
Bab 23
Rasa ciuman pertama itu aneh yah, selalu terbayang. Rasanya lembut-lembut gimana gitu. Ciuman pertama kalian gimana nih rasanya?
Sambil goler-goler diranjang, aku masih memegangi bibirku. Rasanya bibirnya Dodi masih nempel dibibirku. Aku mengerang karena malu dan menutupi wajahku dengan bantal.
"Din, ada Dodi nih!" teriak mami dari depan.
"Waduh!"
Aku belom mandi, belom sikat gigi. Masih awut-awutan, kenapa dia udah nongol disini, erangku dengan panik.
Biasanya nggak pernah ada perasaan seperti ini sebelumnya. Kalo Dodi dateng, yah aku cuek bebek aja. Tapi sekarang, entah kenapa, aku mau tampil cantik dihadapannya. Aneh tapi nyata.
Dengan cepat ku kunci pintu kamarku.
Nggak lama kemudian, Dodi mengetuk pintu kamarku.
"Tunggu di taman 30 menit! Dinda lagi sakit perut," seruku cepat-cepat masuk kamar mandi.
Tapi begitu masuk kamar mandi, aku malah lupa Dodi yang sedang menungguku dan keasyikan berendam di bathtub.
Aku sangat suka aroma mandi susu yang baru kubeli ditoko kosmetik langgananku. Aromanya lembut banget. Sanking lembutnya, aku sampai ketiduran di bathtub.
Satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda kekasih impiannya nongol. Dodi memutuskan untuk sabar dan menunggu lagi.
"Loh, Dot, Dindanya mana?" tanya mami Dinda dengan heran.
"Nggak tau, mi. Dodi cuma disuruh tunggu di sini tadi."
"Yah udah, mami coba liat dulu ke dalam yah, sedang apa sebenernya dia ini!?"
"Iya mi. Makasih yah. Kalo Dindanya masih belum siap, nggak apa mi. Dodi setia kok nungguinnya."
Susan tersenyum bahagia melihat ketulusan Dodi terhadap anaknya.
__ADS_1
Lama mengetuk pintu, tapi nggak ada renspon. Susan agak khawatir dan mengambil kunci serep di kabinet.
Begitu masuk kamar, kamarnya Dinda kosong. Satu-satunya tempat, paling Dinda di kamar mandi.
Begitu masuk kamar mandi, dia kaget melihat anaknya sedang asyik ngorok. Untung saja, dia berendam air hangat. Susan merasa sedikit lega setelah mengecek air dalam bathtub.
Susan membangunkan Dinda pelan-pelan agar anaknya tidak kaget.
"Ehmm, satenya tambah sepuluh bang," igau Dinda.
Susan tertawa geli mendengar igau-an anaknya itu.
Aduh cutenya.
Nggak kerasa banget waktu berlalu begitu cepat, tiba-tiba anaknya sudah gadis aja.
Sayang, dia hanya bisa memiliki satu anak saja. Anak-anak yang lain, tidak berhasil bertumbuh di dalam rahimnya.
Karena bolak balik keguguran, akibatnya ada flek dan infeksi di bagian rahim. Akhirnya rahimnya mesti diangkat. Mangkanya bisa memiliki Dinda, itu anugrah banget, bagi kami suami istri.
"Tukang satenya masih nungguin tuh didepan, Din."
Perlahan aku buka mataku, "Panggil mi, tukang satenya. Dinda mau sepuluh."
Susan otomatis jadi ngakak geli melihat celoteh anaknya.
"Tukang satenya udah nungguin kamu dari satu jam yang lalu, loh!"
"Emang tukang satenya nggak laku-laku mi, ngetemnya lama amat di depan rumah kita?!"
"Iya tuh, demen banget dia nungguin kamu keluar. Tau nggak namanya siapa?"
"Emang kenapa Dinda mesti tau nama tukang satenya mi? Males!"
"Yah udah, kalau begitu tukang satenya mami suruh pergi yah," goda Susan lagi.
__ADS_1
"Bungkusin sepuluh mi, jangan lupa."
"Kamu aja gih, mami lagi tanggung di dapur."
Dengan cepat aku membilas tubuhku, mencuci wajahku dan menggosok gigiku. Sambil menggosok gigi, aku merasa ada yang aku lupakan. Tapi apa itu, aku nggak ingat.
Setelah selesai berpakaian, aku cepat-cepat mengambil piring di dapur dan uang di dalam laci.
"Mang sate, mang!" teriakku berharap tukang satenya belum pergi.
Di depan terlihat Dodi yang sedang menungguku.
"Dot, tukang satenya mana? Yah, udah pergi yah!?" kataku setelah membuka gerbang.
"Kamu lebih perduli sama tukang sate yah, dibanding sama aku."
"Yah ellah Dot, segitunya. Biasanya juga kamu masuk sendiri kedalem. Malah nunggu disini, emang ada apaan sih!?" tiba-tiba aku terdiam dan seketika mengingat apa yang aku lupakan.
Menyadari muka polosku, rambut yang masih digulung handuk lengkap dengan baju belelku. Seketika aku memekik dan buru-buru masuk ke dalam kamar!
Dodi jadi geleng-geleng melihat Dinda yang melupakan kedatangannya.
__ADS_1