
Silvia terkejut karena putra keduanya tiba-tiba saja pulang tanpa mengabari terlebih dahulu. Keadaan Samuel terlihat berbeda, dia tidak bersemangat sama sekali bahkan Samuel tidak banyak bicara. Samuel memutuskan tidak kembali ke London setelah di tinggal oleh Scarlet. Dia lebih memilih kembali ke Australia, di mana keluarganya berada.
Mungkin dia tidak akan sedih setelah kembali. Entah apa yang akan dia lakukan setelah ini, dia tidak tahu. Minatnya untuk melakukan sesuatu sirna. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan pikiran sebelum dia kembali ke London dan melakukan kegiatannya seperti biasanya. Sekarang dia akan kembali seperti dulu, di mana dia belum bertemu dengan Scarlet.
Meski Scarlet adalah wanita satu-satunya yang bisa dia sentuh tapi dia tidak mau terlihat menyedihkan. Samuel Archiles tidak boleh mengemis cinta pada siapa pun apalagi di dalam keluarganya tidak ada yang merendahkan diri pada seorang wanita.
Setelah tiba, Samuel selalu berada di dalam kamar. Entah apa yang terjadi, Silvia sampai memanggil putra pertamanya untuk pulang. Mungkin saja putra pertamanya bisa mencari tahu apa yang terjadi karena Samuel bukan orang yang terbuka dan dia tidak pernah membicarakan masalah pribadinya dengan siapa pun.
"Sam, Mommy sudah membuat makanan. Keluarlah," panggil ibunya sambil mengetuk pintu. Begitu pulang, Samuel berada di kamar dan belum keluar sampai sekarang. Sebagai seorang ibu tentu saja Silvia khawatir apalagi putranya yang satu itu, tidak banyak bicara.
"Aku tidak sedang ingin makan, Mom!" jawab Samuel karena dia memang sedang tidak ingin makan.
"Ayolah, sebentar lagi kakakmu akan datang. Jangan mengurung diri seperti itu. Jika terjadi sesuatu maka katakan pada kami."
"Tidak ada apa-apa, aku akan keluar sebentar lagi."
"Bagus, Mommy tunggu!" ucap ibunya. Samuel yang sedang enggan bertemu dengan siapa pun pada akhirnya keluar dari kamar. Ibunya sudah menunggu dan ketika melihatnya datang, ibunya tersenyum lembut. Samuel sangat ingin memeluk ibunya tapi tak bisa dia lakukan karena keadaannya.
"Apa yang terjadi padamu, Samuel. Tidak biasanya kau mengurung diri jadi katakan pada Mommy apa yang terjadi?"
"Tidak terjadi apa pun, Mom," jawabnya berdusta.
"Jangan berbohong, Sam. Mommy tahu pasti telah terjadi sesuatu padamu. Kau mungkin bisa membohongi Daddy tapi kau tidak bisa membohongi Mommy."
"Aku tidak bohong tapi di mana Daddy? Kenapa dia tidak ada di rumah?"
"Ke rumah kakakmu untuk menjemput cucunya."
Samuel diam, tak bertanya lagi. Kakaknya sudah memiliki seorang putri bahkan kakak iparnya sedang hamil saat ini sedangkan dirinya? Mungkin dia tidak akan pernah menikah dan akan hidup melajang untuk selamanya.
"Mom, sepertinya aku tidak akan menikah," ucapnya.
"Apa? Kenapa kau berkata seperti itu?" ibunya jadi curiga karena Samuel tidak pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengatakannya pada Mommy saja agar Mommy dan Daddy tidak berharap padaku untuk menikah dan memiliki cucu."
"Jangan berkata seolah-olah kau sedang putus asa, Samuel. Kita diciptakan berpasangan, pasti ada seorang wanita yang diciptakan khusus untukmu di luar sana."
"Bagaimana jika wanita itu tidak menyukai aku?"
"Jika dia adalah jodohmu, kalian pasti bertemu dan bersama. Percayalah pada Mommy tapi tunggu, kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sudah menemukan seseorang yang bisa bersentuhan denganmu?" ibunya benar-benar curiga dengan putranya yang sangat aneh hari ini. Jangan katakan Samuel sudah bertemu dengan wanita yang bisa bersentuhan dengannya tapi wanita itu justru menolaknya.
"Samuel, apa kau sudah menemukan seorang wanita yang bisa bersentuhan denganmu?" tanya ibunya yang curiga.
"Tidak, tidak ada yang seperti itu!" lagi-lagi dia berdusta karena dia tidak mau ibunya tahu jika dia baru saja ditinggalkan. Baginya hal itu sangatlah memalukan jadi sebaiknya tidak ada yang tahu apalagi keluarganya.
"Wah, Mommy kira kau sudah menemukan seseorang yang bisa kau sentuh."
"Tidak ada yang seperti itu, aku hanya sedang jenuh dengan pekerjaan oleh sebab itu aku pulang untuk menghabiskan waktu dengan kalian."
"Baiklah, segera makan. Semua sudah Mommy bersihkan, tidak perlu khawatir."
Samuel sudah selesai makan saat ayahnya pulang bersama dengan kakak dan keluarganya. Suara ramai terdengar di luar karena ayahnya yang sangat heboh bermain dengan cucunya.
"Mana Samuel, Mom? Aku dengar dia pulang?" tanya William.
"Sedang makan di dapur. Cobalah kau bertanya pada adikmu, apa yang sedang terjadi dengannya," ucap ibunya dengan suara pelan.
"Memangnya ada apa dengannya?"
"Entahlah, Mommy tidak tahu. Samuel juga tidak mengatakan pada Mommy apa yang terjadi."
"Jika begitu aku akan berbicara dengannya!" William pergi mencari adiknya yang masih berada di dapur. Samuel seperti biasanya, menurut William karena adiknya itu memang pendiam dan tidak banyak bicara. Selain membahas pekerjaan, tidak ada lagi yang mereka bahas.
Tidak saja Samuel yang merasa hampa, Scarlet juga merasakan hal yang sama. Dia sudah tiba bersama dengan kedua orangtuanya, rumah besar dan megah tak membuatnya senang dan bahagia tapi dia tetap menunjukkan jika dia sedang bahagia agar kedua orangtuanya tidak sedih.
Mereka disambut oleh puluhan pelayan, semua menyambut kedatangannya dengan hangat. Seorang pelayan mengantarnya ke sebuah kamar yang akan dia tempati. Kamar besar yang akan dia tempati sendiri.
__ADS_1
"Silakan beristirahat, Nona," ucap pelayan yang mengantarnya.
"Terima kasih, bisakah mengambilkan air hangat untukku?"
"Tentu saja, akan segera aku ambilkan," pelayan itu berlalu pergi untuk mengambil minuman yang Scarlet inginkan.
Scarlet melangkah menuju jendela, dari sana dia dapat melihat taman indah yang sangat luas. Sekarang dia benar-benar menjadi seorang putri, siapa lagi yang dapat menghina dirinya? Scarlet mengepalkan keda tangan, dendamnya masih belum terbalaskan.
Mungkin Samuel sudah tidak akan turun tangan lagi untuk membantunya balas dendam karena mereka sudah tidak terikat dengan perjanjian apa pun lagi tapi tak jadi soal, dia akan meminta bantuan ayahnya untuk balas dendam. Darien dan keluarganya, mereka yang menghina dirinya sebagai sampah dan anak dari seorang ja*ang tidak akan dia lepaskan.
"Scarlet." ayahnya masuk ke dalam kamar untuk melihat dirinya.
"Yes. Dad," Scarlet berpaling dan tersenyum, dia berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya.
"Apa kau menyukai kamar ini? Jika tidak, kau bisa pindah ke kamar lainnya," ucap ayahnya seraya melangkah mendekat.
"Tidak perlu, Dad. Ini sudah cukup untukku."
"Baiklah, ada yang hendak Daddy tanyakan padamu," ayahnya berdiri di sisinya dan memandangi taman yang dipenuhi oleh bunga.
"Apa yang ingin Daddy tanyakan?"
"Selama kau ikut bersama kami, kau selalu murung. Jika kau sulit untuk ikut bersama dengan kami sebaiknya tidak memaksakan diri."
"Tidak, Dad. Sejak dulu aku selalu merindukan kalian dan sekarang, kalian sudah ada di depan mataku dan bersama denganku. Bagaimana mungkin aku memaksakan diri?" ucap Scarlet seraya memeluk ayahnya dari samping.
"Daddy hanya tidak mau kau memaksakan diri saja," ayahnya pun memeluknya.
"Tidak, Dad. Aku hanya belum terbiasa saja."
"Baiklah, buat dirimu nyaman. Sekarang ini adalah rumahmu."
Scarlet mengangguk, sekarang itu memang rumahnya. Dia memang belum terbiasa saja. Dia yakin setelah ini, dia akan mulai terbiasa dan menikmati hidupnya di sana tapi tak dipungkiri, dia merasa hatinya hampa.
__ADS_1