
Meski keadaan Diana tidak memungkinkan tapi itu tidak menyurutkan niat mereka untuk datang ke Paris. Begitu tiba, Diana harus segera dilarikan ke rumah sakit karena keadaannya yang tidak memungkinkan. Alfred pun harus menjaga istrinya di rumah sakit, keadaan istrinya pun tidak memungkinkan membuat mereka tidak bisa langsung menemui Scarlet.
Diana harus mendapatkan beberapa perawatan. Kondisinya semakin lemah akibat perjalanan yang cukup jauh. Sesungguhnya dia tidak diijinkan untuk bepergian tapi dengan alasan hendak berobat, mereka baru bisa mendapatkan ijin untuk bepergian.
Melihat keadaan istrinya membuat Alfred semakin cemas. Seharusnya Diana tidak perlu ikut karena dia akan membawa anak itu pulang. Meski anak itu menolak, dia akan tetap memohon sampai anak itu mau ikut dengannya tapi meninggalkan istrinya juga bukan pilihan tepat.
"Bagaimana dengan keadaanmu?" Alfred menggenggam tangan istrinya yang begitu kurus. Semenjak putri mereka menghilang, Diana lebih sering murung. Dia tidak mau keluar rumah karena dia tidak mau bertemu dengan anak-anak yang bisa membuatnya sedih. Semenjak itu pula, kesehatannya semakin memburuk hingga mereka tahu, Diana mengidap kanker.
Segala upaya lagi-lagi mereka lakukan untuk mengobati penyakit Diana di tengah usaha mereka mencari keberadaan bayi mereka. Sempat sembuh satu kali tapi kanker itu kembali lagi bahkan lebih ganas dari pada sebelumnya. Diana harus berjuang melawan penyakitnya namun mereka tak berhenti mencari keberadaan putri mereka.
"Aku baik-baik saja, Alfred. Sekarang, antar aku menemui anak itu," pintanya.
"Tidak, keadaanmu sedang tidak memungkinkan jadi kau harus beristirahat!" tolak Alfred.
"Aku sudah tidak sabar, Alfred. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya jadi bawa aku pergi untuk menemuinya sekarang juga."
"Diana, kau butuh istirahat. Setelah keadaanmu lebih membaik, kita akan pergi menemuinya. Aku berjanji akan membawanya kepadamu tapi yang harus kau lakukan saat ini adalah istirahat."
"Aku sudah tidak sabar," ucap Diana.
"Aku pun sudah tidak sabar," Alfredo mengangkat tangan istrinya dan memberikan kecupan di atas punggung tangannya, "Tapi kesehatanmu lebih penting. Tolong jangan tinggalkan aku sendirian sebelum aku menemukan putri kita," pintanya.
"Biaklah," senyuman terukir di wajah Diana yang layu, "Maaf jika aku egois dan mementingkan diri sendiri," ucapnya.
"Jangan minta maaf, Sayang. Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Aku juga sudah tidak sabar tapi ini sudah malam. Aku juga mendengar jika anak itu sedang menikmati waktunya dengan kekasihnya. Tidak mungkin kita mengganggu waktu mereka, bukan? Bukannya diterima, kita akan dibenci olehnya nanti jadi kita tidak boleh terburu-buru. Aku akan membuat siasat agar kita bisa bertemu dengannya besok!"
"Baiklah, yang kau katakan sangat benar. Sekarang aku jadi membayangkan wajahnya, dia mirip denganmu atau mirip denganku?"
__ADS_1
"Apa kau ingin melihatnya?" tanya Alfred.
"Apa bisa?" Diana terlihat bersemangat, dia jadi ingin melihat rupa anak yang mereka duga sebagai putri mereka.
"Tunggulah sebentar!" Alfred beranjak lalu memberikan kecupan di dahi istrinya. Alfred melangkah pergi, untuk menghubungi mata-mata yang dia utus untuk mengikuti Samuel dan Scarlet. Dia ingin memberi perintah agar mata-mata itu mengambil foto Scarlet agar dapat dia tunjukkan pada istrinya.
Tidak perlu menunggu lama, apa yang dia inginkan dia dapatkan. Diana sangat senang melihat foto wanita cantik menggunakan gaun biru yang baru saja turun dari mobil karena saat itu, Scarlet dan Samuel akan makan malam di menara Eiffel.
Sebuah perasaan aneh mengalir di hati Diana, air matanya mengalir dengan perasaan yang menyesakkan dada. Dia sangat yakin jika wanita itu adalah putrinya. Dua puluh tahun lebih telah berlalu semenjak dia kehilangan putrinya, ini kali pertama dia merasakan sebuah kerinduan yang sangat besar saat melihat foto Scarlet.
Mata-mata yang dia kirimkan masih mengambil gambar, tentu saja aksinya diketahui oleh Samuel. Dia memang sudah curiga jika ada yang mengikuti mereka sampai ke Paris. Rasanya ingin menangkap orang itu tapi dia tidak mau Scarlet tahu karena Scarlet akan merasa tidak nyaman dan hal itu bisa merusak malam romantis mereka berdua apalagi dia sudah mengeluarkan banyak uang agar bisa makan malam di menara Eiffel. Tempat itu disewa secara exclusive jadi dia tidak mau merusak semuanya apalagi dia merasa jika orang yang mengikuti mereka ke Paris tidaklah berbahaya. Dia justru menebak, orang yang mengikutinya saat ini berhubungan dengan masa lalu Scarlet. Jika begitu, besok dia tidak akan tinggal diam.
"Samuel, cepat agar kita mendapat tempat yang bagus!" Scarlet menarik tangannya karena tidak sabar.
"Tidak perlu khawatir, tempat ini sudah aku sewa secara exclusive untuk kita berdua malam ini."
"Apa?" langkah Scarlet terhenti akibat terkejut. Menyewa seluruh tempat itu? Pasti harganya tidak main-main. Untuk orang yang memiliki dompet tipis seperti dirinya, lebih baik dia tidak bertanya karena dia takut pingsan.
"Jadi hanya akan ada kita berdua saja?" tanyanya.
"Tidak. Ada pelayan, koki dan penjaga nantinya."
"Hei, aku serius. Apa hanya kita yang menjadi tamu malam ini?" Scarlet melingkarkan tangannya ke lengan Samuel, sungguh malam yang tidak akan dia lupakan.
"Memang hanya ada kita berdua, aku ingin kau senang."
"Terima kasih, Sam," Scarlet tersenyum, dia benar-benar tampak bahagia.
__ADS_1
"Ini malammu, Scarlet. Jadi nikmatilah, aku akan memanjakan dirimu malam ini!"
Senyuman Scarlet semakin lebar, dia diperlakukan seperti seorang putri malam ini. Sebuah meja di dekat jendela sudah tersedia, mereka dapat menikmati makanan sambil memandangi indahnya kota Paris. Sebotol anggur kualitas terbaik sudah berada di atas meja, Scarlet memesan makanan yang tak pernah dia makan sama sekali. Meski dia miskin tapi dia tahu tata cara saat makan. Semua itu dia pelajari saat bekerja di restoran.
Samuel bahkan sudah menyiapkan kejutan untuknya. Saat mereka sedang makan, tiga orang pria menghampiri mereka dan memainkan alat musik merdu untuk mereka. Scarlet sangat terkejut, dia sungguh tidak menduga Samuel sudah menyiapkan hal itu untuknya.
"Apa kau menyukainya, Scarlet?" tanya Samuel sebelum meneguk anggurnya.
"Kapan kau menyiapkan semua ini?"
"Kau bilang ingin makan malam romantis, maka kau akan mendapatkannya!"
"Tapi kau seperti akan melamar aku saja," ucap Scarlet tanpa maksud apa pun.
"Apa kau mau aku lamar? Jika mau maka aku akan melamarmu saat ini juga meski tidak ada cincin."
"Tidak, jangan mengatakan hal itu dengan mudah. Pernikahan bukan sebuah mainan!" ucap Scarlet.
"Baiklah, sekarang habiskan makananmu. Kita akan melakukan hal menyenangkan yang lainnya."
"Hal menyenangkan lainnya? Apa itu?" Scarlet tampak antusias.
Anggur diteguk sampai habis. Serbet yang dipakai untuk mengelap mulut pun diletakkan. Samuel beranjak dari tempat duduknya, lalu pria itu berdiri si sisi Scarlet dan sedikit membungkuk sambil mengulurkan tangan.
"Mau berdansa padaku?"
"Aku tidak pandai," ucap Scarlet dengan wajah tersipu.
__ADS_1
"Aku ajari!" Dengan perasaan canggung, Scarlet meletakkan tangannya ke atas tangan Samuel. Tiga orang pria tadi kembali memainkan musik merdu yang berbeda untuk mengiri dansa mereka yang dimulai dengan penuh kecanggungan karena Scarlet tidak bisa tapi lambat laun, dia mulai pandai mengikuti gerakan Samuel. Gerakan yang dilakukan dengan anggun mendadak menjadi gerakan yang menyenangkan. Musik yang tadinya merdu pun menjadi musik yang ramai.
Scarlet berjoget sambil tertawa, dia pun menarik Samuel serta. Dia benar-benar menikmati malamnya, malam romantis mereka berdua sedangkan Darien yang menjualnya karena uang, pusing tujuh keliling karena perusahaan ayahnya mengalami masalah.