat bersyukur karena Samuel mengajarinya pekerjaan itu dan beruntungnya dia paham meski pendidikannya tidaklah terlalu tinggi.
Meski Scarlet tampak tidak terlalu fokus karena dia menunggu kabar dari Samuel yang tak juga kunjung memberinya kabar apakah dia sudah tidak atau tidak. tapi dia tetap melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga ayahnya tidak kecewa. Begitu tiba di perusahaan ayahnya Scarlet langsung diperkenalkan pada seluruh karyawan yang ada di sana.
Dia disambut dengan ramah meski dia kesulitan berbicara dalam bahasa Spanyol karena rata-rata karyawan ayahnya tidak fasih berbahasa Inggris. Menggunakan bahasa isyarat pun harus dia lakukan tapi itu tidak menghalangi Scarlet untuk mengenal seluruh karyawan ayahnya. Sekarang apa yang harus dia pelajari bertambah karena ayahnya ingin dia belajar bahasa Spanyol dan fasih berbicara dalam bahasa itu dalam waktu dekat agar Scarlet bisa berinteraksi dengan rekan bisnis yang akan dia jumpai kapan saja.
Tantangan yang cukup berat Karena tidak saja harus belajar bisnis tapi dia juga harus bisa berbicara dalam bahasa Spanyol yang tidak mudah dipelajari apalagi dalam waktu singkat. Scarlet pun mengikuti ayahnya melakukan rapat dengan beberapa rekan bisnis. Ayahnya kembali memperkenalkan dirinya namun dia hanya bisa jadi penonton karena keterbatasan bahasa yang belum dia mengerti sama sekali. Meski begitu, orang-orang menghargai dirinya sebagai putri Alfred. Dia tetap disambut seperti saat pesta penyambutan dirinya beberapa saat yang lalu.
Beberapa kegiatan yang baru saja mereka lalukan cukup menguras tenaga dan membuat Scarlet merasa lelah. Setelah pertemuan, Scarlet mengikuti ayahnya kembali ke dalam ruangan dan menjatuhkan diri ke atas sofa. Ternyata menjadi seorang pemimpin perusahaan tidaklah mudah seperti yang dia bayangkan.
"Setelah ini Daddy akan mencarikan seorang guru yang bisa mengajarimu berbahasa Spanyol dan kau sudah harus bisa menguasainya dalam waktu dekat jadi Daddy harap kau belajar dengan benar," ucap ayahnya yang sudah duduk di kursi.
"Bahasa Spanyol cukup sulit, Dad. Aku tidak yakin bisa menguasainya dalam waktu dekat."
"Jangan menyerah padahal kau belum mencobanya. Daddy yakin kau pasti bisa jadi berusahalah. Putri Daddy tidak boleh menyerah karena ini untuk kebaikanmu. Saat kau bertemu dengan seseorang rekan bisnis dan kau tidak bisa menggunakan bahasa Spanyol lalu apa yang akan kau lakukan? Tidak semua orang bisa berbahasa Inggris jadi kau harus segera menguasai bahasa itu untuk mempermudah dirimu melakukan aktivitas karena kau sudah tinggal di sini," ucap ayahnya.
"Baiklah, aku akan mendengarkan Daddy," Scarlet melihat ponselnya Setelah berkata demikian. Dia masih menunggu, menunggu Samuel memberinya kabar. Ayahnya tampak sibuk menghubungi seseorang tentunya dia sedang memanggil seseorang yang akan mengajari Putrinya.
“Dad, Bolehkah aku istirahat sebentar?” tanya Scarlet.
"Tentu, kau boleh beristirahat tapi setelah itu ada yang hendak Daddy ajarkan dan mungkin saja sebentar lagi Daddy akan mengenalkan seseorang padamu. Jika dia datang dan dia adalah guru yang akan mengajarimu bahasa Spanyol. Setelah selesai kita akan pulang untuk makan siang bersama Mommy," ucap ayahnya.
"Terima kasih, Dad. Aku akan belajar dengan benar dan tidak akan mengecewakan Daddy.".
__ADS_1
"Bagus, Daddy jadi senang mendengarnya. Pergilah beristirahat dan gunakan waktu yang ada karena Daddy tahu apa yang ingin kau lakukan!"
"Memangnya apa yang ingin aku lakukan?" Scarlet pura-pura tidak tahu.
"Jangan menipu Daddy, Scarlet. Sedari tadi kau terlihat gelisah meskipun kau fokus pada pekerjaan tapi kau tidak bisa menutupinya. Daddy tahu kau pasti sedang menunggu telepon dari Samuel," ucap ayahnya karena dia tahu. Sedari tadi, Scarlet berusaha untuk fokus pada pekerjaan meskipun dia gelisah tapi itu bagus karena putrinya masih bisa fokus dengan pekerjaan meski dia sedang menunggu kabar dari Samuel.
“A-Aku akan segera kembali,” Scarlet beranjak dari sofa lalu dia melangkah mendekati ayahnya.
“Aku akan menikmati segelas kopi di Cafe yang ada di dekat kantor sambil menghubungi Samuel. Apa Daddy menginginkan sesuatu?” tanyanya.
“Tidak, Daddy tidak terlalu berani mengkonsumsi banyak kopi karena kesehatan Daddy. Pergilah nikmati waktumu tapi jangan lama. Daddy beri kau waktu lima belas menit dan setelah itu kau harus kembali," ucap ayahnya.
'Itu sudah cukup. Dad. Aku pergi dulu," Scarlet mencium pipi ayahnya sebelum dia pergi. Dia berjalan dengan hati gembira, semua yang melihat dirinya bisa melihat jika dia sedang senang. Ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong karena ekspresi wajahnya menunjukkan jika dia sedang bahagia. Waktu lima belas menit yang ayahnya berikan akan dia manfaatkan dengan baik untuk berbicara dengan Samuel dan melepaskan kerinduan yang dia rasakan di hati. Jujur saja, dia sudah sangat merindukan Samuel.
Sebuah Cafe yang ada di bawah menjadi pilihan. Tempat itu tidak jauh dari kantor jadi dia bisa segera kembali setelah selesai. Scarlet memesan segelas kopi juga sepotong kue dengan perisa blueberry, dia pun duduk di dekat jendela di mana dia berada cukup jauh dari tamu lainnya. Dia memilih tempat itu agar tidak ada yang mendengar apa yang akan dia bicarakan dengan Samuel. Ponsel pun sudah berada di tangan. Scarlet menunggu Samuel menjawab dengan tidak sabar dan beruntungnya dia tidak lama menunggu.
"Kenapa kau tidak menghubungi aku, Samuel? Apa kau baru tiba?" tanya Scarlet yang sudah menunggu Samuel memberinya kabar sedari tadi.
"Maafkan aku, Scarlet. Begitu tiba, aku langsung menemui rekan bisnis sebab itu aku tidak sempat memberimu kabar."
"Benarkah? Apa aku mengganggu waktumu?" tanya Scarlet yang khawatir telah mengganggu Samuel.
"Tidak, pertemuanku baru saja selesai. Aku berpikir ingin menghubungimu saat berada di mobil tapi sepertinya kau sudah tidak tahan."
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Samuel. Apa kau tidak?"
"Tentu saja aku merindukanmu, Scarlet. Tapi kita berpisah belum lama."
"Tapi aku sudah sangat merindukanmu. Aku jadi tidak sabar minggu depan cepat datang," ucap Scarlet sambil menikmati kue blueberrynya.
"Selama menunggu, patuhlah pada ayahmu. Bukankah kau sedang belajar di perusahaannya? Lakukan dengan baik agar ayahmu tidak kecewa."
"Aku tahu, Sam. Hari ini aku melakukan banyak hal."
"Oh, yeah? Coba katakan padaku, apa yang kau lakukan hari ini?" Samuel sudah berada di dalam mobil sehingga dia bisa berbicara dengan nyaman dengan Scarlet karena dia tidak suka dengan udara yang ada di luar. Masker yang dia gunakan pun bisa dilepaskan sehingga dia bisa bernapas dengan mudah.
"Kau tahu? Hari ini aku mengenal seluruh karyawan yang ada di kantor Daddy tapi besok aku harus mengikuti Daddy ke kantor yang lainnya."
"Bagus, itu terdengar bagus."
"Tidak, itu tidak bagus karena Daddy ingin aku belajar bahasa Spanyol mulai sekarang," Scarlet terdengar tidak semangat karena dia tidak yakin bisa menguasai bahasa itu atau tidak.
"Apakah sulit?" tanya Samuel.
"Sudah tentu, bukan? Astaga, mendengarmu berbicara saja sudah membuat kepalaku sakit lalu bagaimana saat aku mengucapkannya? Aku jadi ingin kembali ke bangku sekolah,": ucap Scarlet tapi sekolahnya juga tidak terlalu tinggi. Semoga saja otaknya cukup bagus untuk mempelajari bahasa yang menurutnya sulit.
"Berusahalah, kau pasti bisa!" Samuel memberikan semangat agar Scarlet tidak putus asa.
__ADS_1
"Terima kasih, Sam," Scarlet tersenyum, dia seperti mendapatkan energy baru sehingga membuatnya bersemangat untuk menguasai bahasa asing yang memang harus segera dia kuasai.
Waktu lima belas menit yang ayahnya berikan ternyata tidaklah cukup karena rasa rindunya belum terobati. Scarlet sudah akan kembali tapi dia dan Samuel berjanji akan saling menghubungi lagi nanti malam agar mereka leluasa berbicara. Scarlet buru-buru kembali agar ayahnya tidak lama menunggu dan memang, ayahnya sudah menunggu dirinya dengan seorang pemuda tampan yang akan mengajari dirinya bahasa Spanyol.