
Bab 34
Wildy tidak bisa masuk ke kantor keamanan. Kedua orang berjas berjaga di depan pintu kantor dan menyuruhnya untuk kembali.
"Tapi tunangan saya terjebak di lift dan belum ditangani sampai saat ini!"
"Semua sedang ditangani Pak, silakan kembali ke ruangan Bapak."
Wildy merasa ada yang aneh dengan semua ini tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lalu ia kembali ke ruangan rapat.
Semua orang telah menunggu dari tadi tapi CEO utama belum juga muncul.
Asisten Dodi langsung memberi komando untuk tertib dan menunggu kedatangan CEO dengan sabar.
Yang tidak sabar, namanya akan dicatat dan nantinya akan diberikan kepada bapak CEO.
Terlihat main-main tapi caranya berhasil. Semua orang tanpa dikomando lagi langsung duduk manis dikursinya masing-masing.
"Dodi menjauh nggak dari Dinda!?"
"Nggak! Dodi nggak bakal ngelepas Dinda lagi! Dinda adalah tunangan Dodi. Dodi berhak untuk menahan Dinda bersama Dodi!"
"Kita sudah putus!"
"Itu keputusan Dinda sepihak! Bagi Dodi, Dinda masih tunangan Dodi dan calon istri Dodi!"
"Dodi egois! Dodi sudah menghianati Dinda. Kenapa Dinda nggak boleh tinggalin Dodi!? Ini lift kapan benernya sih?" Dinda langsung menekan tombol alarm lagi dengan tidak sabaran.
Petugas kembali menenangkan Dinda dan menyuruh Dinda untuk menunggu lagi.
"Tunggu, tunggu sampe kapan saya harus mrnunggu!" jerit Dinda dengan kesal lalu berdiri di pojokan tanpa menghiraukan Dodi.
"Din!"
Dinda menepis tangan Dodi dan mendorong Dodi menjauh darinya.
__ADS_1
Pintu lift segera terbuka tapi Dodi segera menarik tangan Dinda ke sebuah ruangan.
"Itu hanya jebakan Din. Tujuan mereka untuk memisahkan kita!"
"Lucu banget, Dodi nih yah. Dodi sudah tidur sama wanita lain tapi Dodi tidak mau ngelepas Dinda. Boleh, kalau caranya begitu. Dinda juga akan memiliki pria lain selain Dodi. Biar Dodi ngerasain gimana rasanya dihianati!"
Dodi menarik napas panjang sebelum membujuk Dinda lagi.
"Malam itu, Dodi menjamu tamu perusahaan di klub. Entah kenapa sewaktu lagi minum-minum, Dodi merasakan kantuk yang begitu berat. Begitu bangun, Dodi sudah ada di kamar hotel. Sendirian. Dalam keadaan tanpa busana."
Dinda menatap Dodi dengan tajam. "Alasan. Itulah kenapa Dinda tidak mau bertemu dan mendengar penjelasan Dodi."
"Din, Dodi punya buktinya. Setelah Dodi mengejar kamu pulang ke Indonesia tapi gagal. Dodi langsung melaporkan hal ini kepada pihak berwajib dan menjalani tes darah. Dalam tes ditemukan sisa obat tidur. Dinda bisa lihat sendiri kalau tidak percaya." Dodi membuka hpnya.
Dinda mencoba menahan diri.
Dodi memperlihatkan data dihpnya juga surat laporan kepolisian.
Dinda jadi memandang Dodi dengan bingung. "Apa benar Dodi tidak menghianati Dinda?!"
Dodi berlutut sambil menyentuh tangan Dinda. "Dinda harus percaya sama Dodi. Dodi setia sampai mati sama Dinda."
"Tapi Dot, sepertinya semuanya sudah terlambat."
"Maksud Dinda?"
"Dinda sudah hamil."
Dodi tersentak kaget dan langsung lemas seketika mendengar penuturan Dinda. "Apa Dinda sudah menikah?"
Dinda mengangguk.
Tanpa sadar, air mata Dodi mengalir. "Apa Dinda mencintainya?"
Dinda mengangguk.
__ADS_1
Dodi meratapi nasipnya. Dia duduk bersender di atas meja kerjanya sambil memandangi Dinda.
"Siapa dia?"
"Wildy, direktur cabang agency Prisma."
"Apa dia menyayangi Dinda?"
Dinda mengangguk lagi.
"Apa Dodi benar-benar kehilangan Dinda selamanya?" tanya Dodi dengan sedih sambil membelai pipi Dinda dengan tangan bergetar.
"Yah. Maafkan Dinda yah Dot, tapi kita harus saling melupakan."
Sambil memejamkan mata dan bercucuran air mata Dodi merelakan Dinda. "Apa Dinda bahagia?"
Dinda mengangguk lagi.
Air mata Dodi tambah deras mengalir. "Bagaimana Dodi harus hidup tanpa Dinda!?" ucap Dodi dengan suara serak. "Dodi sangat mencintai Dinda."
"Pergilah," kata Dodi pada akhirnya. "Paling tidak, satu antara kita sudah bahagia. Dodi rela. Dodi mendoakan kebahagiaan Dinda dan suami Dinda."
Dinda keluar dari pintu dan menutup kembali pintu ruangan Dodi dengan pelan.
Dodi meraung sejadi-jadinya, menyesalkan, kenapa takdir begitu kejam memisahkannya dari Dinda. Dan saat ini, ia benar-benar kehilangan Dinda untuk selamanya!
__ADS_1