
Scarlet sudah bersama dengan kedua orangtuanya dan mereka memutuskan untuk langsung kembali ke Spanyol. Scarlet lebih banyak diam selama di perjalanan. Dia merasa tidak bersemangat dan tidak gembira sama sekali. Kenapa? Bukankah seharusnya dia bahagia karena sudah bersama dengan kedua orangtuanya tapi kenapa dia tidak merasa bahagia sama sekali?
Dia merasa di dalam dirinya ada yang hilang tapi apa? Dia sungguh tidak mengerti. Scarlet termenung, tatapannya tertuju pada langit biru yang yang berawan. Mereka sudah berada di dalam pesawat menuju Spanyol dan mereka terbang belum lama.
Alberto menghampiri putrinya yang duduk sendiri. Jujur saja dia khawatir putrinya berubah pikiran karena dia tidak datang bersama dengan kekasihnya. Tidak saja karena hal itu, dia bisa melihat jika sudah terjadi sesuatu antara Scarlet dengan pria bernama Samuel itu karena putrinya begitu murung tak banyak bicara.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya ayahnya. Scarlet berpaling dan tersenyum tipis.
"Dari tadi Daddy perhatikan kau begitu murung. Apa kau tidak senang pulang bersama dengan kami?" tanya ayahnya lagi.
"Bukan, bukan begitu Dad."
"Lalu? Kenapa kau terlihat sedih seperti ini? Apa gara-gara kekasihmu tidak bisa ikut denganmu jadi kau sedih seperti ini?"
"Samuel bukan kekasihku, Dad."
"Oh, jadi?"
Scarlet menunduk dan menggigit bibir. Jawaban apa yang bisa dia berikan? Tidak mungkin dia mengatakan jika dia adalah teman ranjang Samuel karena dia sudah dibeli oleh pria itu sebab hal itu sangat memalukan.
"Kenapa tidak menjawab Daddy?"
"Entahlah, aku tidak tahu apa hubungan kami berdua."
"Kenapa begitu, apa dia tidak menyukaimu atau kau yang tidak menyukainya? Tapi jika Daddy lihat, dia sangat menyukai dirimu karena Daddy lihat dia tidak rela melepaskanmu untuk pergi dengan kami."
__ADS_1
Scarlet lagi-lagi menunduk. Dia tahu, sangat tahu karena Samuel sudah mengatakan jika dia menginginkan dirinya tapi untuk mencintai seseorang lagi, jujur saja dia masih takut. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Darien masih segar di ingatan dan dia masih takut untuk memulai hubungan serius. Setidaknya hubungannya dengan Samuel hanya sebatas partner di atas ranjang dan tidak melibatkan perasaan tapi kenapa perpisahan mereka begitu menyakitkan?
Waktu itu, ketika Darien menjual dan mengkhianati dirinya. Rasanya sangat menyakitkan karena orang yang dia cintai dengan tulus justru mengkhianati dirinya dan menjualnya hanya karena masalah sepele. Dia masih ingat bagaimana rasa sakitnya, kesal dan amarah jadi satu saat itu tapi kenapa apa yang dia rasakan saat ini sangat jauh berbeda dengan apa yang dia rasakan ketika Darien mengkhianatinya?
Scarlet mengangkat wajah saat ayahnya menyentuh lengannya dan mengusapnya. Senyuman tipis menghiasi wajahnya. Ayahnya pun tersenyum, entah apa yang membuat putrinya seperti itu tapi dia harap Scarlet tidak selalu seperti itu setelah tinggal bersama dengannya.
"Saat bersama dengan ibumu, jangan menunjukkan ekspresi seperti itu. Ibumu akan mengira jika kau tidak bahagia karena kembali bersama dengan kami. Dia akan merasa bersalah dan keadaannya akan semakin memburuk jadi jangan memperlihatkan ekspresi seperti itu saat bersama dengan ibumu," pinta ayahnya.
"Maafkan Scarlet, Dad. Aku tidak akan membuat Daddy dan Mommy sedih."
"Bagus, dengarkan perkataan Daddy!" Alberto meraih tangan putrinya dan menggenggamnya.
"Setelah kembali, Daddy akan mengadakan pesta untuk merayakan kembalinya dirimu. Kau boleh mengundang siapa saja untuk datang dan Daddy juga ingin kau belajar mengelola perusahaan."
"Tapi aku tidak pandai, Dad. Aku memiliki pendidikan yang begitu rendah jadi aku tidak pandai dalam berbisnis."
Scarlet mengangguk sambil tersenyum, ayahnya pun menariknya mendekat lalu memeluknya.
"Daddy ingin memelukmu sebentar!" ucap ayahnya seraya menarik putrinya agar bersandar di dadanya. Scarlet memejamkan mata tapi yang terbayang justru kebersamaannya dengan Samuel ketika Samuel memeluknya seperti itu. Sial, apa yang terjadi dengannya?
"Tuan, Nyonya mencari anda," ucap seorang pramugari yang menghampiri mereka.
"Ayo kita lihat keadaan ibumu," ajak ayahnya.
Scarlet kembali mengangguk dengan pikiran kacau. Apa yang terjadi dengannya? Dia dan Samuel berpisah belum lama tapi dia sudah seperti sangat merindukan pria itu? Tidak, dia pasti belum terbiasa saja karena biasanya dia selalu bersama dengan Samuel tapi hari ini tidak. Perasaan dia rasakan saat ini bisa saja perasaan bersalah pada Samuel apalagi saat dia pergi dia tidak bertemu dengan Samuel.
__ADS_1
Saat bertemu dengan ibunya, Scarlet tersenyum. Dia harus menyembunyikan perasaan tak menyenangkan yang dia rasakan saat ini agar ibunya tidak mengira jika dia tidak senang bersama dengan mereka.
"Diana, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Alfredo.
"Aku ingin bersama dengan Scarlet saja."
"Mom, apa kau sudah makan? Aku akan menyuapimu jika belum," ucap Scarlet seraya melangkah mendekati ibunya.
"Kau ingin menyuapi aku?" ibunya seperti tidak percaya. Dia sangat senang jika putrinya mau melakukannya. Sekarang dia benar-benar merasa menjadi seorang ibu karena Scarlet sudah mau memanggilnya dengan sebutan Mommy. Saat pertama kali Scarlet memanggilnya dengan panggilan itu, Diana menangis karena bahagia. Penantiannya selama dua puluh lima tahun benar-benar terbayar sudah.
"Jika Mommy tidak keberatan," ucap Scarlet.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Apa yang paling membuat aku bahagia jika bukan bisa menghabiskan waktu bersama denganmu," ucap ibunya.
"Aku akan menemani Mommy," mungkin saja dengan menyibukkan diri, dia tidak tenggelam dalam perasaan sedih yang tak dia mengerti.
"Aku sangat senang, Sayang. Kemarilah, Mommy ingin dekat denganmu," pinta ibunya.
"Ambilkan makanan!" perintah Alberto pada perawat istrinya.
"Kemarilah, Scarlet. Berbaringlah dengan Mommy. Mommy ingin memelukmu," pinta ibunya.
Scarlet mengikuti permintaan ibunya dan berbaring. Diana memeluknya, tangisannya pun pecah karena dia dapat memeluk putrinya lagi setelah sekian lama. Meski banyak waktu yang dilewatkan, tapi mereka masih bisa bertemu dan bersama. Meski waktunya sudah tidak banyak lagi, tapi perasaan bahagia yang dia rasakan saat ini benar-benar sudah cukup.
Tidak saja dipeluk oleh ibunya tapi Scarlet juga dipeluk oleh ayahnya. Mereka benar-benar bahagia. Scarlet pun tampak begitu nyaman di dalam pelukan mereka tapi tak dia pungkiri jika ada sebuah ruang kosong di hatinya. Meski dia menepis perasaan itu tapi perasaan itu tetaplah ada.
__ADS_1
Scarlet benar-benar mendapatkan kasih sayang yang dia inginkan selama ini. Perhatian dari orangtua, kasih sayang dari orangtua, dia mendapatkannya saat itu juga. Dia memang tidak salah mengambil keputusan untuk mengikuti kedua orangtuanya kembali ke Spanyol. Dia harap Samuel mengerti dengan keinginannya dan tidak marah tapi lagi-lagi perasaan sedih dia rasakan karena perpisahan mereka yang begitu mendadak. Apakah mereka akan bertemu lagi suatu saat nanti? Dia sungguh tidak tahu.
Seperti yang dia katakan, Scarlet menyuapi ibunya makan. Lagi-lagi Diana menangis, perasaan bahagia meluap dari dalam hatinya. Dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya bahkan dia sudah pasrah tapi siapa yang menduga, mereka masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan putri mereka. Dia harap Scarlet tidak lagi pergi ke mana pun dan tetap tinggal dengan mereka karena dia tidak mau berpisah untuk yang kedua kali dengan putrinya.