
Sebelum Samuel kembali ke London, Alfredo mengundangnya untuk makan malam dan meminta putrinya untuk mengajak Samuel pulang. Dua hari yang mereka lewati benar-benar sangat singkat. Rasanya tidak cukup dan memang tidak pernah cukup. Sewaktu mereka bersama, perasaan itu tidak pernah ada karena Scarlet selalu ingin lepas dari Samuel tapi kini, setelah mereka saling mencintai, Scarlet justru tidak mau mereka berpisah.
Malam ini, Samuel akan pergi. Dia melarang Scarlet untuk mengantar karena dia akan kembali ke London pukul sebelas malam. Perasaan sedih sudah Scarlet rasakan sejak pagi. Ekspresi wajah sedihnya pun tak bisa dia tutupi. Rasanya ingin ikut Samuel kembali ke London tapi dia harus memikirkan keadaan ibunya.
Scarlet tidak bersemangat untuk melakukan apa pun. Untuk bicara saja dia malas apalagi makan. Meski Samuel sudah membujuk, tapi perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan. Samuel sedang berbicara dengan seseorang saat itu, dia benar-benar harus kembali karena para rekan bisnis sudah mencarinya. Sebagai seorang pengusaha, dia tidak boleh membuat mereka marah. Sejak pagi, Samuel begitu sibuk menjawab telepon dan Scarlet tahu itu. Dia tidak mau bersikap egois tapi dia juga tidak mau berpisah.
Samuel yang sudah selesai mendekati Scarlet yang berbaring di atas ranjang dan terlihat tidak bersemangat. Samuel naik ke atas ranjang lalu berbaring di sisinya.
"Masih saja seperti ini," Samuel mengusap wajah Scarlet dengan perlahan namun Scarlet justru semakin sedih dan masuk ke dalam pelukannya.
"Aku mau ikut denganmu, Sam," ucap Scarlet. Dia merasa tidak akan sanggup menjalin hubungan jarak jauh dengan Samuel.
"Hei, jangan seperti ini. Kita sudah sepakat, bukan?" Samuel mengusap kepalanya, dia harap Scarlet bisa menerimanya dan tidak terlalu sedih dengan perpisahan mereka.
"Tapi aku merasa tidak akan sanggup berhubungan jarak jauh denganmu," air mata hampir tumpah tapi dia harus menahannya.
"Kita pasti bisa, Scarlet. Kita tidak boleh memikirkan diri kita sendiri. Jika kau ikut denganku, kita dapat selalu bersama tapi bagaimana dengan ibumu? Kau tahu dia tidak mau berpisah denganmu. Kau baru dua hari bersama denganku di sini tapi ibumu sudah mencarimu tiada henti. Jika kau ikut aku kembali ke London, bagaimana dengan ibumu? Aku rasa kau tahu apa yang akan terjadi dengannya."
"Aku tahu, Sam. Aku tahu jika aku tidak boleh egois karena ibu dan ayahku membutuhkan aku."
"Sebab itu kau harus berbakti pada mereka sebagai putri mereka. Kau tahu penyakit ibumu dan dia sudah tidak memiliki waktu yang banyak lagi, Dia sudah kehilangan dirimu selama dua puluh lima tahun jadi wajar jika dia ingin selalu bersama denganmu. Selagi diberikan kesempatan, jangan kau sia-siakan karena saat kau sadar, semua sudah terlambat karena ibumu sudah pergi jadi manfaatkan waktu yang ada. Kita berdua masih memiliki banyak waktu, kita masih bisa mengukir kenangan kita berdua nanti tapi sebelum itu, kau harus memberikan kenangan indah untuk ibumu."
"Baiklah, tapi hari ini aku tidak akan melepaskan dirimu dan aku akan memelukmu sampai sore!"
"Apa? Apa kita tidak perlu makan? Ke kamar mandi?'
"Aku akan menempel di pundakmu seperti hantu!" Scarlet semakin mengencangkan pelukannya, dia benar-benar tidak mau lepas.
"Dari pada seperti ini, bagaimana jika kita melakukan hal yang menyenangkan. Kita harus ke rumahmu nanti, aku belum membereskan barang-barangku dan kita belum makan siang. Bagaimana jika bantu aku membereskan barang-barangku lalu kita pergi ke tempat yang bagus sebelum kita makan malam bersama kedua orang tuamu."
"Tidak mau, aku ingin kita seperti ini!" tolak Scarlet.
"Baiklah tapi sebentar saja, oke?"
Scarlet diam namun tak juga melepaskan Samuel. Tak ada yang mau berpisah dengan orang yang dicintai dan dia pun tidak mau. Tangan Samuel mengusap kepalanya dengan perlahan, kecupannya pun mendarat di dahi Scarlet. Untuk saat ini dia akan membiarkan Scarlet seperti itu sampai Scarlet bisa menerima perpisahan mereka.
Sesungguhnya dia juga tidak mau, tapi apalah daya. Mereka tidak boleh egois dan dia harap Scarlet memikirkannya sehingga tidak sedih lagi.
"Setelah kau kembali, awas jika kau selingkuh dengan sahabatmu itu!" ucap Scarlet.
__ADS_1
"Mana mungkin aku selingkuh. Lagi pula aku dengar dia sudah pergi. Kau pun tahu aku tidak bisa dekat dengan siapa pun selain dirimu!"
"Kau harus menghubungi aku setiap hari. Pagi, siang dan malam. Jika tidak, aku tidak mau berbicara denganmu selama satu minggu!"
"Apa ada lagi?"
"Video call, jika tidak maka tidak sama sekali!"
"Hanya itu?" dia sudah pasti akan menurutinya agar Scarlet senang.
"Setiap hari kau harus mengucapkan kata cinta untukku. Jangan lupa memberi tahu aku jika kau mau pergi!"
"Semua itu akan aku lakukan untukmu," Samuel mengangkat dagu Scarlet lalu memberikan kecupan di bibirnya, "I Love you!" kata-kata itu membuat Scarlet tersenyum.
"Apa masih kurang, Honey?"
"Kau?" wajah Scarlet memerah mendapat panggilan yang begitu manis.
"Kenapa? Tidak suka dengan panggilannya?"
"Sebal. Kau paling pandai mengambil hatiku!" ucap Scarlet sambil memukul dada Samuel.
"Bagus, ternyata kau mudah dibujuk!"
"Apa? Jadi tadi kau hanya membujuk aku saja?"
"Sudah pasti, bukan? Sekarang aku harus merapikan barang-barangku terlebih dahulu!"
"Samuel, kau menyebalkan!" Scarlet memukul dada Samuel dan juga menggigit bahu Samuel. Mereka jadi bercanda di atas ranjang padahal Samuel sudah harus membereskan barang-barangnya meski begitu, Scarlet yang tadinya sedih dan murung sudah tidak begitu sedih lagi.
Scarlet membantu Samuel merapikan barang-barangnya. Memang tidak banyak tapi dia tetap membantu sampai selesai. Mereka tidak langsung pergi, mereka menghabiskan waktu berdua di dalam kamar dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan sampai akhirnya mereka pergi untuk makan malam bersama dengan kedua orang tua Scarlet.
Samuel disambut dengan baik oleh kedua orang tua Scarlet. Ibu Scarlet sangat senang karena putrinya sudah kembali. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya karena selama dua hari dia selalu mencari keberadaan Scarlet dan menanyakan dirinya. Scarlet tahu itu dan dia pun sadar jika dia sangat dibutuhkan oleh ibunya.
"Apa keluargamu ada di London, Samuel?" tanya ayah Scarlet yang ingin tahu siapa kedua orang tua Samuel.
"Tidak, mereka ada di Australia."
"Oh, siapa nama ayah dan ibumu?"
__ADS_1
"Dad, kenapa bertanya seperti itu?" tanya Scarlet.
"Daddy hanya ingin tahu saja, apa tidak boleh?"
"Bukan begitu, aku rasa tidak sopan."
"Apanya yang tidak sopan? Daddy bertanya baik-baik."
"Ayahmu benar, Scarlet. Ayahku Abraham Archiles dan ibuku Silvia Smith. Mereka tinggal di Australia."
"Oh," Alfredo mengangguk, kenapa dia merasa tidak asing dengan salah satu nama orang tua Samuel?
"Aku akan memperkenalkan mereka nanti pada kalian," ucap Samuel.
"Aku menunggunya!" ucap ayah Scarlet.
"Daddy membuat aku terkejut saja!" ucap Scarlet.
"Kenapa? Tidak mungkin aku yang pergi untuk melamar Samuel untukmu, bukan?"
"Daddy mau melakukannya?"
"No!" ucap ayah dan ibunya dengan cepat. Scarlet terkekeh, dia hanya bercanda.
Makan malam mereka berjalan dengan baik, mereka berbicara dengan akrab tapi setelah tiba saatnya Samuel pergi. Scarlet tak bisa menahan air matanya. Dia kembali melakukannya, tidak mau melepaskan Samuel dan memeluknya dengan erat.
"Ayolah, kita sudah sepakat!" ucap Samuel tapi Scarlet menggeleng.
"Aku tidak mau berpisah!" ucap Scarlet.
"Minggu depan aku kembali lagi. Tidak perlu sedih. Lihat ibumu, dia pasti sedih melihatmu seperti ini."
Scarlet masih tidak mau melepaskan Samuel tapi tidak lama kemudian, mau tidak mau dia harus melepaskannya karena dia khawatir dengan keadaan ibunya.
"Jangan lupa kabari aku setelah tiba," ucapnya.
"Pasti, sekarang masuklah. Jangan membuat ibumu sedih."
Scarlet mengangguk, dia kembali memeluk Samuel sebelum pria itu pergi. Air mata tak tertahankan saat Samuel benar-benar pergi, kembali ke London. Setelah Samuel pergi, Scarlet buru-buru masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi harus berpisah dan dia benci itu.
__ADS_1