
Bab 14
Tanpa sadar aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan gadis-gadis itu kepada Dodi. Tanpa sadar aku berdiri dengan salah tingkat. Berharap cowok itu menghampiri kami.
Dan ketika cowok itu memandangku, rasanya aku mau lari pontang panting, nggak tau kenapa. Hati ini rasa seneng campur malu-malu gitu.
"Dot, aku duluan yah!"
"Mau kemana?"
"Kebelet!" sahutku langsung buru-buru kabur dari aula.
Sesampainya di toilet aku memandangi bayanganku sambil masih terengah-engah begitu.
Aku mengipas-ngipasi wajahku yang rasanya memerah nggak tau kenapa. Duh kok aku jadi keblinger gini yah!
Aku memegangi wajahku dengan tanganku lalu meremas wajahku seperti meremas squishy.
Karena tidak berhasil, akhirnya aku mencuci mukaku. Duh segernya, lagi dan lagi. Debar jantungku belom kembali normal, rasanya deg degan nggak keruan. Apa ini rasanya jatuh cinta itu!?
Akhirnya, desahku sambil tersenyum pada bayanganku sendiri. Aku nggak perlu kedokter.
__ADS_1
Setelah tenang akhirnya aku keluar dri kamar mandi dengan ceria. Tapi senyumku tiba-tiba lenyap saat melihat cowok itu muncul dihadapanku.
"Aduh, perutku sakit lagi!" kataku buru-buru masuk ke toilet lagi.
Didalam toilet aku mondar mandir kayak cacing kepanasan sambil mengipas-ngipas wajahku dengan tanganku. Aku mencoba menenangkan diri. Aku tunggu beberapa lama, pasti dia sudah pergi, kataku dalam hati sambil mengira-ngira.
Pelan-pelan aku mengintip keluar, celinguk kanan, celinguk kiri. Aman. Akhirnya aku bisa bernapas lega. Cowok itu sudah tidak ada.
Dengan tenang aku melangkah pergi.
Dikejauhan, tampak Rico mengamati Adinda sambil tersenyum geli. Ia merasa lucu ada cewek yang jelas-jelas tertarik padanya tapi menghindar darinya.
Dia sungguh tertarik untuk mengenal lebih jauh siapa itu Adinda. Sambil memutar bola basket dijarinya, ia pergi kekelasnya.
"Nanti aku mau makan sushi setelah pertandingan usai. Kamu buatin yah," kata Dodi kepadaku.
Aku tidak menanggapi permintaan Dodi karena sedang menghayal.
"Woi, lagi melancong kemana sih itu pikiran!"
Aku gelagapan seketika lalu dengan mata berbinar, aku mulai bertanya kepada Dodi.
__ADS_1
"Dot, kemarin aku merasa aneh betul. Disini," kataku sambil memegang hatiku.
Dengan cemberut Dodi bertanya, "Aneh gimana?" padahal dia sudah tahu apa yang Dinda rasakan. Dia ingin menangis dalam hati karenanya.
"Pokoknya nggak keruan gitu, Dot. Dinda baru pertama kali merasakan hal seperti ini Dot. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta Dot?"
Yah ampun, rasanya Dodi mau membenturkan kepalanya ketembok karena memiliki pacar yang polos begini. Dinda sama sekali tidak memikirkan perasaannya sebagai seorang pacar! Dodi ingin berteriak keras-keras tapi hanya dalam hati saja.
"Aku nggak tau, Din."
"Katanya kamu cinta aku, Dot. Ngomong geh gimana rasanya!? Dinda penasaran!" kataku sambil menunggu jawabannya.
Dodi menatap kelangit. Yah, ampun Thor begini amat sih peranku, sakit ini hatiku sakit! Kenapa kau berikan aku pacar yang super polos begini. Harus bagaimana aku menanggapinya. Aku cinta mati sama Dinda tapi Dinda cuma anggap aku sahabatnya, gimana kalo dia ngikutin rasa hatinya dan kemudian meninggalkan aku, Thor please, jangan sampai hal ini terjadi!
Air mata mengalir di pipi Dodi. Aku jadi kaget melihatnya.
"Dot, kenapa? Kemasukan debu yah?" kataku dengan panik. Sambil meniup-niup mata Dodi.
"Kita pulang sekarang, yuk!"
Tapi Dodi belum menjawab pertanyaanku, akhirnya aku hanya mengikuti langkahnya saja.
__ADS_1