
Scarlet termenung setelah berada di taman. Semua yang terjadi sungguh mendadak. Wanita yang terbaring sakit itu, apa benar ibunya? Dia memang penasaran, sangat penasaran dengan siapa dirinya tapi jika mendadak seperti ini tanpa adanya komando, dai justru bingung.
Tidak mungkin dia langsung bersorak lalu melompat girang setelah tahu siapa orangtuanya. Tidak mungkin pula dia menari-nari seperti orang gila setelah bertemu dengan mereka atau menangis menjerit-jerit bahagia. Scarlet sungguh tidak tahu harus bereaksi seperti apa sebab itu dia lari.
Samuel tidak bertanya, dia tahu Scarlet butuh waktu. Dia percaya Scarlet pasti akan kembali menemui pasangan suami istri yang diyakini sebagai orangtuanya. Mereka duduk di taman selama sepuluh menit sampai akhirnya Scarlet menghela napas karena dia sudah mengambil keputusan.
"Bagaimana, apa kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?" tanya Samuel.
"Aku tidak yakin, semua begitu mendadak dan aku bingung!"
"Untuk apa bingung? Sekarang kembali ke dalam dan dengarkan penjelasan mereka. Apa kau tidak mau mendengar kenapa mereka bisa kehilangan dirimu? Meski kau ingin menyangkal tapi kau tidak bisa menghilangkan tanda yang ada di punggungmu itu!"
Scarlet meraba punggungnya, dulu dia mengira jika itu adalah bekas luka bakar karena memang persis dengan luka bakar tapi ternyata, itu tanda lahir.
"Aku akan kembali!" ucap Scarlet seraya beranjak.
"Apa tidak mau mengajak aku?" Samuel memegangi tangan Scarlet. Sekarang dia jadi memikirkannya. Setelah bertemu dengan kedua orangtuanya, apa Scarlet akan meninggalkan dirinya? Dilihat bagaimanapun, mereka berasal dari tempat jauh.
"Tentu saja, aku butuh dirimu!" Scarlet mengulurkan tangannya pada Samuel. Dia tidak akan meninggalkan Samuel untuk saat ini tapi tidak tahu nanti apakah dia akan meninggalkan Samuel atau tidak.
Mereka kembali ke rumah sakit, di mana Alfredo dan Diana menunggu dengan perasaan cemas. Mereka sudah sangat takut Scarlet tidak kembali tapi ketika pintu ruangan dibuka oleh seseorang, mereka sangat senang karena Scarlet masuk ke dalam bersama dengan Samuel.
"Maaf, aku?" Scarlet kembali tampak canggung meski dia sudah memutuskan.
__ADS_1
"Kemarilah, kami ingin bicara denganmu. Mungkin kami terlalu terburu-buru sehingga kau takut jadi kemarilah," pinta Alfredo.
"Aku ingin berada di dekatnya, Alfred. Ambilkan kursi untuknya." pinta Diana seraya mengulurkan tangan ke arah Scarlet. Dia ingin kembali memegangi tangan Scarlet karena dia merasa harus melakukannya agar mereka memiliki ikatan batin sebagai ibu dan anak. Dua puluh lima tahun, dia takut dibenci dan tidak diterima.
Scarlet melangkah mendekat, dia kembali terlihat ragu. Scarlet bahkan berpaling ke belakang, dia seperti membutuhkan dukungan dari Samuel. Samuel mendorongnya sebagai tanda jika Scarlet tidak perlu ragu atau pun takut.
"Kemarilah, kalian berdua!" pinta Alfred yang sudah mengambil dua kursi untuk Scarlet dan Samuel.
"Maaf jika aku melarikan diri," ucap Scarlet seraya melangkah mendekat.
"Tidak apa-apa, kau pasti terkejut karena semuanya terjadi secara tiba-tiba jadi kemarilah," pinta Diana.
Scarlet kembali memegangi tangan Diana. Rasanya jadi aneh. Dia sungguh tidak mengerti tapi bagi Diana, sebuah perasaan bahagia memenuhi hatinya.
"Aku sungguh sudah menunggu ini cukup lama, aku sudah menunggu selama dua puluh lima tahun dalam hidupku dengan harapan dapat bertemu dengan putriku yang hilang dan sekarang, aku sangat yakin jika kau adalah putriku yang hilang!"
"Mau mendengar sedikit cerita?" tanya Alfred yang berdiri tidak jauh dari mereka. Scarlet mengangguk, dia kembali karena dia memang ingin tahu apa yang terjadi.
"Dengar, dua puluh lima tahun yang lalu kami pergi ke Brazil untuk menghadiri sebuah pesta. Kami membawa bayi perempuan kami yang masih berusia beberapa bulan tapi pada malam pesta, bayi kami justru menghilang bersama dengan pengasuh yang kami percaya. Semua sudah aku lakukan, aku sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak juga kami temukan. Segala upaya, uang, tenaga dan apa pun sudah kami korbankan tapi selama dua puluh lima tahun, apa pun yang kami lakukan tidak membuahkan hasil. Kami sudah hampir putus asa apalagi keadaan Diana sudah tidak memungkinkan dan dia tidak memiliki banyak waktu lagi namun kabar yang kami dapatkan jika ada anak bayi yang ditemukan di sebuah panti asuhan dua puluh lima tahun yang lalu memberi kami harapan. Nak, maukah kau memperlihatkan punggungmu pada kami? Aku sangat ingin tahu apakah kau putri yang selama ini kami cari atau bukan?!"
"Tolong perlihatkan pada kami. Jika kau memang bukan putri kami, itu berarti aku memang tidak diijinkan untuk bertemu lagi dengan putriku untuk seumur hidupku," ucap Diana.
Scarlet tampak ragu tapi dia iba. Jika benar dia adalah putri mereka, bukankah itu berarti dia masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan kedua orangtuanya?
__ADS_1
"Tolong perlihatkan padaku," pinta Diana lagi.
Scarlet sempat ragu tapi pada akhirnya dia memperlihatkan tanda seperti bekas luka bakar yang ada di punggungnya. Diana dan Alfredo terkejut, tidak salah lagi, Scarlet benar-benar putri mereka yang hilang.
"Estelle, aku adalah Estelle putriku yang hilang!" ucap Diana sedangkan Alfredo langsung menarik Scarlet dan dalam sekejap mata saja, Scarlet sudah berada di dalam pelukannya.
"Putriku, putriku!" Alfredo memeluk Scarlet dengan erat. Pria tua itu pun tak bisa menahan air mata bahkan Diana pun menangis karena mereka dapat menemukan putri mereka yang hilang selama dua puluh lima tahun. Scarlet diam saja, tapi air matanya mengalir tanpa dia inginkan. Perasaannya campur adik, dia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dari pelukan Alfred meski selama ini dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.
"Maafkan aku, maafkan aku yang tidak menjagamu. Aku sungguh sudah berusaha tapi aku tidak menyangka kau dibuang ke London. Tolong maafkan Daddy, Estelle," pinta ayahnya.
"Aku.. aku?" Scarlet tidak tahu harus mengatakan apa.
"Jangan mengatakan apa pun, kami yang salah. Kami yang salah, kami yang telah salah karena tidak bisa menjagamu dengan baik."
"Tidak, jangan menyalahkan diri. Aku tidak menyalahkan kalian," ucap Scarlet seraya memeluk ayahnya. Alfred sedikit terkejut namun pelukan yang diberikan oleh Scarlet membuat perasaan bahagia memenuhi hati sehingga pria tua itu kembali menangis.
"Aku ingin memeluknya, Alfred. Biarkan aku memeluknya!" pinta Diana.
"Pergilah, ibumu sangat merindukanmu," Alfred melepaskan putrinya meski dia enggan tapi dia tahu, istrinya yang paling merindukan putri mereka.
"Kemarilah, Estelle. Mommy ingin memelukmu jadi kemarilah!" pinta ibunya tidak sabar.
"Bisakah memanggil aku Scarlet saja?" pinta Scarlet seraya melangkah mendekati ibunya.
__ADS_1
"Mau kau Scarlet atau Estelle, kau tetaplah putri kecilku!" Diana segera memeluk putrinya saat Scarlet mendekat. Tangisannya pecah, perasaan bahagia memenuhi hati. Alfred menghapus air matanya yang mengalir, rasa bahagia pun memenuhi hatinya. Air mata Scarlet mengalir tanpa bisa dia tahan, dia sungguh tidak menduga akan bertemu dengan orangtua yang selama ini sangat dia rindukan. Ternyata dia bukan putri seorang ja*ang, dia hanya bayi karena sebuah kelalaian.
Diana tidak melepaskan putrinya, pelukannya semakin erat karena kerinduan yang dia pendam selama puluhan tahun dapat dia obati sebelum dia mati. Sekarang, jika Tuhan hendak mengambil nyawanya, dia sangat rela karena dia sudah bisa bertemu dengan putrinya. Air mata bahagia masih mengalir tapi setelah ini Scarlet harus membuat pilihan apakah dia akan mengikuti kedua orangtuanya kembali ke Spanyol ataukah dia akan tetap bersama dengan Samuel yang tidak mungkin melepaskan dirinya.