
Bab 30
Wildy diam dan hanya memandangi Dinda yang mendadak otaknya turun ke pentium 1.
"Mana mungkinlah, Wil. Aku dan kamu menikah beneran? Kita 'kan nggak saling cinta."
"Kita sama-sama disakiti oleh orang yang kita cintai. Kita pasti bisa menjadi pasangan yang saling menjaga, menghargai dan mengobati luka hati."
"Wil, aku menghargai apa yang kamu katakan padaku, tapi alasan kita menikah itu salah. Menikah harus karena cinta. Dan kita tidak pernah saling mencintai."
"Itu karena kita tidak pernah saling membuka hati satu sama lain. Tapi sekarang, bagaimana kalau kita mulai belajar mencintai satu sama lain?"
"Wil, kita ini sahabatan. Nggak mungkin bagi kita untuk benar-benar jatuh cinta. Kalau berhasil, bagaimana kalau tidak!? Persahabatan kita akan aneh kedepannya."
Wildy menggenggam tangan Dinda. "Din, bersamamu, aku mau bertaruh! Aku mau belajar mencintaimu, dan aku mau kamu juga belajar mencintaiku sebagai seorang kekasih, sebagai seorang calon suami."
Dinda menarik tangannya. "Maaf, Wil. Aku rasa, aku masih belum siap untuk memulai cinta yang baru."
"Apa selamanya kau tidak mau bertemu dengan orang tuamu!?"
Dinda mencoba bicara tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya dan terdiam.
"Apa kau tidak merindukan mereka?" pancing Wildy.
Mata Dinda berkaca-kaca. "Kangen, Wil. Aku kangen mereka. Aku ingin pulang, tapi aku takut bertemu Dodi lagi. Hatiku ini, masih belum siap. Di sini," kata Dinda mengelus hatinya. "masih terasa sangat sakit," sambung Dinda sambil meneteskan air mata. "Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya."
"Pakai aku, Din. Pakai aku sebagai tamengmu! Kalau dia tahu, kau sudah menikah. Pasti dia tidak akan mengganggumu lagi. Kita bisa membawa orang tuamu, untuk tinggal di sini bersama-sama kita."
__ADS_1
Dinda menghela napas panjang sambil menatap Wildy. "Aku tidak tahu apa yang mesti aku katakan Wil. Tapi aku masih belum bisa melupakan Dodi. Dia masih ada di sini, dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melupakannya!"
"Karena itu Dinda," Wildy mengambil tangan Dinda lagi lalu mengecupnya lembut, "beri kesempatan pada dirimu sendiri untuk bisa melangkah dan tidak terus tinggal dalam masa lalumu. Bersamaku, yah?" tambah Wildy sambil menunggu reaksi dari Dinda.
"Entahlah Wil," jawab Dinda ragu. "Aku tidak mau kehilangan sahabat yang baik sepertimu. Iya kalau berhasil, bagaimana kalau hubungan kita tidak berhasil?"
"Percaya padaku, Din. Aku akan setia padamu. Kita akan sama-sama belajar saling mencintai, saling melengkapi. Aku percaya, kita bisa sama-sama menapaki masa depan bersama-sama."
"Kalau untuk menikah aku merasa ragu, Wil. Maaf, untuk sekarang aku belum bisa. Tapi, aku berjanji akan belajar menerimamu sebagai seorang pria dalam hidupku. Tapi kalau hubungan ini tidak berhasil, bagaimana Wil. Aku tidak mau kehilangan sahabat sepertimu."
"Kau tidak akan pernah kehilanganku baik sebagai sahabat maupun calon suamimu. Aku percaya Din, kita pasti bisa saling jatuh cinta dan ketika hal itu terjadi, aku mau, kita segera menikah. Aku tidak mau menunda lebih lama lagi, Din."
"Wil, ada apa denganmu?!" Dinda benar-benar bingung dengan tawaran dan sikap Wildy saat ini.
"Saat aku melihatmu menangis, tiba-tiba di dalam sini. Aku juga merasakan kesedihan melandaku. Aku tidak mau lagi melihatmu bersedih, Din. Aku mau membuatmu bahagia dan selalu tersenyum. Caranya adalah komitmen kita untuk saling membuka hati dan mengubah perasaan diantara kita. Aku percaya, kita pasti bisa. Selama ini, kita adalah pathner yang hebat. Aku rasa kita juga pasti bisa menjadi pasangan suami istri yg saling mencintai. Mau yah, Din? Katakanlah, yah!"
"Tidak ada tapi, kita pasti bisa. Besok kita akan memberitahukan mengenai pertunangan kita kepada mama dan keluarga besarku. Lalu kita akan pulang ke Indonesia untuk menemui kedua orang tuamu, bagaimana?!"
Dinda langsung menarik tangannya dari genggaman Wildy. "Wil, pelan-pelan saja yah, jangan terburu-buru. Kita jalani pelan-pelan."
Meski agak kecewa mendengar jawaban Dinda tapi Wildy menerima keputusan Dinda. Dalam hatinya memang tahu, dia terlalu memaksa Dinda untuk mengikuti keputusannya. Dia lupa, Dinda masih terluka. Perlu proses untuk menyembuhkan luka hati Dinda.
"Aku bersedia menunggumu, Din," kata Wildy pada akhirnya.
"Tapi ngomong-ngomong kenapa tadi kau menyuruhku mengganti kemejaku?"
Dinda tersenyum malu dan salah tingkah. "Maaf, Wil. Dinda orangnya jijik-an. Kemeja itu udah nggak layak pakai lagi, karena ingus Dinda banyak menempel disana."
__ADS_1
Seketika Wildy tertawa. "Aku belajar hal yang baru saat ini. Dan tenang saja. Berapa banyak, kau akan membuang kemejaku. Aku pasrah dan menyerahkan hidupku, kepadamu."
Dinda memutar bola matanya mendengar gombalan Wildy. "Aku lapar, ayo kita makan hotdog," ajak Dinda sambil menyiapkan perutnya saat ini.
"Ayo," sambut Wildy sambil menggandeng tangan Dinda.
Dinda menolak digandeng Wildy karena tidak enak rekan kerja dan karyawan di agency Wildy memperhatikan mereka.
Wildy menarik pinggang Dinda mendekat padanya.
Dinda kaget dan tidak menyangka tindakan Wildy. Ia merasa wajahnya pasti langsung memerah karena malu.
"Jangan malu sayang, kau harus membiasakan diri menjadi Nyonya bos diperusahaan ini."
"Pelan-pelan Wil, pelan-pelan saja," bisik Dinda sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Wildy.
Wildy melepaskan Dinda, sebagai gantinya dia menggandeng tangan Dinda dan mengecupnya.
Terdengar desahan dari orang sekitar Dinda. Dinda langsung kaget melihat puluhan mata kini menatap mereka dengan penuh rasa cemburu.
Dinda menarik napas panjang. "Ayolah!" katanya dengan mantap. Seolah memantapkan keputusannya.
Wildy tersenyum penuh kemenangan dan membawa Dinda masuk ke dalam lift.
__ADS_1