
Barcelona, kota yang dikenal sebagai kota romantis untuk para pasangan yang sedang menjalin asmara. Di kota itu terdapat tempat-tempat indah untuk dikunjungi oleh para pasangan. Sesuai dengan rekomendasi ayah dan ibunya, Scarlet mengajak Samuel mendatangi kota itu. Cuaca yang sedikit panas membuat Samuel tidak begitu nyaman di tambah dengan pengunjung yang banyak.
Mereka berusaha menghindari keramaian agar Samuel tidak bersentuhan dengan orang lain. Bisa gawat jika sampai phobia Samuel kambuh di tempat itu. Samuel bahkan membawa obatnya, untuk berjaga-jaga. Dia tidak mau membuat Scarlet kerepotan karena dirinya.
Kencan mereka benar-benar berbeda dengan pasangan yang lainnya. Mereka harus waspada, jaga jarak dan mencari spot sepi atau jauh dari keramaian saat hendak menikmati pemandangan. Meski begitu, Scarlet tidak mempermasalahkannya dan tampak menikmati kencan mereka yang tidak biasanya.
"Pergilah melihatnya, aku tunggu di sini," ucap Samuel karena Scarlet terlihat ingin melihat sesuatu.
"Aku ingin kita melihatnya bersama. Kita tunggu sebentar lagi, mungkin saja sebentar lagi para pengunjung itu akan sepi."
"Itu tidak mungkin Scarlet. Pergilah, lihat sebentar setelah itu kembali."
"Ck, aku ingin melihatnya berdua denganmu. Jika tidak, maka tidak akan ada artinya."
"Baiklah, ayo kita lihat bersama!" Samuel meraih tangan Scarlet dan mengajaknya pergi untuk melihat pemandangan yang sangat ingin dia lihat.
"Apa? Tapi masih ramai!"
"Sebentar saja, berjanjilah padaku untuk tidak lama. Aku akan menahannya untukmu!"
"Lima menit, tidak lebih," Scarlet sangat senang karena Samuel mau bertahan untuknya padahal Samuel tidak tahan terlalu lama berada di dekat orang banyak.
Scarlet meminta jalan, Samuel pun berusaha menghindar. Mereka melakukannya dengan cepat sampai akhirnya mereka berada di sisi sebuah bangunan yang didirikan di atas tebing. Dari sana mereka dapat melihat hamparan kota Barcelona serta laut yang indah.
"Wah, benar-benar indah," ucap Scarlet.
"Apa sudah puas?"
"Belum. Apa kau tahu film Titanic?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak pernah menonton film!"
"Ck, payah. Padahal aku ingin kau membentangkan kedua tanganmu lalu aku memelukmu dari belakang!" ucap Scarlet.
"Kenapa harus seperti itu?"
"Agar aku bisa melindungi dan menjagamu supaya tidak ada yang menyentuhmu dari belakang."
"Sembarangan, adegan macam apa itu? Aku tidak mau dilindungi olehmu!"
"Hei, itu adegan paling romantis di film Titanic."
"Ck, sudah cukup. Ayo pergi ke tempat lain!" ajak Samuel karena pengunjung semakin ramai. Kepalanya mulai terasa pusing karena pengunjung yang lain membuatnya tidak nyaman. Ini kali pertama dia berada di tempat umum dengan orang yang begitu banyak. Untuk seseorang yang memiliki phobia seperti dirinya, rasanya sungguh tidak nyaman dan sangat menyiksa.
Kepala Samuel semakin pusing setelah terbebas dari kerumunan pengunjung yang sangat banyak. Scarlet mulai panik, sebuah kertas yang dia dapatkan Scarlet gunakan untuk mengipas Samuel agar keadaannya membaik.
"Aku butuh waktu istirahat."
"Maaf, seharusnya aku tidak memaksa dirimu!" Scarlet kembali mengipas dengan keras. Samuel benci dengan keadaannya itu. Seharusnya dia memberikan kencan yang berkesan pada Scarlet tapi dia tidak bisa memberikannya akibat phobianya yang menyebalkan.
"Tunggu di sini!" pinta Scarlet dan setelah itu da berlari pergi. Scarlet membeli minuman dingin untuk Samuel. Mungkin cuaca panas menjadi faktor yang membuat kepala Samuel sakit selain keramaian. Setelah mendapatkan dua botol minuman dingin, Scarlet kembali mendekati Samuel.
"Minum ini, agar keadaanmu membaik. Sudah aku bersihkan jadi tidak perlu khawatir," Scarlet memberikan minuman dinginnya pada Samuel.
"Setelah ini kita pergi ke tempat lain saja. Aku tidak suka di tempat yang ramai seperti ini!"
Scarlet diam dan menunduk untuk menyembunyikan ekspresi sedihnya. Padahal ini baru tempat pertama yang mereka datangi dan masih ada beberapa tempat lagi yang ingin dia datangi bersama Samuel tapi sepertinya mereka harus pulang.
"Apa kau marah?" Samuel memegangi tangan Scarlet dan memandangi wajahnya. Scarlet berusaha tersenyum, apa yang dia pikirkan? Keadaan Samuel jauh lebih penting. Dia tahu ini risikonya karena sejak awal Samuel memang tidak bisa berada di tempat ramai.
__ADS_1
"Tidak, aku khawatir dengan keadaanmu. Bagaimana dengan keadaanmu sekarang. Baik-baik saja, bukan?" Scarlet duduk di sisinya. Dari pada dia memaksakan diri untuk tetap berkencan yang bisa membuat keadaan Samuel memburuk lebih baik mereka tidak berkencan sama sekali.
"Sudah lebih baik. ke mana lagi kau mau pergi? Ayo kita pergi. Asalkan kau senang, aku tidak apa-apa!" ucap Samuel.
"Aku sudah tidak mau pergi ke mana pun lagi. Kita kembali saja. Aku jadi ingin mandi dan berendam denganmu."
"Aku sudah tidak apa-apa, ayo pergi!" ajak Samuel.
"Aku sudah tidak mau, Samuel. Kita kembali saja," ajak Scarlet.
"Apa gara-gara keadaanku ini sehingga kau tidak mau pergi ke mana pun?"
"Memang karena keadaanmu, dengar," Scarlet memegangi kedua tangan Samuel, dia tidak mau Samuel salah paham dengan penolakannya.
"Aku mengkhawatirkan keadaanmu, Sam. Dari pada memaksakan keinginanku tapi harus mengorbankan dirimu padahal aku sudah tahu akan phobia yang kau alami lebih baik tidak sama sekali. Aku tahu kau tidak suka berada di tempat ramai, seharusnya aku tidak memaksakan kehendakku. Lagi pula aku sudah melihat pemandangan kota, jadi sebaiknya kita pulang untuk membersihkan diri. Cuaca cukup panas, kau pasti sudah tidak tahan jadi sebaiknya kita pulang, mandi lalu kita makan malam. Bagaimana?"
"Baiklah!" Samuel beranjak dari tempat duduk di susul oleh Scarlet, "Tidak perlu kembali ke hotel, ayo kita pergi menonton!" ajaknya.
"Apa? Jadi kau ingin menonton?"
"Yeah, aku ingin melihat seberapa bagus film yang kau sebutkan itu!"
"Kau pasti akan suka karena film itu sangat bagus!" Scarlet sudah merangkul lengan Samuel, seperti ini lebih baik dari pada mereka memaksakan diri berada di keramaian yang bisa membuat phobia Samuel kambuh. Lagi pula masih banyak hal menyenangkan yang bisa mereka lakukan selain pergi ke tempat ramai.
Mereka kembali ke mobil, tempat ramai memang tidak cocok untuk Samuel dan dia akan membiasakan diri untuk semakin terbiasa dengan situasi yang Samuel hadapi. Bukankah mereka sudah menjadi pasangan kekasih? Dia rasa dia harus melengkapi kekurangan Samuel dan tidak menuntut terlalu banyak karena keterbatasan yang Samuel miliki.
Selama di dalam mobil, Samuel mencari bioskop yang bagus lalu menyewanya secara private untuk beberapa jam dan tentunya film yang dia inginkan adalah film yang selalu ditonton orang banyak sepanjang masa. Meski dia tidak bisa pergi dengan Scarlet di tempat yang banyak orang tapi dia bisa membuat Scarlet bahagia dengan cara lain dan mengganti kencan mereka yang harus dilakukan di tempat ramai menjadi kencan romantis di ruangan tertutup di mana hanya ada mereka berdua saja.
Scarlet pun sangat senang, dia tidak akan pernah bosan menonton film yang sama secara berulang-ulang tapi kini rasanya berbeda karena ada Samuel di sisinya dan dia merasa memang seperti itulah yang harus mereka lakukan dari pada berada di tempat yang ramai.
__ADS_1