
Waktu makan siang sudah tiba. Samuel membawa Scarlet pergi makan siang terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit untuk menemui orang yang ingin bertemu dengan Scarlet. Selama makan, Scarlet justru tampak gelisah. Bagaimana jika yang dia temui benar-benar kedua orangtuanya atau salah satu anggota keluarganya? Entah kenapa dia berharap demikian agar dia tahu akan masa lalunya tapi sejujurnya dia takut dan belum siap.
Scarlet bahkan tidak begitu berselera makan. Rasa penasaran lebih tinggi dari pada rasa lapar yang dia rasakan,. Rasanya sudah sangat ingin mengajak Samuel pergi tapi ada sebuah perasaan takut dia rasakan. Bagaimana jika dia benar-benar anak seorang ja*ang tapi jika memang demikian, kenapa dia dicari?
"Kenapa tidak makan? Apa tidak enak?" tanya Samuel.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya sedang tidak berselera makan. Bagaimana jika kita pergi saja? Aku sungguh sudah tidak sabar," ajak Scarlet.
"Tidak, habiskan semua makanan itu barulah kita pergi!"
"Aku benar-benar sedang tidak berselera, Sam. Kita pergi saja ke rumah sakit."
"Dengarkan aku, aku tahu kau gelisah dan sudah tidak sabar tapi kau tidak makan apa pun dari pagi dan itu tidak baik untuk lambungmu. Jangan sampai kau sakit hanya karena kau sabar."
"Tapi aku?"
"Makan, jika tidak maka kita tidak akan pergi ke mana pun!"
Scarlet menghela napas, dia benar-benar tidak lapar atau apa pun karena pikirannya sudah ke mana-mana. Antara penasaran dan ingin tahu serta gelisah, dia benar-benar merasakan perasaan yang tidak menentu. Meski dia enggan karena tidak berselera sama sekali tapi pada akhirnya Scarlet menikmati makanan yang ada.
Alfredo dan Diana sudah menunggu dengan tidak sabar. Diana bahkan meminta bantuan suaminya untuk menggantikan pakaiannya dengan yang lebih bagus karena dia ingin terlihat rapi ketika bertemu dengan Scarlet, yang dia duga sebagai putri mereka yang hilang.
Mereka menunggu cukup lama dalam perasaan cemas dan rasa gugup. Pikiran-pikiran tak menyenangkan pun semakin membuat mereka gelisah. Diana hanya takut, takut mereka tak dimaafkan dan tidak diterima namun dia tetap berharap jika pencarian mereka selama ini membuahkan hasil.
Samuel dan Scarlet sudah datang ke rumah sakit, mereka disambut oleh seorang pria dan orang itu adalah orang yang Samuel temui. Mereka pun diantar menuju sebuah ruangan di mana Diana menjalani perawatan. Scarlet semakin gugup, langkahnya terasa berat karena dia takut apalagi mereka sudah berdiri di depan ruangan.
"Tidak perlu ragu!" ucap Samuel yang sedang menggandeng tangannya. Dia tahu jika Scarlet sedang gugup dan dia rasa semua orang yang berada di posisi Scarlet pasti akan menunjukkan reaksi yang sama.
"Aku takut!" ucap Scarlet.
"Apa yang kau takutkan? Ada aku jadi tidak perlu takut."
Scarlet hanya mengangguk, jantungnya berdegup kencang ketika pintu ruangan dibuka dan mereka dipersilahkan untuk masuk.
"Tuan, mereka sudah datang,." ucap orang yang mengantar mereka dalam bahasa Spanyol.
__ADS_1
"Terima kasih," Alfred melihat tamu yang dia tunggu begitu juga dengan Diana. Tatapannya tak lepas dari Scarlet yang berdiri di belakang Samuel.
"Nak, kemarilah. Bolehkah kami melihatmu lebih dekat?" pinta Alfredo.
"Aku?" tanya Scarlet yang sudah sangat gugup begitu masuk ke dalam ruangan.
"Yah, kemarilah. Aku ingin melihatmu lebih dekat!" pinta Alfredo.
Scarlet melangkah mendekat meski ragu dan canggung. Diana sudah sangat tidak sabar oleh sebab itu Diana meminta Scarlet mendekat sambil mengulurkan tangannya. Scarlet menoleh ke arah Samuel, dia seperti membutuhkan dukungan saja.
"Kemarilah, kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya ingin bicara saja," pinta Diana.
"Maaf, Nyonya," Scarlet justru semakin canggung.
"Tolong pegang tanganku!" pinta Diana.
"Aku?" Scarlet tampak ragu.
"Please, pegangan tanganku!" pinta Diana yang masih berusaha mengulurkan tangan ke arah Scarlet.
Scarlet melangkah mendekat lalu memegangi tangan Diana. Perasaan aneh mengalir dari dalam hati, air mata Diana bahkan menetes tanpa dia inginkan.
"Siapa namamu dan berapa usiamu?"
"Aku Scarlet, 25 tahun."
"Persis, sama persis!" ucap Diana.
"Maksud Nyonya?"
"Dengar Nak, 25 tahun yang lalu kami kehilangan putri kami sewaktu kami berkunjung ke Brazil," ucap Alfredo.
"Apa? Lalu apa hubungannya denganku?"
"Tentu ada, tentu saja ada. Kemungkinan kau adalah bayi kami yang hilang!" ucap Diana.
__ADS_1
"Tidak mungkin, apa kalian punya bukti?" Scarlet melepaskan tangan Diana dan melangkah mundur. Bagaimana mungkin? Dia yakin tidak ada kebetulan yang seperti itu.
"Tentu saja kami punya buktinya. Meski putri kami menghilang saat bayi tapi kami tahu putri kami memiliki sebuah tanda lahir di punggungnya. Jika kau benar-benar putri kami, kau pasti ada tanda seperti itu, bukan?" tanya Alfredo.
Scarlet diam, dia justru melangkah mundur. Apa benar kedua orang itu adalah kedua orangtuanya? Semuanya cukup mendadak, dia masih bingung dan sulit untuk mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini.
"Tolong perlihatkan, apakah kau memiliki tanda itu?" pinta Diana.
"Aku tidak tahu!" Scarlet berlari keluar secara tiba-tiba karena dia bingung dengan situasi itu.
"Tolong jangan lari, jangan pergi!" pinta Diana yang berusaha untuk mencegah tapi dia tidak mampu bahkan tubuhnya yang lemah kembali terjatuh di atas ranjang.
"Tunggu!" pinta Alfredo tapi dia bingung antara mau mengejar Scarlet atau mau menenangkan istrinya yang berteriak meminta Scarlet untuk tidak pergi.
"Aku akan membawanya kembali!" ucap Samuel yang sedari tadi hanya menonton.
"Tolong aku harus menjaga istriku!" pinta Alfredo. Samuel pun berari keluar untuk mengejar Scarlet yang mendadak melarikan diri.
"Jangan pergi, aku belum selesai bicara!" teriak Diana sambil menangis.
"Jangan memaksakan diri. Ini pasti mendadak dan aku rasa dia hanya terkejut saja!"
"Kejar dia Alfred, cepat!" pinta Diana.
"Anak muda itu akan membantu kita."
"Kenapa dia melarikan diri. Alfred. Apa dia tidak mau memaafkan kita?"
"Aku rasa dia hanya terkejut saja."
"Bagaimana jika dia tidak mempercayai kita lalu menyalahkan kita, Alfred. Bagaimana jika dia membenci kita!" inilah yang dia takutkan, selama dua puluh lima tahu mereka sudah mencari tapi hasilnya nihil tapi baru sekarang mereka dapat menemukan anak mereka yang hilang. Jika Scarlet adalah putri mereka dia pasti menyalahkan mereka yang tidak mampu, sebab itulah Scarlet melarikan diri.
"Tidak begitu, dia pasti hanya terkejut karena mendadak. Aku rasa dia akan kembali lagi nanti jadi beristirahatlah."
Diana hanya bisa menangis, dia harap Scarlet mau kembali karena dia belum selesai apalagi mereka belum memastikan apakah Scarlet benar-benar putri mereka atau bukan tapi jika dilihat dari reaksinya, sepertinya Scarlet bener-benar putri mereka.
__ADS_1
Samuel mengejar Scarlet yang sudah berlari keluar dari rumah sakit dan duduk termenung di taman yang ada di dekat rumah sakit. Apa ini? Dia tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan kedua orangtuanya. Sungguh dia tidak pernah membayangkannya dan dia belum siap sama sekali.
Samuel menghampirinya, lalu duduk di sisinya. Dia tahu Scarlet pasti terkejut dan butuh waktu karena Scarlet lebih memilih menyendiri di taman dekat rumah sakit itu dari pada langsung kembali ke hotel padahal jika dia tidak terima, dia bisa melakukannya.