
Bab 11
Setelah siuman, Dodi menderita karena Dinda mendiamkannya terus-menerus.
Ia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa ia bisa jatuh pingsan hanya karena mencium kentutnya Dinda.
"Udahlah dot. Jangan dipaksain lagi, kita putus aja. Kita nggak jodoh berarti, dengan adanya hal ini. Kita sama-sama masih muda. Kita buka lembaran baru sama orang yang baru." kataku mengambil kesempatan dalam kesempitan. Siapa tau dengan adanya hal ini, Dodi setuju untuk putus dariku.
"Sampai mati, aku nggak bakal mau putus dari kamu, Dinda. Udah geh jangan ngomongin putus terus yah. Pamali!"
"Kalau menikahkan butuh waktu seumur hidup. Kalau kamu nggak bisa nyesuaiin gimana? Kalau sampai gara-gara hal itu, kita cerai mending dari sekarang aja, kita putus."
Kalo sampai Dodi bersedia putus darinya. Aku sudah bersumpah untuk ngemilin bunga tujuh rupa sebagai lalapan. Biar kentutnya ntar jadi wangi. Semoga aja berhasil.
"Dinda, kenapa sih kamu getol banget minta putus!? Aku nggak mau putus, pokoknya. Aku mau latihan terus, nyiumin kentut kamu, biar terbiasa nantinya. Aku pasti bisa Din, yakin deh sama aku. Jangan bahas putus lagi yah. Inget anak-anak kita, Din!" kata Dodi sambil menunjuk momo dan taro.
Melihat momo dan taro, hatiku jadi luluh dan bisa tersenyun lagi.
"Yah udah, asal kamu yakin aja. Dan perjanjian kita, masih berlaku 'kan disekolah yah."
"Loh, masih bersambung yah Din, kupikir udahan," kata Dodi dengan sedih.
"Aku pengen ngerti gimana rasanya jatuh cinta itu Dodi. Jadi kalo temen-temen cerita, aku bisa paham yang mereka maksud. Selama ini, aku kayak sapi ompong aja dengerin mereka ngomongin tentang cinta."
__ADS_1
"Yah kalo mereka kan, hubungan baru seumur jagung, Din. Nggak bisa dibandingin sama kitalah. Kalo kita, kan sudah hampir seumur hidup kita sama-sama. Kita udah saling memahami satu sama lain. Udah nyaman satu sama lain. Kalo mereka kan, baru coba-coba aja."
"Yah aku juga mau coba coba juga Dot, paling nggak, sampai aku ngerasain jatuh cinta yang beneran itu yang gimana sih."
"Yah udah aku pasrah deh, tapi aku ingetin yah, jangan pegangan tangan, jangan ciuman atau pelukan. Kalo udah ngerasain gimana rasanya, kamu harus jujur dan harus segera kembali sama aku, janji?" Dodi mengulurkan jari kelingkingnya sebagai pengikat perjanjian diantara kami.
"Janji!" sahutku merasa senang.
Kalo Dodi udah ngomong bersedia maka nggak perlu namanya ntar terjadi berantem-beranteman. Duh aku jadi nggak sabar untuk sekolah besok pagi! Sorakku dalam hati.
Pagi harinya, Dodi menjemput Dinta tapi tidak menemukannya, alias dia sudah pergi ke sekolah dengan papinya, kata maminya Dinda. Dengan lesu dan lunglai, Dodi mulai mengayuh sepeda balapnya, membayangkan dia sedang mengendarai sebuah motor balap.
Setelah sampai disekolah, aku sangat bersemangat, aku berlari-lari dan melompat-lompat kecil dengan tubuh mungilku. Aku merentangkan tanganku lebar-lebar dan menghirup sejuknya udara pagi.
"Pagi juga kak. Iya nih kak, aku seneng banget. Aku sudah mendapatkan ijin, untuk memulai pengalaman seruku disekolah ini. Akhirnya!" kataku dengan penuh kegembiraan.
"Emang kamu tertarik mau apa?!"
Aku mendekati kak Rama dengan antusias dan berbisik ditelinganya
"Aku ingin menemukan cintaku disekolah ini kak!" kataku dengan polos.
Lalu berlari kecil lagi, kembali berada dalam duniaku sendiri.
__ADS_1
Rama merasa kupingnya memerah karena bisikan Dinda ditelinganya. Hatinya berdesir, dan senyumnya merekah. "Yah, Dinda. Bersamaku," kata Rama menambahkan kata-kata Dinda lalu cepat-cepat menyusul langkah Dinda.
Rupanya Dinda jadi terkenal dan sangat populer dikalangan lawan jenisnya. Banyak siswa dan siswi yang menyapanya sepanjang jalan.
"Pagi, Dinda!" sapa Johan. melambaikan tangannya kearah Dinda.
"Pagi juga!" balasnya tidak kalah ceria.
"Pagi, Dinda cantik!"
"Pagi juga kakak yang ganteng!"
Aku nggak kenal banyak siswa dan siswi yang menyapaku. Tapi aku orangnya tidak sombong, jadi aku balas semua sapaan mereka sambil terus melangkah ke arah kelasku.
Melihat hal itu, Rama buru-buru mensejajarkan langkahnya dan berjalan bersama Dinda.
Tapi Dinda hanya tersenyum kepadanya dan melanjutkan langkah cerianya sambil meninggalkan Rama seorang diri.
Hati Rama seolah ditinggalkan, teronggok ditempat sampah. "Aku, idola disekolah ini, dicuekin dan diperlakukan sama seperti siswa lainnya!?" Rama merasa harga dirinya turun ke titik terendah. Ia berjalan dengan lunglai dan tidak bersemangat.
__ADS_1