
Sudah beberapa saat berlalu, sesuai dengan perkataan ayahnya, mereka mengadakan pesta besar untuk menyambut kepulangan putri mereka yang hilang. Pesta yang sangat meriah, Scarlet benar-benar seperti seorang putri. Dia disambut sedemikian rupa tapi perasaannya tetaplah hampa. Selama itu, dia pun tidak menghubungi Samuel karena dia takut Samuel tidak menjawab karena marah.
Penyambutan dirinya yang meriah juga dimuat di majalah serta disiarkan di beberapa stasiun televisi. Acara megah itu tidak dilewatkan sama sekali apalagi Alfredo benar-benar bahagia dengan kembalinya sang putri yang hilang selama dua puluh lima tahun.
Berita itu tentu saja tidak menghebohkan media di Spanyol saja tapi juga disiarkan di media lain. Darien sungguh terkejut ketika melihat berita itu di televisi begitu juga dengan kedua orangtuanya. Selama ini mereka mencari keberadaan Scarlet karena Susan mendapatkan hukuman selama beberapa tahun tapi ternyata Scarlet justru berada di Spanyol tapi yang membuat mereka terkejut adalah, ternyata Scarlet adalah putri dari seorang miliarder. Bagaimana bisa?
"Kau lihat itu, Darien. Kau lihat itu!" teriak ibunya.
"Aku melihatnya jadi jangan berteriak!" ucap Darien kesal. Sungguh sial, dia tidak menduga jika Scarlet adalah putri seorang miliarder.
"Kau sungguh bodoh, kau membuang berlian mahal!" teriak ibunya lagi.
"Jangan menyalahkan aku, Mommy juga menghina dirinya setiap hari jadi jangan menuduh aku!"
"Aku menghina dirinya karena memang dia miskin dan dibesarkan di panti asuhan. Siapa yang menduga jika dia adalah putri orang kaya?"
"Ya sudah, kita sudah tahu sekarang lalu kita bisa apa?"
"Bodoh, apa maksudmu bisa apa? Segera pergi ke Spanyol dan perbaiki hubungan kalian!" ucap ayahnya.
"Apa? Apa Daddy sudah gila meminta aku melakukan hal ini?"
"Benar, Darien. Dia pasti masih mencintaimu. Hanya dia yang bisa membantu perusahaan Daddy yang semakin berada di ambang kehancuran. Pergilah dan bujuklah Scarlet agar dia mau memperbaiki hubungan kalian. Dia hanya wanita bodoh dan naif, kita bisa memanfaatkan dirinya dan Susan akan bebas jadi lakukan!" perintah ibunya.
"Itu tidak akan mudah, Mom. Aku rasa Scarlet tidak sebodoh itu!"
__ADS_1
"Jangan banyak alasan, segera lakukan!" teriak ayahnya yang putus asa karena perusahaannya semakin jatuh. Semua itu karena Samuel. Meski Scarlet pergi darinya tapi dia tetap membantu Scarlet balas dendam dengan perlahan sesuai dengan janjinya.
"Dad, kita sudah mempermalukan dirinya. Sudah berapa banyak hinaan yang kita berikan padanya bahkan aku menjualnya waktu itu karena uang. Apa kalian pikir dia akan memaafkan perbuatan kita dengan mudah? Kalian harus ingat, kita tidak bisa membujuknya saat dia bersama dengan Samuel dan sekarang kalian lihat? Dia adalah putri seorang miliarder, mana mungkin dia mau memaafkan kita dan menerima aku kembali?"
"Kau bodoh, Darien. Benar-benar bodoh!" teriak ibunya marah. Mereka benar-benar telah membuang berlian yang sangat besar.
"Stop, Mom. Kau juga menghina dirinya sebagai anak ja*ang!" Darien benar-benar kesal.
"Cukup!" teriak ayahnya, "Darien, kita memang telah melakukan kesalahan besar tapi cobalah pergi temui dirinya dan minta maaf padanya, aku yakin dia pasti akan memaafkan dirimu jika kau melakukannya dengan tulus. Tidak ada salahnya mencoba, bukan? Kita sudah salah membuang berlian itu jadi sekarang tugasmu adalah, mendapatkan kembali berlian itu!"
"Aku tidak yakin, tapi aku akan mencoba."
"Bagus, kau harus bisa membujuknya dan dapatkan dia kembali. Ladang emas tak boleh disia-siakan!" ucap ayahnya.
Darien diam, tatapan matanya tertuju pada televisi di mana Scarlet berada di pesta dan terlihat cantik luar biasa, Sial, jika dia tahu Scarlet adalah putri seorang miliarder, dia tidak akan menjualnya. Rasanya jadi menyesal tapi siapa yang menduga jika si yatim piatu itu adalah putri yang hilang?
Tidak, sebaiknya tidak. Dia tahu Scarlet tidak mungkin mau menerima dirinya lagi. Dari pada mengikuti perkataan kedua orangtuanya dan mempermalukan diri sendiri, lebih baik dia membuat rencana lain. Scarlet sudah berada di atas angin saat ini, dia yakin Scarlet sudah tidak bersama dengan Samuel Archiles. Tanpa pria itu, apa artinya Scarlet saat ini?
"Baiklah. Rupanya kau ingin bermain denganku, Scarlet. Kau baru saja bertemu dengan kedua orangtuamu yang kaya itu jadi nikmatilah waktumu dengan mereka sebelum aku merenggut kebersamaan kalian. Nikmatilah waktu kalian sebelum aku datang!" Darien tersenyum dengan ekspresi licik. Susan masuk penjara gara-gara Scarlet, dia akan membuat perhitungan dengannya. Perusahaan ayahnya yang mengalami masalah pun akan dia perhitungkan karena dia yakin semua ulah Scarlet.
Scarlet yang saat itu bersama dengan kedua orangtuanya justru tidak merasa bahagia sama sekali. Pakaian mewah, makanan enak, semua itu tak ada artinya. Pesta penyambutan yang meriah pun dilewatkan begitu saja. Sekarang tidak saja hampa, dia merasa rindu. Apakah dia sudah jatuh cinta tanpa sadar? Rasanya tidak ingin percaya karena secepat itu dia jatuh cinta. Mungkin saja dia salah. Tidak mungkin dia jatuh cinta begitu cepatnya padahal dia baru saja dikhianati oleh Darien.
Bosan, itu yang dia rasakan. Scarlet jadi lupa apa yang dia lakukan selama ini sebelum bertemu dengan Samuel. Sial, dia jadi seperti orang gila karena di dalam otaknya hanya ada Samuel dan Samuel saja. Apa pria itu penyihir yang sudah menyihirnya? Sepertinya begitu, sebab itu Samuel meninggalkan dirinya.
"Penyihir jahat!" ucap Scarlet tiba-tiba. Scarlet sedang berbaring di ranjang, sungguh menyebalkan. Dia berteriak keras sampai membuat ayahnya terkejut begitu juga dengan ibunya.
__ADS_1
"Scarlet, ada apa denganmu?" tanya ayahnya sambil mengetuk pintu.
"Tidak ada apa-apa, Dad. Kakiku tersandung!" dusta Scarlet.
"Boleh Daddy masuk?"
"Boleh, Dad," penampilan dirapikan, jangan sampai ayahnya curiga dan mengira jika dia sudah gila.
"Apa Mommy sedang tidur?" tanya Scarlet.
"Tidak, dia ingin minum teh denganmu."
"Baiklah, aku akan menemuinya," Scarlet sudah duduk di sisi ranjang, dia akan menemui ibunya.
"Scarlet, kau selalu terlihat murung. Ada apa denganmu?" tanya ayahnya.
"Tidak, Dad. Aku baik-baik saja."
"Jangan bohong, Daddy bisa melihatnya. Kau pasti merindukan pria itu, bukan?"
Scarlet diam. Ya, dia memang rindu, sangat merindukan Samuel. Dia membohongi diri sendiri akibat takut jatuh cinta tapi sesungguhnya dia sangat rindu dengan Samuel. Kenapa perasaan itu ada di hatinya? Bukankah seharusnya tidak ada? Scarlet menunduk, tidak berani memandangi ayahnya yang berjalan mendekati dirinya.
"Nak," Alfredo menyentuh lengan putrinya dan dengan perasaan berat dia harus mengucapkan perkataan yang tak ingin dia ucapkan, "Pergilah," Alfredo mengatakannya sambil tersenyum.
"Apa boleh?" tanya Scarlet.
__ADS_1
"Dari pada kau tidak bahagia, pergilah dan selesaikan permasalahan di antara kalian berdua tapi jangan lupa untuk kembali."
"Thanks, Dad!" Scarlet beranjak, lalu memeluk ayahnya. Padahal dia belum pergi tapi perasaan bahagia memenuhi hati tapi mendadak dia takut, apakah Samuel akan menerima dirinya ataukah sebaliknya? Bagaimana jika Samuel menolak dirinya mengingat dia pergi begitu saja? Apa pun yang terjadi, dia akan tetap kembali tapi dia tidak tahu, Darien sedang membuat rencana jahat untuknya.