
Diana menangis karena dia tidak rela Scarlet pergi meninggalkan mereka padahal dia sangat senang Scarlet sudah kembali dan bersama dengan mereka setelah sekian lama. Masih banyak yang belum mereka lakukan, dia bahkan merasa kebersamaan mereka belum cukup tapi kenapa Scarlet mau pergi?
Kesedihan yang ditunjukkan oleh ibunya membuat Scarlet jadi merasa bersalah. Keadaan ibunya pun mendadak memburuk dan hal itu membuat ayahnya panik. Alfredo langsung memanggil dokter pribadi untuk merawat istrinya. Scarlet semakin merasa bersalah, tidak seharusnya dia membuat keadaan ibunya semakin memburuk.
Scarlet menjadi penonton dan berdiri cukup juah untuk menyaksikan dokter yang menangani ibunya serta ayahnya yang sedang menenangkan ibunya. Kedua tangan Scarlet gemetar, bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibunya? Dia sangat takut, benar-benar sangat takut. Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada ibunya seperti yang dia khawatirkan.
Dokter bekerja dengan cepat, obat disuntikkan sehingga Diana bisa tenang. Sepertinya mereka bisa merasa lega sedikit tapi Scarlet masih terlihat sangat takut.
"Scarlet, kemarilah!" pinta ayahnya yang sudah selesai berbicara dengan sang dokter.
"Apa Mommy baik-baik saja, Dad?" Scarlet melangkah mendekat dengan harapan ibunya baik-baik saja.
"Sudah apa-apa, kemarilah, Jangan berdiri terlalu jauh."
"Maaf. Dad. Aku tidak bermaksud membuat keadaan Mommy memburuk."
"Daddy tidak menyalahkan dirimu, kemarilah!"
"Aku pikir, sebaiknya aku tidak jadi pergi saja."
"Kenapa? keadaan Mommy baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir."
"Tidak, Dad. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Mommy jika aku tetap memaksakan diri untuk pergi. Bagaimana jika?" Scarlet menunduk, dia jadi serba salah. Padahal dia ingin kembali ke Londong untuk bertemu dengan Samuel tapi dia takut saat dia pergi justru terjadi hal buruk pada ibunya.
"Tidak apa-apa, nanti kita bicara lagi pada ibumu. Dia pasti bisa mengerti jika kau bicara baik-baik dengannya."
Scarlet mengangguk, tatapan matanya tertuju pada ibunya. Kenapa mereka bertemu di saat keadaan ibunya seperti itu? Tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Scarlet melangkah mendekati ibunya lalu memegangi tangan ibunya yang kurus. Dari pada terjadi sesuatu pada ibunya sebaiknya dia tidak pergi karena dia takut menyesal.
"Aku tidak akan pergi, Dad," ucap Scarlet. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada ibunya yang bisa membuatnya menyesal.
"Scarlet," ibunya memanggil dengan pelan.
"Mom, apa kau baik-baik saja?"
"Jangan pergi, jangan tinggalkan Mommy," pinta ibunya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan pergi ke mana pun," Scarlet menggenggam tangan ibunya, sebaiknya dia tidak pergi ke mana pun.
"Berjanjilah pada Mommy kau tidak akan pergi ke mana pun," pinta ibunya lagi.
"Aku berjanji, Mom. Aku berjanji!" Scarlet menangis, entah untuk apa. Mungkin dia menangisi keadaan ibunya, mungkin saja dia menangis karena tidak bisa pergi menemui Samuel dan mungkin saja karena dia tidak bisa pergi ke mana pun.
"Diana, biarkan putri kita pergi."
"Tidak, aku tidak mengijinkan. Aku ingin menghabiskan waktuku yang tersisa dengan putriku. Apa kau tidak tahu? Anak perempuan akan mengikuti suaminya dan jika Scarlet pergi, aku takut dia tidak kembali lagi!" dia tahu, Scarlet dan pemuda itu memiliki hubungan spesial. Mereka akan kehilangan putri mereka karena pemuda itu akan membawa Scarlet. Mereka belum lama bertemu dan bersama, kenapa Scarlet sudah harus diambil dari mereka? Tidak bisakah memberi mereka waktu bersama untuk sesaat saja sebelum dia mati?
"Diana, kita tidak bisa menahan putri kita. Itu tidak baik!"
"Aku tahu, aku bukannya ingin mencegah Scarlet tapi bisakah tidak pergi begitu cepat? Selama dua puluh lima tahun, kita mencari keberadaannya dan sekarang setelah kita bersama, kenapa kau mengijinkan Scarlet pergi? Kebersamaan kita masih bisa dihitung dengan jari dan kau tahu pemuda itu pasti akan mengambil Scarlet dari kita padahal kita belum lama bersama dengannya. Apa kau rela?" Diana menangis, setelah mengucapkan perkataan yang banyak dia jadi lelah.
"Biaklah, baik. Sekarang istirahat, jangan banyak bicara."
"Jangan pergi, Scarlet. Jangan pergi," pinta ibunya.
"Sorry, Nak," ucap ayahnya.
"Terima kasih, setidaknya aku mendapatkan kebahagiaan di sisa hidupku ini."
Scarlet berusaha tersenyum meski dia merasa sedih. Tidak apa-apa, dia akan memberanikan diri menghubungi Samuel untuk mengobati rasa rindunya. Cukup mendengar suaranya saja dan mungkin saja dia pun harus mengucapkan kata selamat tinggal karena dia tidak bisa meninggalkan ibunya yang sakit.
Setelah ibunya beristirahat, Scarlet kembali ke dalam kamarnya. Scarlet justru termenung dan tampak bimbang. Apakah dia benar-benar harus mengucapkan kata selamat tinggal pada Samuel? Rasanya jadi enggan tapi Scarlet sudah mulai menghubungi Samuel.
Jantung Scarlet berdegup, dia semakin gugup. Tidak ada yang menjawab, itu bagus. Scarlet tidak lagi mencoba menghubungi Samuel. Tidak, dia tidak akan sanggup mengucapkan kata perpisahan karena dia tidak mau berpisah.
Samuel yang sedang berbincang dengan ayah dan kakaknya tidak tahu jika Scarlet menghubunginya. Dia masih berada di Australia karena Samuel belum mau kembali ke London. Dia sudah tahu pesta penyambutan untuk Scarlet yang menghebohkan. Dia juga melihat Scarlet tampak bahagia. Sekarang Scarlet sudah memiliki dunianya sendiri dan dia seperti tidak ada lagi dikehidupan Scarlet.
Memang itu yang diinginkan oleh Scarlet, kebebasan. Selama ini dia memberontak untuk sebuah kebebasan dan dia sudah mendapatkannya. Dia tidak mau menghubungi Scarlet dengan banyak pertimbangan tapi yang paling pertama adalah, dia tidak mau Scarlet mengira jika dia tidak bisa sendiri karena tidak bersama dengannya. Lagi pula dia belum memikirkan apa yang akan dia lakukan nanti karena dia masih ingin bersama dengan keluarganya.
Emely yang sedang duduk di atas pangkuan kakeknya merangkak turun. Abraham membiarkannya karena dia berpikir Emely hendak mengambil mainan yang ada di atas meja tapi gadis itu justru berjalan ke arah Samuel.
"Uncle," Emely memanggil sambil membuka kedua tangannya, "Gendong," pinta Emely yang masih berjalan mendekati Samuel.
__ADS_1
"Tidak, girl. Pergilah pada ayahmu!" tolak Samuel.
"Kemarilah ke Daddy, Emely!" pinta William.
"Tidak mau, Uncle!" Emely masih berjalan mendekati Samuel.
"Tidak, pergilah pada ayahmu!" Samuel memundurkan tubuhnya karena Emely semakin dekat namun Emely sudah menghentikan langkahnya. William beranjak, hendak mengambil Emely namun putrinya sudah berlari mendekati Samuel.
"Uncle!" Emely berteriak girang lalu berlari sebelum ayahnya menggendongnya. Samuel terkejut karena Emely sudah memegangi kakinya begitu juga William yang tak sempat menangkap putrinya yang lincah.
"Tidak Emely, kau tidak boleh menyentuh Uncle!" William bergegas menggendong adiknya, Abraham pun sudah beranjak karena semua tahu apa yang akan terjadi dengan Samuel saat ada yang menyentuhnya.
"Gendong!" Emely masih minta digendong.
"Jangan menyentuh Uncle sembarangan, Emely," William membawa putrinya menjauh.
"Silvia, cepat ambil obat untuk Samuel!" teriak Abraham tanpa sadar jika Samuel tidak bereaksi seperti biasanya. Samuel beranjak dan tampak bingung. Bukankah dia akan merasa jijik tapi kenapa tidak bereaksi sama sekali?
"Silvia!" Abraham hendak pergi tapi Samuel menahannya.
"Dad, aku rasa tidak perlu!"
"Apa?" ayahnya berpaling dan terkejut begitu juga dengan William. Ini kali pertama mereka melihat Samuel baik-baik saja setelah disentuh oleh seseorang.
"Samuel, kau?" William mendekati adiknya sambil menggendong Emely.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Samuel.
"Apa?"
"Sebentar saja, aku ingin memastikan!"
"Uncle, gendong," pinta Emely sambil mengulurkan kedua tangan. Samuel mendekat dengan ragu, dia harus mencoba. Meski tahu apa risikonya, Samuel menggendong Emely. Sentuhan pertama tidak jadi masalah bahkan saat Emely sudah berada di dalam gendongan, phobianya tidak bereaksi sama sekali.
William dan ayahnya terkejut, begitu juga dengan Samuel. Ibunya yang datang sambil membawa obat pun terkejut hingga obat yang dia bawa terjatuh dari tangannya. Apa? Apa dia tidak salah lihat? Apakah benar yang sedang menggendong Emely adalah Samuel? Mereka semua cukup terkejut dengan keadaan Samuel yang bisa bersentuhan dengan Emely.
__ADS_1