
Akhirnya mereka tiba di kota yang sangat diimpikan oleh Scarlet untuk didatangi. Scarlet yang baru pertama kali naik pesawat pribadi tak melewatkan momen itu sama sekali bahkan bisa dikatakan ini kali pertama dia menaiki pesawat karena ini memang kali pertama dia pergi jalan-jalan. Tadinya dia mengira mereka akan naik pesawat biasa tapi ketika melihat pesawat pribadi milik Samuel, dia tidak bisa berkata apa-apa. Seperti yang dia duga, kekuasaan yang pria itu memang tidak boleh dia remehkan.
Scarlet sedang duduk di dekat jendela, menikmati pemandangan kota indah di bawah sana. Menara Eiffel juga terlihat dari atas, rasanya sudah tidak sabar. Samuel tidak mengganggu dirinya, dia justru memanfaatkan waktu yang ada untuk tidur.
Scarlet sangat bersemangat ketika melihat menara Eiffel di mana dia memiliki impian untuk makan malam romantis dia sana. Scarlet melihat menara yang tampak jauh itu lalu melihat ke arah Semuel yang seperti sedang tidur karena kedua matanya sedang terpejam. Scarlet melihat menara Eiffel lagi, lalu kembali melihat ke arah Samuel.
"Samuel," Scarlet memanggil sambil menggoyang lengan Samuel.
"Ada apa, sebentar lagi sudah mau mendarat," ucap Samuel tanpa membuka kedua matanya.
"Bukan itu, ada yang hendak aku katakan."
"Katakan saja, tidak perlu ragu!"
"A-Aku ada pemintaan," rasanya jadi tidak enak hati karena banyak permintaan yang dia inginkan beberapa hari belakangan.
"Permintaan apa?" Samuel membuka kedua matanya dan melihat ke arahnya. Scarlet menunduk, dia jadi semakin tidak enak hati.
"Kenapa diam, katakan saja!" ucap Samuel.
"Aku jadi tidak enak hati."
"Kemari!" perintah Samuel sambil menepuk kedua pahanya.
"Sudah mau mendarat, bukankah tidak boleh pindah?"
"Kata siapa? Kemari!" perintah Samuel lagi.
Scarlet beranjak. lalu duduk di atas pangkuan Samuel. Tangannya di tarik secara tiba-tiba sehingga membuatnya terkejut namun dia sudah berbaring di atas tubuh Samuel.
__ADS_1
"Katakan saja, tidak perlu sungkan," ucap Samuel seraya mengusap kepala Scarlet dengan perlahan.
"Aku jadi tidak enak hati karena banyak permintaan yang aku inginkan akhir-akhir ini."
"Tidak apa-apa, katakan saja. Aku tidak keberatan."
"Apa kau tidak akan marah? Maksudku, biasanya laki-laki akan muak saat wanita mengutarakan banyak keinginan padanya. Apa kau tidak akan muak?"
"Muak, apa itu? Untuk memenuhi keinginan wanita yang aku inginkan untuk apa aku muak? Katakan saja, tidak perlu sungkan dan memikirkan banyak hal."
"Baiklah, sesungguhnya aku tidak enak hati padamu!"
"Tidak perlu tidak enak hati, Scarlet. Asalkan kau mau memberikan hatimu padaku, aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan!" ucap Samuel seraya mengusap wajah Scarlet dengan perlahan.
"Laki-laki akan berkata manis untuk sesuatu yang dia inginkan tapi setelah didapatkan, kata manis itu sudah tidak akan ada lagi!"
"Aku sudah pernah dikhianati jadi aku boleh waspada, bukan?"
"Aku tidak akan melarang tapi aku harap kau tidak menaruh curiga pada setiap perbuatanku jika tidak aku akan bosan. Walau kau satu-satunya wanita yang bisa bersentuhan denganku, bukan berarti aku akan mengemis padamu karena aku juga memiliki perasaan. Aku harap kau bisa melihat jika aku benar-benar tulus dan tidak menganggap setiap apa yang aku lakukan memiliki maksud. Kau mengerti apa yang aku katakan, bukan? Aku memang membelimu karena kau satu-satunya wanita yang bisa bersentuhan denganku tapi sekarang aku menginginkan kau menjadi kekasihku yang sesungguhnya jadi bukalah hatimu untukku."
Scarlet tidak menjawab namun dia berbaring dengan nyaman di atas tubuh Samuel. Tangan Samuel yang tak henti mengusap rambutnya justru membuatnya enggan beranjak.
"Kenapa jadi diam? Apa tidak mau mengatakan apa yang kau inginkan padaku?"
"Bukan sesuatu yang penting," kali ini Scarlet beranjak dan kembali ke tempat duduknya.
"Aku tidak suka dibuat penasaran, Scarlet."
"Kau lihat menara itu?" Scarlet menunjuk keluar di mana menara Eiffel terlihat dengan jelas.
__ADS_1
"Kenapa? Jadi kau ingin pergi ke sana?"
"Aku ingin kau membawa aku makan malam romantis di menara itu. Aku akan membayarmu nanti jika mahal tapi bawa aku ke sana. Mungkin aku tidak akan datang lagi ke tempat ini jadi bawa aku ke sana!" pinta Scarlet.
"Bodoh, kau tidak perlu membayar dan kau tidak perlu khawatir. Jika kau sudah menjadi milikku, aku akan membawamu ke mana pun kau mau dan kau tidak perlu membayar!"
"Terima kasih!" Scarlet tersenyum lalu bersandar di lengan Samuel. Tatapan matanya masih memandang keluar jendela, pikirannya pun berkelana. Samuel kembali memainkan rambut Scarlet dan menciumnya sesekali. Hanya pada wanita itu saja dia bisa melakukan hal itu sedangkan yang lainnya tidak tapi bukan berarti dia akan mengemis. Lagi pula waktu dua tahun masih lama, masih banyak yang bisa mereka lakukan untuk menumbuhkan perasaan. Semua dimulai dari Paris tapi sayangnya mereka akan mendapatkan masalah baru nantinya.
Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat, Scarlet sudah sangat tidak sabar. Samuel menggandeng Scarlet saat turun dari pesawat. Seperti biasa, dia selalu menggunakan sarung tangan agar tidak menyentuh barang-barng kotor yang tidak dia sukai. Setelah pesawat mereka mendarat tidak lama, pesawat komersial lain pun mendarat di mana orang yang diutus untuk mengikuti mereka juga tiba.
Scarlet yang tidak tahu apa pun tempat itu hanya ikut saja, dia tampak sangat senang ketika Samuel membawanya ke sebuah hotel mewah yang akan mereka tempati. Orang yang mengikuti mereka juga tiba di hotel itu tapi dia tidak masuk atau menyewa kamar di sana. Orang itu justru menghubungi seseorang sebelum mengambil keputusan tentu saja yang mereka hubungi adalah pasangan suami istri Alfredo Bartolo yang juga akan datang ke Paris untuk memastikan apakah Scarlet benar-benar putri mereka yang hilang atau bukan.
Scarlet melompat ke atas ranjang setelah berada di kamar yang sangat luas. Dari kamar itu mereka bisa melihat gemerlap kota dan indahnya menara Eiffel. Scarlet sangat senang, benar-benar senang. Dia merasa ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya setelah semua yang telah dia lalui. Scarlet turun dari atas ranjang lalu berlari ke arah Samuel yang sedang berdiri di depan jendela. Scarlet bahkan melompat ke atas punggung Samuel, dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Apa kau senang?" tanya Samuel.
"Tentu saja, terima kasih. Jika bukan karena kau, aku tidak akan bisa datang ke kota impian yang paling ingin aku datangi."
"Tidak perlu berlebihan, ayo kita pergi makan siang!" ajak Samuel.
"Jangan lama-lama, aku ingin berada di hotel karena aku ingin menikmati fasilitas yang ada di hotel ini."
"Tidak akan jauh, kita makan di restoran di bawah."
"Ayo kita pergi!" Scarlet melompat turun dari atas punggung Samuel lalu menarik tangan pria itu menuju pintu.
"Cepat!" ucapnya karena dia sudah tidak sabar.
Samuel tersenyum, dia senang melihat Scarlet begitu bersemangat. Semoga saja Scarlet segera memiliki perasaan padanya karena dia sudah menantikan hal itu agar mereka memiliki hubungan yang serius, tidak lagi terikat kontrak.
__ADS_1