
bab 40
Entah siapa dulu yang memulai, Dinda dan Dodi saling membuka pakaian mereka masing-masing tanpa melepaskan ciuman mereka yang penuh dengan hasrat.
Mereka saling menyentuh, dan mengerang puas karena dapat merasakan sentuhan pada tubuh mereka dan membutuhkan lebih.
Dodi membaringkan Dinda di ranjang hotel lalu menatap Dinda untuk mendapatkan perhatian Dinda. "Aku mencintaimu, Din. Hanya kamu yang aku cintai!"
"Dinda juga mencintai Dodi. Hanya Dodi yang Dinda cintai!"
"Apa Dinda akan marah dan menyesal jika Dodi menjadikan Dinda milik Dodi sebelum kita resmi menikah?"
Dinda menggeleng. "Dinda adalah milik Dodi seutuhnya."
Dodi merasa melayang dan hilang sudah ragunya. Ia mencium Dinda dengan penuh gairah dan ciumannya turun ke seluruh tubuh Dinda. Dodi merasa ingin meledak karena bahagia. Ia bisa menyentuh Dindanya lagi. Dan malam ini dia dan Dinda akan menyatu seutuhnya. Meski tanpa upacara keagamaan yang harusnya dilakukan terlebih dahulu akhirnya, Dodi kembali naik dan menatap Dinda yang sedang menikmati sentuhannya.
"Dinda sayang, Dodi mau kita saling berjanji satu sama lain. Kita mau menjalani hidup sebagai suami istri di hadapan Tuhan."
Dinda memandang Dodi dengan pandangan tidak mengerti.
"Ikuti perkataan Dodi yah. Saya Adinda."
"Saya Adinda."
"Di hadapan Tuhan berjanji," kata Dodi sambil merasa takut dalam hati Dinda tidak menghiraukan perkataannya. Apa yang akan terjadi kalau Dinda sampai sadar dan menolaknya saat ini. Tapi Dodi tau, hanya janji di hadapan Tuhanlah, Dinda akan tunduk dan menerima Dodi seutuhnya.
Dinda menatap Dodi lama lalu membelai wajahnya, "Di hadapan Tuhan berjanji."
Dodi merasa sangat bahagia mendengar janji yang terucap dari mulut Dinda. "Menerima Dodi sebagai suami satu-satunya yang sah."
"Menerima Dodi sebagai suami satu-satunya yang sah."
"Baik dalam susah maupun senang."
"Baik dalam susah maupun senang," ulang Dinda dengan hati bergetar.
"Dalam sehat maupun sakit."
"Dalam sehat maupun sakit."
"Berjanji akan selalu mencintai dan tidak pernah meninggalkan satu sama lain."
"Berjanji akan selalu mencintai dan tidak pernah meninggakkan satu sama lain."
"Sampai maut memisahkan."
"Sampai maut memisahkan."
__ADS_1
Lalu Dodi membelai wajah Dinda. Dan mengulangi janji setianya.
Dinda mengerjapkan matanya tanda haru mendengar sumpah setia Dodi. Meski hanya dalam mimpi, semuanya ini begitu terasa nyata. Dinda merasa sangat bahagia juga frustrasi karena besok ketika ia bangun, semuanya ini hanya mimpi.
"Sah!" seru Dodi dengan bahagia.
"Sah!" seru Dinda tidak mau mimpinya berakhir.
"Ijinkan Dodi menyentuh Dinda yah," kata Dodi mencari persetujuan Dinda.
Dinda mengangguk.
Dodi mencium Dinda dengan lembut dan dalam. Semakin dalam hingga tangannya turun menyentuh intisari Dinda.
Dinda merasa malu dan menahan tangan Dodi.
Dodi menenangkan Dinda dan menyuruhnya untuk percaya kepadanya.
Dinda mengangguk dan terbuai dengan cumbuan Dodi pada tubuh dan bibirnya.
Dinda mengerang menginginkan lebih.
Mulut Dodi meninggalkan bibir Dinda dan turun perlahan dan bergerak sangat lembut turun ke intisari Dinda.
Saat ini rasanya tubuh Dinda mau meledak ketika mulut Dodi mencumbu intisarinya.
Dinda merasa seperti masuk dalam gelombang yang dasyat dan ketika ia sampai ke dalam pusarannya,diapun menjadi puas. Ia terengah-engah tidak mengerti bagaimana semuanya ini dapat ia rasakan.
Dodi tertawa bahagia melihat Dinda merasakan gelombang kenikmatan dari bibirnya.
Kemudian ia kembali naik ke tubuh Dinda dan dengan pelan dan hati-hati menyatukan dirinya ke dalam tubuh Dinda.
Dinda terhenyak, menahan Dodi untuk tidak meneruskan aksinya. "Sakit, Dot!"
"Sebentar lagi Din nggak bakal sakit. Yang ada hanya enak kayak tadi. Dinda mau ngerasain kayak tadi lagi 'kan?" bujuk Dodi lagi.
Dinda berpikir sebentar lalu mengangguk.
Dodi mencium Dinda untuk meredam rasa sakit yang akan diderita Dinda sebentar. Ia bergerak semakin dalam dan semakin dalam.
Kuku Dinda meremas punggung Dodi karena menahan rasa sakit seperti terkena sabetan silet. Kemudian ia dapat merasakan Dodi bergerak didalamnya dan ajaibnya benar apa yang dikatanya Dodi. Sudah tidak sakit lagi. Yang ada hanya rasa kagum dan sensasi saat Dodi bergerak didalamnya. Perlahan tapi menghujam.
"Enak Din?"
"Enak Dot, tadi sakit. Sekarang udah nggak," jawab Dinda dengan polosnya.
Dodi tersenyum bahagia karena Dinda masih menjaga kesuciannya untuknya. Ia berjanji akan membuat Dinda merasakan sensasi yang lebih setiap kali mereka bercinta.
__ADS_1
Mereka bergerak bersama, saling menatap, saling tersenyum dan saling mengerang. Setiap ekspresi tidak dilepaskan Dodi dari rekam matanya.
"Dot, dot!" Dinda mengerang lagi tapi tidak tau apa yang dia ingin sampaikan kepada Dodi.
Dodi bergerak cepat di dalam Dinda dan Dinda memekik tertahan dan terengah-engah sambil tertawa merasakan gelombang kenikmatan melandanya.
Dodi memacu tubuhnya untuk dapat merasakan hal yang sama seperti yang Dinda rasakan.
Dodi mengerang keras saat ia mencapai kenikmatan didalam Dinda. Ia mengisi tubuh Dinda dengan bagian darinya. Ia berharap, Dinda bisa segera hamil dan mengandung anaknya.
"Kamu luar biasa Din. Dodi sayang Dinda."
Dinda hanya tersenyum dan hanya bisa membelai tubuh kekar Dodi. Sungguh kenikmatan yang tidak terkira. Dia baru tahu ada sensasi kenikmatan seperti ini.
"Dinda cape?" tanya Dodi sambil merapikan rambut Dinda yang sedikit berantakan.
Dinda mengangguk, "Dinda mau tidur."
"Dinda tidur aja, tapi kalau Dodi tetap bergerak di dalam Dinda apa Dinda keberatan?"
"Nanti apa Dinda bisa enak lagi kayak tadi?" tanya Dinda merasa rasa kantuknya langsung menghilang.
"Iya, Din bisa berulang-ulang."
"Kalau begitu Dinda nggak jadi tidur, Dot. Dinda mau ngerasain gelombang kayak tadi lagi. Rasanya enak banget gitu," sahut Dinda bersiap untuk mengulang sensasi yang tadi ia rasakan.
"Tapi Dot, yang barusan ini, sensasinya lebih enak dari yang awal tadi. Kalo yang awal sebentar, yang tadi ini agak lama gitu. Nanti gimana, Dot!?" tanya Dinda merasa antusias mendengar jawaban Dodi.
"Kita rasain sama-sama yah Din karena Dodi juga baru kali ini prakteknya. Selama ini, Dodi cuma belajar dari buku dan film aja tapi kayaknya bisa jauh lebih lagi Din."
"Yah udah Dot, cepetan lakuin. Dinda mau melayang lagi!"
Dan Dodipun melakukan apa yang ia janjikan kepada Dinda sampai Dinda berteriak dengan keras ketika gelombang itu kembali menerpanya.
Satu catatan Dodi, ketika ia pulang, ia harus merombak kamar pribadinya menjadi ruangan kedap suara!
Ia terkekeh dalam hati sambil mencumbu Dinda lagi.
__ADS_1